22. Mereka dan Rahasia

1307 Kata
Jubah hijau tua terseret-seret pelan. Di kegelapan malam, panjang kain menyentuh tanah itu hampir tidak terlihat. Gesekan penanda kedatangan seseorang agung membuat para makhluk menyingkir. Mereka menundukan kepala begitu dalam. Sedangkan bola mata bergerak-gerak tidak tenang memperkirakan sudahkah mereka terlewati oleh makhluk mencekam itu, sehingga bisa berlari sejauh mungkin. Menghindari kemungkinan terkenal sihir murka. Bulan purnama sempurna menyorot kedatangan penggemar setianya. Ratu Alexa menghentikan kaki jenjang di atas tebing Fallin The Moon. Postur angkuh menantang pada rembulan lugu di atas sana. Ratu Negeri Darkness itu mengangkat tangannya ke udara. Membiarkan desir angin menyapu rambut yang semakin memanjang. Jemarinya menghalangi cahaya bulan. Namun sisa cahaya masih dia saksikan dari sela-sela jemari kurus. Bola mata Ratu Alexa berembun. Apa yang salah? Mengapa terasa hampa dan hilang? Padahal Alexa tidak sedang kehilangan apa-apa. Tapi tak bisa dipungkiri dunia selalu berubah, pun dirinya yang telah hancur tak bisa dikenali. Ratu Alexa memalingkan muka dari pantulan air bening di permukaan danau. Sejak wajah cantiknya hancur, ia membenci pantulan dirinya sendiri. Kini Alexa hanya segumpal daging yang menakutkan. Ratu Alexa menghela napas, makin merasakan kehilangan. Sedangkan yang dia miliki hanya dirinya sendiri. "Gadis pengacau danau itu sudah pergi," lapor Kaja mendarat di sisi tebing lain. "Dia menyusuri Danau Alexa sendirian. Tadinya Gyusion ingin ikut, tapi sepertinya bocah itu masih menghargai peraturanmu." Ratunya masih bergeming pada posisi sama. Mengintip bulan purnama lewat sela-sela jemari. Kaja melakukan hal yang sama. Menengadah ke langit. Mencoba memahami kebiasaan ratunya. "Kau mengikutinya?" Ratu Alexa bertanya tanpa menatap lawan bicara. "Ya, aku mengikutinya lumayan jauh. Gadis itu menungangi kuda sepanjang sisi sungai menuju Swan seperti petunjukku. Dia bukan mata-mata Azurastone, aku rasa." "Bawakan jantungnya ke hadapanku bila dia kembali masuk negeri ini diam-diam. Atau kepalamu aku gantung di ujung tebing ini." Kaja menelan ludah kasar. Sesuai titah ratu, dia mengikuti gadis yang dibawa masuk oleh Gyusion. Pikirnya akan cukup membuat ratunya senang. Ternyata masih saja galak. "Lalu bagaimana selanjutnya?" "Bicara yang jelas." "Kau pasti ingat sebentar lagi dia menginjak usia delapan belas. Kau akan melepasnya, atau tetap mempertahannya di sini? Maksudku Gyusion." Mendengar nama itu, tangan Ratu Alexa perlahan jatuh ke sisi tubuh. Baru ia sadari sebentar lagi anak yang dia bawa dari Azurastone menginjak usia 18. Di mana kutukan sihir itu bisa dipecahkan. "Yang berada di tanahku adalah milikku. Apa itu kurang jelas?" "Kau?" Kaja menyelidik. "tidak berniat menjadikan Gyusion sebagai koleksi prajurit iblismu, bukan? Sungguh, Alexa. Aku akan melawanmu jika Gyusion dijadikan prajurit." "Kau melupakan aku sebagai ratu lagi," sindir Ratu Alexa membuat Kaja sontak merapatkan bibir. Sorot hijau menyala kedua mata Ratu Alexa mengarah pada tawa khas begitu familiar selama tahunan. Di bawah sana dua manusia saling berkejaran. Mereka sangat lepas, menertawakan sihir dari tangan anak perempuan berambut terang mencolok. "Setiap nyawa di negeri ini ada di tanganku," ujar Ratu Alexa memunculkan sinar dari telapak tangan. "Kau tega memisahkan mereka? Gyusion dan Xevana sangat dekat, dari kecil mereka makan, tertawa, berlari bersama. Xevana akan sangat marah bila kakaknya dijadikan prajurit." "Lalu harus aku apakan anak Azurastone itu, hm?" ketus Ratu Alexa kembali mengangkat dagu. "Mereka harus menangis, memohon pengampunan nyawa padaku. Merasakan kesakitan dalam waktu sangat lama sampai keinginan mereka hanyalah mati." "HAHAHA!" Tawa Ratu Alexa menggema. Ia mengibaskan jubahnya ketika membalikan badan. Kokoh dinding perlindungan negeri ini sebanding dengan kerasnya hati seorang Ratu Alexa. Ratu cantik jelita itu kehilangan segalanya. Kejam kehidupan Ratu Alexa di masa lalu mempertebal duri-duri menyakitkan. Dia berlindung di balik kebiadabannya sebagai pencuri nyawa-nyawa tak berdosa. Menjilati darah segar jantung yang masih berdenyut usai lepas dari raga. Semata-mata memberi peringatan pada mereka, jangan pernah berani mendekat. "Dia tidak tertolong lagi," gumam Kaja menghela napas. *** "Bulan purnama?" Tirta terkesiap. Seseorang dengan senyuman tulus terkena sinar bulan purnama lebih indah dari bulan itu sendiri menghampirinya. Gemerincing gelang kaki menjadi irama paling syahdu. "Maaf, apa aku mengganggumu?" "Tentu tidak. Mengapa kau kemari, belum tidur?" Ratu Natasha memangkas jarak di antar mereka. Ia berdiri di sisi Tirta dan menengadah. "Aku tidak bisa tertidur. Sudah aku coba, tetap tidak bisa. Melihatmu memandang bulan membuat aku bertanya-tanya, apa yang membuatnya begitu menarik perhatianmu?" Tirta terkekeh pelan. "Gara-gara aku memandang bulan, kau semakin kesulitan tidur?" canda pria tinggi itu. "Iya ... bisa jadi. Setiap bulan purnama pasti kau keluar kastil mengangkat tanganmu setinggi ini, dan menerawang bulan lewat celah jemarimu," ujar Ratu Natasha mengangkat tangan kurusnya ke udara. "Bukankah lebih mudah menatap bulan langsung?" "Rasanya akan berbeda jika kau menatapnya lewat celah jemari. Ini seperti menyentuh bulan. Kau mau mencobanya?" tanya Tirta. Ratu Natasha mengulas senyum lagu. Terdengar lucu saat seseorang yang gagah seperti Tirta membicarakan hal manis begini. Ratu Natasha lalu mengikuti Tirta mengangkat tangan. Ia perhatikan lamat-lamat punggung tangannya yang mengambang di udara. Celah-celah jemari diterobos cahaya bulan. Angin malam mengibaskan tudung jubah dari kepala. Sejumput rambut menghalangi wajah Ratu Natasha pun terlihat jelas. Tirta mengingat masa-masa sulit dirinya mendekati wanita ini. Meski sampai sekarang hati Natalia belum milik Tigreal sepenuhnya. Berada dekat dan bisa membicarakan hal-hal ringan layaknya seorang teman adalah kemajuan tak terduga. "Aku tidak bisa merasakan apa yang kau rasa saat menghadap bulan," ujar Ratu Natasha menyerah. "Maaf." "Jangan memaksakan diri. Ini hanya kebiasaanku dari kecil bersama seorang sahabat. Meski kami tidak bertemu lagi, aku mengenang persahabatan itu lewat bulan. Apa sesuatu mengganggu pikiranmu malam ini?" Ratu Natasha tersenyum masam. "Sebentar lagi Gyusion delapan belas tahun. Bisakah dia kembali?" Desau angin menjawab pertanyaan Ratu Natasha. Tirta menangkap harapan itu semakin besar bukan terkikis oleh lamanya waktu. Enggan berlama-lama memandang wajah wanitanya, Tirta memalingkan muka. Menerawang jauh ke ujung langit gelap. *** "Dari siapa?" Naya berjengit kaget langkahnya dicegat Lolita sebelum memasuki rumah. Seekor merpati putih pembawa pesan hinggap di depan pondok. Naya menerima gulungan pesan menggantung di kaki burung itu. "Miya," jawab Naya sumeringah, lalu menarik kursi. Cukup lama sahabat sesama elf itu tidak berkabar. Terakhir satu tahun lalu, Miya mengabarkan sedang berada di sebuah kota di sisi barat. "Apa katanya?" Keduanya duduk di depan pindok. Lebih tepatnya Lolita terlalu penasaran atas pesan-pesan Miya yang berisi petualangan luar biasa. Di antara keduanya, Naya yang paling sering menerima pesan dari luar. Terkadang mereka membaca sama-sama isi surat kiriman Miya. Lolita belum pernah menerima pesan. Selain memang ia tidak punya saudara di luar negeri Darkness. "Miya memanggilku," Naya berucap lirih. Peri kucing itu segera menggulung suratnya kembali. Memaksakan senyum. Lolita sontak bergeming. Ia paham maksud dari isi surat Miya sesungguhnya. "Kau akan pergi?" Lolita berkaca-kaca. "Meninggalkan aku?" "Sebelum tugasku selesai, aku akan di sini bersama kalian menjaga Gyusion kita." "Berarti sebentar lagi," lesu Lolita. Di balik pintu, Gyusion mengernyitkan dahi. Dia berdiri cukup lama di sana, mendengar no percakapan kedua pengasuhnya. Tangannya tidak kunjung mendorong pintu. Ada hal yang menahannya untuk sejenak mendengarkan percakapan ketiga pengasuh. Dan benar saja, percakapan mereka sungguh aneh. Kemana Naya akan pergi? Kenapa harus pergi? "Hasley belum mengabariku, terakhir dia menawarkan kerjasama membuat sebuah akademi sihir untuk anak-anak." Suara Lolita. "Di sini masih jadi rumahku. Kalau bukan pulang ke sini aku ... tidak tahu harus kemana." Naya melipat surat itu dan memasukannya ke dalam satu baju. "Jadi kalian akan pergi tanpa aku?" Serempak mereka menoleh pada gebrakan pintu. Sosok jangkung membelakangi cahaya mengeluarkan aura murka. Segera ketiganya berdiri. Mulut mereka sama-sama terbuka, namun tidak ada yang berani mengeluarkan suara. "Kalian akan meninggalkan aku." Tangan Gyusion tergepal erat. Sungguh saat ini rongga dadanya bergemuruh hebat. Ia tak terima dengan banyaknya rahasia yang orang-orang terdekatnya sembunyikan. Mereka berhak atas hidup mereka sendiri. Sesama makhluk lama terkurung di tempat ini. Setiap saat hanya bisa melihat pohon-pohon dan hewan liar. Tidak ada yang tidak ingin bebas. "Ti-dak Gyusion..." Gyusion menepis tangan Naya, tak percaya. Tanpa banyak kata Gyusion berlari. Dia marah. Marah pada diri sendiri tidak pernah bisa diandalkan dan berguna. Lagi pula siapa yang mau membawa pergi orang yang tidak punya kemampuan apa-apa ke luar negeri Darkness? Yang ada Gyusion akan banyak merepotkan. Bahkan salah satu pengasuhnya harus mempertaruhkan nyawa demi dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN