Part 14

1459 Kata
“Adaww!!” Terdengar suara pekikan seorang lelaki yang bahunya terbentur pinggiran nakash, sesekali ia meringis menahan sakit di bahunya. “Kira-kira dong, Ra. Remuk tulang gue kalo tiap pagi lo dorong sampe jatuh dari tempat tidur.” Rayhan mendengus sebal sambil menggosok bahunya yang tadi terbentur pinggiran nakas. Ini sudah kali kedua Rayhan diperlakukan seperti ini oleh istrinya. “Sorry, Han.” Aira menggigit bibirnya, merasa bersalah dengan perbuatannya. “A...aku kan belum terbiasa, siapa yang nggak kaget coba, kalo pas bangun tiba-tiba ada pria yang tidur di sebelahnya.” “Baru cuma tidur doang, belum gue apa-apain, gimana kalau yang lain, mau jadi apa gue.” “Ya manusia lah, Han, emang bisa gitu kamu aku kutuk jadi ikan pari, biar nanti bisa aku goreng.” Rayhan menjitak kepala Aira yang tertutup hijab, walaupun mereka sudah tidur seranjang, tapi gadis itu masih belum berani untuk membuka hijabnya. Dengan perasaan kesal, Rayhan melangkah menuju kamar mandi, mengabaikan sang istri yang mengusap kepalanya. Aira hanya menatap suaminya dengan wajah cemberut, mau marah tapi dia yang salah, mau balik membalas takut dosa, jadi dari pada mikirin yang lain mendingan dia menyiapkan baju koko Rayhan saja. “Nggak sholat lo?” Rayhan yang mau mengancingkan kancing terakhirnya jadi terhenti, karena melihat istrinya yang tidak segera mengambil wudhlu. Aira hanya menggelengkan kepalanya pelan. Berharap Rayhan mengerti maksudnya, tapi suaminya itu ternyata masih belum ngeh juga. “Astaghfirullah. Sholat, Ra. Takut sama Allah, sebagai suami, gue harus mengingatkan lo dalam hal ini, cepetan ambil wudhlu, sholat, sebelum di sholatin.” Aira mengerutkan alisnya, Rayhan ini terlalu polos atau memang nggak ngerti sama maksud Aira tadi ya. “Han, yang ada aku dosa kalau nurutin ucapanmu. Aku ini nggak boleh sholat, tamu bulanan aku datang.” “Lha? Emang apa hubungannya tamu bulanan sama nggak sholat?” Rayhan masih saja belum mengerti maksud istrinya itu. “Harus gitu aku perjelas?” “Iyalah. Kalau perlu gue tegur tuh tamu bulanan, biar lo rajin sholat.” Aira memutar bola matanya jengah, Rayhan benar-benar mengesalkan pagi-pagi gini, rasanya pingin dia jambak. Emosinya memang mudah terpancing kalau lagi datang bulan. “Ck, sampai lebaran kucing kamu juga nggak akan bisa negur tuh tamu bulanan. Aku lagi udzur, Han. MENSTRUASI! Kalau kamu masih nggak tahu, sana googling, biar nambah wawasan kamu. Ck, kalau ngomong aja asal ceplos, tamu bulanan aja nggak tahu, dasar!” Aira berkata agak judes lalu pergi meninggalkan suaminya yang geleng-geleng kepala sama sifat istrinya yang baru ia ketahui. ‘Hal yang harus diperhatikan, jangan ganggu cewek yang lagi kedatangan tamu bulanannya. Catet di otak lo, Han, biar nggak dikutuk jadi ikan pari, dan di hantam remot tv.’ Setelah membatin dalam hati, dan tersenyum melihat tingkah istrinya, Rayhan kembali melanjutkan kewajibannya yang tadi sempat tertunda. *** Aira menghembuskan napasnya pelan. Tidak seharusnya ia berkata seperti itu pada Rayhan, harusnya ia bisa mengontrol emosinya yang mudah tersulut jika sedang haid. Ia harus minta maaf pada suaminya. “Lho Han, kamu kok udah siap? Ini kan baru jam 6.” Rayhan tersenyum sambil membenarkan letak dasinya, rambutnya disisir dengan jari, sambil menghadap cermin sebentar, baru kemudian menyambar tasnya. “Iya, takut telat kayak kemarin.” Sahut Rayhan setelah berada dihadapan Aira. Memang benar, kemarin saat ujian ke duanya Rayhan memang telat, dan harus menunggu cemas didepan pintu kelas untuk menunggu