PART 3

1162 Kata
Author POV "Setelah ini adalah waktu istirahat tolong digunakkan untuk makan dan mencari tanda tangan osis sesuai nama kakak osis yang tertera. Maka dari itu,  kalian semua harus memiliki manajemen waktu yang baik, kalau kalian tidak mendapatkan minimal 5 tanda tangan peranak kalian akan mendapatkan hukuman. Setelah ini, kita akan melakukan kegiatan yang lumayan menguras tenaga, maka diharapkan semua siswa-siswi harus makan. Sekian dari saya, bila ada pertanyaan silahkan angkat tangan," ujar Kakak osis. "Kakak kalau misalnya aku sudah cari tanda tangan terus gak nemu. Bolehkan aku tanda tangan sendiri?" ucap Elden. "Kamu tadi gak dengar minta tanda tangan Kakak osis! Bukan tanda tanganmu. Kalau nggak dapet berarti dapat hukuman, lagian tanda tanganmu untuk apa?" ucap Kakak osis.  “Kan Kakak nge-fans sama aku, jadi ya aku kasih tanda tanganlah,” ucap Elden. “Maaf, saya gak akan nge-fans sama anak ingusan kayak kamu!” geram sang Kakak Osis. “Oh ternyata gitu ya, Kak,” ujar Elden dengan wajah polosnya.  “Anak ini b**o atau pura - pura bodoh sih?” batin Kakak osis. “Apakah ada pertanyaan lain? Tolong pertanyaannya yang masuk akal!” tanya Kakak Osis. “Tidak,” ucap seluruh murid “Kalau begitu dipersilahkan untuk semua murid meninggalkan lapangan,” ucap Kakak osis. - “Duh, males banget aku cari tanda tangan Kakak-kakak osis itu!” keluh Elden “Kalau males ya gak usah cari,” balas Williams. “Wah … ide bagus itu, kalau begitu kita gak usah cari tanda tangan kita makan aja di kantin sepuas-puasnya. Gimana nih menurut kalian?” ujar Elden. “Elden yang super ganteng tiada batas saking gak ada batasnya sampai buat IQ lo turun itu, KAPAN SIH LO ITU WARAS? Gemes deh aku! Kal-,” ucapan Angela. “Ciee yang muji aku. Suka ya? Kalau suka bilang masih ada tempat kok untuk kamu. Emang sih aku ganteng dari dulu malah, Edward Cullen mah lewat sama aku apalagi Williams. Aku sih emang gak sepintar Williams tapi aku kan lebih cerdas dari dia, hehe,” ucap Elden. “Terserah!” kesal Angela sambil meninggalkan Elden dan diikuti oleh Williams. “Nilai kelulusan aja cuman 35 aja sombong, huh! Pakai banding-bandingin dirinya sama Williams lagi. Lagian yang harus kalian ketahui Williams itu, laki-laki yang menurut aku gak ada bandingannya. Gimana coba aku gak bilang dia perfect? Orangnya sudah pintar, baik, dan gak sombong. Okay kok malah jadi bahas Williams sih. Back to the topic, jadi aku punya temen nanya Elden, yang seperti kalian tau, pertama dia adalah teman yang sangat memalukan yang pernah kupunya tapi selalu menghibur. Kedua, dia itu orangnya pedenya tingkat akut deh ya, itu yang buat gue selalu malu kok bisa ya aku dapet temen kayak gitu, tapi gapapa sih, kan sedikit menghibur haha ...,” batinku sambil berjalan di kantin menyusuri stand-stand makanan. Bruk … “Kamu gak punya mata ya! Jalan itu liat-liat!” ucap Kakak kelas itu. “Maaf, Kak, aku gak sengaja,” ucap Angela dengan tulus. “Apa maaf? Emang dengan lo minta maaf, lo bisa ngembaliin minuman gue yang sudah lo tumpahkan, hah? Gak usah pasang tampang sok polos! Kalau mau cari muka bilang aja,” ucap Kakak kelas itu dengan tangannya yang disilangkan di depan d**a, “Pokoknya gue gak mau tau! Lo harus beliin minuman gue di tempat yang sama, tapi bukan dengan jalan, melainkan merangkak.” “Iya,” ucap Angela. “Tunggu apalagi? Buruan!” ucap Kakak kelas itu sambil mendorong Angela hingga dalam posisi merangkak. “Lo siapa sih?” tanya Williams sambil berdiri di depan Kakak kelas itu. “Lo siapa berani beraninya ikut campur urusan gue sama anak ini!” ujar Kakak itu. “Aku pacarnya,” ucap Williams dengan gaya cool-nya yang membuat Angela seperti patung tidak bergerak. Williams langsung menarik tangan Angela dan meninggalkan kerumunan itu. “Eh … tungguin aku!” teriak Elden menyusul mereka meninggalkan kerumunan. “Ehm ... Wills thanks ya! Udah nolongin aku,” ucap Angela “Kamu bodoh ya disuruh hal gak masuk akal gitu mau?” sinis Williams  “Kalau enggak aku ikutin nanti malah masalahnya tambah besar, jadi aku ikutin aja apa maunya supaya masalahnya cepat selesai,” ujar Angela. “Kayaknya kamu beneran bodoh!” balas Williams “Sudah, sudah, Wills. Lagian kamu kan tau sifatnya Angela yang sebenarnya gak jauh-jauh beda sama kamu,” ucap Elden. “Meskipun begitu, tapi aku gak sebodoh dia, setidaknya aku tidak akan mau melakukan hal-hal yang gak masuk akal!” ujar Williams. “Sudahlah, yang penting sudah selesai masalahnya,” ucap Elden, “Lagian kalau kamu gak mau terjadi apa-apa sama Angela, kenapa kamu gak tolongin dia dari awal? Dan juga kenapa kamu menghentikan aku untuk menolong Angela?” “Kukira dia sudah  berubah,” ujar Williams dengan nada lelahnya, “Ternyata dia masih sama, masih gak peduli bahkan dengan dirinya sendiri.” “Maaf, Wills,” ucap Angela dengan sesenggukan dan memegang tangan Williams. “Always,” ujar Williams, “Kapan kamu akan peduli dengan dirimu sendiri? Aku gak butuh maafmu, aku cuma butuh kamu berubah!” “Kali ini aku pasti berubah,” ujar Angela. “Berubah apa? Berubah menjadi lebih bodoh?” sindir Williams. “Gak, aku beneran,” ujar Angela, “Aku janji aku akan lebih peduli dengan diriku sendiri.” “Wills, sudah dong, kasihan Angela,” ucap Elden. “Terserah!” ujar Williams lalu melepaskan tangan Angela dan pergi meninggalkan keduanya. “El,” ucap Angela. “Tenang, Gel,” ucap Elden lalu memeluk Angela yang masih sesenggukan, “Williams hanya butuh waktu untuk menenangkan pikirannya.” “Tapi el-” “Trust me!” ucap Elden sambil menguraikan pelukkan, “Kamu juga harus berubah, Gel. Lebih berani menghadapi dunia ini, jangan kamu pasrah dengan keadaan. Kalau kamu gak peduli dengan dirimu sendiri, bagaimana kamu akan hidup di masa depan? Iya kalau aku dan Williams selalu bareng kamu.” “Iya, aku pasti akan berubah,” ucap Angela, “Kamu percaya kan kalau aku bisa berubah?” “Aku percaya, semangat,” ucap Elden. “Terima kasih,” ujar Angela. “Daripada kata terima kasih, aku lebih suka kalau kamu traktir makan,” ucap Elden. “Itu sih enak di kamu, gak enak di aku,” ujar Angela. - “Weitz, bro, sudah selesai marahnya?” sindir Elden saat Williams kembali bergabung dengan mereka. “Hmmm ….” “Ini kita mau cari tangannya dimana?” tanya Angela. “KIta mulai dari dekat-dekat sini aja,” jawab Williams. “Eh … itu di bawah pohon ada dua Kakak osis,” ujar Elden sambil menunjuk Kakak osis yang sedang bersantai dibawah pohon. “Permisi, Kak,” ujar Elden. “Mau apa kalian kesini?” tanya salah satu Kakak osis dengan tampang galaknya. “Gila, galak banget, Kak!” ceplos Elden. “Kamu berani sekali ngata-ngatain aku, hah?” ujar Kakak osis sambil memelototi Elden. “Habisnya, siapa yang suruh Kakak segalak itu? Aku kan cuma berkata sesuai fakta yang bisa dipertanggung jawabkan,” balas Elden. “El, kamu sudah gila ya! Please … sehari saja jangan mengundang masalah,” kesal Angela. “Tapi yang aku bilang itu benar, Gel, bisa di-validasi omonganku,” ujar Elden. “Iya, benar. Benar-benar salah tempat!” sinis Williams. “Jadi kalian ini mau ngapain ke sini? Kenapa malah sibuk sendiri?”  “Gini, Kak, kita mau minta tanda tangan,” ucap Angela. “Bisa nyanyi?” tanya sang Kakak osis dengan meremehkan. “Bisa, Kak,” jawab Angela. “Oke, kalau gitu nyanyi balonku ada , dengan setiap huruf vokal diganti u!” perintah sang Kakak osis. Bulunku udu bulun- “Yang kompak! Ulangi!”  "Dan kamu jangan kayak orang gak makan setahun!" ujar sang Kakak osis sambil menunjuk Williams yang menyanyi dengan ala kadarnya. "Kamu masih laki-laki, 'kan?" ujar Kakak osis yang satunya. "Kalau ditanya itu dijawab!" "Kak, jangan kuatir Williams masih laki-laki tulen kok sampai saat ini," sahut Elden, "Kalau gak percaya nanti saat Williams ke toilet Kakak intip aja." Seketika Williams langsung memelototi Elden dan Elden hanya menyenggir tanpa rasa bersalah. "Elden!" pekik Angela, "Sudah kubilang, waraslah sedikit! Nanti pulang kayaknya aku harus bilang ke Tante Annie supaya kamu di masukkin ke rumah sakit jiwa." "Enak aja, aku gila!" protes Elden. "Bukan gak, tapi belum kelihatan!" sinis Williams. "Kalian bertiga! Tidak ada yang memberi kalian izin untuk berdiskusi!" kesal sang Kakak osis. "Sejak-" ujar Elden. "Diamlah!" sahut Angela. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN