Tyto Alba nama burung hantu legendaris di Negeri Darkness. Kepalanya selalu berputar tiap melihat pergerakan mangsa dalam kesunyian malam. Dua ratus tujuh puluh derajat putarannya.
Gemerisik ranting kering dan dedaunan diinjak semakin menarik perhatian Tyto Alba di atas dahan pohon. Mata yang hitamnya tajam menyaksikan anak manusia berlarian di tengah hutan tanpa alas kaki. Anak itu tersandung-sandung akibat kekurangan cahaya.
Anak itu--Gyusion--memalingkan wajah sebentar ke atas pohon karena suara Tyto Alba sedikit mengecoh. Lalu tatapan mereka tersirobok. Gyusion tanpa bisa dikendali menubruk makhluk tinggi besar.
Mereka bergulingan di atas tanah berumput, dan berhenti di atas semak. Erangan terdengar dalam gelap.
"Kau gila?!" teriak si makhluk besar menenteng lentera.
Rupa kejam Akai disorot satu-satunya cahaya yang menggantung di tangannya. Gyusion meringis sakit. Tangannya menyentuh bebat ketat melingkar di d**a. Bekas luka hasil pertarungan sok pahlawannya kemarin di The Gladiator bertambah sakit. Sepertinya kali ini retak tulang. Sebab perasaannya ikut terimbas retakan.
Akai mendengus keras, tidak dapatkan jawaban. Mengabaikan wajah lusuh muridnya, Akai melenggang balik badan, tak peduli mengapa malam-malam Gyusion masih berkeliaran di hutan. Akai meraih tongkat bambu kesayangan yang terlempar tidak jauh dari insiden tabrakan.
"Dasar bocah," gumam Akai.
Gyusion terbatuk-batuk keluar dari semak. Daun-daun kering dikibasnya dari tubuh. Dia mengambil langkah pelan mengikuti Akai.
Entahlah, Gyusion kebingungan harus pergi ke mana. Pondok kayu bukan tempat yang ingin dia datangi malam ini. Gyusion belum siap mendengarkan berbagai alasan dari mulut kedua pengasuhnya. Dia yakin, menjelaskan atau pun tidak, mereka akan tetap pergi. Meninggalkan Gyusion sendiri di negeri ini.
Cairan bening tiba-tiba jatuh dari ujung mata menyusuri selasar pipi. Gyusion berusaha tak mengeluarkan suara, meski sesak di dadanya minta dikeluarkan. Lama-lama air matanya berjatuha semakin deras. Akai diam saja. Pura-pura tidak mendengar isakan lolos di belakangnya.
"Kau mengikuti, ha?" tanyanya.
Butuh waktu untuk Gyusion menjawab. Ia tercekat parah. Terutama perih di tenggorokan akan menyebabkan suara serak begitu kentara habis menangis. Harga diri seorang lelaki sangat tinggi, dia tidak ingin Akai menganggapnya cengeng. Meski itu kenyataan dan bukan rahasia.
"Harusnya kau sedang tidur di pondok, cuci kaki, minum s**u, dininabobokan oleh pengasuhmu itu. Mengapa malam ini kau masih berkeliaran di tengah hutan? Mempelajari jurus-jurus aneh lagi?"
"Aku hanya ingin," jawab Gyusion singkat sembari mengusap cairan dari hidung. Suaranya sedikit sengau.
"Haha. Hanya ingin. Terjadi sesuatu, bukan?"
"Tidak," sanggah Gyusion memeluk tubuh sendiri.
Dinginnya malam mulai menusuk kulit tipisnya. Kain yang membalut tubuh hampir basah, tidak mampu menghalau diusan angin.
"Aku mendengar ketiganya meneriaki namamu berkali-kali sampai kukira urat leher mereka putus. Kau lari dari mereka. Sedang marah?"
"Tidak, tidak, tidak. Sudah ku bilang tidak!"
"Payah!" dengus Akai. "Bagaimana kau akan jadi kuat dan bertanding di The Gladiator, sedikit-sedikit kau marah, menangis, lari."
"Cerewet sekali. Kita mau kemana?" Gyusion mengalihkan pembicaraan.
"Kita? Aku lebih tepatnya," sanggah Akai membuat Gyusion merotasi bola mata. Akai tertawa terkekeh, "Aku ingin menangkap kunang-kunang dan memasukannya ke dalam toples."
"Untuk apa?"
"Untuk menemaniku tidur. Agar setiap malam tidak perlu repot-repot mencari mereka dulu, aku akan bawa sebagian ke rumah."
"Jahat! Mereka juga mahluk hidup. Kau tidak punya kuasa atas kehidupan siapapun kecuali hidupmu sendiri."
"Wow, wow, wow. Kenapa kau marah? Di tanganku hidup mereka aman. Atau malah sangat aman."
"Terserah!" Mungkin karena Gyusion sednag kesal pada orang rumah jadi semua bisa membuat emosinya naik.
Akai hanya menggelengkan kepala. Anak seusia Gyusion memang sednag labil. Emosinya naik-turun, berubah dengan cepat.
Ini sangat jauh dari pondok. Kemungkinan Naya dan Lolita berhenti mencarinya. Gyusion berharap esok dia terbangun dengan perasaan membaik dan semua ini hanya mimpi.
"Daripada melamun tidak jelas. Lebih baik kau membantuku."
Sebuah tongkat berjaring mengenai kepala Gyusion. Otomatis Gusion menoleh cepat hendak protes. Tapi melihat si panda sibuk melompat-lompat sangat lucu. Perut buncit Akai bergetar tiap lompatan mengejar serangga bercahaya. Bibir Gyusion berkedut menahan senyum. Kelakuan Akai terkadang selucu itu.
Gyusion beranjak dari duduknya. Menggunakan alat penangkap serangga, dia ikut berlarian di tengah savana. Berkejaran dengan kunang-kunang mengabaikan sedihnya akan masa depan sendirian. Untuk malam itu, mimpinya dihinggapi serangga-serangga bercahaya.
"Ada-ada saja mencari kunang-kunang sebelum tidur," ledek Gyusion.
"Kau tahu mengapa aku suka sekali melihat kunang-kunang sebelum tidur?"
Gyusion menoleh, di sisinya Akai sama-sama berbaring menjadikan lipatan tangannya sebagai bantalan.
"Karena didikan dari ibumu waktu kecil?"
"Aihhh! Kau ini .... Kunang-kunang sama seperti serangga lainnya, punya sayap dan bisa terbang. Bedanya mereka punya cahaya indah. Kunang-kunang tidak ingin disamakan dengan bintang yang jelas berada di tempat paling tinggi, cukup dengan menjadi terang, mereka senang."
"Kau bicara apa, Akai?" ujar Gyusion lemah, matanya berkedip lambat.
"Pahlawan hebat itu tidak memamerkan kekuatannya untuk dipuja." Akai menoleh, Gyusion telah menutup mata disertai dengkuran halus. "Dasar bocah."
***
"Gyusion pergi dari rumah lagi?"
Xevana datang ke pondok kayu dan mendapatkan kabar Gyusion tidak pulang dari semalam. Di depan gerbang kastil Darkness rencananya mereka akan berlatih bersama hari ini. Makanya lumayan pagi Xevana bangun tidur dan bergegas menuju tempat kakaknya. Apa yang dia dapat sangat mengecewakan. Entah kemana lagi Gyusion. Aneh, Gyusion pergi tanpa mengabari Xevana lebih dulu. Biasanya jika Gyusion pergi dari rumah, dan Xevana selalu mengetahui tujuan pemuda itu.
"Dia pergi karena marah pada kami. Sampai pagi ini dia belum kembali." Ada getar dalam tatapan Naya.
"Kalian sudah mencari?"
Mereka mengangguk kompak. Para pengasuh tampak lesu pagi ini.
"Kami sudah mencarinya ke seluruh hutan dan tidak menemukan Gyusion. Mungkin karena keadaannya gelap juga, jadi kami kesusahan."
Xevana menghela napas panjang. Teringat percakapannya dan Gyusion di danau setelah Guine hilang dari negeri Darkness.
Kerikil-kerikil kecil dilempar ke permukaan danau. Langit perlahan menggelap pun kabut tipis mulai mengapung di atas danau.
Mereka diam, sesekali tawa kecil lolos dari Xevana menyaksikan lemparan batu oleh Gyusion berhasil memantul-mantul di atas air lalu tenggelam. Gyusion sangat pandai melakukannya. Xevana hanya duduk memeluk lutut di sisi danau.
"Bagaimana menurutmu?"
Gyusion menghampiri tempat adiknya yang duduk di atas pohon tumbang. Sesaat Xevana menatap Gyusion.
"Pantulannya semakin lama dan panjang," jawab Xevana kagum.
"Bukan itu maksudku ...," geram Gyusion, kembali memungut satu batu pipih dan mengambil ancang-ancang melempar jauh.
Batu itu beberapa kali memantul di permukaan danau. Membelah kabut oleh riak air ciptaannya. Xevana bertepuk tangan.
"Bagaimana jika kita mengikuti jejak Guine?" Gyusion menaik-turunkan kedua alisnya.
Mereka duduk bersampingan. Gyusion berani mengangkat pembicaraan ini dengan Xevana. Mereka bukan anak kecil lagi dan Gyusion punya keyakinan yang paling mengerti dirinya adalah Xevana.
Xevana menatap bingung Gyusion. "Pergi ke Sungau Swan? Kau menyukai gadis itu?"
Tapi terkadang harus siapkan kesabaran kuat menghadapi Xevana. Gadis berambut merah terang ini sering kali kesusahan menangkap inti pembicaraan.
"Bukan begitu. Aku hanya sangat kagum dengan keberanian Guine pergi sendirian dari rumah untuk mencari kakaknya yang entah masih hidup atau tewas melawan musuh. Padahal dia perempuan, dan keberanianku kalah oleh perempuan."
Xevana masih diam mendengarkan. Dia memperhatikan rahang tegas kakaknya dari samping. Tanpa Gyusion sadari ada perubahan pada raut wajah Xevana saat membicarakan Guine.
"Jika aku pergi dari negeri ini. Kau harus terus berlatih sampai jadi penyihir paling kuat dan menggantikan Faramis."
"Kakak akan pergi sekarang? Lalu aku bagaimana?"
Pucuk kepala Xevana mendapat elusan. Mata teduh kakaknya seperti menyampaikan jawaban.
"Aku tidak ingin sendiri!" tepis Xevana membuat Gyusion kaget. "Master Faramis mengajakku berkeliling di benteng pertahanan. Di sana penjagaan sihir perlindungan diawasi sangat ketat. Kelak aku akan menggantikan posisi Faramis menjaga dinding sihir negeri Darkness. Tapi itu masih lama! Bahkan Faramis mengatakan aku masih terlalu kecil, sihirku lemah, aku belum mampu menguasai semua mantra yang diajarkan Faramis. Jika Master saja mengatakan aku ini lemah, lalu siapa yang akan menjagaku bila kakak pergi?"
Gyusion kesulitan menelan ludah. Dalam hitungan cepat wajah Xevana memerah. Ini tanda bahaya, artinya Xevana marah padanya.
"Kakak jahat!" Xevana menjerit histeris.
Ini di luar perkiraan Gyusion. Ia tak tahu jika pemikirannya soal keluar dari negeri Darkness tidak sejalan dengan keinginan adiknya. Aura di sekitar perlahan berubah merah. Perlahan angin berputar hebat mengelilingi Xevana menyebabkan rambut merahnya bergerak tak beraturan.
Dalam pelukan sihir, Xevana meradang. Ditinggal pergi, dia sangat marah.
Kedua penyihir yang baru datang setelah mendengar jeritan Xevana pun ketakutan. Amukan Xevana akan berakhir kerusakan maha besar.
"Gyusion!" Dua sosok itu berusaha menyadarkan Gyusion dari keterkejutan.
Namun Gyusion malah berjalan pelan mendekati pusaran angin di sekitar Xevana. Sama sekali tidak terlihat ketakutan. Tangannya terangkat menyentuh sisi kekuatan merah itu.
"Xevana ..., tenang ...."
Dalam pusaran, Xevana mendengar suara Gyusion. Secara ajaib amarah dalam dirinya surut bersamaan terhentinya pusaran angin. Tangan Xevana lunglai ke tiap sisi tubuh. Napasnya terengah-engah hebat. Dia menatap nyalang pemuda jangkung di sana. Sorot kesal dan takut kehilangan masih membayang di matanya. Sementara Gyusion menghela napas lega. Bersyukur Xevana mulai bisa mengendalikan diri.