Awalnya Nesia jelas ingin meledakkan kemarahannya karena ejekan yang dilontarkan dengan begitu gamblang itu. Namun, ketika dia melihat bahwa yang datang tidak hanya Remy, maka sebisa mungkin Nesia menahan diri. Dia memang tersinggung, tapi dia tak akan merendahkan dirinya hanya untuk melayani ocehan tak penting Remy.
Maka dengan senyum yang dibuatnya lembut dan manis, Nesia berjalan mendekat ke arah mereka.
“Hei, kalian sudah datang? Kami baru saja selesai memasak untuk menyambut Anda semua.” Nesia bersikap ramah saat mendekati Remy dan beberapa laki-laki yang ikut datang bersamanya itu.
“Ehem!” Remy berdehem untuk mengingatkan Nesia bahwa sebaiknya perempuan itu tidak bersikap berlebihan. Namun, sepertinya Nesia mengabaikan apapun yang diisyaratkan oleh Remy.
“Perkenalkan, Nesia. Beliau adalah Thomas dan asistennya, Deni. Mereka adalah tim advokasi yang akan mencatat dan membukukan kesepakatan yang kita ambil kali ini. Dan Thomas, ini adalah Nesia. Gadis yang sebelumnya sudah aku beritahukan kepadamu,” Remy memperkenalkan tamu yang dibawanya itu kepada Nesia.
“Oh, selamat datang, Tuan Thomas, Tuan Deni. Senang bertemu dengan Anda.” Nesia mengulurkan tangannya dengan senyum ramah, berniat mengajak kedua laki-laki itu berjabat tangan sebagai tanda perkenalan.
Namun, kedua lelaki itu tidak segera menyambut uluran tangan Nesia, bahkan hanya saling pandang. Tentu keduanya merasa aneh dengan sikap Nesia yang jauh lebih terbuka dibandingkan dengan beberapa perempuan Remy yang mereka kenal sebelumnya.
“Mengapa, Tuan? Anda berdua tidak berkenan menjabat tangan saya? Oh, saya tahu. Apakah ini karena Anda mencium aroma bumbu dapur?” tanya Nesia menatap kedua lelaki itu bergantian.
Remy hanya menatap Nesia dengan sedikit jengah karena sadar bahwa gadis ini ternyata tidak mengindahkan peringatan yang diberikannya tadi pagi. Melihat ekspresi Remy, kedua lelaki itu salah menilai.
“Oh, tidak, Nona Nesia. Anda tidak beraroma dapur dan bumbu-bumbu.” Thomas segera menyambut uluran tangan Nesia, demikian pula dengan Deni. Mereka menjabat tangan Nesia dengan wajar meskipun dalam hati mereka bertanya-tanya, bagaimana mungkin Remy membiarkan Nesia menjabat tangan mereka.
Nesia tersenyum lebar menyambut mereka.
“Kurasa cukup bagi kalian untuk beramah tamah karena kita akan segera membicarakan mengenai apa yang aku katakan, Thomas.” Entah mengapa Remy tak suka melihat interaksi antara Nesia dengan kedua tim advokasinya itu yang terlihat begitu alami.
“Oh, maaf. Baiklah, Tuan. Kita bisa memulainya sekarang.” Thomas menjawab dengan sedikit gugup seolah menyadari kelambanannya dalam mengambil sikap.
“Oke, kita ke ruangan kerjaku sekarang.”
Usai berkata seperti itu, Remy berjalan anggun menuju ke ruangan kerjanya. Thomas dan Deni mengikuti di belakangnya. Sementara itu, Lukas yang semenjak tadi hanya memperhatikan mereka kemudian menatap Nesia yang hanya berdiri di tempatnya.
“Nona Nesia?” panggil Lukas.
“Ya?” Gadis bertubuh agak pendek jika dibandingkan dengan Lukas dan Remy itu mendongak, menatap Lukas yang juga menatapnya.
“Sebaiknya Anda juga mengikuti mereka karena ini menyangkut Anda di dalamnya.” Lukas menyarankan agar Nesia ikut dengan Remy.
“Apakah Anda juga akan ke sana, Tuan Lukas?” Mata Nesia yang berbinar cemerlang menatap Lukas.
Laki-laki itu tersenyum dan mengangguk.
“Tentu saja saya harus ke sana. Anda akan ikut bersama saya?” tanya Lukas menawarkan.
Sejenak Nesia berpikir sebelum akhirnya mengangguk setuju.
“Apakah saya perlu berganti pakaian? Mungkin mereka tidak nyaman dengan aroma bumbu dan masakan yang tertinggal di tubuh saya,” tanya Nesia sedikit ragu.
Lukas menggeleng.
“Anda tidak beraroma bumbu masakan, Nona Nesia. Hanya saja mungkin lain kali Anda tak perlu terjun langsung ke dapur untuk menyiapkan makanan. Percayakan saja pada kedua pembantu itu.” Lukas memberikan nasihat pada Nesia.