keputusan dari pengawas, untung saja pengawasnya bisa mengerti, jadi dia bisa diizinkan masuk kelas dan mengikuti ujian. “Tapi kamu kan belum sarapan, Han. masakan aku juga belum matang kalau buatin kamu bekal.” “Nggak apa-apa, Ra, dikantin masih ada yang jualan kok, gue berangkat dulu ya.” Aira menyambar tangan Rayhan untuk disalaminya, ini sudah jadi kebiasaan mereka kalau Rayhan mau sekolah, setelahnya ia mengacak kerudung Aira asal. “Han, maaf ya sama perkataan aku tadi pagi.” Rayhan yang tengah menyalakan motornya menoleh kearah istrinya yang berdiri didepan pintu. “Santai elah, gue tau kok lo lagi pms, gue berangkat ya, doain semoga lancar.” “Aamiin.” Sahut Aira pelan, mengawasi kepergian Rayhan dan motornya yang melewati pagar rumahnya. *** Disinilah Rayhan sekarang, duduk di kantin sambil menikmati nasi goreng pedas yang banyak cabenya, bukan cabe-cabean diluaran sana tapi. Saat masih menikmati nasi goreng sambil balas chat dari temen-temen strong-nya yang katanya mau nemenin, tapi batang upilnya aja nggak kelihatan. Tiba-tiba dia di kagetkan sama kursi sebelahnya yang ditarik. “Hai, Han. Boleh ikut duduk kan? Dari pada sendirian.” Rayhan tersenyum sambil mengangguk, dipandangnya paras cantik yang ada didepannya itu. Wulan, mantan gebetan yang dulu pernah di taksirnya. “Sendirian aja, Lan?” Tanya Rayhan mencoba membuka obrolan. “Iya, Han. Masih nunggu kamu soalnya.” Rayhan tertawa mendengar gombalan Wulan, gadis lain yang bisa membuatnya tetawa selain keluarganya, walaupun sekarang juga ada Aira yang bisa membuat dia tertawa, tapi ada rasa berbeda diantara keduanya, yang ia sendiri juga tidak tahu apa itu. “Yang lain mana, Han?” Wulan celingak-celinguk mencari keberadaan teman Rayhan yang biasanya ikut nimbrung. “Tau ah, katanya sih mau kesini, tapi orangnya aja nggak nongol-nongol.” “Ngasih waktu kamu buat aku, paling.” Rayhan tertawa kecil. “Mungkin, udah lama juga kan kita nggak nobrol-ngobrol.” “Bener tuh, Han. Lagian kamu sih, sekarang aja udah lupa sama aku.” Wulan merubah mimik wajahnya agak cemberut, sambil mengerucutkan bibirnya, pura-pura kesal dengan Rayhan. “Bukannya lupa, Lan. Kan kemarin-kemarin harus fokus buat persiapan UN. Kamu sendiri juga nggak pernah keliatan.” Wulan tersenyum, membenarkan perkataan Rayhan. “Alasannya kan juga sama kayak kamu. Oh ya, Han, hari ini kamu ada acara nggak? Kita keluar gitu, itung-itung refreshing otak biar nggak sepanteng abis perang tiga hari.” Wulan mencoba mengalihkan pembicaraan kearah lain, mencoba mengakrabkan diri lagi sama Rayhan. “Kayaknya kalau hari ini nggak bisa deh, Lan, soalnya aku ada janji sama Papa. Kapan-kapan aja ya.” “Emang kamu ada janji apa sama Papa kamu, orang satu rumah juga.” “Hehehe, masalah kerjaan, Lan.” “Hebat ya kamu udah bisa kerja. Tapi benar ya, lain kali. Jangan sampai nggak.” “Gampang, kalau ada waktu apa sih yang nggak buat kamu.” Rayhan mengangkat kedua alisnya mencoba bergurau dengan Wulan. Sedangkan Wulan hanya tersenyum sambil memukul pelan bahu Rayhan. “Ekhem! Sat ingat sama yang dirumah ya, jangan suka main sembarangan, nanti jatah lo dipotong!” Vino bersuara agak keras dan mengkambing hitamkan Satria yang tengah sibuk dengan hp nya. Kayaknya Satria lagi ada kecengan baru. Satria langsung noleh kearah Vino sambil mengerutkan alis bingung, sedangkan Vino memberikan isyarat dengan menggerakkan kepalanya kearah Rayhan. “Eh, Satria, Vino. Abis dari mana?” Wulan tersenyum kearah dua orang yang tengah berdiri disamping Rayhan. “Abis nyolong rambutan dirumah pak RT. Apa kabar, Lan? Lama ya nggak pernah ketemu.” Vino menarik kursi sebelah Wulan yang kosong, disusul dengan Satria yang masih sepanteng dengan hp nya. “Gue baik kok. Biasalah, sibuk sama persiapan UN, jadi harus ikut les sana sini.” Vino hanya mengangguk, kemudian menoleh kearah Satria yang pandangannya nggak pindah dari benda pipih ditangannya. “Udah napa, Sat. Hp terus yang dibelai, nggak liat apa ada cewek bening didepan mata, masih aja liatain yang begituan.” Satria menatap Vino sekilas, tanpa ekspresi kemudian fokus kembali pada hp nya. ‘Kepret nih anak, gue di cuekin.’ “Eh gue balik dulu ya, Han, jangan lupa ya sama janjinya.” Wulan bangkit dari duduknya, kemudian menatap Rayhan yang juga tengah menatapnya, tapi tidak berlangsur lama. Rayhan kemudian mengangguk dan tersenyum kearah Wulan, setelahnya gadis berparas cantik itu pun pergi meninggalkan tiga remaja yang masih duduk di kursi kantin. “Nggak usah diliatin terus, Han. ingat ada istri dirumah.” Rayhan menghembuskan napasnya pelan mendengar perkataan Vino, ia hampir saja lupa dengan Aira. “Gue nggak tahu,Vin. Apa gue masih suka ya sama Wulan.” “Suka belum tentu cinta, jadi lo kudu ati-ati sama tindakan lo, biar nggak menyesal nantinya.” Satria meletakkan hp nya di meja kantin, ikut menimbrung dengan obrolan Sahabatnya. Rayhan tampak berfikir sebentar, kemudian merogoh saku bajunya, kerana hp nya bergetar. “Guys, gue cabut dulu, bokap ngajak ketemuan. ”Rayhan pamit, kemudian pergi meninggalkan kedua Sahabatnya itu. “Oh iya, sekalian bayarin nasi goreng sama minumannya!” Rayhan sedikit berteriak agar sahabatnya itu bisa mendengar. “Sialan Rayhan, bukannya ngetraktir malah minta bayarin.” Gerutu Vino agak kesal. Rayhan masih bisa mendengar u*****n Vino, tapi dia acuh, hal itu sudah biasa. Dengan berjalan santai sambil bersiul pelan, Rayhan menuju tampat parkiran untuk mengambil motornya. Entah kenapa hari ini dia merasa senang. Rayhan mengeluarkan sepedah motornya dari barisan parkiran motor, menstaternya kemudian menjalankannya melewati gerbang sekolah, tapi tiba-tiba motornya berhenti didepan gadis yang tengah memakai seragam putih abu-abu, sama sepertinya. “Lan, belum pulang?” Rayhan membuka helmnya, bertanya pada Wulan yang tengah berdiri menunggu jemputan, mungkin. “Belum. Nggak tahu nih, supir aku belum datang. Dari tadi juga nggak ada taksi yang lewat.” “Mau bareng nggak?” “Hah? Serius? Katanya kamu ada janji sama Papa kamu.” “Iya, tapi bisa nanti, buruan gih, nggak capek gitu berdiri terus?” Wulan terkekeh pelan, kemudian naik keatas motor Rayhan. “Pegangan, jatuh ntar sakit lho.” Wulan mengangguk, walaupun ia tahu Rayhan tidak melihatnya. Wulan mengeratkan pelukannya ke pinggang Rayhan. Entah mengapa Rayhan agak sedikit merasa gimana gitu, ia jadi teringat Aira, Istrinya saja belum pernah ia bonceng apalagi memeluknya seperti ini. Rayhan menjalankan sepedah motornya dengan kecepatan sedang, ia merasakan punggungnya berat, sepertinya Wulan mulai merebahkan kepalanya dipunggung Rayhan. Dua puluh menit berlalu, Rayhan sampai didepan gerbang rumah mewah bercat putih, ia pun memberhentikan motornya. “Makasih ya, Han. Kamu nggak mampir dulu?” Wulan membenahi rambutnya yang berantakan gara-gara terkena angin. “Lain kali aja, Lan, aku masih ada urusan.” “Oh, ya udah, hati-hati ya.” Rayhan mengangguk lalu mulai menjalankan Motornya. Pikirannya entah mengapa tak enak, tidak tahu kenapa ia merasa bersalah saja sama Aira, padahal ini hanya sekedar mengantar pulang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN