29. Yang Terjadi

1566 Kata
“Hari ini dia berlatih lagi?” Ratu Alexa bicara sambil memeriksa sebuah laporan di dalam gulungan. Kaja yang langsung mengerti ke mana arah pembicaraan ratunya kontan mendongak. Ia tak bisa tidur semalaman karena tugas dari ratu terlalu banyak. Sekarang dirinya masih berada di ruang kerja dengan mata terkantuk-kantuk. “Maksudmu Nona Xevana?” “Hm, aku belum melihatnya sejak pagi. Apa dia sarapan dengan baik?” Ratu Alexa selalu apa adanya di hadapan Kaja. Boleh dibilang manusia setengah burung gagak ini orang kepercayaan Ratu Alexa. Di tambah Kaja selalu blak-blakan tiap mengomentari apa pun yang berhubungan dengan Ratu Alexa. Mungkin sebab itu pula Ratu Alexa tak pernah masalah jika berbicara santai pada bawahannya yang satu ini. “Semalam kalian bertengkar lagi, bukan?” tebak Kaja. Pasalnya meski sepasang ibu dan anak itu jarang bersama, tetapi saat sarapan atau makan malam pasti mereka akan meluangkan waktu makan bersama di meja makan. Jika Kaja boleh menebak permasalahan yang belum tuntas di antara mereka kini bertambah lagi. Malah kelihatannya semakin rumit. Kaja mengendikkan bahu, melanjutkan pekerjaan yang masih menggunung. Andai saja ia hanya pegawai kerajaan biasa, ia akan mempunyai hari libur. Hari libur itu akan Kaja pakai untuk memanjakan diri sendiri. Sedangkan jauh dari kata libur, bahkan istirahat saja di atur. Sekarang pekerjaannya tambah rumit sejak hubungan ratu dan putri kerajaan renggang. Kaja terpaksa menjadi diplomat yang menyampaikan pesan keduanya. Sebenarnya tak ingin tahu lebih banyak, tetapi selaku orang yang dekat dengan keduanya ia merasa harus mengetahui juga apa yang sedang terjadi. Satu gulungan kertas berisi laporan dari pengurus persediaan gudang kerajaan selesai ia periksa. Gulungan lain kemudia ia buka. Ratu Alexa menghela napas. “Bukan aku yang marah. Aku tidak pernah bisa merah terlalu lama, kau tahu itu. Anak itu yang marah padaku.” Kaja mengakui bahwa RAtu Alexa sebenarnya tidak pernah bisa marah yang lama. Walau pun penampilannya menyeramkan dan apa yang melekat padanya terlanjur dibilang sangat kejam, padahal jika mereka mengenal lebih jauh Ratu Alexa ini memiliki hati yang sangat lembut. Ratu Alexa hanya tidak pernah menunjukannya. Mengapa ia tidak pernah menunjukan kasih sayang pada sekelilingnya? Karena setahu Kaja ini merupakan ajaran kerasa dari mendiang raja Negeri Darkness sebelumnya, yakti ayah dari Ratu Alexa. Raja Dreyxa sangat disegani oleh rakyat. Kepemimpinannya sangat tegas dan disiplin. Ratu Alexa banyak meniru cara kepemimpinan ayahnya waktu itu. “Tidak akan pernah ada asap jika tidak ada api. Pasti selalu ada penyebabnya Nona Xevana marah. Dia bukan gadis yang suka marah tanpa alasan. Aku mengenalnya sejak masih bayi merah. Belum pernah sekali pun dia menangis bukan karena ulah ibunya sendiri.” Kalimat Kaja itu berhasil mengalihkan perhatian Ratu Alexa. Wanita paling berpengaruh di negeri kegelapan itu diam beberapa saat khusus menatap Kaja. Ia tahu Kaja pura-pura tidak menyadari sedang ditatap dari singgasana. “Maksudmu aku adalah sumber kesedihan bagi putriku sendiri?” “Aku tidak mengatakan apa-apa selain tentang Nona Xevana. Mengapa jadi kau yang tersinggung? Apa aku salah bicara?” Lama-lama cara bicara Kaja sangat keterlaluan. Ini sudah melewati batas. Harusnya seorang pekerja istana tunduh dan patuh terhadap pemimpin kerajaan, bahkan menghormati dan dilarang keras menyela apalagi membantah perkataannnya. Namun tidak berlaku dengan Kaja. Ratu Alexa saja masih tak habis pikir mengapa tidak dari dulu saja ia habisi makluk