Nesia mengangguk setuju.
“Mari ikut dengan saya atau Anda akan melihat Tuan Remy marah karena kelambanan kita datang,” ujar Lukas sambil mengajak Nesia mengikuti Remy yang sudah menghilang dari pandangan mereka.
Membayangkan kemarahan Remy saja Nesia sudah merinding. Jadi, tanpa menunggu lama dia segera mengikuti langkah Lukas, tak peduli bagaimana aroma tubuhnya yang baru saja memasak.
Melihat Nesia melangkah gesit mengikuti Lukas, Bu Maryam dan Ani saling berpandangan dengan pikiran menduga bermacam-macam. Ani kemudian mendekati bu Maryam dengan wajah penasaran.
“Bu, mengapa Tuan Thomas hadir? Biasanya kalau Tuan Thomas yang datang, selalu karena ada masalah, kan?” tanya Ani dengan suara lirih.
Bu Maryam menggeleng. “Aku juga tidak mengerti, An. Mudah-mudahan saja bukan masalah besar. Kasihan sama Nyonya Nesia.”
Ani mengangguk.
“Iya. Padahal beliau baik. Bahkan, dari sekian banyaknya teman perempuan Tuan Remy, hanya istrinya ini yang begitu ramah dengan kita kan, Bu?” Ani menatap Bu Maryam seolah meminta persetujuan.
Perempuan setengah baya itu mengangguk.
“Ya. Kamu benar, An. Apalagi Non Dona itu. Sombongnya selangit. Untung saja Tuan Remy tidak jadi menikah dengan Non Dona. Kalau jadi, alamat kita yang akan sering kena semprot,” bisik Bu Maryam yang kemudian tertawa kecil.
“Bu Maryam benar.” Ani menimpali dengan setuju.
“Sudah, An. Kita harus segera menyiapkan makan siang kali ini. Jangan sampai beliau-beliau selesai tapi kita masih belum apa-apa.” Bu Maryam kemudian mengajak Ani menyusun makanan di meja makan.
Sementara itu, ketika Lukas dan Nesia memasuki ruang kerja Remy yang terlihat mewah dan elegan itu, Thomas beserta asistennya dan juga Remy sudah menunggu. Mereka terlihat sedang membaca berkas yang akan mereka tanda tangani nanti. Lukas mempersilahkan Nesia untuk duduk di salah satu kursi di ruangan itu.
Tak bisa dipungkiri bahwa Nesia menyimpan sebuah kekaguman tersendiri atas tata ruang ini. Matanya mengedar ke segenap ruangan yang dipenuhi oleh cahaya matahari ini. Belum lagi usai mengagumi, deheman Remy kembali terdengar sehingga Nesia buru-buru memusatkan konsentrasinya pada hal yang akan mereka tandatangani nanti.
“Silahkan Anda baca dan cermati kembali, Nyonya Nesia. Sebelum nanti Anda dan Tuan Remy tanda tangan.” Thomas menyodorkan map berisi berkas perjanjian yang sepertinya sudah diperbarui oleh Lukas, sesuai permintaan Nesia tadi malam.
Nesia menerima dalam diam, kemudian membuka dan membacanya dengan langsung mengacu pada pasal dimana tidak akan ada seks di antara mereka berdua selama masa perjanjian. Nesia juga membaca bahwa selama masa perjanjian, Nesia wajib bersikap sebagaimana seorang istri di hadapan umum dan kolega dengan Remy sebagai pihak pertama menunaikan kewajiban di bidang finansial.
Hanya sampai disitu saja Nesia membaca karena point yang dia inginkan sudah tercantum, maka sudah dirasa cukup.
“Dimana saya harus tanda tangan, Tuan Thomas?” tanya Nesia dengan cepat.
“Bahkan Anda belum membacanya dengan baik, Nyonya Nesia.” Thomas heran karena Nesia hanya sebentar menyimak berkas itu.
“Selama point saya tentang seks sudah tercantum, saya rasa sudah aman, Tuan Thomas,” jawab Nesia dengan yakin. Dia tak mengerti bahwa ada satu pasal yang tidak menguntungkan baginya.
Thomas menatap Remy, meminta pendapat dan persetujuan laki-laki itu selaku pihak pertama. Remy hanya bisa angkat bahu, mengikuti kemauan Nesia agar semuanya segera selesai.
“Kalau Nona Nesia sudah setuju, mengapa harus ditunda lagi, Thomas. Aku akan tanda tangan setelah Nona Nesia tanda tangan.” Bahkan Remy juga bersikap netral.
“Nah, Tuan Thomas. Dimana saya harus tanda tangan?” Nesia bertanya lagi, sehingga Thomas segera memberikan pena dan memberitahu dimana Nesia harus tanda tangan.
Gadis itu begitu yakin ketika membubuhkan tanda tangannya. Namun, senyum Remy tersungging penuh kemenangan.
***