Usai terjun bebas dari lantai atas menara sihir, Gyusion jadi takut akan ketinggian. Rasanya pusing dan mual berada di tempat tinggi. Hak ini berpengaruh pada jurus berlari dari pohon ke pohon milik Tuan Kera, Gyusion pikir ulang untuk menggunakannya.
Jurus itu mengharuskan penggunanya berterbangan. Sangat berisiko jatuh. Baru membayangkannya saja menyeramkan.
Sepertinya Gyusion akan berhenti belajar jurus Tuan Kera. Gyusion akui sebagai calon pahlawan, dirinya punya terlalu banyak hal yang ditakuti. Ini sangat bertentangan dengan prinsip seorang pendekar. Apalagi di negeri menyeramkan Darkness sangat menjunjung tinggi citra seorang pria tak takut pada apa pun.
Oleh karena itu bila ada yang meledeknya, Gyusion akan menerima dengan lapang d**a. Ia akan terus memperbaiki diri daripada menangisi kelemahan sendiri. Lalu ketika melihat bangunan bersejarah yang sebagian sudutnya rubuh menandakan betapa keras perjuangan hidup di sana, Gyusion menelan ludah kasar. Dia baru menyadari keseraman sesungguhnya dari The Gladiator.
Irish pun bertanya-tanya mengapa Gyusion lari tiap mereka bertemu.
Gyusion hanya ingin bersembunyi saja. Tapi Akai selalu punya cara menyeretnya keluar pondok. Memerintahnya mengangkut ratusan ember air, atau berlari naik-turun bukit.
"Kakak!"
Sontak Gyusion berlari mendengar suara itu. Telinganya mulai peka seperti milik Naya. Di hutan ini hanya satu orang yang memanggilnya dengan sebutan Kakak. Xevana pelakunya.
"Kau mau kemana lagi, hem?" Ujung tongkat bambu Akai berhasil mengait kerah baju Gyusion.
Di antara makhluk menyebalkan, Akai juaranya.
"Kakak tidak ke The Gladiator? Mau taruhan apa kali ini?"
"Tidak."
"Taruhan terbang dari menara bagaimana?" tanya Xevana bermimik geli. Ia tahu bagaimana husterisnya Gyusion terjun dari menara sihir sampai tak sadarkan diri.
Sepekan ini Gyusion terlihat menghindari Xevana. Ada saja alasan dia pergi saat Xevana datang ke pondok kayu.
"TIDAK!"
"Sayang sekali." Xevana mengembuskan napas kecewa, dan kali ini Gyusion enggan peduli. "Kalau Kakak tahu siapa penantangnya, pasti akan lari secepat mungkin ke sana."
Akai diam-diam mendengarkan percakapan dua muridnya. Bunyi kunyahan pada batang bambu mengisi keheningan di sana.
"Aku tidak ingin tahu." Tangan Gyusion ditekuk menutup kedua telinga.
"Yakin?" Xevana jongkok demi mencari kemana perginya wajah tampan Gyusion. Gyusion memalingkan muka ke arah lain. Xevana terus menggoda kakaknya. "Jika terjadi sesuatu padanya, jangan salahkan siapa-siapa. Janji?"
Gyusion sedikit melirik jari kelingking Xena yang mengambang di udara cukup lama. Memangnya siapa yang akan bertanding di Gladiator kali ini? Rasa penasaran dan ketakutan kemudian hinggap dalam d**a.
"Siapa dia?" tanya Gyusion dibalas sorot pedih adiknya.
Senyum Xevana surut, bibirnya tak mampu menjawab, tapi harus. Hingga suara Akai datang bagai petir di telinga Gyusion.
"Naya."
***
Gyusion kehilangan kewarasa mendengar pengasuh yang mengurusnya sejak kecil akan mempertaruhkan nyawa di lapangan kematian. Pemuda itu berlari secepat mungkin, mengabaikan seruan Xevana dan gurunya. Gyusion tidak boleh terlambat. Jangan sampai ia kehilangan satu-satunya keluarga yang ia ketahui.
Namun semesta tidak sepaham dengan Gyusion. Bangunan The Gladiator masih jauh, tapi ia tersandung akar pohon. Tubuhnya tersungkur keras. Menyebabkan kuku di jempol kakinya menganga lebar. Gyusion bangkit mengabaikan nyeri yang jika dalam keadaan biasa akan membuatnya menangis di bawah ketiak Lolita. Kali ini jeritan hati Gyusion lebih perih melebihi luka fisik yang farahnya mengucur di sepanjang jalan menjadi penanda. Gyusion menggeleng keras mendengarkan lagu kematian mulai menggema dari lapangan The Gladiator.
Tidak. Jangan. Naya jangan bertanding di sana.
Pagi ini harusnya Lolita dan Naya pergi ke negeri seberang membeli gulungan kain untuk dijadikan baju dan bahan obat-obatan yang tidak dapat Lolita temukan di hutan. Mengapa sekarang Naya ada di tanah kematian? Air mata Gyusion bercucuran.
Tangannya mengusap embun di pelupuk mata yang menghalangi jarak pandang. Bangunan tua The Gladiator semakin dekat. Penjaganya melarang Gyusion memasuki pintu arena dengan napas hampir habis.
Begitu genderang dipukul tanda pertandingan akan segera dimulai. Gyusion makin hilang kewarasan. Dia menggila namun siapa peduli.
Seseorang menariknya begitu kuat ke sebuah pintu. Gyusion menangis dalam pemberontakannya. Orang itu melempar enteng tubuh Gyusion ke tengah-tengah penonton. Tempat biasa dirinya dan kawan lain bertaruh soal nyawa makhluk lain di arena pertandingan. Yang kini makhluk malang itu adalah pengasuhnya sendiri.
Wanita mungil yang berusaha tegar duduk di atas bulan sabitnya mendekap kelinci putih yang mungkin sedang merasa waktunya sudah dekat.
"Naya!" teriak Gusion kencang di tengah riuhnya massa.
Naya memiliki pendengaran berkali lipat dari makhluk lain mendengar suara Gyusion. Ia melirik ke atas podium dengan seulas senyuman yang sumpah seumur hidup Gyusion tidak ingin melihatnya. Senyuman itu syarat akan kepasrahan.
"Tidak!"
Gyusion memberontak. Kedua lengannya dikunci erat.
"Jangan bercanda. Selamatkan Naya. Selamatkan dia, Akai. Aku mohon." Gyusion memeluk kakki Akai yang baru datang.
Akai menghela napas, disimpannya batangan bambu tanpa minat, membelakangi murid-muridnya. Selera makan hilang sejak kemarin.
"Sebagai satu-satunya keluarga, Naya bertanggung jawab menjagamu, menerima setiap hukuman yang harusnya kau terima, dan harus selalu menjadi tameng untukmu. Gyusion, di usiamu sekarang, kau seharusnya bergabung dengan prajurit Darkness. Waktu bermainmu hampir habis. Dewasalah, seseorang harus mempertaruhkan nyawa demi dirimu. Naya menggantikan kau di The Gladiator. Harusnya sekarang kau yang ada di sana. Karena Naya melihat kau--"
"Payah?" Suara Gusion bergetar.
"Aku tidak bisa lagi menilaimu. Tapi ya, jika boleh ku katakan kau payah."
Gyusion terus berontak dari cekelan Faramis mengingat percakapan dirinya dengan Akai yang berakhir dia lari ke tempat ini.
"Lepas. Sialan!" bentaknya tepat di depan muka Faramis.
Sedangkan pemimpin sihir Negeri Darkness tidak gentar sedikit pun.
"Jika ku lepas, kau akan apa, ha?"
"Itu urusanku. Aku akan menyelamatkan keluargaku dari kejahatan kalian!"
"Bahkan menyelamatkan dirimu sendiri saja masih kesulitan, bagaimana cara kau menyelamatkan orang tersayang?"
Riuhnya penonton berdiri membuat perhatian teralihkan pada arena. Matanya membulat penuh menyaksikan Naya terlempar dari bulan sabitnya menubruk tembok.
Seruan kematian oleh seluruh penghuni The Gladiator membuat telinga Gusion gatal. Sekali dua kali Naya berhasil meloloskan diri dibantu bulan sabit yang bergerak cepat membawanya menghindari senjata tajam monster. Entah sampai kapan keberuntungan menyertai Naya meloloskan diri. Tak jarang Naya terjatuh dan terpojokkan. Kalau begini terus Gyusion akan benar-benar kehilangan pengasuhnya. Pertandingan The Gladiator hanya akan berhenti bila salah satu pihak mati.
Kaki Gyusion bergerak tak tenang. Jantungnya sudah tak terhitung berapa kali mencelos ketika kepala Naya hampir dipecahkan kapak si monster.
Kekuatan sihir Naya tidak terlalu membantu. Energinya terkuras habis oleh aksi menghindar. Tubuh mungilnya diguyur keringat deras. Sedangkan di pojok arena, kelinci putih meringsut takut. Naya menelan ludah, pertandingan telah berlangsung lama dan si monter simpanan energinya banyak sekali.
Sekali lagi Naya tersungkur dari atas bulan sabit. Dia meringsut mundur, langkah besar monster itu membuat Naya tidak punya keputusan lain. Dia terpojok, sedangkan sihirnya habis digunakan dan butuh waktu agar kembali pulih.
Tawa lebar monster haus darah ini berpadu seruan kematian para prajurit.
"MATI, MATI, MATI, MATI!" Jempol semua penonton di podium mengarah ke bawah.
Monster jungle mengangkat senjatanya tinggi-tinggi. Naya memejamkan mata. Mungkin beginilah saat-saat terakhirnya.
Usai denting benda beradu, seketika semua menjadi hening. Anehnya Naya tidak merasakan sakit atau apa pun. Saat matanya kembali terbuka, punggung seseorang yang amat ia kenal sedang mengadu senjata dengan monster The Gladiator di tengah arena kematian.
"Gyusion...?" Mulut Naya ternganga.
Gyusion tidak berpikir panjang melompati podium penonton melihat Naya kehabisan energi. Entah darimana asalnya kekuatan yang memberi Gyusion keberanian besar. Gyusion mampu melepaskan diri dari cekalan Faramis, lalu merampas asal senjata salah satu prajurit.
Dia melompat masuk ke dalam arena tepat sebelum kapak berkilat milik monster itu hampir menyentuh Naya. Gyusion tidak pernah merasa seberani ini menggunakan sebilah tombak tiga mata pisau. Tangannya menyeret monster tinggi besar ke tengah lapangan. Memperlihatkannya ke hadapan ratu. Sedikit memberi tahu juga bahwa ia tak akan tinggal diam bila salah satu orang yang ia sayangi disakiti.
The Gladiator sempat senyap beberapa saat. Keriuhan kembali begitu Gyusion menancabkan tombak tepat di jantung monster. Gyusion tahu, kini dirinyalah penantang sesungguhnya The Gladiator.
Namun benar apa kata Akai dan sebagian penghuni hutan ini, bahwa dia payah. Baru bermain sebentar mengenakan tombak besi yang sangat berat itu, monster jungle yang lain berhasil mematahkan tombaknya.
Gyusion berhasil melepaskan monster itu dari senjatanya, berguling menghindari injakan kakinya yang luar biasa besar. Hal itu semakin mengundang amarah si monster. Monster itu berteriak memukul-mukul dadanya sendiri.
Di atas sana Ratu Alexa bertumpang kaki, tersenyum sinis menjadikan kelakuan anak manusia itu sebagai hiburan.
Gyusion melompat ke atas punggung monster, menggigit lehernya begitu kuat hingga bau besi tercecap lidah. Monster itu berputar agar Gyusion terlepas.
Para prajurit bersorak. Diikuti tabuhan menggila.
Putaran itu berhasil melempar tubuh ringkih Gyusion ke sudut arena. Besi pembatas sedikit bengkok tertimpa olehnya. Gyusion terbatuk-batuk.
Monster itu menggeleng keras. Langkahnya semakin mengintimasi sembari membawa kapak. Seolah sengaja memperlihatkan kematian lwan berada di tangannya.
Di tengah kesakitannya, Gyusion berusaha bangkit. Seluruh sendiri rasanya remuk. Gyusion hampir tak bisa merasakan apa-apa. Mengambil napas saja berat. Rongga dadanya seperti habis ditimpa benda berat sehingga kehilangan fungsi menyokong paru-paru. Sedangkan di ujung sana samar-samar terlihat Naya berupaya bangkit sekuat tenaga. Naya tertatih-tatih melangkah ke arahnya.
"GYUSION!"
Entah suara siapa itu.
Bagai lesatan bintang jatuh dan meledak di tengah arena. Satu teriakan menggema sebelum dengung panjang menguasai pendengar. Monster yang hendak menyerangnya mendadak terlempar jauh. Gyusion tidak mengerti apa MB yang terjadi. Yang jelas perlahan hanya ada kegelapan dan Gyusion tidak mengingat apa-apa lagi.