“Loh? Kok tukang sedot WC pakai seragam SMA?” Aira jadi bingung sendiri melihat dua pria berseragam SMA berdiri di samping suaminya, emang sejak kapan tukang sedot WC ganti seragam jadi SMA.
“Kamu ngibulin aku ya, Han?!” Tuding Aira begitu sadar ia telah di permainkan suaminya.
“Yaelah, yang ngibulin siapa, yang dituduh siapa. Makanya Ra, jangan suka ngibulin suami, dosa lo. Ntar kalo gue nggak redho nggak jadi masuk surga lo.”
Mimik muka Aira langsung berubah sendu, pasalnya ia juga tahu, kalau ridho Allah pada seorang istri itu terletak pada ridho suaminya, mendengar Rayhan mengucapkan itu, membuat Aira merasa bersalah dan sedih secara bersamaan.
“Yah, Han. Jangan gitu dong, aku kan cuma bercanda. Jangan dibuat beneran lah, ridhoin aku, Han.”
Rayhan yang melihat istrinya memelas seperti itu bukanya kasihan malah membuat hatinya tertawa geli. Tentu saja semua itu hanya candaan Rayhan. Tapi kapan lagi dia bisa membuat Aira kayak gini, mending diterusin aja sekalian.
Vino dan Satria hanya bengong melihat pasutri yang tengah mengabaikan mereka. Kalo Vino hanya bisa membatin ‘Ini orang malah drama sendiri, nggak nyuruh tamunya duduk dulu kek, baru nerusin dramanya, emang temen sebleng si Rayhan.’
“Salah lo sendiri, ngapain pakai ngibulin gue, game gue jadi nggak menang kan, gara-gara lo.” Rayhan sedikit membuat nada suaranya menjadi kesal, agar terlihat kalau dia benar-benar jengkel pada Aira.
“Yah, Han. Masa kamu lebih sayang game sih, dari pada istrinya sendiri.” Aira merengek pada Rayhan, tidak peduli kalau dirumahnya masih ada dua pria yang terabaikan.
“Biarin.” Balas Rayhan acuh.
“Tega kamu, Han. Hiks..hiks..hiks.”
‘Lah, ni orang malah nangis, gue kan cuma bercanda.’
“Han, tega banget sih sama istri.” Tegur Vino tidak percaya dengan perbuatan Rayhan. Dia berencana untuk menenangkan Aira.
“Eh-eh.... Lo mau ngapain? Jangan sentuh istri gue!” Rayhan menampol tangan Vino yang hendak meraih bahu Aira.
“Sok posesif lo, istri sendiri aja dibuat nangis.”
Rayhan hanya berdecak malas, tanpa mau menanggapi Vino.
“Ra, lo beneran nangis?” Rayhan sedikit membungkukkan badannya, mencoba melihat, apakah Aira benar-benar menangis atau tidak, karena istrinya itu tengah menunduk.
“Ck, si Rayhan, pakai tanya lagi, udah tahu sesenggukan gitu, bukannya di tenangin, malah ditanyain. Dasar pekok lo, nggak peka jadi orang.” Satria bersedekap d**a menanggapi perbuatan Rayhan.
“Ra?” Rayhan mencoba memanggil kembali. Tapi tidak ada jawaban dari Aira, ia masih saja sesenggukan, sebenarnya ia juga malu sama temannya Rayhan, bisa-bisanya dia melupakan dua pria yang bertamu di rumahnya itu, ditambah lagi malah menangis. Apa jangan-jangan tamu bulanannya mau datang ya, makanya sensitif.
“Ya udah, Ra. Gue maafin. Bercanda atuh, cuma drama aja tadi. Ridho gue, Ra, Ridho. Nanti kita masuk surga bareng-bareng ya. Asal nama gue jangan lo ganti aja jadi Ridho, nanti dikira gue anaknya raja dangdut lagi.”
Plaak!
Aira menampol lengan Rayhan pelan, sambil menahan senyumnya. Entah kenapa, Rayhan selalu bisa membuatnya tersenyum walau semenyebalkan apapun dia.
“Ciee, yang nahan senyum, nggak usah ditahan atuh, Ra. Ntar sariawannya kumat lho.”
“Ehem! Tamu woy, tamu, jangan dianggurin!”
“Ck. Lo, Vin, ganggu suasana aja.”
“Mereka siapa, Han?” Tanya Aira begitu bisa mengendalikan dirinya.
“Temen dari dunia lain.”
Perkataan Rayhan langsung dapat pelototan dari Vino dan Satria.
“Kenalin, Vino. Cowok paling ganteng se-galaksi bima sakti.” Vino ngulurin tangan didepan Aira, tapi hanya dibalas Aira dengan menelungkupkan kedua tanggannya didepan d**a sambil tersenyum.
“Ha...ha...ha... Mampus lo, Vin. Sok-sok-an sih jadi orang.”
