18. Menara Sihir

1254 Kata
"Kak..., Kakak harus melihatnya. Ini sangat indah. Mau ya?" Melihat kedua telapak tangan Xevana menyangga dagu dibarengi bola mata yang berkaca-kaca memaksa Gyusion mengangguk lesu. Ia tak bisa menolak bila Xevana meminta. "Kau akan membawaku kemana?" "Ke tempat yang gelap. Tapi dimana ya tempat gelap terdekat?" Xevana mengetuk-ngetuk dagu. "Eh, tapi memangnya tidak apa-apa Kakak menunda tugas?" "Jangan dipikirkan. Aku sudah muak jadi tukang angkut." "Hmmm...baiklah. Bagaimana kalau gua di hulu sungai ini?" "Gua dekat menara sihir itu? Bukannya di sana banyak ular berbisa ya?" "Lalu dimana tempat gelap yang aman?" "Sepertinya tidak ada tempat gelap yang aman," ringis Gyusion. Pemikiran Xevana terkadang aneh-aneh melebihi keanehan Gyusion. "Ada!" pekik Xevama mengacungkan jari telunjuk. Gyusion mendengarkan. "Di menara sihir." "Tidak Xevana. Menara sihir itu penjara terberat negeri ini. Hanya makhluk yang dihukum oleh ratu yang menempati tempat itu. Lagi pula tempatnya menyeramkan dan dikelilingi sihir. Jadi jangan aneh-aneh. Aku masih ingin hidup lama." "Kakak..., aku pernah ke sana. Tempatnya biasa saja. Hanya gelap," "dan tinggi." Gyusion menambahkan. Dari semua tempat di Hutan Darkness, menara sihir paling menyeramkan. Xevana menyengir. "Iya tinggi dan asal Kakak tahu sihirnya hanya aktif ketika ada tahanan saja." Gyusion hendak menyanggah, tapi Xevana cepat bicara dalam satu tarikan napas. "Aku tahu jalan lain menuju tempat tertinggi menara selain dengan memanjatnya seperti yang Kakak lakukan terakhir kali." Gyusion menggaruk belakang kepalanya. Kalimat soal memanjat menara itu sangat memalukan. Ia gagal naik ke puncak menara meski telah berusaha keras. *** Xevana benar, bagian dalam menara itu sangat gelap. Bisikan-bisikan aneh terdengar penuh keputusasaan mulai menampakan diri begitu mereka memasuki celah berbatu. Seperti memanggil untuk tinggal dan menjadi gila bersama. Mereka memasuki kerangka besi. Gyusion segera mencekal pergelangan tangan adiknya. Menatap tajam. Perasaannya berkata akan terjadi sesuatu setelah ini. "Jika kita masuk lebih tinggi, kita akan kembali hidup-hidup, bukan? Maksudnya kita tidak akan terjebak di atas menara, lalu mati di sana karena tidak ada yang mengetahui keberadaan kita?" "Semuanya aman, Kak. Aku cukup sering ke sini." Xevana menekan salah satu tombol dan secara ajaib mereka dibawa meluncur ke atas. Pikir Gyusion, mereka akan menaiki tangga sampai atas sana. Ternyata ini sangat menguji mental. Gyusion sampai berpegangan pada sisi besi yang berkarat sebab terlalu kaget dan menakutkan. Dia memejamkan mata sepanjang benda kotak itu membawanya. Xevana dibuat tertawa oleh kelakuan Gyusion. Gyusion gemetar ketakutan. Apalagi telinganya menjadi lebih peka terhadap suara gesekan besi berkarat itu berderit-berit. Menimbulkan linu di sekujur tubuh. "Sudah sampai," ujar Xevana terdengar lega begitu pun Gyusion. Tak lama kemudian api keluar secara ajaib dari telapak tangan Xevana. Api itu membimbing langkah mereka dalam kegelapan. Mereka tiba di sebuah ruangan dengan satu titik cahaya dari jendela menyorot satu sisi tembok. Tempat ini cocok disebut penjara. Xevana menuntun tangan kakaknya untuk duduk di tengah ruangan. Ketika api di tangan Xevama mati, Gyusion sontak berteriak ketakutan. Lagi-lagi Xevana menertawakan kakaknya. Kali ini tawa Xevana sangat menyeramkan bagi Gyusion. "Xevana aku--" "Ssssssth!" desis Xevana menyuruh Gyusion diam. Gyusion kembali merapatkan bibir. Perlahan boneka beruang dalam genggamanan Xevana mengeluarkan sinar merah terang dari setiap sisi jahitannya. Sinar itu menerpa wajah Xevana yang sedang menggumamkan mantra. Seketika Gyusion terperangah. Xevana terlihat seperti penyihir cilik yang... jahat. Boneka itu pecah oleh sinar yang menyilaukan mata. Pecahannya luruh bagai air melewati sela jemari Xevana, merambat di atas lantai dan meluas. Gyusion berjengit takut sinar itu mengenai tubuhnya dan menyebabkan hal aneh. Tapi tidak terjadi apa-apa pada dirinya selain ruangan itu menjadi tempat menyala. Langit-langit berhiaskan titik-titik terang berwarna merah. Apa yang ada di bawah kaki Gyusion bagaikan riak air api. Semua ini sangat memukau di matanya. "Bagaimana ..." Pemandangan di depan sangat menakjubkan hingga sulit berkata-kata. Xevana tersenyum lebar memerhatikan Gyusion terpesona pada sihir bintangnya. "Bear ...," panggil Xevana kemudian seolah memerintahkan sesuatu. "Astaga!" pekik Gyusion. Gyusion terjungkal begitu raksasa muncul dari salah satu sudut ruangan dan berbaring di sisi adiknya. "Di-dia apa?" "Bear," jawab Xevana menyamankan posisi berbaringnya. "Kemarilah, Kak." Takut-takut Gyusion mendekati adiknya. Menatap waspada beruang raksasa yang tingginya hampir menyentuh langit-langit menara ini. "Bear teman baikku, Kak." Xevana melihat gelagat ketakutan Gusion. "Dia boneka beruang cokelat yang setiap saat kau bawa itu?" "Iya, Bear-ku. Sini, berbaringlah, Kak. Bear sangat empuk. Hihi." Tidak ingin dianggap pengecut oleh adik sendiri, Gyusion pun menekan debaran ketakutan. Dia berbaring di sisi lain adiknya. Kerlap-kerlip bintang merah mengalihkan pikiran mereka. Lambat-laun Gyusion mulai nyaman bersandar pada Bear. Beruang ini empuk dan hangat seperti beruang sungguhan. "Setiap aku sedih dan terbangun dengan sebuah nama yang tiba-tiba muncul di kepalaku, aku akan ke tempat ini. Menyaksikan bintang. Bila bertanya pada ibu, pasti aku kena marah." Gyusion menoleh, sayangnya wajah Xevana terhalang oleh perut buncit beruang raksasa ini. Dari nada bicaranya, Xevana sedang bersedih. "Jadi kau ke tempat ini karena teringat nama itu?" Xevana bungkam beberapa saat, lalu terdengar gumaman. "Siapa?" tanya Gyusion lagi. "Ayah," jawab Xevana lirih. Gyusion langsung menegang. Dia merapatkan bibirnya tidak ingin bertanya lebih jauh. "Aku selalu bertanya-tanya siapa ayahku. Ibu bilang jangan memikirkan dia, tapi aku tidak bisa. Dalam mimpiku, aku melihat seorang pria yang tertawa bahagia denganku. Tapi aku tidak pernah berhasil melihat wajahnya dengan jelas. Aku ingin bertemu dengannya dan menanyakan banyak hal." Sedikitnya Gyusion mengerti bagaimana perasaan Xevana. Dari kecil, Gyusion hanya mengenal pengasuhnya. Tidak ada ayah atau ibu dalam hidup Gyusion. Baru ketika Naya mengaku bahwa dia adalah adik dari ayahnya. Gyusion merasa punya keluarga sungguhan. "Aku pernah bercerita, bukan? Tentang ayahku seorang pahlawan yang tewas. Aku sempat berpikir bahwa ibuku masih hidup di Land of Dawn karena dari cerita Naya tidak satu kisah pun yang menceritakannya. Jika," Gyusion menjeda mengembuskan napas pelan sembari memandang jauh bintang-bintang merah di atas. "jika suatu saat aku mengajakmu mencari ibuku, maksudku ibuku dan ayahmu...apa kau akan ikut?" Tidak ada jawaban. Saat Gyusion mengangkat kepalanya, Xevana sedang memejamkan mata. Jadi sedari tadi dia bicara sendiri? Bodoh sekali. "Ya." Gyusion kembali menoleh. Meyakinkan diri bahwa suara itu milik Xevana. "Aku ikut." *** Perasaan Gyusion sulit digambarkan. Xevana menyuruhnya lompat dari jendela menara ke bawah sana. "Kenapa tidak melewati kotak berderit-derit itu lagi?" "Aku tidak bisa memanggilnya kembali, Kak. Kau lihat, bukan? Begitu kita sampai di lantai ini, benda itu langsung meluncur ke bawah. Jadi kalau kita ingin keluar dari tempat ini jalan satu-satunya kita harus terbang sampai bawah," ujar Xevana santai. "Terbang? Ayolah, Xevana jangan bercanda. Kita manusia biasa. Tidak punya sayap seperti Kaja," rengek Gyusion. "Jadi Kakak mau tinggal di sini?" Gelengan Gyusion berpadu antara tidak ingin tinggal di menara selamanya dan tidak ingin melompat dari menara karena dia menyayangi nyawa. "Ayo pegang tanganku. Bear akan membantu kita. Bear...?" Boneka beruang raksasa itu menciutkan ukuran tubuhnya ke semula. "Bagaimana bisa sebuah boneka menyelamatkan nyawa kita?!" teriak Gyusion hampir gila didorong adiknya ke jendela. "Kenapa kau buang bonekamu itu?" Detik selanjutnya Gyusion tidak ingat. Ketika dia berhasil didorong oleh gadis sekecil Xevana dari tempat tertinggi tanpa pijakan, tubuhnya terasa dicabik-cabik angin dengan kencang. Teriakan Gyusion lantas terhenti sebab sesuatu terasa menerobos mulutnya. Wajah pun seperti ditarik ke atas. Sampai sebuah genggaman hangat yang dikenalnya membuat Gyusion sedikit membuka mata. Xevana bersamanya. Mulut gadis itu terbuka lebar diterobos angin, dia menjerit bahagia. Gadis aneh. Mereka terbang menembus awan. Gyusion tidak pernah menyangka. Salah satu impiannya sewaktu bocah terwujud. Sumpah! Nyawanya ikut melayang seperti akan terpisah dari raga. Kencangnya angin tidak mengizinkan dia membuka mata lebar-lebar. Semua berlangsung cepat. Di balik hal kedua menakjubkan hari itu yang dia dapat, Gyusion akhirnya pasrah atas nyawanya sendiri. Angin yang mencabik-cabik berhenti ketika tubuhnya menghantam sesuatu. Begitu empuk dan lembut. Lalu suara seseorang memanggilnya sembari menepuk pipi. Selanjutnya Gyusion merasa yakin telah mendarat di surga. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN