Pagi ini, Nesia bangun lebih dini. Tak peduli dengan semua hal baru dan menyenangkan di rumah ini, Nesia justru memilih pergi ke dapur. Alih-alih minta dilayani dengan segala macam menu mewah dan lezat yang sudah pasti ada di rumah ini, Nesia justru membuat Bu Maryan dan Mbak Ani terkejut karena perempuan itu membuat teh panas sendiri.
“Nyah, sebaiknya Nyonya Nesia duduk saja. Biar kami yang membuat.” Bu Maryam tergopoh-gopoh mendekati Nesia yang meracik teh panas.
Nesia tersenyum melihat sikap Bu Maryam.
“Tidak apa-apa, Bu Maryam. Jika di kontrakan, saya juga bisa membuat semuanya sendiri, kok. Bu Maryam tenang saja.” Nesia menenangkan Bu Maryam.
“Takutnya nanti Tuan Remy marah, Nyah,” ujar Bu Maryam dengan gusar.
“Bu Maryam tenang saja. Dia nggak bakalan marah sama Ibu. Sudah, abaikan saja kalau dia memang marah. Saya di sini juga pekerja sebagaimana halnya Bu Maryam, kan?” Nesia membuat teh, meminumnya sambil duduk dan memperhatikan area dapur yang luas dan bersih ini.
Senyumnya tersungging miris. Bagaimana tidak miris, hanya dalam hitungan hari hidupnya sudah berubah sedemikian drastis. Dari dirinya yang hanya seorang karyawan rendahan di sebuah gedung serbaguna, sekarang menjadi istri seorang taipan kaya dan —baiklah, harus diakuinya bahwa Remy— juga tampan.
Masih lekat dalam ingatannya bagaimana Bu Tuti menghinanya dengan demikian pedas sebagai gadis yang tak jelas asal-usulnya karena berasal dari panti asuhan. Tapi bukankah itu bukan kesalahan Nesia? Kalau saja Nesia boleh memilih, dia akan lahir dan tinggal di keluarga kaya dan terhormat agar bisa memiliki cinta sebagaimana cintanya pada Vino.
‘Vino? Bagaimana kabar lelaki itu sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia masih datang ke kontrakan? Atau mungkin dia sudah patuh dengan ibunya?’ Tangan Nesia memang mengaduk gelas tehnya, namun sebenarnya pikirannya berkelana entah kemana. Ada begitu banyak hal menyakitkan yang dirasakannya, namun Nesia tak memungkiri bahwa ada banyak hal manis yang dilaluinya bersama Vino.
Tak ingin larut dalam angan tentang Vino, Nesia kemudian bangkit untuk membantu Bu Maryam, meski perempuan setengah baya itu terus saja menolak bantuan Nesia. Namun, Nesia juga perempuan yang gigih dan pantang menyerah. Dia tetap membantu bu Maryam.
“Sudah hampir jam sarapan, Nyah. Nanti Tuan Remy sebentar lagi turun. Sebaiknya Nyonya Nesia segera bersiap untuk mendampingi beliau sarapan.” Bu Maryam mendekati Nesia yang sedang membantu Ani menyusun menu sarapan pagi ini.
“Memangnya harus, ya? Bukannya dia bisa sarapan sendiri?” Nesia menatap Bu Maryam.
“Biasanya memang beliau sarapan sendiri. Paling banter juga sama Tuan Lukas. Hanya saja, sekarang Anda adalah istri beliau. Jadi akan lebih baik jika Nyonya menemani Tuan Remy sarapan,” bujuk Bu Maryam dengan serius dan senyum dikulum.
Nesia mengerutkan keningnya tak mengerti. Bukankah dia sudah bilang bahwa dirinya hanya istri sementara? Mengapa Bu Maryam tak juga paham?
“Kok malah melamun, Nyah? Sudah, ini semua biar saya dan Ani yang mengurusnya. Nyonya sebaiknya segera mandi dan berkemas,” pinta Bu Maryam.
“Begitu, ya?” Nesia terlihat bingung.
“He-eh.” Bu Maryam mengangguk penuh semangat.
Nesia terlihat berpikir. Namun, kali ini mungkin menuruti kata-kata Bu Maryam akan lebih baik. Dia juga tak mau pagi-pagi sudah berdebat dengan lelaki itu. Maka Nesia segera kembali ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Remy, di lantai atas. Sejenak, Nesia berhenti di depan kamarnya sekedar ingin tahu apakah pria itu sudah bangun atau belum. Tapi hanya sepi, tak ada yang Nesia dengar selain senyap.
Dia hanya mengangkat bahu sebelum masuk ke kamarnya untuk mandi dan berpakaian rapi. Bukankah hari ini akan datang guru kepribadian seperti yang dikatakan oleh Lukas kemarin. Meski Nesia tak merasa bahwa sikapnya selama ini salah, tetapi tak ada salahnya jika mengikuti perintah Lukas.
Ya, Lukas yang selama beberapa jam ini baik padanya. Tidak seperti pria bernama Remy yang sepertinya tak pernah tersenyum seumur hidup itu.
Pintu di kamar Nesia tertutup bertepatan dengan pintu kamar Remy yang terbuka. Pria itu keluar dari kamar dalam keadaan yang sudah rapi dan siap ke kantor sepertinya. Hari ini dia akan kedatangan beberapa kolega usahanya. Remy menuruni tangga sambil membenarkan letak kancing lengan bajunya menuju ke ruang makan, sementara Lukas terlihat mengikuti dari belakang.
“Tuan kedatangan tamu hari ini?” tanya Lukas ketika mereka tiba di ruang makan.
Pria itu menyiapkan kursi untuk Remy agar duduk dengan nyaman.
“Ya. Mereka mengajukan proposal untuk pembangunan perumahan di pinggiran kota.” Remy menjawab datar sambil menyeruput segelas s**u hangat rendah lemak, lalu mengambil dua lembar roti bakar dan mengolesnya dengan selai. Lukas mengikuti apa yang dilakukan oleh Remy.
“Anda punya rencana untuk mengabulkan proposal itu?” Lukas menatap wajah Remy.
“Belum bisa kuputuskan. Aku belum melihat rincian proposal mereka. Jika sekiranya menguntungkan, mengapa tidak?” Remy memulai sarapannya.
Lukas mengangguk mengerti. Yang ada di dalam kepala Remy memang selalu tentang laba dan keuntungan. Dan Lukas tak bisa menyalahkan hal itu karena Remy benar-benar menuruni sifat ayah mereka yang selalu melakukan penghitungan yang tepat dan sikap yang praktis. Itu pula yang membuat usaha ayah mereka, bisa berkembang dengan pesat. Meski kini usaha itu diteruskan oleh Remy sebagai direktur utama bersama dirinya sebagai asisten, namun itu tak mengubah semua menjadi menurun. Bahkan berkembang semakin pesat.
“Apakah kamu sudah menemukan guru yang tepat?” tanya Remy tiba-tiba, menghancurkan keheningan sarapan pagi ini.
Lukas mendongak menatap Remy dan mengangguk.
“Ya.” Lukas menjawab sigap.
“Siapa?” Remy bertanya dengan santai.
Lukas terdiam sejenak, seolah mencari kalimat paling tepat untuk mengatakan siapa yang telah Lukas pilih dan alasan apa yang membuatnya memilih guru itu. Namun, karena Lukas tak juga menjawab pertanyaannya, Remy menghentikan sarapannya dan menatap Lukas.
“Apakah kamu tak mendengar pertanyaanku, Lukas?” Remy bertanya tajam.
Lukas tersenyum canggung kemudian menjawab dengan sedikit kikuk, “Maaf, Tuan. Mungkin ini sedikit tidak berkenan untuk Anda. Tapi dari sekian banyak sekolah kepribadian, hanya sekolah milik miss Rosa yang masih menempati urutan pertama dalam segi hasil, Tuan Remy.”
Kalau saja Remy tidak siap mental, mungkin dia akan tersedak makanan yang dikunyahnya.
“Rosa? Kamu memakai Rosa untuk mendidik gadis itu? Kamu gila, Lukas?” tanya Remy dengan tatapan tajam penuh ketidaksetujuan dengan keputusan Lukas yang memilih Rosa untuk menjadi guru kepribadian bagi Nesia.
“Maaf, Tuan. Hanya beliau yang bersedia mengajari Nona Nesia dengan dadakan tanpa jadwal seperti ini.” Lukas memberikan alasan yang lain mengapa dia lebih memilih Rosa.
“Tapi, Lukas. Tidakkah kamu pikirkan apa yang akan dikatakan perempuan itu jika tahu bahwa aku menikahi gadis tanpa etika seperti itu sehingga harus mencari seorang guru kepribadian?” Remy jelas mengungkapkan alasan mengapa dia memilih Rosa.
“Anda bisa menggagalkan kesepakatan kita sekarang juga kalau Anda keberatan dengan keberadaan saya yang tanpa etika ini, Tuan Remy. Dan saya tak akan menuntut kompensasi sepeserpun kepada Anda.” Sebuah suara tiba-tiba menyela di antara pembicaraan mereka.
Spontan, Lukas dan Remy menoleh ke arah sumber suara. Entah sejak kapan Nesia berada di sana, yang pasti dia menyahut dengan galak dan ekspresi sadis ketika mendengar Remy mengatainya perempuan tanpa etika.
***