Bulan bersinar terang malam itu. Ratu Alexa memandangnya dengan ingatan yang melayang-layang. Jemari lentiknya terangkat ke udara. Menjadikan jemari itu penghalang cahaya bulan sebelum menerpa wajahnya. Kegiatan ini masih sering ia lakukan sendirian.
Dulu saat masih muda Ratu Alexa memandangi bulan bersama Tirta. Mereka selalu melakukannya di tempat-tempat tertinggi di Negeri Darkness. Salah satu tempat paling sering dikunjungi adalah di atas tebing Fallin The Moon. Rasanya jauh menyenangkan waktu itu. Bulan dan tangan jaraknya terasa sangat dekat. Seolah kamu bisa membawa bulan dalam satu genggaman.
Ratu Alexa masih mengingat bagaimana suasana duduk di samping Tirta. Bagaimana senyum tulus Tirta yang menjeyukan bisa memberi ketenangan. Bahkan suara Tirta waktu itu masih terngiang-ngiang, “Dengan begitu kamu bisa menggenggam bulan. Ini artinya selalu ada kemungkinan di antara ketidakmungkinan.”
Ratu Alexa percaya saja dan bermimpi mereka akan bersama-sama dalam waktu lama meski perbedaan keduanya adalah ketidakmungkinan. Saat itu Ratu Alexa masih menjadi putri kerajaan. Interaksinya bersama rakyat terutama pekerja kasar sangat dibatasi.
Nyatanya perkataan Tirta tidak salah. Hanya saja sejak dulu Ratu Alexa salah mengartikan. Belakangan baru Ratu Alexa sadari bahwa kemungkinan di antara ketidakmungkinan itu seperti Tirta yang anak seorang penggembala dan ditinggalkan kedua orang tuanya tapi sekarang menjadi seorang raja. Ini bukan tentang mereka, apalagi tentang hubungan mereka. Di sini hanya Ratu Alexa yang memiliki harapan itu. Sedangkan harapan Tirta berbeda dengannya.
Namun anehnya Ratu Alexa terlalu dibutakan asmara. Cara Tirta menggapai semua ketidakmungkinan itu berkali-kali menyakitinya. Sampai pada satu titik, Ratu Alexa merasa hatinya mati rasa. Terlanjur beku dan sulit dikembalikan ke semula. Besar kemungkinan sangat sulit memperbaiki hati yang disakiti. Saking banyaknya pengkhianatan yang Tirta beri dalam hidup Ratu Alexa.
“Siapa itu?” Lamunan Ratu Alexa dobuyarkan suara gemerisik daun-daun di belakangnya.
Ratu Alexa membalikan badan. Memerhatikan siapa yang akan keluar dari semak-semak dan mengganggu malamnya ini. Tak lama si pelaku menampakan diri.
Dengan takut-takut keluar dari semak-semak dan berdiri di hadapan sosok paling menakutkan di negeri itu.
“Xevana?” Ratu Alexa ternganga, heran mengapa putrinya mengintip ibu sendiri. “Apa yang kau lakukan di sana?”
“Aku ...,” Xevana tak berani mendongakan kepala. Alas kaki berwarna merah menjadi pengalih perhatian dari gugup. “Kaja bilang Ratu ada di Fallin The Moon. Aku pikir bisa menemui ibu di sini. Tapi sepertinya ibu sedang tidak bisa diganggu—“
“Ada masalah apa?” sambar Ratu Alexa cepat sebelum Xevana menyelesaikan ucapannya karena tampaknya gadis itu akan segera pergi habis ini. “Perlu sesuatu dari ... ibu?”
Nada bicara Ratu Alexa yang terdengar berbeda dari biasanya membuat Xevana akhirnya mendongak. Xevana bertemu dengan tatapan lembut Ratu Alexa. Seingatnya ini pertama kali Ratu Alexa memberi tatapan lembut seperti itu. Ratu Negeri Darkness identik dengan kekejaman dan mudah marah, termasuk pada darah daging sendiri. Namun kali ini Xevana menjumpai Ratu Alexa yang sangat berbeda.
“Ti ... dak.” Xevana hampir lupa maksud kedatangannya saking heran ia terhadap perubahan sikap Ratu Alexa terlalu mendadak. “Tidak ada. Aku ke sini hanya ingin mengatakan besok akan mulai latihan seperti biasa. Dan maaf soal perkataan-perkataanku yang menyakiti ibu.”
“Perkataan mana yang kau maksud, Xevana?” Ratu Alexa memancing putrinya kembali bicara. “Aku merasa perkataanmu tidak pernah menyakitiku.”
“Hm? Oh mungkin itu hanya perasaanku saja. Aku kembali.” Pungkas Xevana hendak pergi.
Ratu Alexa menghentikan langkha Xevana dengan sebaris kalimat menggantung, “Tentang ayahmu—“
Sesaat Ratu Alexa menatap putrinya lamat-lamat. Mempertimbangkan haruskah memberi tahu Xevana segalanya sekarang. Menurutnya usia Xevana masih terlalu kecil untuk memahami dan menerima semua. Dan juga ... tiba-tiba Ratu Alexa menakutkan satu hal : perkataan Kaja waktu itu. Tentang kemungkinan terburuk setelah Xevana mengetahui siapa dan dimana ayahnya berada, Xevana akan lebih memilih ayahnya dan meninggalkan Darkness. Pada akhirnya Ratu Alexa akan menghabiskan hidupnya sendirian.
“Aku harap bisa menceritakan semuanya. Dari awal aku tidak pernah ingin menyembunyikan apa pun tentang dia jika saja dia melakukan hal layaknya seorang ayah. Meski aku membencinya, aku tidak pernah ingin kau ikut membencinya karena aku. Kau harus mengenal terlebih dulu seseorang sebelum menentukan penilaian. Walau bagaimanapun dia ayahmu. Karena dia, kau ada di dunia ini.”
Xevana tak menyela. Raut wajah, kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Ratu Alexa dengan suara bergetar terlalu menyita perhatian. Ratu Alexa terlihat tidak baik-baik saja membahas hal ini. Xevana belum pernah melihat Ratu Alexa dalam keadaan sendu seperti ini.
“Aku mengenal ayahmu sebagai orang baik. Hanya mungkin aku terlalu cepat menilai, atau sesungguhnya aku belum terlalu mengenalnya. Dia—“
“Kita biarkan saja dia,” sela Xevana tak tahan melihat Ratu Alexa memaksakan diri. Saat membicarakan seseorang beserta kenangannya pasti sakit. “Aku memang ingin mengetahui siapa ayahku. Tapi jika dia adalah orang yang telah menyakitimu. Untuk apa aku mengenalnya?”
“Xevana?” Ratu Alexa tak percaya.
“Untuk apa aku peduli dengan orang yang tidak peduli keberadaanku di dunia? Dia sudah mengambil keputusan meninggalkan kita, bukan? Artinya aku tidak diinginkan.”
“Jangan pernah bicara seperti itu, Xevana.”
“Hanya Ibu yang menginginkan aku. Jadi, cukup. Cukup Ibu bersedih karena orang itu.” Xevana melihat sekeliling tebing Fallin The Moon. “Ibu sangat sering mengunjungi tempat ini. Berdiam di sini sendirian. Berapa lama Ibu akan membiarkan dia menyakiti Ibu seperti ini? Apa harus aku hancurkan tempat ini terlebih dulu suapaya Ibu berhenti memikirkan dia?”
Mata Xevana berkaca-kaca. Berusaha tetap tegar mengeluarkan semua pikirannya di hadapan Ratu Alexa. Sementara Ratu Alexa hanya diam mendengarkan. Sebenarnya jauh dari sangkaannya Xevana akan mengkritik sejauh ini. Belum pernah yang menyinggung soal kebodohan yang dilakukannya di tebing Fallin The Moon selama bertahun-tahun.
Meski sangat menyinggung, Ratu Alexa sama sekali tak dibuat marah. Entah mungkin ia tak bisa marah pada darah dagingnya sendiri.
“Apa yang Ibu harapkan dengan terus-menerus datang ke sini? Apa Ibu mengharapkan orang yang telah meninggalkan kita itu kembali? Aku bahkan tidak yakin tidak akan marah jika dia kembali.”
Hingga Xevana menyelesaikan kalimat terakhirnya dan pergi meninggalkan Ratu Alexa dalam pelukan keheningan malam, Ratu Alexa masih bergeming di tepat yang sama. Baru saja ia ditampar oleh perkataan putrinya sendiri. Dan ia tak bisa berkutik. Semua yang diutarakan Xevana terlalu benar adanya. Ratu Alexa mengakui itu.
***
Tak jauh berbeda udara di Negeri Azurastone juga terasa lebih dingin. Namun Tirta tetap berdiam diri di atas balkon istana malam itu. Bulan purnamanya bersinar terang. Ia mengangkat tangan ke udara sembari tersenyum.
Harusnya ia melupakan kebiasanaan ini. Ia kesulitan menahan diri jika melihat bulan bersinar terang. Mungkin karena yang berhubungan dengan ini banyak hal manis. Walau sekarang sudah hancur berkeping-keping.
Tirta mengela napas. Asap putih terembus menandakan udaranya sangat dingin. Ia menghabiskan malam dengan melihat bulan hingga gumpalan awan menutupinya. Setiap melihat bulan purnama sendirian sebenarnya Tirta merindukan hal-hal yang pernah ia lewati. Ia juga merindukan seseorang.
Kini ia hanya bisa memeluk tubuhnya sendiri. Menghalau dingin dari embusan angin. Matanya jauh memandang negeri Azurastone dari ketinggian. Kelap-kelip lampu di setiap rumah rakyatnya bagaikan hamparan bintang jatuh yang berbedar. Perasaan Tirta seketika menghangat. Ada rasa bangga dirinya bisa sampai sejauh ini.