PART 2

1124 Kata
Author POV “Khusus kamu saya beri tambahan hukuman jalan jongkok muterin lapangan sekolah 15 kali!” ucap Kakak osis yang Elden jahili tadi. “Waduh kak ... masa Kakak gak kasihan sama aku? Aku ini niatnya baik, coba bantuin Kakak biar gak phobia sama sampah terus. Ehh … sekarang malah ditambahin hukuman, harusnya kan Kakak terima kasih sama aku gitu!” ucap Elden. “Kamu sudah salah masih aja berani ngelawan!” ucap sang Kakak osis sambil memelototi Elden. “Kakak yang cantik setingkat sandal jepitku, tolong dong dikurangi hukumannya,” mohon Elden sambil menangkupkan kedua tangannya dan memasang ekspresi semelas mungkin. “Temen siapa ini coba? Gak kenal aku,” guman Angela. “Lo lah!” bisik Williams. “Wah … rasanya kita salah cari teman, wkwkwk,” ucap Angela. “Udah gak usah banyak bantah lakukan sekarang juga!” ucap Kakak osis dengan menahan amarahnya. “Wow … kakak kalau kayak gini kadar cantiknya tambah turun ya-” belum selesai bicara sudah ada tisu yang masuk ke dalam mulut Elden. “Tau rasa kamu, makanya jangan banyak bicara lakukan saja hukumannya!” geram Kakak Osis itu. - Angela POV “Elden pasti capek,” ucapku, “Yuk, beliin dia minum.” “Emang dia tau apa itu capek?” ucap Williams. “Ya taulah, emang sejak kapan ada manusia gak tau capek. Lihat itu mukanya Elden pucat,” ucapku sambil menunjuk Elden yang tengah berjalan jongkok di lapangan. “Terserahmu!” ujar Williams. “Oke, kamu tunggu sini deh, aku ke kantin dulu beli air,” ucapku. “Ngapain beli?” sinis Williams, “Di toilet tuh banyak air!” “Kamu melucu ya, Wills?” ucapku tak percaya bahwa ternyata Williams juga bisa bergurau. “Aku serius, coba aja pergi ke toilet sendiri,” ujar WIlliams. “Gak taulah pusing! Kalian berdua ini, gak ada yang waras!” ucapku. - “Elden sini,” ucapku. “Kenapa panggil-panggil aku? Kangen ya …,” ujar Elden. "Gak, ngapain aku kangen kamu? Kamunya aja yang ke-PD-an, aku mah cuma mau kasih ini," ucapku sambil menyerahkan botol minum. "Cie … perhatian nih, gemes deh," ucap Elden. "Lebay! " ucap Williams. "Jijik tau, wuek," ucapku. "Kok gitu sih kamu! Kalau khawatir bilang dong," ucap Elden. "Y," ucapku karena udah capek untuk melayani anak si kutu kupret ini, pasti gak bakal ada ujungnya.  "Loh, kamu kok sekarang ikut-ikutan Wills sih? Jangan-jangan kamu baru dirasuki sama arwahnya Wills, hei kamu arwahnya Wills keluar dari tubuh Angela! Cepat keluar! Aku gak mau kamu mirip wills, Please ..." ucap Elden sambil menggoyangkan tubuhku.  "Gila!" ucap Williams. "Stop it, Elden yang setengah waras! Pertama, aku gak kenapa-napa. Kedua, rasanya kamu harus periksa ke dokter. Ketiga,  kok ada ya manusia kayak kamu? Musnah aja dari muka bumi bisa gak?" ucapku segera aku dan Williams meninggalkan anak itu. "Tunggu bebeb Angela,  akukan belum sempat bantah!" teriak Elden.  “Sinting!” batinku. - "Seluruh siswa diharapkan menuju ke aula! Se-ka-rang!" ucap Kakak osis melalui mikrofon. Semua anak bergegas datang menuju ke aula. “Tolong duduk yang rapi sesuai dengan kelompok!” teriak seorang Kakak osis yang menyambut kedatangan kami. “Selamat pagi semua!” ujar dua orang di atas panggung dengan semangat, “Selamat datang di Shiner Senior High School!” “Perkenalkan nama saya Vivi,” ujar perempuan yang berada di atas panggung. “Saya Aiden,” ujar laki-laki yang berada di atas panggung, “Dan kami berdua akan menemani kalian di masa ospek ini. Jadi jangan bosan mendengarkan suara kami ya!” “Boleh dong dibalas,” ujar Vivi, “Selamat pagi!” “Pagi!” balas siswa-siswi. “Kalau Kakak bilang selamat pagi, balasnya juga selamat pagi dong,” ujar Vivi, “Selamat pagi!” “Selamat pagi!” balas siswa-siswi dengan lemas. “Kalian di sini ada yang belum sarapan?” tanya Aiden, “Coba yang belum sarapan angkat tangan.” “Ini Kakak lihat gak ada yang akan tangan,” ujar Aiden sambil memindai ke kerumunan, “Berarti semua sudah sarapan nih, yang semangat dong balasnya.” “Ngantuk!” teriak Elden. “Untung aku gak sekelompok dengan Elden,” batin Angela. “Wah … yang jawab ngantuk itu boleh dong maju ke depan,” ujar Vivi dengan bersemangat.  Elden pun dengan percaya dirinya berjalan ke depan panggung. “Coba kamu pimpin teman-temanmu untuk mengucapkan selamat pagi,” ucap Vivi sambil menyerahkan microphone yang dipegangnya. “Selamat pagi, Oi!” teriak Leo. “Selamat pagi, Oi!” balas yang lainnya. “Waduh, semangat sekali ya kalau seperti ini,” ujar Aiden, “Boleh dong teman-teman tau nama kamu.” “Waduh … namaku ini exclusive hanya orang-orang tertentu yang boleh tau,” ucap Elden. “Terus, teman-temanmu yang lain kalau mau panggil kamu gimana dong?” tanya Aiden, “Masa dipanggil oi?” “Jelas!” jawab Elden. “Oi, oi, aku punya berita nih,” ujar Aiden, “Masa kayak gitu? Kok terdengar aneh ya?” “Gak kok, gak aneh!” ucap Leo dengan tidak tahu malunya. “Oke, kalau begitu Oi kamu boleh kembali,” ujar Aiden dengan agak cangguh. “Kalian pasti penasaran kan dengan nama Kakak-Kakak osis yang keren-keren abis ini?” ujar Vivi mengalihkan dari moment awkward. “Langsung saja kita sambut ketua osis dari Shiner Senior High School, Kak Amanda!” sambung Aiden. “Hallo!” sapa Amanda setelah naik panggung dan mengambil mic yang disodorkan Vivi, “Selamat bergabung di Shiner Senior High School, kalian bisa memanggilku Amanda.” “Sebagai ketua osis, tentu saja aku tidak mungkin bekerja sendirian. Aku memiliki anak buah yang membantu untuk memperlancar seluruh kegiatan yang dirancang oleh sekolah, salah satunya termasuk ospek ini. Langsung saja aku perkenalkan mulai dari wakilku, Jasen!” “Selanjutnya ada bendaharaku, Albert!” ujar Amanda setelah Jasen naik ke atas panggung. “Kemudian Tiffany sang juru tulis dengan kata lain sekretarisku!” “Lalu ada, ketua seksi keagamaan, Metha.” “Ketua seksi budi pekerti dan sosial, Chika.” “Itu yang tadi memeriksa name tag kita, ‘kan, Wills?” bisik Elden ke Williams yang duduk di depannya. “Hmmm.” “Ketua seksi kesenian, Xander.” “Ah … dia yang jewer telinga aku tadi!” teriak Elden spontan berdiri dan menunjuk yang membuatnya berhasil mendapatkan pelotoran dari Xander. “Duduk!” perintah Williams sambil menarik tangan Elden, “Malu-maluin!” “Ketua seksi olahraga, Alex.” “Ketua seksi teknologi informasi dan komunikasi, James.” “Ketua seksi kebersihan lingkungan, Widya.” “Ooo, ternyata dianya ketua seksi kebersihan lingkungan. Pantesan hukumannya disuruh ngebersihin lingkungan yang sudah bersih, mungkin dia ada mysophobia*,” gumam Elden yang membuatnya mendapatkan pelototan lagi dari Williams dan Elden hanya nyengir untuk membalas pelototan Williams. “Ketua seksi pembinaan hubungan eksternal, Kimberly.” “Mereka adalah perwakilan dari setiap seksi yang berada di osis Shiner Senior High School.” Setelah itu Vivi mengambil ahli mic yang dipegang oleh Amanda, “Boleh dong minta tepuk tangannya untuk kakak-kakak osis yang hebat-hebat ini!”  “Cih … hebat apanya?” ujar Elden yang untungnya suaranya teredam suara tepuk tangan atau mungkin dia akan mendapat masalah lagi. “Ck … ck … bicara tolong difilter!” decih Williams. “Tapi apa yang aku bilang itu bener loh,” ujar Elden. “Hmm ….” “Aku serius ini!” “Terserah!” “Dasar es batu! Sok cool!” “Okey, jadi aku mau mengumumkan salah satu acara yang paling ditunggu-tunggu dalam ospek ini,” ujar Vivi, “Kira-kira ada yang bisa nebak gak?” “Waduh … dari cara Kak Vivi ngomong kok kayaknya seru banget nih,” ucap Aiden, “Acaranya apa nih, Kak?” “Jadi untuk ospek Shiner Senior High School akan prom night-nya untuk penutupan dan yang paling ditunggu itu perform dari setiap kelompok ospek ini. Jadi untuk kalian, setiap kelompoknya jangan lupa ya mempersiapkan perform untuk 2 hari lagi,” ujar Vivi. “Matilah kita,” ucap seseorang di depan Williams. “Merepotkan!” ujar Williams. “Tenang-tenang, di sini ada Elden, jangan takut kelompok inikan punya aku, Elden adalah seorang angel yang selalu ada saat dibutuhkan hehehe,” ucap Elden tiba-tiba berdiri dengan sambil mengepalkan tangannya di depan d**a. “Duduk!” ujar Williams sambil menarik tangan Elden. --- * Mysophobia merupakan kumpulan kondisi germaphobia. Germaphobia adalah istilah yang digunakan oleh psikolog untuk menggambarkan ketakutan patologis terhadap kuman, bakteri, mikroba, kontaminasi, dan infeksi. Pengidap mysophobia cenderung mudah jijik terhadap hal-hal yang bersifat kotor.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN