Gyusion berlari menyusurusi hutan. Sebenarnya ia tak begitu yakin dimana keberadaan Xevana. Jika dari suara teriakan Xevana seperti berasal dari ketinggian. Jadi kemungkinan Xevana berada di tempat tinggi Hutan Darkness.
Ada banyak tempat tinggir di Darkness. Namun, dugaan Gyusion jatuh pada satu tempat yang jarang didatangi penghuni Negeri Darkness. Tempat itu berada di sisi timur Kastil Darkness. Lumayan jauh dari pondok tempat Gyusion tinggal.
Meski sangat jarang dikunjungi, tempat itu termasuk memilik pemandangan yang indah. Menurut cerita momen paling indah di sana adalah saat matahari terbit atau terbenam. Mungkin karena terdapat air terjun, jadi bias cahaya yang terpantul menjadi lebih cantik di waktu-waktu tertentu. Gyusion pernah sekali ke sana. Saat berlatih kekuatan dalam bersama Akai. Tempatnya memang sebagus apa yang ia dengar dari orang lain.
Gyusion menghela napas berat. Perjalanannya belum ada separuhnya, tapi kondisi tubuh yang tidak sehat habis tidur di alam bebas semalaman ditambah pagi ini ia belum sarapan, lengkah sudah. Engerginya terkuras banyak sepagi ini.
Tadi padahal ia, Naya, dan Lolita sudah duduk di meja makan hendak sarapan bersama usai menerima omelan panjang Lolita. Gyusion belum menyentuh makanannya sama sekali keburu mendengar jeritan Xevana. Ia masih bisa menahan diri saat meliat Xevana lari ke dalam hutan dalam kedaan terpukul. Namun ketika mendengar jeritannya yang begitu menyakitkan, Gyusion tidak bisa menahan diri lagi. Gyusion bergegas meninggalkan pondok. Kemungkinan kali ini kedua pengasuhnya mengerti. Mereka tidak mengejar atau meneriakinya agar kembali ke pondok.
Setengah kepayahan akhirnya Gyusion mendengar gemuruh derasnya air terjun. Artinya dia semakin dekat dengan Xevana. Meski Xevana tak berhasil ia temukan di sana, Gyusion tak masalah mencari ke tempat lain sampai menemukannya.
Gyusion terus berlari dalam keadaan letih. Keringat membanjiri tubuhnya. Walau kakinya sesekali tersandung dan terasa bergetar karena kepayahan, Gyusion tak membiarkan langkahnya terhenti. Jika ia berhenti, maka bisa dipastikan sulit bagi dirinya bangkit lagi.
“Xevana!” Senyum Gyusion mengembang kala melihat keberadaan seseorang di ujung tebing tengah terduduk lesu.
Ternyata dugaannya benar tentang keberadaan Xevana. Entahlah sejak dulu dimana pun Xevana berada Gyusion selalu bisa menemukannya. Mungkin penyebabnya karena kedekatan mereka. Seperti ada ikatan batin antara dua saudara.
Xevana tampak sangat kertejut melihat kedatangan Gyusion di tebing itu. Ia masih duduk ketika Gyusion berjalan mendekat. Ada rasa hangat melihat Gyusion hadir di hadapannya. Xevana tak bisa menahan diri untuk memeluk kakak lelakinya. Kembali menumpahkan tangisan seolah air matanya tak pernah habis.
Gyusion mengusap pelan punggung adiknya yang bergetar. Pilu ia rasakan menjadi sandaran Xevana di kala sedih. Memang ini bukan kali pertama baginya melihat Xevana menangis. Namun ini kali pertama melihat tangisan Xevana terasa lebih menyakitkan.
Gyusion tak berani bertanya penyebab kesedihan Xevana sampai gadis itu tenang sendiri. DI sana, Gyusion hanya berusaha memposisikan diri sebagai tempat yang menerima semua kesedihan Xevana. Berusaha mendengarkan tanpa menyela. Berusaha sabar meski besar keinginan dia memberi pelajaran siapa pun yang telah menyakiti Xevana.
Matahari beranjak naik ke titik paling tinggi siang itu. Mereka masih berada dia atas tebing menyaksikan keindahan pelangi di bawah air terjun. Beberapa lama kemudian tangisan Xevana mereda. Tinggal tersisa sesegukan yang membuat Xevana terlihat kesulitan menyembunyikan kesedihan.
“Kenapa Kakak tidak bicara apa-apa sejak tadi?” Akhirnya Xevana bertanya.
Wajah bengkak habis menangi gadis itu mendongak. Matanya yang sembab bertemu dengan Gyusion. Jemari Gyusion mengusap lembut lelehan air mata yang tersisa di selasar pipi Xevana. Ia rapisakan juga anak-anak rambut di sekitar wajah Xevana. Sesayang ini Gyusion pada adiknya. Jika bisa ia ingin selalu ada dan melindungi Xevana.
Gyusion tersenyum, lalu berkata, “Aku hanya ingin mendengarkanmu saja. Kamu akan menceritakan semuanya jika sudah bersedia untuk itu. DI saat itu aku akan tahu penyebab adik kesayanganku ini bersedih kenapa.”
Xevana mengerucutkan bibir. Kakaknya ini terlalu mengerti bagaimana menghadapi dirinya. Xevana menengadah ke atas langit. Memerhatikan pergerakan lamban gumpala-gumpalan awan. Di dunia ini semuanya berubah. Apa suatu saat nanti sikap Gyusion juga akan berubah? Apa Xevana tidak akan mendapatkan kehangatan kakaknya lagi keitka sedih begini?
“Apa yang sedang kau pikirkan?” Gyusion mengernyit. Tak biasanya raut wajah Xevana sesendu itu. “Apa perasaanmu sudah lebih baik sekarang?”
Derasnya air terjun menerpa batu-batuan di bawah sana lama-alama menciptakan ketenangan juga. Gyusion mulai menikmati berada di tempat itu. Dari tempat itu ia bisa melihat Kastil Darkness berbentuk kecil. Katanya Xevana sering pergi ke sini untuk menyendiri. Bisa di tiru. Kapan-kapan Gyusion mungki ke sini juga jika butuh waktu sendiri.
“Semalam aku bicara dengan ibu.”
Perlahan Gyusion menoleh. Sepertinya Xevana akan memulai cerita alasan di balik kesedihannya itu. Gyusion mengubah posisi duduk menjadi lebih tegap. Tanda bahwa ia siap mendengarkan cerita Xevana.
“Awalnya pembicaraan biasa seputar agenda latihanku. Ibu selalu melihat hasil belajarku dari semua pelatih. Di salah satu pelajar, Ibu kurang puas dengan hasilnya. Ibu meminta aku belajar lebih lagi. Ibu juga mulai mengomentari apa saja yang aku lakukan. Aku dilarang pergi ke pondok bermain bersamamu, Kak. Sampai puncaknya aku tidak bisa menahan lagi. Ibu mengatakan aku sama saja dengan ayahku yang telah meinggalkan kami. Perkataan Ibu sangat keterlaluan. Aku tidak bisa menerimanya. Makanya aku sangat marah pada Ibu.”
Gyusion mengusap pundak Xevana lagi menyadari suara gadis itu terdengar goyah. Jika menyangkut keluarga dan ayahnya, Xevana sangat rapuh.
“Aku bisa menerima amarah Ibu sebesar apa pun itu, tapi tidak jika Ibu membandingkan aku dengan pria yang paling aku benci di dunia ini.”
“Mungkin Ratu Alexa juga tidak sengaja mengatakan itu, Xevana. Kau tahu ibumu sangat mudah marah. Setiap marah segala perkataan seolah tak pernah disaring dulu.”
“Harusnya dia belajar untuk tidak menyakiti orang lain lagi. Mungkin ayahku juga pergi karena perkataan menyakitkan dari Ibu—“
“Xevana ....” Gyusion memperingatkan adiknya supaya tidak membicarakan Ratu dengan perkataan jelek.
Semua makhouk di negeri ini adalah mata-mata Ratu Alexa. Siapa pun yang menghina apalagi menyumpahi ratu, maka hidupnya dalam bahaya. Meski sekarang yang bicara adalah putri ratu sendiri. Gyusion agak kalau sangsi Ratu tidak akan marah.
Xevana malah mendengus kesal. Semua penghuni Negeri Darkness sangat tunduk pada ibunya. Terkadang ia ingin menjadi pemimpin pemberontakan supaya Ratu tidak terlalu keras pada rakyat. Untuk saat ini aia tak bisa melakukan itu. Xevana sadar diri ilmu sihir dan bela diri yang ia kuasai belum bisa menandingi kekuatan Ratu Alexa. Bahkan mungkin tidak akan bisa ditandingi.
“Biarkan saja dia mendengarnya. Aku tidak akan takut.”
“Xevana, kau mungkin tidak takut karena kau putri kandungnya, tapi aku? Bagaimana jijka gara-gara perkataanmu ini yang dihukum adalah aku?”
Ada benarnya juga. Keahlian Ratu Alexa adalah menyerang seseorang dengan memainkan perasaan. Ratu Alexa sering menghukum orang yang di sayangi pelaku kejahatan. Dengan begitu pelaku kejahatan akan memohon pengampunan. Setiap kegiatan eksekusi yang dilakukan di tempat umum mengharuskan Xevana menyaksikan secara langsung bagaimana kegilaan ibunya memimpin sebuah kerajaan. Ratu Alexa seolah menginginkan Xevana sekejam dirinya.
Xevana akui tindakan Ratu Alexa ditakuti seluruh rakyat Darkness. Bukan hanya ditakuti, melainkan juga dibenci. Caranya memimpin terlalu kejam dan penuh pemaksaan.
“Kau tahu? Ratu Alexa sangat menyayangimu. Kau adalah pewaris Kerajaan Darkness satu-satunya. Aku rasa alasan Ratu mendidikmu dengan kerasa agar jika tiba waktunya nanti kau menggantikan posiisnya sebagai ratu, kau juga sama disaganinya oleh semua rakyat.”
“Kakak juga ingin aku semenakutkan Ratu Alexa?”
Sontak Gyusion tertawa, membayangkan bagaimana jadinya gadis selugu Xevana berdandan sebagai ratu ala Ratu Xevana yang kejam. Pasti menggemaskan saat Xevana duduk di atas singgasana.
“Kenapa Kakak tertawa?” Kening Xevana mengkerut.
“Tidak. Bukan apa-apa. Tapi, Xevana, maksudku kau tidak perlu berubah jadi orang lain. Kuharap sikapmu, kebaikanmu yang sekarang tidak akan berubah saat kau jadi ratu Darkness. Aku percaya caramu memimpin negeri ini akan berbeda dengan Ratu Alexa. Suatu saat nanti kau akan membawa perubahan dan menerima banyak cinta dari rakyatmu.”
Benarkah?
Xevana tertegun membayangkan ia menjadi ratu seperti yang Gyusion jabarkan. Jujur, begitulah keinginannya. Xevana ingin mendapatkan banyak cinta dan memberi lebih banyak cinta. Negeri Darkness yang sekarang sangat kurang bahagia. Xevana ingin bisa mengubah kesedihan rakyatnya selama bertahun-tahun menjadi hari-hari yang cerah. Rakyat Darkness harus bisa melihat bagaimana matahari di luar negeri ini. Xevana ingin kerajaannya bisa diterima oleh kerajaan-kerjaan lain.
“Menyenangkan, bukan?” Gyusion tersenyum geli melihat Xevana melamun sambil tersenyum tipis.
“Apa aku bisa menjadi ratu seperti itu?”
Gyusion mengangguk yakin. “Kau tidak percaya dirimu sangat hebat, Xevana? Kau akan mempermalukan semua pelatihmu kalau kau masih malu-malu saat dewasa nanti.”
“Tapi ibuku terlalu terobsesi menjadikan aku ratu yang kejam seperti dirinya.”
“Itu hanya pembelajaran, Xevana. Apa selama ini dengan menerima didikan keras ibumu lantas perasaanmu ikut keras juga? Apa kau berlaku kejam seperti ibumu juga?”
Kali ini Xevana menggelengkan kepala. Mengakui selama ini bagaimana pun didikan ibunya, ia masih bisa membedakan mana yang benar dan salah.
“Itu artinya kau tidak mudah terpengaruh. Tujuan ratu mungkin begitu. Mendidikmu dari kecil, mempersiapkan kamu sebagai ratu masa depan agar kau tidak mudah terpengaruh. Aku rasa ratu tidak bermaksud membuat dirimu seperti dirinya. Terlalu banyak beban yang ditanggung seorang pemimpin sebuah kerajaan. Apalagi kita tahu Kerajaan Darkness mempunyai banyak musuh. Kita sudah banyak melalui banyak peperangan. Berkat Ratu Alexa negeri ini masih utuh dan terlindungi. Semua peraturannya memang kejam, tapi semata-mata hanya untuk melindungi rakyatnya.”
Benar.
Ratu Alexa selalu melindungi rakyatnya dari bahaya. Banyak rakyat Darkness yang mencoba melarikan diri. Namun, mereka tidak akan pernah bahagia di negeri orang. Walaupun begitu Ratu Alexa menerima mereka kembali meski dengan amarah.
“Kak, apa Kakak masih ingin melihat keluar Darkness?” Tiba-tiba Xevana punya sebuah ide.