30. Semangat Baru

1323 Kata
Terjun dari jendela teratas salah satu menara Kastil Darkness, Kaja mengepakan sayap lebarnya ke angkasa. Lalu terbang jauh melintasi hutan. Tujuannya berada di sisi wilayah. Sebuah misi tanpa komando orang lain, ini keinginannya sendiri. Kaja ingin mencari tahu tentang Xevana pada seseorang. Benar. Orang itu adalah Gyusion. Alasannya hanya karena mereka berteman dekat sejak kecil. sudah pasti satu sama lain saling bertukar rahasia. Mungkin Gyusion juga mengetahui penyebab dari kemarahan Xevana kali ini. Pasalnya Xevana dan ibunya belum pernah saling perang dingin dalam jangka waktu selama ini. Kaja jadi sangat khawatir mengenai mereka. Jangan sampai suasana cangung antara ibu dan anak itu berlangsung selamanya. Baru membayangkannya saja mengerikan. Matahari siang itu terasa membakar membuat Kaja terbang agak cepat. Kaja tiba di pondok kayu dan tidak biasanya sangat sepi. Di dalam pondok juga tidak ada seorang pun. Kemana para pengasuh dan Gyusion? Kaja melihat ke sekitar. Hanya ada makhluk bertubuh besar tengah bersandar pada batu sembari mengipasi diri sendiri menggunakan daun talas. Sedangkan tak jauh dari tempatnya bersandar ada setumpuk daun-daun bambu. “Ke mana orang-orang di pondok?” Kaja berjalan menghampirinya. Akai membuka mata dengan malas. Kalau saja suara burung itu tidak ada ia hampir memasuki alam mimpi. “Aku bukan penjaga rumah itu. Entah ke mana dua peri itu pergi. Sepertinya mereka akan pergi ke luar wilayah Darkness. Mereka membawa tas.” Akai malas-malas menjawabnya. “Lalu Gyusion? Apa bocah itu ikut dengan dua peri itu?” Jika dua pengasuh diizinkan keluar dari wilayah kerajaan untuk mencari keperluan Gyusion dan herbal, selain mereka tak ada yang diberi izin. Akai menghela napas, menyadari apa kekhawatiran Kaja. Tanpa berniat membetulkan posisi duduk, Akai bicara, “Anak itu sedang menjalankan tugas.” “Tugas apa?” “Mengangkut air dari sungai ke kolam itu!” tunjuk Akai pada kolam dekat tempat tinggalnya. Isinya baru setengah. “Kau pikir tugas apa? Ratu menyuruhku untuk melatih bocah itu, ‘kan?” “Oh, kupikir tugas apa.” Kaja berdecak. Mungkin dirinya memang seberlebihan ini menyangkut Gyusion. Ia takut jika Gyusion diam-diam pergi dari Negeri Darkness. Meninggalkan Negeri Darkness tanpa sepengetahuan Ratu Alexa bukan hal yang baik. Mungkin Ratu Alexa akan cepat menemukan Gyusion dan menyeretnya kembali ke Darkness. Tapi setelahnya siapa yang tahu? Bisa saja Gyusion dikurung seumur hidup. Tidak ada yang tahu bagaimana pemikiran Ratu Alexa. Intinya jangan pernah memancing wanita perpengaruh di wilayah ini marah. “Memangnya kau pikir apa?” Akai bingung. Menurut Akai di kerajaan ini terlalu banyak teka-teka. Semuanya sangat menyukai rahasia dan bermain saling menyembunyikan. Terkadang Akai heran mengapa mereka setahan itu menjaga rahasia. “Gyusion ikut dua peri keluar dari Negeri Darkness mungkin?” Bahu Kaja mengendik. Dia kemudian duduk di samping Akai menghadap ke kolam. “Sudah berapa lama dia mengisi air kolam?” “Sudah setengah hari,” jawab Akai datar. “Selama itu? Tapi belum penuh juga? Dia biasa menyelesaikan tugas berapa lama jika begini terus.” “Iya dia masih kurang dalam hal ketahanan dan kecepatan. Santai saja meski lambat, dia selalu menyelesaikan tugasnya sampai tuntas. Meski itu harus sampai malam.” Kaja menghela napas panjang. Sekarang ia harus menunggu anak itu menyelesaikan tugasnya terlebih dulu. Tidak tega juga menanyakan banyak hal yang akan mengganggu proses latihannya. Dia bisa semakin lama mengerjakan tugasnya. Padahal Kaja sering ditugaskan mengawasi proses latihan Xevana dan Gyusion. Baru kali ini Kaja merasa sangat lama Gyusion menjalankan tugas sederhana ini. Sampai-sampai Kaja ikut tertidur seperti Akai. Duduk di bawah pohon di cuaca panas seperti itu membuatnya mengantuk. *** Sementara di antara perbukitan berbatu, pemuda itu memikul dua wadah kayu berisi air. Terik matahari seolah menggodanya agar menyerah saja. Air yang ia bawa bertahan dalam wadah itu. Volumenya masih banyak. Mungkin ini karena sering melakukan tugas yang sama, jadi ia mulai mengetahui cara supaya air yang ia bawa dari jarak yang jauh tetap utuh. Lama-lama air yang dia bawa hanya berkurang sedikit. Ini sebuah kemajuan. Jika mengingat awal-awal menjalankan tugas. Baru beberapa langkah menaiki bukit berbatu, air yang ia pikul bertumpahan sehingga ia harus turun lagi ke sungai mengambil air. Setelah bisa mempertahankan volume air, Gyusion perlu meningkatka kecepatan berjalan sambil terus menjaga volume air. Akai sengaja menyuruh Gyusion mengambil air dari sungai yang jauh supaya bisa puas mengerjainya. Gyusion harus naik-turun bukit dan melintasi padang rumput. Gyusion menengadah sebentar. Melihat silau matahari tepat di tengah-tengah langit. Ia kembali berjalan menaiki bukit berbatu. Tekadnya kuat, harus menyelesaikan semua ini lebih cepat. Semakin cepat ia bisa memenuhi kolam itu dengan air, makan semakin cepat pula Akai akan mengajari ilmu bela diri yang sesungguhnya. Tujuannya masih sama, yakni bertanding di Stadion Gladiator. Dengan memenangkan pertandingan di kandang seta n itu, Ratu akan mengabulkan semua keinginannya. Permintaannya hanya bertemu dengan keluarga kandungnya lagi. *** Faramis menyilangkan tangan. Sedari tadi ia memerhatikan muridnya berlatih dengan keras. Xevana tampaknya kesulitan dengan ilmu baru yang diajarkan Faramis kali ini. Faramis juga heran mengapa begitu. Pasalnya Xevana termasuk murid yang sangat cepat mempelajari sesuatu. Sudah berkali-kali Xevana gagal membangun sihir itu. Jika berhasil membangun sihir, kesalahan lainnya ia salah mengenai sasaran. Arahnya sering meleset. Faramis telah meminta Xevana beristirahat. Terlebih ia khawatir emosi muridnya sangat terlihat tidak stabil. Sejak awal latihan dimulai, Xevana kesulitan berrkontrasi. “Kita bisa melanjutkannya setelah istirahat. Kau kelihatan sangat lelah, Xevana.” Xevana mengusap keringat yang mengucur di pelipis. “Tidak ada waktu. Aku harus cepat menguasai semua ilmu yang Guru ajarkan.” Lagi-lagi tembakan sihir dari tangan Xevana gagal mengenai patung kayu. Xevana menggeram kesal sambil terus mencoba membangun sihir. “Aku sangat tahu cita-citamu, Xevana. Tapi beristirahat sebentar tidak akan salah. Tubuhmu membutuhkan itu.” “Aku akan istirahat nanti—“ “Sekarang atau aku akan melalukan sesuatu?” ancam Faramis. “Kau tahu aku selalu sungguh-sungguh terhadap ucapanku, Xevana.” Xevana pun menyerah. Gadis itu menuruti perintah gurunya melipir sejenak dari tempat latihan. Xevana memilih berdiam diri di ujung benteng pertahanan negerinya. Ia memandangi kabut hitam di atas benteng berduri ini. Kabut itu menghalangi pemandangan ke dunia luar. Ratu Alexa sengaja menjadikan gumpatan awan tebal sebagai benteng di langit agar rakyat benar-benar kesulitan melihat dunia selain Darkness. Ratu yang kejam. Sedang merasa semilir angin di atas ketinggian itu tiba-tiba sesuatu terlintas dalam kepalanya. Xevana kontan membuka mata. Ia membayangkan bagaimana jika ia menemukan ilmu sihir yang bisa memecahkan pertahanan kuat kerajaannya sendiri? Jika pintu bisa dikunci dan bisa dibuka juga. Sama pula dengan sihir pertahanan di sini, bukan? Ada pemecahnya. Mendadak raut muka Xevana berubah cerah. Binar matanya yang semula sayu sedikit berubah terang. Xevana merasa telah mendapatkan tambahan energi. Gurunya benar, dengan beristirahat sebentar akan memulihkan tenaga. Terbukti, Xevana baru saja mendapatkan ide cemerlang. Lihat saja suatu saat nanti ia akan membelah gumpalan awan hitam itu. Jika rakyat Negeri Darkness benar-benar dilarang keluar dari wilayah kerajaan selangkah pun, setidaknya rakyat bisa bernapas lega tanpa harus melihat gumpalan awan hitam di setiap perbatasan. Rasanya seperti hidup di penjara. *** Ratu Alexa mengusap dagu lancipnya. Raut muka Xevana yang terlihat di permukaan kolam ajaib membuatnya penasaran apa yang sedang gadis itu pikirkan. Mengapa terasa mencurigakan. “Ada apa dengannya?” Ratu Alexa bergumam. Sangat jelas sebelumnya Xevana murung dan sedih. Dalam waktu singkat gadis itu tersenyum seolah sudah menemukan sesuatu. Ratu Alexa memerhatikan hal-hal di sekitar Xevana, siapa tahu ia menemukan alasan putrinya tersenyum tiba-tiba. Namun, nihil. Ratu Alexa tidak menemukan apa-apa. Selain itu tak lama Xevana kembali ke tempat latihan. Xevana berlatih lebih keras lagi. Bedanya Xevana tampak lebih siap dan semangat. Perhatian Xevana terlihat tercurahkan pada sihir barunya. Sangat luar biasa dalam satu kali percobaan Xevana berhasil. Mata Ratu Alexa menyipit menyaksikan itu semua. Ia yakin ada yang aneh. Atau mungkin anak remaja memang begitu? Sangat cepat berubah-ubah? Ratu Alexa menghela napas lelah. Sampai sekarang ia belum bisa memahami anaknya sendiri. Padahal Xevana pernah berada dalam dirinya. “Sepertinya dia punya kemampuan mengusai perasaan dan logika dengan cepat. Mirip denganku.” Ratu Alexa akhirnya menyerah, kembali ke singgasana memeriksa tumpukan laporan. Melihat kemahiran Xevana berlatih sihir, mendadak tercipta ketakutan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN