Kilatan cahaya sempat membuat Gyusion membuka matanya kembali. Dari langit cahaya putih melesat ke arah The Gladiator. Berbeda dengan ledakan berwarna merah sebelumnya, reaksi seluruh penghuni The Gladiator melihat cahaya putih ini agak terheran-heran.
Cahaya putih itu mendarat cukup mulus di atas tanah lapang The Gladiator. Kekacauan, teriakan seluruh prajurit mengacungkan senjata menjadi beku seketika. Semua momen seolah lumpuh dalam beberapa detik.
Cahaya itu tumbuh menjadi sepasang sayap putih, lebar dan kokoh. Seorang pria berpakaian sutra putih kemudian menampakkan diri. Kedua lengannya lolos tanpa balutan kain, memperlihatkan kekuatan ototnya. Mahkota permata hijau menempel di atas dahi, rambutnya kecokelatan sebahu ditiup angin. Makhluk itu membawa sayap putih di punggung mendekati Gyusion seperti malaikat.
Gyusion tidak yakin apa yang dilihatnya ini nyata atau bayangan di ambang batas kesadara. Mereka saling menatap, seolah sedang mengenali satu sama lain lewat detakan jantung yang entah mengapa sangat menyakitkan. Gyusion menelusuri perasaan asing melihat pria bersayap ini. Mereka seperti pernah bertemu di masa lalu.
"Gyusion." Suara pria bersayap ini terdengar berat.
"GUSION!!" Lalu tak lama berubah menjadi jeritan.
Gyusion mengerjap. Dirinya linglung melihat ke sekitar. Pria bersayap itu hilang dari hadapannya. Yang ada hanya Xevana yang berlari dengan rinai air mata di wajahnya. Wajah-wajah cemas berdatangan membuat Gyusion terkekeh. Kiranya ia sudah pergi ke surga.
Mendengar kekehan dan ringisan, mereka menghela napas lega. Mereka hampir kehilangan pemuda itu.
Ketika Gyusion bertanya pada semua orang tentang pria bersayang yang turun dari langit, mereka tidak melihat makhkuk itu The Gladiator.
"Setahuku Irish belum menambah monster baru di The Gladiator." Mereka malah berasumsi makhluk itu adalah monster petarung.
Gyusion sempat berpikir apa yang dialaminya hanya khayalan saja. Tetapi rasanya aneh, pertemuan yang mirip dengan di The Gladiator terulang dalam mimpi. Seolah mereka saling mengenal dan Gyusion melupakannya. Gyusion meraba d**a kiri saat detak jantung tiba-tiba berdebar tak biasa. Ia teringat tatapan teduh pria itu dan rasanya sakit. Siapa dia?
***
Gyusion bergeming menatap permukaan tenang air danau. Wajahnya bergaris tegas, dan keningnya berkerut menyadari suatu kemiripan mengingatkan dia pada pria berayap itu. Kejadian The Gladiator telah lewat beberapa hari, tetapi penasaran Gyusion belum hilang juga.
"Siapa dia?" gumamnya sembari duduk memeluk lutut.
Gyusion berjengit, lupa bahwa tubuhnya belum pulih. Dia meringis mengusap balutan kain di d**a.
Ekor mata Gyusion tak sengaja mengikuti pergerakan penghuni baru danau, rombongan ikan tidak berwarna. Yang paling mengagetkan ada dua ekor angsa di atas permukaan danau. Mereka juga tanpa warna, segala hal di seberang sana tembus pandang.
Rasa penasaran membawa Gyusion berjalan ke arah sumber suara gong-gongan anjing. Dekat sisi hutan Darkness, Gyusion mengintip dari balik pohon. Ada seorang gadis sedang tertawa. Tawanya beradu dengan gong-gongan anjing dan kecipak air. Sekali lagi Gyusion perhatikan, ia tidak melihat ada seekor anjing. Lalu dari mana suara gong-gongan itu? Pandangan Gyusion mengedar.
Permukaan air yang awalnya tenang mengikuti pergerakan jemari lentik gadis itu. Gyusion mengerjap, air danau melayang-layang di udara. Dia selalu kagum terhadap pengguna sihir. Mereka bisa menghidupkan benda mati. Di negeri ini memang paling hebat.
Namun ..., gadis ini entah apa alasannya yang jelas Gyusion menyukai senyumannya.
Gyusion terus memerhatikan dari jauh, tidak menyadari sebuah makhluk berada di dekatnya. Alhasil dia tercebur ke sisi danau karena terlalu kaget dengan kehadiran anjing tanpa warna. Gong-gongan anjing mengundang perhatian gadis itu.
Suara lembut menyapa, "Siapa?"
Gyusion kadung malu ketahuan mengintip segera bangkit. Kekagetan tampak jelas tertangkap pada raut gadis berambut pirang ini. Beberapa lama mereka diam, saling tenggelam dalam pandangan pertama.
"Maaf gara-gara anjingku kau ... basah," ringisnya di akhir kalimat.
Sepertinya gadis itu juga malu. Gyusion tersenyum geli. Baru pertama kali Gyusion menemukan makhluk cantik di hutan ini. Jadi sangat membingungkan bagaimana harus menyikapinya.
"Ti-tidak a-apa-apa. Maksudku, anjing ini milikmu?" tanya Gyusion tergagap.
"Emm...ya. Aku baru saja membuatnya."
"Membuatnya?"
Gadis ini sepertinya mudah mengakrabkan diri dengan orang asing. Dia langsung membuat Gyusion mengikutinya.
"Iya, terbuat dari air danau ini."
"Kau penyihir?"
"Haha. Bukan. Aku berasal dari keluarga Baroque ahli pengguna pedang. Hanya aku yang terlahir dengan kekuatan sihir. Entahlah, aku tidak mengerti. Tapi lucu, bukan?"
"Oh ya?" Mata Gyusion membulat, ternyata di luar sana ada juga orang yang punya kelainan sama seperti Gyusion. Terlahir tidak sesuai keahlian turun-temurun keluarga. "Aku juga, " desah Gyusion lesu.
Mendapat tatapan bingung, Gyusion segera menyela, "Maksudku aku juga pengguna pedang, tapi keluargaku pemegang sihir."
"Kau juga? Ini aneh bukan? Aku tahu bagaimana perasaanmu." Bahu Gyusion ditepuk, sontak pipinya sontak merona. "Namaku Guine."
"Ha? Oh--ya, aku Gyusion," balas Gyusion sedikit membungkuk.
Guine pun tertawa kecil. "Nama kita hampir mirip."
Ditertawakan seperti itu, Gyusion mengusap tengkuk, malu. "Sebenarnya aku tidak mengerti bagaimana cara manusia di luar sana memberi salam pada putri cantik."
"Tidak perlu begitu, Gyusion. Lagipula aku bukan seorang putri. Woah! Kita punya awalan nama yang sama ya," ujar Guine mengangguk-angguk. "Tapi tunggu, maksudnya manusia di luar sana?"
"Emm ... ya, aku penghuni Negeri Darkness. Kami tidak diizinkan berada di luar."
"Negeri Darkness? Tanah yang aku injak ini ... Negeri Darkness yang ratunya suka memakan jantung manusia itu?" Sepatu Guine menghentak-hentak tanah.
"I ... ya, tapi kami tidak sekejam itu tapi ... ya begitulah. Memangnya kau tidak menyadari sudah masuk ke wilayah kami?"
Guine menggeleng, "Tidak. Bukankah Negeri Darkness terkenal dengan dinding perlindungan yang kuat sehingga tidak bisa dimasuki sembarangan orang? Aku belum pernah pergi sejauh ini dan tidak tahu arah. Hanya tahu cerita-cerita dari orang lain. Aku tak tahu kalau--wah! Ini menakjubkan bisa masuk Negeri Darkness."
"Terkadang perlindungannya malas bekerja. Memangnya apa yang membuatmu sampai ke sini?" tanya Gyusion.
Guine menghela napas, duduk di sisi sungai. Dia mulai bercerita sembari melempar kerikil ke permukaan danau. Sedangkan Gyusion memuji lekuk wajah Guine. Rambut pirang bergelombang dengan pita sewarna gaun terlihat sangat manis.
"Aku kabur dari rumah untuk mencari kakakku. Setelah lama mencari aku mendapat beberapa kabar tentang keberadaanya. Kakakku hilang setelah diserang sekelompok penyihir di pegunungan, mereka bilang kakakku kemungkinan terdampar di sebuah sungai bernama Swan. Aku pikir di sinilah tempatnya."
"Sepertinya bukan. Ini Danau Alexa."
"Oh, nama ratu kalian, bukan?"
"Yap."
"Berarti perjalananku masih panjang." tunduk Guine lesu.
Gyusion ikut menerutkan kening, tidak menyukai raut sendu Guine. "Pasti sangat sedih kehilangan saudara."
"Bukan itu sebenarnya. Masalahnya aku pergi dari rumah sebab keluargaku akan menjodohkan aku dengan seorang Paxley. Aku tidak mau berpasangan dengan pria yang tidak aku kenal. Maka dari itu aku harus menemukan Lancelot, supaya dia menggantikan aku. Semua gara-gara kesombongan kakakku, kalau saja dia tidak hilang. Aku tidak akan terjebak dalam situasi ini," ujar Guine menggebu.
Gyusion mengerjap.
"Maaf aku kesal." Guine meniup rambut tipis yang terjatuh di dahinya.
"I-iya tidak apa." Gyusion berdeham. "Kau bilang Sungai Swan? Aku pernah mendengarnya. Tapi tidak yakin. Mungkin seseorang tahu, kau mau mendengarnya?"
"Tentu!"
"Tapi kita harus memasuki hutan Darkness, dia tinggal di sana. Apa tidak masalah buatmu?"
"Selama mereka tidak menggigitku. Hehe..."
***
"Sungai Swan?"
Dua manusia di depannya mengangguk serempak.
Waktu Gyusion membawa Guine ke pondok kayu, ketiga pengasuh menyambut Guine seperti pada tuan putri. Mereka sangat tertarik dengan kedatangan manusia cantik ke negeri mereka. Berbagai hal mereka tawarkan. Guine tersenyum simpul melihat jajaran hidangan di atas meja.
Setelah meminta Naya memanggil Kaja menggunakan peluit tanda bahaya, tidak berselang lama si burung besar pun mendarat hampir menubruk pohon-pohon sekitar pondok.
"Ada apa?" tanyanya panik luar biasa.
"Kau merusak kebun bambuku lagi burung sialan!" teriak Akai.
Mereka menertawakan kerusuhan Kaja. Sedangkan mata tajam Kaja tertuju pada seorang gadis jelita duduk di sisi Gyusion.
"Dia manusia?"
Kedua pengasuh mengangguk kompak. Lolita menjambak kelapa Kaja hingga gaduh.
"Jangan beritahu Ratu Alexa kalau ada manusia masuk ke hutan ini. Gyusion akan sangat sedih bila gadis kesukaannya berakhir jadi seonggok daging tanpa nyawa," bisik Lolita.
"Dia masih kecil untuk suka-sukaan!"
"Jangan libatkan umur di sini!" geram Lolita makin mengeratkan cengkeraman di kepala Kaja.
Kaja meringis sakit. "Iya, iya. Jain kali jangan sentuh kepalaku, penyihir!"
"Jadi kau tahu dimana tempat itu, Kaja?"
Kaja masih mengelus kepalanya yang sakit. Sungguh, setiap berkunjung ke pondok peri hutan dirinya selalu disakiti.
"Dia bisa bahasa manusia?" bisik Guine di telinga Gyusion. Sangat baru baginya melihat ada burung besar bicara dengan manusia. Benar kat orang-orang di Negeri Darkness kamu bisa menemukan banyak hal yang belum pernah dilihat.
"Iya, begitulah. Dia half, lebih tepatnya makhluk jadi-jadian," balas Gyusion berbisik juga. Mereka terkekeh bersama.
Kaja memiringkan kepala, memerhatikan sinyal-sinyal tak kasat mata antara dua manusia itu. Kaja sampai pada kesimpulan bahwa Gyusion menyukai manusia cantik ini. Dehamannya memecah suasana.
"Aku pernah mendengarnya. Sungai Swan, ya? Sudah lumayan dekat dari sini. Seingatku di sana juga terdapat Kastil Swan milik Keluarga Regina."
"Bagaimana caranya aku bisa sampai ke sungai itu wahai burung?" tanya Guine tapi tak langsung dijawab Kaja.
Sambil menahan tawa akibat raut Kaja yang tidak enak, Gyusion memuji, "Kau tahu Guine? Kaja ini tangan kanan Ratu Alexa paling setia. Dia punya sayap kokoh yang biasa membawamu terbang ke angkasa. Karena dia penguasa langit, jangan remehkan pengetahuanya. Kaja tahu segala hal dari langit. Benar begitu, Kaja?"
Kaja berdeham, "Benar."
Sontak mereka tertawa.
"Sungai Swan satu jalur dengan Danau Alexa. Kau bisa berjalan sepanjang Sungai Alexa. Jika kau melihat sebuah safir di atas bukit, artinya Sungai Swan semakin dekat. Begitulah yang aku tahu."
"Terimakasih, Kaja," ucap Guine tulus.
Kaja membalas dengan anggukan ragu, kemudian mengepakan sayap ke langit.