Aira langsung menoleh kearah Satria yang lagi ketawa ngakak. Sebenarnya yang membuat Aira menoleh, bukan karena Satria tertawa, melainkan karena omongannya itu lho, ’Mampus’ kasar banget. Tapi Aira mencoba biasa, ia sudah tahu betul bagaimana pergaulan di luar sana.
Vino hanya menggaruk tengkuknya sambil cengar-cengir karena malu.
“Udah ah, duduk kalian. Ra, tolong ambilin minum ya, nggak usah repot-repot ambilin air kran aja dikamar mandi sama bunga kantil, biar mereka bisa waras.”
Aira mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Rayhan, beneran tamunya mau disuguhin seperti itu.
“Aku kan nggak punya bunga kantil Han.”
‘Polos banget sih istri gue.’ Rayhan geleng-geleng kepala dengan perkataan Aira.
“Bercanda, Ra. Lo jangan kelewat polos dong. Ya udah sana gih, ambilin mereka minuman, kasian dari tadi nggak disuruh duduk.”
Aira mengangguk kemudian segera berlalu kedapur, dan mengambilkan minuman untuk teman-teman suaminya.
Didapur, Aira masih dapat mendengar mendengar suara tawa Rayhan dan teman-temannya, entah kenapa ia jadi merasa takut sama Rayhan, bukan artian takut dengan kekerasan. Ia tahu Rayhan bukanlah sosok yang seperti itu, ia hanya takut jika nanti Rayhan akan meninggalkannya karena perbedaan usianya yang lebih tua dari Rayhan. Itulah mengapa dulu Aira menolak menikah dengan Rayhan. Tapi semua itu hanya kecemasan perasaannya saja, ia berharap Rayhan tidak berbuat demikian, karena prinsipnya menikah hanya sekali seumur hidup. Ia tidak mau ada yang kedua kali apalagi samapai tiga.
Aira menghembuskan napasnya pelan, disunggingkannya bibirnya keatas, mencoba mengusir kecemasan yang melanda dirinya. Setelah selesai membuat minuman dan menuangkan cemilan kedalam toples, ia segera beranjak menuju ruang tamu.
“Han, nggak diajakin main ke kamar nih, main ps gitu sama kita.”
“Enak aja lo, Vin. Dulu gue masih single oke-oke bae, kalo lo main kesana sama Satria. Sekarang udah beda, udah ada penghuni lain.”
“Ha...ha...ha... Lo kayak nggak pernah tahu Vino aja, Han, otak dia kan tinggal seperempat.”
“Enak aja, gue juga bercanda tahu.” Vino membalas kesal.
“Eh Han. Lo tahu Wulan nggak? Mantan gebetan lo.” Suara Satria terdengar agak berbisik. Tapi Aira masih bisa mendengarnya. Langkahnya pun ikut berhenti begitu ada nama perempuan yang ikut dalam pembicaraan mereka, apalagi ada kata ‘mantan gebetan’.
“Tahu lah. Emang kenapa?” Tanya Rayhan acuh.
“Kemarin dia nyariin lo.”
“Ha? Beneran?” Rayhan bertanya tidak percaya.
“Ssttt!” Vino menendang kaki Rayhan, memberi kode kalau ada Aira. Sontak saja Rayhan sama Satria langsung diam. Sedangkan Satria hanya tersenyum kikuk, merasa tidak enak dengan istri sahabatnya itu.
“Silahkan, nggak usah sungkan-sungkan.” Aira meletakkan minuman dan cemilan diatas meja sambil tersenyum.
“Makasih.” Balas Satria dan Vino barengan.
“Aku ke atas dulu ya, Han.” Pamit Aira pada suaminya, yang dibalas dengan anggukan kepala saja.
Sebenarnya hatinya agak merasa tercubit dengan sikap Rayhan yang hanya mengagnggukkan kepalanya, tanpa adanya senyum apalagi berbicara, entah karena sikap Rayhan atau karena nama mantan gebetannya, Aira tidak tahu. Tapi ia hanya bisa melapangkan d**a kalau nanti Rayhan tidak memilihnya.
“Han, lo dulu dzikir apa sih bisa dapat istri kalem gitu?” Vino penasaran, heran juga dengan sifat Rayhan yang sengklekan bisa mendapatkan Aira yang begitu kalem.
“Nggak dzikir, Vin. Cuma nyolong c*****t dia aja waktu nginep di rumah bokap.” Rayhan menjawab ngawur.
“Serius lo?!” Tanya Vino tidak percaya.
“Percaya aja lo, Vin. Sejak kapan sih Rayhan pernah bener kalau ngomong.”
Satria dan Rayhan sama-sama terbahak melihat ekspresi kecewa Vino. Tidak tahu saja di balik tawa mereka, Aira menyimpan tanya pada sosok perempuan yang tadi sempat di bicarakan.
***