Part 12

1000 Kata
“Asslamu’alaikum. Excuesme, spada, ojek online datang, Mbak.” Rayhan teriak-teriak di depan rumah mertuanya. Jangan ditanya kenapa dia berani melakukannya, karena sudah pasti sang mertua tidak ada dirumah, Ayahnya pasti masih di kantor, kalau Bundanya, biasanya jam segini pergi ke butik keluarga mereka. Bundanya Aira itu memang punya butik kecil yang tempatnya tidak jauh dari rumahnya, itung-itung buat biaya tambahan keluarga, walaupun mereka tidak kekurangan, tapi hasilnya lumayan, karena Ayah Aira hanya pegawai perkantoran biasa, walaupun jabatannya juga bisa dikatakan tidak biasa, tapi Ayahnya itu tidak punya perusahaan sendiri seperti Papanya Rayhan. Rayhan ketok-ketok pintu, layaknya orang mertamu, biasalah sifat somvlaknya kumat untuk menggoda sang istri. Tapi perkiraan Rayhan ternyata meleset, saat sebuah suara mengintruksinya. “Kamu kenapa Han, ketok-ketok pintu gitu, emang siapa yang lagi pesan ojek online?” ‘Wanjir, gue ketahuan sama mertua. Malu sumpah.’ Batin Rayhan dalam hati sambil nyengir dan garuk-garuk lehernya. “Eh. Ayah. Kok tumben jam segini dirumah?” Rayhan mencium punggung tangan mertuanya, sebenarnya itung-itung juga untuk menghilangkan rasa malunya. “Iya. Tadi ngambil dokumen yang ketinggalan, kamu udah selesai Try out nya? Terus ngapain tadi ketuk-ketuk pintu segala?” “He...he...he... Nggak ada apa-apa kok Yah, cuma ngecek pintunya ada yang keropos atau nggak, ternyata masih bagus ya Yah.” Rayhan pura-pura mengecek kondisi pintu sambil cengar-cengir. Setelah itu kembali memandang sang mertua. “Alhamdulilah, Yah. Try out nya udah selesai. Besok yang terakhir.” Rayhan masih garuk-garuk pelipisnya, bingung campur malu. “Aneh-aneh aja kamu, Han. Ya udah sana gih masuk, temenin Aira tuh sendirian. Ayah mau balik ke kantor.” Rayhan hanya mengangguk, kemudian mengucapkan hati-hati sebelum Ayah mertuanya benar-benar pergi. “Mau ganti profesi jadi tukang kayu, Han?” Aira melipat kedua tangannya sambil bersender di sisi tembok dengan menahan tawa. “Sejak kapan lo di situ?” “Sejak kamu di tegur sama Ayah. Ceritanya kamu nggak mau jadi OB nih, mau pindah profesi jadi tukang kayu? Abis itu mau jadi apa, jadi tukang sedot wc?” “Nggak, gue mau buka loundry daleman, puas lo?” Aira tertawa sambil memegang mulutnya. ‘Duh lucu banget ya suami berondongku. Eh? Apa sih yang aku pikirin” Aira segera menggelengkan kepalanya begitu pemikirannya muncul. “Mikirin apa lo, pake geleng-geleng kepala. Jangan-jagan Lo lagi ngebayangin yang iya-iya, kan?” “Enak aja. Emang kamu pikir aku kayak kamu apa, otaknya ngeres mulu.” Balas Aira tidak terima. “Yee nggak apa-apa kali ngeres, ngeres itu baik, kayak motto iklan deterjen  ‘berani kotor itu baik’ lha kan nggak ada salahnya tuh, gue coba motto yang kayak gitu.” “Dih sejak kapan molto ngiklan kayak gitu, lagian itu iklan pewangi bukan deterjen.” Rayhan menjitak kepala Aira pelan “Makanya tuh kuping di bersihkan biar gak budeg.” perkataan Rayhan langsung mendapat hadiah pelototan dari Aira sambil memonyongkan bibirnya. “Udah ah, capek gue.” Rayhan berlalu menuju kamarnya yang berada di lantai dua. *** Seperti biasa, setelah pulang sekolah dan tidak ada pekerjaan, lelaki yang masih SMA itu pasti bermain game sambil rebahan “Siapa, Ra?” Rayhan yang tengah bermain game diatas kasur langsung mem-pause game nya begitu mendengar bel rumah berbunyi. “Nggak tahu. Tukang sedot WC mungkin.” “Emang WC kita lagi mampet?” Rayhan mengernyitkan dahinya bingung. Karena tadi pagi sebelum dia berangkat ke sekolah, kamar mandinya itu baik-baik saja. “Nggak. Tadi aku nelpon mereka buat ngasih kamu kerjaan.” “Hah?! Serius lo?! Demi apa coba?” Pekik Rayhan yang langsung bangun dari rebahannya. “Demi Mamang cireng yang kemarin kamu utang. Serius lah. Udah sana samperin, keburu orangnya pulang.” “Ogah! Lo aja yang samperin. Kan lo yang telepon.” Rayhan kembali merebahkan dirinya di atas kasur dan meneruskan permainannya yang tadi sempat tertunda. “Emang kamu nggak lihat aku lagi ngapain?” Rayhan melirik Aira sekilas, istrinya itu tengah melipat baju. Dikeluarga Aira memang tidak mempekerjakan asisten rumah tangga, selagi semuanya masih bisa dikerjakan, maka sebaiknya dikerjakan sendiri, apalagi Aira yang dari pesantren, dia sudah terbiasa mandiri, karena di pesantren dia dididik untuk selalu mandiri dalam kesederhanaan, agar nantinya siap menghadapi kehidupan setelah terjun di masyarakat. “Biar gue aja yang ngelipat bajunya. Lo yang temuin.” “Nggak! Yang ada lemari malah makin berantakan nanti. Udah ah, buruan samperin, keburu pergi nanti orangnya.” “Biarin.” Sahut Rayhan malas. “Han, kalau ada tamu itu segera dibukakan pintu, bukan malah biarin. Udah cepetan sana!” Rayhan berdecak, tapi kemudian bangkit dari rebahannya dan menuju pintu depan, yang belnya terus saja berbunyi. “Siapa sih, mencet bel nya gitu banget— IYA BENTAR!” Rayhan berteriak karena bel rumahnya yang nggak mau berhenti berbunyi. Setelah membuka pintu dia terkejut melihat siapa yang bertamu. “Assalamu’alaikum, Pak, boleh saya masuk?” ‘Oh, jadi ini toh tukang sedot WC nya’ Batin Rayhan begitu tahu siapa yang berdiri didepan pintu rumahnya. “Maaf, Pak, kami nggak menerima sumbangan, jadi mendingan pergi aja deh.” Usir Rayhan sambil bersedekap d**a. “Ck. Tega banget sih, Han.Temen sendiri di bilang minta sumbangan.” “Istri lo mana, Han?” Vino celingak celinguk mencari keberadaan Aira. “Ngapain lo nyari istri gue. Udah ada yang punya, sana cari yang lain.” Sewot Rayhan pada Vino. “Dih, sensi amat, Bang. Walaupun gue playboy, gue juga nggak bakal nikung sahabat sendiri. Masih punya heart gue.” “Sok Inggris lo.” Semprot Satria. “Siapa Han?!” Rayhan langsung menoleh keatas begitu mendengar teriakan dari istrinya, suara doang tapi, nggak ada rupa. ‘Mending gue kerjain aja Aira, salah sendiri bohongin suami, rasain lo.’ “Tukang sedot WC, Ra. Katanya kemarin lo ngutang belum bayar!” Rayhan balas berteriak agar istrinya itu bisa dengar. Satria dan Vino saling pandang. Bingung sendiri, karena dirasa tidak ada tukang sedot WC, yang ada hanya mereka berdua. “Eh? k*****t lo, Han. Lo kira kita tukang sedot wc apa?” “Hehehe, Sorry Man, gue cuma mau godain istri gue aja.” “Godain istri kok didepan teman, sana di kamar, nggak kasian lo sama  Satria yang jomblo tulen.” Satria lansung menoleh tidak terima dengan pernyataan Vino, dan menatap tajam sahabatnya itu. Sedangkan yang ditatap malah ngitungin perabotan rumah. “Han, ini perabotan kalau gue jual dapat uang banyak lho.” “Ck, punya mertua gue, Bambwank. Kalau bercanda ingat tempat.” Vino hanya membalas dengan cengiran nggak jelas. Sedangkan diatas sana, Aira yang tengah melipat baju langsung berhenti begitu mendengar suara Sumainya. ‘Waduh, beneran ya, padahal tadi kan Cuma bercanda.’ Batin Aira dalam hati. “Ra, cepetan turun. Orangnya marah-marah nih nagih hutang. Tanggung jawab lo!” Aira segera turun dari kamarnya, takut yang diomongin Rayhan benar, padahal dia sendiri merasa tidak pernah memanggil tukang sedot WC, apalagi ngutang. “Loh? Kok tukang sedot WC pakai seragam SMA?” Aira jadi bingung sendiri melihat dua pria berseragam SMA berdiri di samping suaminya, emang sejak kapan tukang sedot WC ganti seragam jadi SMA. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN