Xevana mengendalikan kekuatannya sebelum bencana besar datang. Angin dan api yang berputar mengelilingnya seperti angin topan berhenti dengan lembut. Gyusion tersenyum melihat kemampuan Xevana kembali meningkat. Tak salah setiap hari Xevana dilatih dengan keras. Hasilnya memuaskan.
Gyusion hendak mendekat, tetapi belum gelap langkah kedua Xevana mundur selangkah. Xevana mengangkat tangan, meminta Gyusion berhenti. Sontak Gyusion terheran mendapat reaksi begitu. Xevana terlihat ketakutan. Tangannya gemetaran, bahkan boneka kesayangnya jatuh ke tanah.
Tak lama Xevana menunduk. Lalu isakan kecil terdengar. Xevana berupaya menghentikan laju air mata yang membasahi pipinya. Namun tak berhasil, malah semakin deras.
Gyusion dan dua pengasuh bergeming di tempat. Mereka bingung mengapa Xevana menangis.
“Xevana—“
“Berhenti!” jerit Xevana kembali menghentikan langkah Gyusion yang hendak mendekat.
Gyusion menelan salivanya kasar. Suara yang keluar dari mulutnya berubah sedih, “Xevana, ada apa?”
Xevana tak menjawab, sibuk sesegukan. Sungguh tak mengerti apa yang harus dilakukan menghadapi Xevana kali ini. Gyusion ditahan kedua pengasuh ketika mendadak Xevana berlari ke dalam hutan.
“Xevana!”
“Biarkan Nona Xevana sendiri dulu, Gyusion. Tampaknya Nona Xevana sangat ketakutan dan terkejut.” Naya mengusap bahu Gyusion sembari memberikan pengertian.
Gyusion tak bisa berkata-kata hanya menoleh dengan mata memerah. Perasaan ingin mengejar Xevana sangat besar dalam dirinya. Seperti akan mendobrak dengan kasar, tapi Gyusion juga sadar perkataan Naya ada benarnya.
Gyusion ikut sedih jika Xevana sedih. Mungkin karena mereka bersama sejak bayi. Mereka tumbuh bersama mesti tidak ada hubungan darah. Tapi mereka sudah seperti kakak dan adik kandung. Gyusion sangat menyayagi Xevana, begitu pun Xevana yang selalu melindungi Gyusion.
“Dia akan kembali setelah keadaan hatinya membaik.” Lolita ikut meyakinkan Gyusion.
Sepertinya Xevana mengalami sesuatu dan Gyusion tak mengetahui hal itu. Ia baru kembali dari tebing Fallin The Moon. Semalaman ia menginap di sana usap menemani Akai menangkap kunang-kunang. Pulang ke pondok ia dikejutkan dengan pemandangan Xevana mengeluarkan kekuatan.
Xevana hanya mengeluarkan kekuatan ketika dirinya sangat marah. Belum diketahui penyebabnya apa.
Gyusion terus menatap hutan meski Xevana telah hilang dari pandangan. Tangannya perlahan tergepal kuat. Di saat dirinya kesusahan Xevana selalu berusaha membantu. Tetapi sekarang, Xevana sedih sendirian.
“Nona Xevana meninggalkan Bear.” Naya memungut boneka beruang coklat dari tanah.
Xevana tidak pernah meninggalkan Bear. Kemana pun ia bergi akan membawa Bear bersamanya. Bahkan Xevana tidak akan bisa tidur tanpa mendekap Bear. Dia dan Bear seperti sudah menjadi kesatuan dan saling membagi diri. Sedekat itu hubungan mereka. Meski semua juga mengetahui Bear benda mati, tapi Xevana telah dekat dengan Bear sejak bayi.
“Apa terjadi sesuatu di istana?”
Naya dan Lolita saling berpandangan, kemudia kompak menggelengkan kepala. Naya menghela napas, “Semalaman kami sibuk mencarimu, Gyusion. Kami tidak tahu apa yang terjadi. Xevana baru datang pagi ini, tapi kelihatannya seperti biasa baik-baik saja. Tidak ada yang janggal darinya.”
“Kukira Xevana marah padaku.” Gyusion menghela napas.
“Memangnya kamu berbuat salah apa pada Nona Xevana.”
Gyusion balas menatap Naya dan menggeleng samar, “Nah itu, aku tidak yakin telah berbuat salah apa sampai dia marah. Aku baru bertemu dia pagi ini.”
“Sepertinya ada yang membuat Nona Xevana marah.”
“Tapi aku kagum kekuatannya bertambah besar. Sekarang Xevana juga lebih bisa mengendalikan kekuatan. Dulu, mungkin dengan kekuatan sebesar itu, hutan dan pondok kita bisa terbakar.”
Naya mengangguk, “Ratu Alexa, Faramis, dan Akai melatih Xevana dengan baik. Xevana juga seorang anak yang cerdas, cepat menangkap ilmu baru.”
Gyusion juga iri terhadap kemampuan Xevana yang luar biasa. Xevana sangat cepat menghapalkan ilmu sihir dan ilmu bela diri. Bahkan pernah hanya dengan dua kali diperlihatkan, Xevana langsung mahir. Intinya Gyusion bukan tandingan Xevana. Terkadang Gyusion malu sendiri sama kepayahannya. Tapi ya mau bagaimana lagi. Setiap orang punya kemampuan masing-masing.
“Jadi—“ Lolita mengalungkan tangan di bahu Gyusion, “Semalam kamu tidur di mana?”
“Aku bersama Akai—eh tunggu! Kenapa jadi kamu yang terlihat marah padaku? Harusnya aku yang masih marah soal kalian. Kalian akan meninggalkan Negeri Darkness tanpa aku, meninggalkan aku. Apa-apaan ini?”
“Ah, berisik!” Lolita memukul kepala Gyusion hingga anak tu mengaduh sakit. “Itu akibatnya kalau kau menguping pembicaraan orang lain. Harusnya kau tanyakan baik-baik pada kami. Kami juga akan menjelaskan dengan baik-baik juga. Bukannya langsung lari dari masalah. Huh! Lelaki macam apa yang lari dari masalah!”
Naya hanya tertawa mendapatkan keributan di pondok pagi ini. Rasanya sangat melegakan. Pasalnya semalaman mereka tidak bisa tidur menunggu Gyusion pulang. Bukan apa-apa sebenarnya. Yang mereka khawatirkan Gyusion nekad pergi dari Negeri Darkness malam itu sendirian. Tak mudah keluar dari negeri ini melewati benteng berduri Darkness. Di sana juga ada banyak prajurit Darkness. Takutnya Gyusion tertangkap oleh mereka dan sudah dipastikan Ratu Alexa akan marah besar.
Mereka tak masalah mendapatkan hukuman atas pelanggaran yang dibuat Gyusioan. Namun jika Gyusion yang mendapatkan penyiksaan, mungkin Naya dan Lolita akan terpukul seumur hidup. Mereka tidak akan bisa memaafkan diri sendiri telah gagal menjaga bayi yang mereka rawat sejak masih bayi merah.
“He, lepaskan aku! Lolita leherku tercekik!” teriak Gyusion.
“Berlebihan!” Lolita balas berteriak. “Aku hanya menarik bajumu, Dasar Bocah Nakal. Sini kau, biar kuberi hukuman!”
“Haha. Ampun. Ampuuuuuuuuu!” Gyusion berlari menghidari kejaran Lolita.
“Anak nakal, kemari kau!”
Mereka berlari mengitari halaman pondok. Gyusion sangat senang menjahili Lolita. Lelah berlari Gyusion pun menyengir pasrah membiarkan Lolita menggusurnya masuk ke dalam pondok. Setelah ini Gyusion harus menyiapkan telinga mendengarkan seluruh omelan Lolita. Yang kelihatannya kalau dari muka kesal Lolita yang kurang tidur, kali ini omelannya lebih panjang.
***
Di sisi lain hutan Darkness, gadis berambut merah itu terus berlari tanpa henti. Tangisnya terdengar menyakitkan. Semua makhluk yang terlewati kontan menoleh ke arahnya. Mereka kebingungan. Biasanya mereka hanya melihat keceriaan dari gadis itu. Entah apa yang terjadi pada hari ini.
Riuh deraskan air terjun terdengar dari kejauhan. Gadis itu—Xevana—semakin meningkatkan kecepatan larinya. Langkah kakinya sempat tersandung-sandung menciptakan luka berdarah. Ia tak mempedulikan itu.
Tiba di ujung tebing dimana air sungai terjun bebas dari ketinggian, Xevana menjerit sekencang-kencangnya. Teriakan itu menggema ke seluruh negeri Darkness saking besarnya amarah dalam diri Xevana. Beberapa makhluk sampai menghentikan pekerjaan dan menoleh asal mencoba memperkirakan dari mana asal suara.
Xevana lalu terduduk di atas tebing. Deraskan air terjun di bawah sana menyamarkan suara tangisnya. Setiap mendapatkan kesedihan memang Xevana selalu ke sini. Hanya di ujung tebih ini ia bisa mengeluarkan semua perasaaan tanpa diketahui Gyusion dan lainnya. Tapi yang tadi itu Xevana tak bisa menyembunyikan kesedihan. Mereka sudah terlanjur melihat Xevana menangis dan marah tidak jelas.
***
Teriakan kesedihan putri negeri Darkness sampai ke istana. Ratu Alexa yang tengah melihat putrinya dari kolam ajaib hanya tersenyum tipis. Semakin lama Xevana mirip dengannya. Begitulah yang Xevana inginkan. Xevana memang harus tangguh. Gadis itu dipersiapkan sebagai pemimpin negeri ini. Kelak tahta Ratu Darkness akan jatuh padanya.
“Apa aku harus menjemput Nona Xevana sekarang?” Kaja bertanya hati-hati.
Bagaimana pun ia berada di tengah permasalahan ibu dan anak. Kaja tahu diri, ia tak bisa ikut campur lebih jauh. Sebagai ibu walau kejam, pasti Ratu Alexa tidak ingin orang lain mencampuri caranya mendidik Xevana.
Ratu Alexa mengambil napas. Diliriknya lagi sekilas kolam ajaib di samping singgasana. Terlihat Xevana masih tertunduk di atas tebing, menangis sejadi-jadinya.
“Biarkan dia sampai lelah. Jangan biarkan ada yang mengganggu sampai Xevana mengeluarkan amarahnya. Ini baik untuknya mengeluarkan semua perasaan dari pada melampiaskannya dengan merusak negeri sediri.”
“Padahal alasan marahnya Xevana adalah ibunya sendiri,” gumam Kaja.
“Aku bisa mendengarnya ....”
Kaja terkekeh, selalu saja ucapan sindirannya terdengar ratu. Apa sekeras itu suaranya? Padahal rasanya sudah sangat pelan.
“Aku harus mendidiknya dengan keras. Dia harus sadar dirinya siapa di tempat ini. Dia pemimpin negeri Darkness selanjutnya. Kalau mentalnya selemah itu, bagaimana nasib rakyat Darkness di masa depan? Aku tidak mungkin bisa memimpin selamanya.”
“Tapi sesekali kau harus bersikap lembut. Dari kecil, Nona Xevana kurang diperhatikan oleh ibunya sendiri,” sanggah Kaja mengundang muram di wajah Ratu Alexa.
“Hanya demi Xevana aku harus menjalankan peran sebagai ibu sekaligus ayah. Aku telah berusaha sebaik mungkin menjalankan keduanya. Jadi tutup mulutmu. Bahkan kau belum mengetahui bagaimana bebab merawat anak sendirian.”
Seketika Kaja tertohok.
“Lagi pula apa pentingnya seorang ayah di kehidupan Xevana? Dia tidak membutuhkan ayah yang meninggalkan dia. Suatu saat nanti Xevana harus berhasil menghunuskan pedang ke jantung ayahnya sendiri. Membalas setiap pertanyaan dan kerinduan dia terhadap sosok ayah.”
“Apa kau akan memberitahu Xevana siapa ayahnya?”
Ratu Alexa terkekeh. “Akan ada saatnya Xevana mengetahui siapa lelaki yang membuatnya ada di dunia ini.”
“Berarti kau akan memberitahunya? Bagaimana jika Xevana memilih pergi pada ayahnya?”
Pertanyaan itu ... membuat Ratu Alexa termenung. Belum pernah ia memikirkan hal semacam itu sampai sana. Ia tak pernah berpikir Xevana akan meninggalkannya dan lebih memilih ayahnya.
“Kau selalu menyakiti anakmu sendiri, Ratu. Bagaimana jika nanti ketika Xevana tahu siapa ayahnya, Nona Xevana memilih pergi dari Negeri Darkness?”
***
Gyuison dan kedua pengasuhnya sontak menoleh ketika mendengar jeritan yang menggema di hutan Darkness. Jeritan itu terdengar jauh dan dari tempat tinggi.
Gyusion langsung bisa mengenali suara siapa itu, “Xevana?”
Kedua pengasuh pun salng berpandangan. Mereka sama khawatirnya dengan keadaan Xevana. Sama seperti merawat Gyusion sejak bayi, mereka juga banyak ambil peran dalam merawat Xevana.
“Di mana dia?” Gyusion berjalan ke luar pondok. Mendengarkan lebih jelas dari mana arah suara jeritan itu.
Xevana pasti sangat sedih, jeritannya sangat menyakitkan. Gyusion ikut sakit mendengarnya.
“Gyusion kau mau pergi kemana lagi? Kau belum makan!” Lolita berteriak.
Sambil berlari Gyusion menjawab, “Aku harus mencari Xevana!”
Gyusion hilang ke dalam hutan. Di depan pondok segera Naya mencegah Lolita mengejar Gyusion. Sikap Gyusion kali ini benar. Xevana harus segera ditemukan.