menyebalkan ini. Dipikir-pikir lagi, ia masih membutuhkan makhluk seperti Kaja. Walaupun tidak punya etika, tapi dia setia. Ratu Alexa punya keyakinan bahwa ia tidak akan dikhianati setidaknya oleh Kaja. “Memangnya kalian membicarakan apa lagi sampai Nona Xevana bertambah marah?” Kini Kaja mendongakan kepala siap mendengarkan cerita Ratu Alexa. Ini sekaligus kesempatan baginya untuk beristirahat sejenak. Maka Kaja menyimpan tinta di seja jemari kembali ke tempatnya. Harapan Kaja hanya satu : berharap Ratu Alexa nyaman bercerita sehingga waktu istirahatnya menjadi lebih panjang. “Aku siap mendengarkan.” Kaja tersenyum licik. “Bukan masalah besar sebenarnya.” Ratu Alexa berdeham. Gulungan di tangannya disingkirkan lebih dulu. Lalu ia berjalan ke dekat kolam ajaib. Jemarinya lihat bermain di atas permukaan air sembari membaca mantra sihir. Asap perlahan keluar dari permukaan air dan tumpah ruah ke lantai. Kaja menyangga dagu. Kali ini pada jam istirahatnya ia menyaksikan atraksi sihir Ratu Kerajaan Darkness. Asap putih itu hilang dari kolam ajaib. Permukaan air perlahan tak ubah seperti cermin yang memperlihatkan tempat lain. Ratu Alexa tengah melihat ke suatu tempat. Dimana sekelilingnya benteng berduri dan berada di ketinggian. Panglima terkuat Darkness juga terlihat di sana. Perhatian Alexa tertuju pada seseorang yang tengah berlatih sihir. Ratu Alexa tersenyum melihat putrinya gagal menyempurnakan sihir baru dari Faramis. Raut muka Xevana tampak kecewa, tetapi terus mencoba. Faramis selalu mengatakan Xevana selalu melakukan segala hal dengan sempurna. Terlewat sedikit saja, pasti akan mengulanginya sampai tak ada lagi celah. “Benar-benar seperti ayahnya,” gumam Ratu Alexa tanpa sadar. Meski hanya gumaman, Kaja masih bisa mendengarnya. Habis itu Kaja paham permasalahan antara Ratu Alexa dan Xevana masih berputar tentang ayah kandung Xevana yang pergi itu. “Jadi kali ini masalahnya masih tentang ayah kandung Nona Xevana, bukan?” Suara Kaja membuyarkan senyuman Ratu Alexa. “Sepertinya tebakanku benar. Kalian mempertengkarkan kembali orang itu. Aku tidak tahu siapa yang memulai, tapi apa kalian tidak lelah terus berseteru hanya karena orang yang tidak ada di sini? Bahkan ingat kelian saja sepertinya tidak. Apa yang diharapkan dari orang seperti itu.” “Jaga bicaramu, Kaja. Aku tidak ingin mendengar apa pun perkataan buruk tentang Tirta di negeri ini,” tegas Ratu Alexa. Setiap ada yang menjatuhkan Tirta di hadapannya pasti Ratu Alexa tanpa memikirkan apa-apa akan segera menyela dengan suara mengitimidasi. Seolah apa yang orang lain tentang Tirta bertolakbelakang. Seolah Tirta adalah lelaki paling baik di dunia sehingga patut dibela. "Yang boleh menghina dan menjelek-jelekkan orang itu hanya aku. Ingat, bagaimana pun dia, ia adalah ayah kandung Xevana. Dan seburuk apa pun Xevana berpikir soal ayahnya, dia tetap akan sakit hati bila mendengar perkataan buruk soal ayahnya. Dia akan merasa penghinaan yang didapatkan ayahnya untuk dirinya juga." Kaja tidak pernah heran dengan cara Ratu Alexa mati-matian membela orang yang meninggalnya demi ambisi sendiri. Tetap saja setiap mendengar pembelaan itu, Kaja ternganga. Menyadarkan ia bahwa Ratu Alexa juga seorang wanita. Makhluk yang lebih banyak mengandalkan perasaan daripada logika. Jika apa yang menimpa Ratu Alexa terjadi pada Kaja, maka dengan menggunalan kekuatannya sudah sejak dulu ia menghabisi orang seperti Tirta. Tapi sayangnya Ratu Alexa bukan Kaja. "Iya ..., maaf ...," dengus Kaja sengaja. "Kau selalu berlebihan setiap membelanya. Seolah lupa kesakitan apa saja yang sudah dia berikan padamu dan anakmu. Seolah lupa bagaimana kau diam-diam menangisi kepergiaannya. Menangisi sikap tidak bertanggungjawab ya terhadap kalian--" Kaja tidak berhenti karena pelototan Ratu Alexa seperti kedua bola matanya siap loncat dari tempatnya. "Iya, dari dulu aku sering memergoki kau menangis diam-diam. Kau tahu? Kau terlalu ingin dilihat baik-baik saja. Terkadang aku berpikir kau melakukan ini semua, menahan semua perasaan, menanggung semua beban sendirian, karena posisimu sebagai ratu. Seseorang yang dilihat oleh seluruh rakyat Negeri Darkness. Tapi aku sadar, sikapmu yang seperti tidak punya perasaan ini salah. Kau juga manusia, kan? Kau bukan prajurit Undead yang diciptakan agar tidak pernah mati di Medan perang. Jadi, jangan seperti mereka. Meski ingin sekali mengakhiri semuanya. Aku yakin hatimu selalu bicara berbeda." Beberapa saat usai Kaja selesai bicara Ratu Alexa masih diam. Berdiri di samping kolam ajaib tanpa kata. Kaja sempat bingung. "Sepertinya aku banyak bicara lagi." Biasanya kalau Kaja terlalu banyak bicara dan Ratu Alexa tidak suka. Kaja akan disihir lagi menjadi macam-macam. Yang terakhir Kaja melakukan kesalahan dan hukumannya disihir menjadi katak. Sungguh, walau tidak normal, tetapi raganya yang setengah burung gagak itu telah melekat pada dirinya. Jadi Kaja menyukai bentukannya sebagai manusia setengah burung. "Xevana menyuruhku supaya berhenti melakukan apa pun ya g berhubungan dengan masa laluku." "Apa?" Kaja kaget. "Maksudmu, Nona Xevana ingin kau melupakan ayahnya?" "Iya, semuanya tentang dia." "Termasuk Tebing Fallin The Moon dan--" "Bulan purnama," sambung Ratu Alexa terdengar agak berat hati. "Kemarin malam Xevana mendatangiku di Fallin The Moon." Mendadak ingatan Kaja terlempar pada malam kemarin saat Xevana bertanya keberadaan ibunya. Kaja sedang sibuk-sibuknya, tak begitu memerhatikan kalau jawabannya mengirim Xevana ke tebing itu. "Xevana sepertinya tahu tempat itu dan kebiasaanku di sana berhubungan dengan ayah kandungnya. Dia bilang tidak menyukainya. Aku harus melupakan semua itu jika ingin hidup bahagia dengannya sebagai keluarga. Sebenarnya saat itu aku ingin mengatakan siapa ayahnya. Xevana seolah tahu maksudku dan tidak ingin mendengarnya." "Dari mana dia mengetahui tentang masa lalumu bersama lelaki itu di Fallin The Moon?" Ratu Alexa kembali memerhatikan kolam ajaib. Do benteng pertahanan Darkness terlihat Xevana masih melatih jurus yang sama. Masih belum sempurna. Sihirnya bergerak terlalu kasar dan belum berhasil mengenai orang-orang sebagai sasaran. "Aku tidak tahu dia hanya asal.menebak atau diam-diam mengetahui sesuatu. Yang aku takutkan hanya, dia menahan diri demi menjaga perasaanku. Sama sekali aku tidak perna melarangnya memikirkan atau mengharapkan ayahnya. Aku tidak sejahat itu sampai membuat Xevana membenci orang yang belum pernah dia temui." Masalahnya makin rumit saja. Dulu Xevana ingin mengetahui soal ayahnya sampai melakukan segala cara. Kini ketika Ratu Alexa siap mengungkap segalanya, Xevana tidak Sudi mendengarnya. Entah apa yang terjadi. Kaja menyangga dagu. Xevana gadis yang sangat lugu. Jika tidak ada yang mempengaruhinya, dia tidak akan melakukan hal di luar dugaan. Kaja harus mencari tahu penyebabnya. Seperti satu orang yang amat dekat dengan Xevana mengetahui apa yang terjadi. "Kau mau ke mana?" Kaja berjalan santai keluar dari ruangan kerja kerajaan. "Ada urusan!" Ratu Alexa berdecak menatap kepergian Jaka. "Di sini dia bersikap seolah dia adalah rajanya." 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN