"Kau akan langsung pergi?"
"Kau mau ikut bersamaku?"
Guine menolehkan wajah jelitanya. Tanpa memberikan jawaban pasti, dia membuat Gyusion terus mengikuti.
"Aku tidak bisa menemanimu," ringis Gyusion, "tapi jika kau mau, aku bisa mengajakmu berkeliling Negeri Darkness dulu sebelum pergi."
"Kenapa kau tidak mau menemaniku?" Tubuh ramping Guine kini menghadap Gyusion.
Gyusion sadar orang-orang terdekatnya akan menanggung hukuman atas pelanggarannya terhadap aturan ratu. Bahkan Naya berani mempertaruhkan nyawa di The Gladiator gara-gara dia. Hadirnya Guine menambah daftar orang terdekat yang harus dia lindungi. Begitu pun keinginan berlari melewati dinding sihir, semakin kuat.
"Aku perlu izin ratu dan sepertinya tidak akan mudah."
Guine mengangguk meski tidak paham pada sistem pemerintahan negeri ini. Rasanya terdengar seperti mengekang rakyat, ini menurut Guine ya. Sebab di negerinya sendiri semua orang berhak melakukan apa pun tanpa izin dulu pada raja (kecuali acara-acara besar). Guene menatap sendu Gyusion, pasti sangat tersiksa hidup penuh aturan begitu. Agak kecewa juga harus berpisah secepat ini padahal baru bertemu.
"Baiklah, mari kita ciptakan kenangan menyenangkan sebelum aku melanjutkan petualangan."
"Maaf aku jadi membuatmu tidak nyaman."
"Aku mengerti situasimu. Jadi dari mana kita mulai?" Kepala gadis itu tertoleh ke sagala arah, gelombang rambutnya terkibas harum.
"Eh...ke-ke sana!" tunjuk Gyusion sampai asal melangkah lebih dulu.
Di belakang, Naya dan Lolita terkikit geli melihat interaksi Gyusion dan Guine. Mereka sangat lucu jika diperhatikan, terutama Gyusion. Bocah lelaki yang kini beranjak remaja itu mukanya bersemu merah tiap Guine tersenyum padanya.
***
"Apa itu?" Guine menunjuk sepasang kuda setengah manusia di tengah hutan sedang memungut potongan kayu.
"Tuan Centaurus dan Nyonya Centaurides, mereka berasal dari gunung tertinggi Fountain of Life. Kau mau menyapa mereka? Mereka ... baik."
Sebenarnya Gyusion agak ragu. Sebenarnya oara Centaur kurang ramah. Sebagai peminum yang terkenal handal terkadang emosinya meledak-ledak bila didekati.
"Sepertinya para centaur sedang sibuk, kita lanjut berkeliling saja bagaimana?"
"Baiklah. Mereka memang prajurit kuat. Dibanding yang lain, Irish sangat mempercayai urusan perang pada mereka. Aku tidak terlalu mengerti bagaimana sejarahnya Hylos membiarkan beberapa penjaga air kehidupan tinggal di Negeri Darkness, mungkin karena sama-sama punya masalah dengan Dark Force?" Bahu Gyusion mengedik. "Mungkin saja."
"Cerita yang beredar di negeriku mengenai Negeri Darkness dan ratunya sangat mengerikan. Tapi setelah melihatnya langsung, ternyata selama ini aku dan anak-anak lain memakan dongeng bualan setiap pergi tidur. Hei, negeri ini tidak seburuk itu. Malah banyak mengagkan dan ajaib seperti dongeng yang menjadi kenyataan. Sangat bertolak belakang dengan apa yang kami dengar tentang Negeri Darkness--"
Gyusion sigap membekap mulut Guine. Seketika Guine melotot kebingungan. Tapi pemuda itu menunjuk ke suatu arah. Guine mengikuti arahnya dan hampir memekik kencang bila telapak tangan Gyusion tak menutup mulutnya.
"Jangan berisik," ujar Gyusion pelan.
Seperti menyadari sedang diperhatikan, seekor kuda putih bertanduk spiral mengangkat kepalanya dari rerumputan. Tanduk spiral yang berada tepat di tengah kepalanya berkilau indah kebiruan. Guine dibuat terkagum-kagum.
"Dia sangat pemalu, jadi kita harus diam-diam memerhatikannya."
"Itu Unicorn sungguhan?"
"Ya?" Kening Gyusion berkerut, di negerinya tidak ada yang palsu. "Memangnya ada yang bukan sungguhan?"
"Luar biasa! Ini seperti mimpi!" jeritnya tertahan mencengkeram lengan Gusion. Cengkeramannya tidak seberapa hanya sesuatu yang berdetak dalam dadanya hampir pecah.
"Memangnya di negerimu tidak ada unicorn?" tanya Gyusion saat melanjutkan perjalanan. Heran saja setiap makhluk yang berkeliaran di hutan Darkness seperti baru bagi Guine. Sedangkan Gyusion sudah biasa saja.
"Jangan bercanda Gyusion. Jika aku menceritakan apa yang aku lihat hari ini pada teman-temanku, pasti mereka pasti menganggapku gila. Di sana hanya ada kuda biasa. Centaur, unicorn, apa ada pegasus juga di sini? Ini ..., ini ..., ini bukan mimpi, 'kan?"
"Hng...sayangnya tidak. Bukankah kuda bersayap itu keturunan Dewa Poisedon dan,"
"Medusa?"
Gyusion tercengang, "Kau belum pernah melihat mereka tapi tahu sejarahnya?"
Ya, pegasus bukan sembarang kuda. Warnanya putih dan keemasan. Tinggal di Olympus tempat para dewa yang sangat jauh. Pegasus merupakan lambang kebijakan. Dewa Zeus dan Dewi Fajar menjadikannya tunggangan. Sejauh ini Gusion belum pernah melihatnya langsung.
"Itu metodologi kuno, bukan? Aku pernah mempelajarinya di sekolah dulu. Ada pelajaran sejarah perdewaan. Semua anak di negeriku hanya menganggap apa yang aku lihat sekarang ini dongeng dan mitologi alias tidak nyata."
Sebelum ini tidak satu pun makhluk yang mengerti sejarah ataupun mitodologi kuno. Mungkin karena ruang lingkupnya sebatas negeri yang dibentengi ilmu sihir kuat, juga orang yang dia temui sangat sedikit, tidak ada yang bisa bertukar pikiran bersama Gyusion mengenai sejarah.
Kali ini Guine berhasil memukau pemikiran Gyusion secara telak. Gusion merasa seperti ada jembatan antara pemikiran mereka. Dan dia menyukainya.
"Bangunan apa itu?"
"Oh, itu The Gladiator." Gyusion agak malas membahasnya.
Guinever menoleh, "Terdengar menyeramkan. Boleh aku ke sana?"
"Ya begitulah. Seperti katamu, sangat menyeramkan. Nah, itu pemimpin The Gladiator," Gusion melambaikan tangan pada kedatangan Irish dan Leo. "Apa kabar, Irish? Perkenalkan teman baruku Guine." Gyusion berbasa-basi sambil sedikit pamer.
Kedua alis Irish sedikit mengkerut saat postur dan gaya bahas Gyusion berbeda. Irish lalu menyambut tamu itu. "Senang bertemu Anda. Aku Irish dan ini saudaraku Leo. Sepertinya Nona berasal dari tempat yang jauh?"
Irish membaca Guinevere dari atas hingga bawah.
"Land of Dawn. Guine berasal dari Azurastone," jawab Gusion ragu menarik Guine setengah bersembunyi di balik punggungnya. Menghindari tatapan buas Leo.
Irish langsung menyeret Gyusion menjauhi Guine. Irish berbisik, "Kau yakin dia buka mata-mata? Hubungan kedua negeri masih renggang, Gyusion .... Jangan macam-macam."
"Dia bukan mata-mata. Guine bukan mata-mata. Aku yakin. Lagi pula dia hanya singgah sebentar. Dia akan melanjutkan perjalanan jauh. Tapi sebelum pergi aku mau memperkenalkan teman baruku beberapa tempat di sini. Apa ini sebuah kejahatan?" Gyusion begitu melindungi.
Irish mendengus, tak punya sanggahan lagi. Jawaban itu Gyusion membuat Irish pergi begitu saja tanpa meredupkan sorot penuh curiga.
"Wanita itu mengendarai seekor singa?" Guine mengintip kepergian Irish dari balik punggung Gyusion.
"Sebenarnya Irish dan Leo itu saudara. Leo itu singa yang kau sebut. Mereka saling menyayangi dan tidak terpisahkan. Beda lagi dengan kehidupan kami di sini, tidak ada p********n hewan. Kami manusia dilarang menunggangi hewan apapun, terkecuali di saat-saat tertentu seperti perang atau hewan itu yang menawarkan diri."
"Bagaimana cara kita mengetahui mereka menawarkan diri untuk ditunggangi?"
Gyusion tertawa, "Haha. Entahlah, aku pun belum pernah mengalaminya. Irithel mungkin bisa membantu karena dia mengerti bahasa mereka. Kau mau melihat hal lainnya?"
Padang rumput luas menjadi rumah bagi ratusan hewan menyusui. Beratap langit kelabu, mereka hidup sejahtera. Setiap pagi ketiga pengasuh akan memerah s**u segar. Mereka ikut menyumbang tubuh sehat dan kuat Gyusion sedari kecil.
Menyusuri berbukitan mereka saling melempar canda dan tawa. Gyusion banyak bercerita mengenai negerinya begitu pun Guine yang semangat menceritakan kehidupannya sebagai gadis Land of Dawn.
"Apa itu Hippogriff?"
Burung rajawali besar dengan empat kaki melayang rendah di atas padang rumput menguning. Sayap kokohnya mengepak kuat melintasi angkasa disertai pekikan panjang. Bergerak sangat cepat, dan ini langka.
Nama lainnya adalah burung tunggangan dewa. Terlihat menyeramkan tetapi suka menolong dan menumpas kejahatan.
Mengingatkan Gyusion pada Ratu Alexa. Senyumnya pun tersungging tipis. Pada pertarungan kemarin, ledakan besar itu ulah ratu. Lagi-lagi Ratu Alexa menolongnya.
"Burung itu sering terlihat berkeliling di langit. Terutama di langit Negeri Darkness," kekeh Gyusion miris. "Kejahatan negeri kami terkenal sampai ke tempat dewa."
"Menurutku jika dewa ada dan Hippogriff harus mengawasi setiap kejahatan di dunia, bukankah terlalu luas? Bisa jadi mereka jumlahnya sangat banyak dan mewakili setiap wilayah. Hippogriff yang kita lihat di sini mungkin berbeda dengan Hippogriff di tempat lain. Bagaimana menurutmu?"
Gyusion menggeleng ragu disertai seulas senyum kagum pada pemikiran Guine. Sama sekali tidak ada perkataan mencela keluar dari bibir ranumnya.
"Tapi kau sadar tidak, burung besar yang memberitahuku dimana Sungai Swan itu agak mirip Hippogriff?"
"Kaja? Haha." Gyusion tergelak.
Guine terheran-heran, bingung apa yang lucu. "Kenapa?"
" Kau ada-ada saja. Kaja tidak mungkin Hippogriff."
***
"Kakak!"
Xevana lompat ke atas punggung Gyusion. Mengagetkan dua manusia yang tengah asik berbincang. Xevana membuat Gyusion tersungkur.
Interaksi mereka mengingatkan Guine pada kakaknya. Perpaduan tawa renyah mereka agak menarik segaris senyum Guine.
"Kakak dari mana saja? Aku mencarimu ke pondok, ke The Gladiator, dimana-mana kau tidak ada. Seharian ini aku tidak melihatmu. Beljar jurus baru dan tidak mau membaginya ya?"
"Aku sedang berkeliling, Xevana. Oh iya kenalkan teman baruku, Guine. Kami bertemu di danau tadi. Guine kenalkan ini adikku, Xevana."
Guine sedikit berjongkok, menyetarakan tingginya dengan Xevana."Hai adik manis. Aku Guine."
Xevana menoleh pada kakaknya, tanpa membalas sapaan gadis berambut pirang itu, ia menyembunyikan diri di belakang Gyusion.
"Haha. Maafkan. Adikku sangat pemalu."
"Sangat manis." Senyum Guine merekah, lalu melangkah menuju sebuah gua. Gyusion agak berat pada perpisahan ini. Mereka sudha berkeliling hutan, tapi waktu terasa cepat berlalu. Andai saja Guine tidak dalam sebuah misi mungkin Gyusion akan mengajak gadis itu mengunjungi lebih banyak tempat lagi. Guine menoleh sekali lagi sebelum melangkah memasuki pintu dunia luar. Ia melambaikan tangan kurusnya dengan anggun. Mungkin mereka tidak akan bertemu lagi, tapi siapa yang tahu takdir. "Terimakasih Gyusion."
Tak lama Guine hilang sepenuhnya. Gyusion tercenung sesaat. Merasakan semilir angin yang membawa daun-daun kering berjatuhan. Gua gelap itu merenggut penampakan Guine dari pandangannya.
Gyusion menghela napas. Jelas dirinya kecewa tidak bisa menemani perjalanan Guine mencari kakaknya.
Andai saja ia mendapat izin ratu. Andai saja Negeri Darkness memperbolehkan rakyatnya keluar dari kerjaan. Ada banyak hal yang ingin Gyusion ketahui di balik benteng berduri Darkness itu ada apa. Bagaimana kehidupan di sana. Terlalu banyak pertanyaan dalam benak Gyusion, sampai ia lelah sendiri memikirkan bagaimana caranya pergi dari Darkness.