26. Rasa Bersalah

1664 Kata
“Kak, apa Kakak masih ingin melihat keluar Darkness?” Tiba-tiba Xevana punya sebuah ide. “Kau?” Gyusion melotot tak terkira kagetnya. “Bukannya Kakak ingin ke pergi ke luar Darkness? Kita bisa menemukan keluarga Kakak yang masih hidup, bukan?” Makin gila saja ide Xevana. Gyusion melirik kanan kiri sebelum berbisik, “Aku memang sangat ingin keluar dari sini, tapi Ratu akan mengetahui semua rencanaku. Sama saja dengan cari mati kalau berurusan dengan Ratu. Tunggu—kenapa kau menanyakan ini?” “Aku hanya bertanya saja. Kalau Kakak mau, mungkin akau akan mengusahakannya. Aku akan cari cara supaya kita bisa keluar dari sini melihat bagaimana negeri orang lain. Bukannya kita sudah bosan melihat sekitar hanya pohon dan pohon setiap saat?” “Justru kalau aku keluar dari sini bersamamu, masalahku semakin berat. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya Ratu kalau tahu aku membawa pewaris Negeri Darkness dibawa kabur.” Gyusion bergidik ngeri. “Tidak, tidak. Bisa dicincang hidup-hidup aku.” Xevana terkekeh, sikap Gyusion sangat lucu kalau urusan takut sama Ratu Alexa. “Jangan khawatirkan soal itu. Aku akan selalu menjaga Kakak dari amarah Ibu. Kakak bilang kan bahwa Ibu sangat menyayangi aku? Apa Kakak tahu jika Ibu juga sangat menyayangi Kakak seperti anaknya sendiri?” “Hm?” “Iya. Ratu Alexa selalu memikirkan pendidikan yang terbaik juga untuk Kakak. Setiap Ibu menerima laporan hasil latihanku, Ibu juga menerima laporan hasil latihan Kakak.” “Untuk apa?” Gyusion terheran. Dirinya kan rakyat biasa yang kebetulan dekat dengan putri kerajaan. Mengapa ratu bersikap demikian padanya? “Mungkin karena Kakak adalah kakakku. Setiap Kakak menghilang dari pondok, Ratu Alexa selalu memerintah Kaja untuk mencarimu. Meski Ratu marah akan kesalahan-kesalahan Kakak dan sering kesal karena menghadapi kenakalan Kakak, setelah memberi hukuman pasti raut muka Ratu berubah sedih. Ratu tidak benar-benar ingin menghukum Kakak. Ratu terpaksa melakukannya.” Gyusion menghela napas. Sesaat memikirkan perkataan Xevana. Agak susah mempercayai kasih sayang Ratu selama ini padanya. Sebab dari kecil, sejauh yang Gyusion ingat Ratu kerjaannya hanya marah-marah dan membuatnya menangis ketakutan. “Sulit dipercaya, ‘kan?” “Mengingat bagaimana sifat Ratu selama ini sangat sulit mempercayainya. Tapi karena kau orang dalam istana yang bicara, aku ... agak percaya. Mungkin iya Ratu Alexa juga menyayangiku dan memperhatikanku selama ini. Aku hanya bingung alasan di balik itu semua. Mengapa dia melakukan itu?” “Mau kita tanyakan?” Kedua alis Xevana naik turun. “Mungkin kau bisa mendapatkan semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang kau simpan selama ini jika beruntung.” Gyusion berdecak sambil memutar bola mata. “Jangan bercanda ....” Sangat sulit bicara santai di depan ratu negeri ini, apalagi bernegosiasi. Sama dengan menawarkan hidup kita untuk sebuah informasi. Terdengar menyeramkan, tapi memang begitulah kenyataannya. Berhadapan dengan Ratu Alexa sama dengan menerima dan memberi. Jika ada hal yang kita inginkan darinya, maka harus siap memberikan semua permintaannya pula. Baru membayangkannya saja Gyusion bergidig ngeri. Tidak bisa membayangkan saja apa yang akan Ratu Alexa minta. Pasalnya Gyusion hanya seorang remaja tanpa orang tua. Ia tidak memiliki apa pun di dunia ini selain orang-orang yang telah berbaik hati merawatnya sejak bayi. “Haha. Kenapa? Bukan kah kau perlu mengetahui juga mengapa bisa terpisah dengan keluargamu? Di Negeri Darkness pemegang seluruh informasi itu Ratu Alexa. Mungkin dia tahu mengapa kau tinggal di sini sedangkan keluargamu ada di Azurastone.” “Jika Ratu menceritakan semuanya, aku juga tidak yakin akan diizinkan mencari keluargaku. Naya pernah bilang, sekeras apa pun aku berusaha pergi dari sini aku pasti akan kembali lagi ke sini. Katanya akan ada saatnya Ratu Alexa sendiri yang mengizinkan aku pergi dari sini.” “Jika Ratu Alexa tidak menempati janjinya, bagaimana?” *** “Sampai kapan kita akan menguping pembicaraan mereka?” Ratu Alexa kintan mendelik tajam. Perkataan Kaja barusan lebih terdengar seperti tuduhan baginya. Sedangkan ia tidak merasa sedang menguping pembicaraan orang lain. “Aku tidak menguping pembicaraan mereka. Tapi suara mereka yang terdengar olehku. Mau tidak mau aku harus mendengarkan pembicaraan dua anak ini.” Ratu Alexa kembali memerhatikan Gyusion dan Xevana dari kolam ajaib. “Aku sungguh penasaran bagaimana jika Gyusion benar-benar datang kepadamu dan menanyakan semuanya?” Kali ini perhatian Ratu Alexa sepenuhnya tertuju pada Kaja. Burung jadi-jadian itu tengah menanti jawaban. Ratu Alexa diam beberapa lama. “Apa yang harus kulakukan?” “Menjawabnya?” tebak Kaja. “Selama ini dia hidup di negeriku. Aku memberinya makanan dan perlindungan. Lalu apa yang pantas aku dapatkan dari atas pemberianku selama belasan tahun?” Kaja bergeming. Kehabisan kata-kata karena baru mendengar pemberian selama belasan tahun saja sudah membuatnya pusing. Yang pasti jumlahnya sangat besar, atau mungkin tak terhingga. Boleh dikatakan Ratu Alexa mengambil lebih banyak peran dalam kehidupan Gyusion daripada ibu kandungnya sendiri. Jadinya Kaja bingung. Di sisi lain ia kasihan pada Gyusion yang seumur hidupnya tidak mengetahui siapa keluarga kandungnya. Sementara di sisi lain ada Ratu Alexa yang tidak akan mendapatkan apa-apa jika Gyusion pergi. “Aku tidak akan kekuran jika Gyusion pergi. Tapi kau tahu betul, prinsipku sejak dulu adalah menerima dan memberi. Jadi, apa yang pantas aku dapatkan? Aku menginginkan sesuatu yang bernilai tinggi dan tidak tergantikan. Aku menginginkan hal semacam itu.” “Tapi apa yang Gyusion punya? Ratu lebih mengenalnya dari pada orang lain. Apa Ratu Alexa mengetahui sesuatu tentang Gyusion yang tidak diketahui orang lain?” Ratu Alexa mengibaskan jubah kebanggaannya dengan anggun. Jemarinya yang lentik bermain di atas permukaan air kolam ajaib. Sihir membentuk garis-garis indah melayang di hadapannya. Ratu Alexa selalu semisterius ini. Kaja tidak bisa menebak bagaimana isi pemikirannya. Sepertinya memang tidak ada yang bisa menbak jalan pikiran Ratu Alexa. “Kau boleh pergi. Jemput Xevana ke istana. Dia sudah terlalu lama diam di tebing itu dan melewatkan banyak latihan.” Kaja mengehela napas. Namun sayapnya mengepak kuat keluar dari istana melalui jendela besar yang terbuka. Ratu Alexa memerhatikan kepergian Kaja sampai menghilang dari pandangan. Sejauh matanya memandang, sebenarnya ada banyak hal yang ia coba uraikan. Pikirannya sangat kusut, tetapi tak pernah ia tunjukan secara terbuka. Baginya ini akan menjadi masalahnya sendiri. Ia tak bisa mempercayai orang lain lagi setelah banyak menerima pengkhianatan. Sejak terakhir kali dikhianati seseorang yang amat ia cintai, sejak itu pula ia berikrar untuk menjaga diri sendiri dan putri satu-satunya. Terlalu banyak pertimbangan dan terlalu banyak hal berharga yang harus ia lindungi. Oleh karenanya, Ratu Alexa berusaha berhati-hati. Tidak ingin salah mengambil langkah, sehingga pada akhirnya membahayakan semua yang ia lindungi selama ini. *** “Akhirnya kau pulang juga.” Naya menyambut di depan pondok. “Kemarilah, kalian belum makan sejak pagi, bukan?” Gyusion dan Xevana mengangguk. Di dalam pondok Lolita tengah menyajikan makanan di meja makan. “Ayo makan bersama. Aku memasak banyak kali ini. Mana si Gendut?” “Siapa?” “Akai.” Lolita menyebut nama penghuni samping rumah mereka dengan nada malas. Naya terkikik geli. Tidak Gyusion, tidak Lolita, selalu saja ribut dengan Akai. “Aku lihat dia tidak ada di tempatnya. Mungkin sedang keluar mencari bambu.” “Ah, iya. Aku lupa dia pemakan bambu. Hampir setengah hutan bambu di hutan ini habis olehnya dimakan setiap hari,” ujar Lolita sambil menambahkan makanan ke atas piring Gyusion dan Xevana. “Makan yang banyak.” “Kau terlihat kurusan, Nona Xevana. Apa makanmu baik di istana?” Naya khawatir. “Dia terlalu banyak berlatih. Jadi tenaganya terkuras banyak juga. Ratu Alexa terlalu kejam pada anak sendiri.” Itu Gyuion yang menjawab. Lolita memukul kepala Gyuion. “Jangan macam-macam kalau bicara. Yang kau bicarakan itu pemimpin negeri ini.” “Betul itu!” Suara lain menyahut di ambang pintu. “Kaja?” “Jadi kalian berpesta tanpa mengundangku?” Si burung jadi-jadian mengubah diri menjadi manusia. Kaja berjalan memasuki pondok kayu dan duduk di samping Gyusion. “Kau makan dengan banyak, Bocah Nakal.” “Sebentar aku ambilkan piring lagi.” Naya beranjak dari tempat duduk. “Merepotkan orang lain.” “Ini tidak merepotkan, tapi Naya adalah orang yang punya hati nurani dan sangat baik tidak sepertimu,” sanggah Kaja membalas Gyusion. “Ini piringnya. Makanlah yang banyak. Kami membuat banyak makanan hari ini.” “Terima kasih. Kalian baik sekali kecuali bocah nakal ini.” Gyusion mendengus kasar. *** “Kau sudah pulang?” Begitu pintu istana terbuka menjadi dua pertanyaan itu menyambut Xevana. Di atas singgasana ibunya duduk dengan kemegahan seperti biasa. Meja di dekatnya terdapat banyak gulungan. Sepertinya ibunya sedang sangat sibuk sampai tidak menyadari Xevana tak menjawab apa-apa. Awalnya Xevana pikir begitu. Namun, setelah ia pergi ke dalam kamar, tak lama pintu terbuka. Ternyata itu Ratu Alexa. Ibunya sangat jarang berkunjung ke kamarnya. Jadi Xevana agak heran, untuk tujuan apa kedatangan ibunya kali ini. “Apa kita harus bicara?” Ratu Alexa mengawali. Xevana memalingkan muka, tanpa minat bersikap sopan pada ibunya sendiri. Xevana seolah tak mendengar suara orang lain di kamar itu. “Xevana? Apa kau tidak mendengar perkataan ibumu?” “Aku mendengarnya. Tapi aku sedang tidak ingin menjawabnya.” “Kenapa?” Xevana berbaring di tempat tidur. Menaikan selimut sampai menutup kepala. “Aku lelah. Ingin istirahat. Jika kedatangan ibu hanya untuk memarahiku lagi atau menyuruhku latihan hari ini. Aku sedang tidak ingin melakukan apa pun.” Medengar penuturan dari putrinya begitu sesungguhnya menyakiti Ratu Alexa. Dirinya sadar tak pernah dekat dengan anak yang telah ia lahirkan. Jika melihat hubungan mereka dari hari ke hari, serta kecanggungan setiap mereka berdekata, Ratu Alexa merasa tidak yakin akan bisa memperbaiki semuanya. Putrinya sudah bergerak terlalu jauh meninggalkannya. Dan ia baru menyadari kesepian itu sekarang. “Baiklah, kalau begitu kita bicara besok saja. Kau sudah makan di pondok kayu, bukan? Apa perlu kupanggilkan pelayan untuk membuatkan makanan manis?” Pertanyaan Ratu Alexa hanya dijawab oleh hening. “Kau sudah tidur, ya?” Sebentar Ratu Alexa mendekat, tapi tangannya gagal menyentuh pucuk kepala Xevana. Jemarinya kembali tergepal kuat. Ratu Alexa melangkah pergi dari sana. Tak lama dari suara pintu tertutup dengan sangat pelan, Xevana membuka selimut yang menutupi dirinya hingga kepala. Ia memandangi pintu itu dengan nanar. Sedikit merasa bersalah telah menyakiti ibu sendiri. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN