17. Luka Tanpa Sakit

1380 Kata
Naya bergeming sebentar. Ia termenung di hadapan Gyusion lalu pergi begitu saja. Ini bukan sikap Naya sekali menghindari setiap pertanyaan Gyusion. Dari semua makhluk yang Gyusion kenal di dunia ini hanya Naya yang selalu memberinya apapun tanpa syarat. Meski sering kali dengan cara sembunyi-sembunyi takut Lolita marah karena terlalu memanjakan Gyusion. Terakhir diketahui bahwa Naya adalah adik dari ayah Gyusion. Gyusion pernah menguping pembicaraan Naya dan Lolita saat mereka mengira Gyusion belum pulang main. Mendengar kenyataan itu dari mulut Naya, Gyusion sangat bahagia. Lalu Gyusion mendesak Naya untuk bercerita lebih jauh. Cerita mengenai kehebatan ayahnya semasa hidup, membuat Gyusion bangga. Makanya akhir-akhir ini ia sangat semangat berlatih ilmu bela diri agar bisa mengikuti pertandingan The Gladiator. "Wajahmu mirip dengannya." Perkataan Naya masih diingat Gyusion. Pada permukaan tenang air danau di sisi hutan, Gyusion bercermin. Naya mengatakan, Gyusion berasal dari keluarga pemegang sihir terbesar di Azurastone, tapi entah mengapa hanya Gyusion yang tidak memiliki sihir. Yang paling membuat Gyusion sangat penasaran, mengapa dirinya dan Naya bisa tinggal jauh dari Azurastone. Bukankah katanya Gyusion berasal dari keluarga sihir yang cukup terpandang di negeri itu? Apa mungkin Gyusion dibuang oleh keluarga sendiri? Tapi apa alasannya? "Aku akan panggil Faramis kalau kau melamun terus, biar dia menggantungmu di pohon paling tinggi." Tongkat bambu mengenai kening Gyusion. Pemuda itu meringis sakit, ada noda darah didapat dari keningnya. "Tidak bisakah kau tidak memukulku sekali saja tiap bertemu?" "Salahkan kepalamu itu kenapa enak sekali dipukul tongkatku?" balas Akai dengan waja jenaka. Gusion mendengus, berdiri hendak menyerangnya tiba-tiba. Akai yang terlalu hatam pergerakan muridnya berhasil melumpuhkan pergerakan Gyusion tanpa banyak mengeluarka tenaga. "Sial!" Gyusion menggeram kesal. Akai tertawa mengejek. "Hari ini kau harus melunasi hutangmu mengangkut air selama dua hari. Uh, tubuhku gatal-gatal ingin cepat mandi. Cepat!" "Mengangkut air lagi?" "Ya ..., itu sudah jadi tugasmu." "Sepuluh tahun ini kau terus meyuruhku mengangkut air dan berlari naik-turun bukit. Menjemur pakaian, menangkap ikan di sungai, bahkan menggantikan tugas kerbau menggiling biji-bijian. Kau pikir aku ini apa? Kau guru gadungan! Tidak pernah sekali pun aku mendapat jurus bela diri darimu. Kau tahu? Aku muak! Muak!" "Ah." Gusion meringis lagi mendapat pukulan tongkat bambu Akai. "Kau!" Gyusion melotot marah. "Selalu saja berisik. Kau tahu anak muda? Aku sudah mengajarkan padamu jurus beladiri bahkan sejak pertama kali kau mengangkut ember-ember air dari sungai ke kolam di pondok kayu. Sepuluh tahun katamu? Kenapa rasanya baru kemarin? Hmmm... ya harusnya kau sudah hebat. Kenapa kau masih payah saja?" Kepala Akai miring ke kiri. "Kepalamu bermasalah ya? Jadi susah menyerap ilmu-ilmu dariku?" "Hei!" tangkis Gyusion mengenakan senjata pemberian Irithel tiga tahun lalu. Kepalanya hampir menjadi sasaran pukul tongkat bambu Akai. Akai tertawa sampai berut buncitnya bergetar. Apa yang lucu, batin Gyusion. Tidak terima jadi bahan lelucon. "Ini yang aku maksud, caramu menghindar dari tongkatku itu apa aku pernah mengajarkannya padamu?" Gyusion bergeming, napas memburunya berangsur normal. "Kau hanya belum menyadari kekuatanmu. Tapi sepuluh tahun? Kau bodoh sekali ya ternyata. Ckckck." Akai menggeleng, bangkit dari tempatnya duduk. "Maksudmu?" Gusion mengikuti gurunya. "Maksudku, kau itu bodoh." Detik selanjutnya Gyusion melompat ke punggung Akai. Mereka bergulingan di atas rumput. Seseorang yang kebetulan melewati area itu menggelengkan kepala melihat kelakuan guru dan murid paling berisik di negeri ini. Sihir merahnya menyambar pohon di sekitar mereka. Pohon besar di dekat meteka roboh seketika. Beruntung mereka gesit menghindar. "Hampir saja." Gyusion mengelus d**a, jantungnya berontak ingin keluar. "Xevana, kau mau membunuhku, ya?" "Halo kakak!" Gadis manis malah mendekat dengan langkah riang. Selama sepuluh tahun terahir dari ingatan Gyusion hanya dirinyalah yang tumbuh tinggi. Xevana dan para pengasuhnya tetap berukuran kecil. "Kakak sudah mempelajari jurus dari Tuan Kera itu?" tanya Xevana berjongkok, boneka beruangnya berada di sisi tubuh. Mereka tidak terpisahkan. "Ha? Oh i-iya sudah," jawab Gyusion kembali melihat pohon tumbang yang hampir menindihnya. Kekuatan Xevana bertambah besar. "Kau mau kemana?" "Aku mau ke pondok kayu, Kaja bilang Kakak sudah pulang. Aku ingin menunjukan sihir bar--Paman Guru!" pekik gadis itu teralihkan. Akai menghampiri mereka. "Kau yang menumbangkan pohon ini?" tunjuk Akai takjub, dijawab anggukan kencang Angela. "Wow! Lagi-lagi kau kalah oleh adikmu, bocah nakal." kekehan Akai tertuju pada Gyusion. Gyusion membalas dengan sedikit menekan, "Diam, kau!" "Faramis memberikan mantra baru, jadi aku gunakan tadi. Bagaimana? Bagus kan, Paman? Boleh aku naik ke punggungmu?" "Baguuuus sekali, Nona. Tentu saja, ayo naiklah." Xevana memekik girang. Mereka meninggalkan Gyusion sendirian. Ocehan Xevana dibalas tawa Akai terdengar semakin menjauh. Di tempatnya, Gyusion meremat tanah. "Gyusion!" gema suara Akai. "Cepat angkut airnya!" Gyusion menendang ember kayu di sisi danau. "Si gendut pikir aku pesuruhnya apa?" *** Sepuluh tahun jadi tukan angkut air, Gyusion mulai lihai. Air dalam dua ember kayu yang dia pikul akan utuh jumlah volumenya ketika sampai di kolam kecil pondok kayu. Waktu awal-awal dia melakukan ini, sampai di kolam, air tak bersisa. Air di pikulannya habis di jalan. Gelak tawa menyambut Gyusion begitu sampai di pondok. Di sana orang-orang berkumpul menikmati makanan. "Ini kue resep baru buatan Lolita. Ayo dicoba enak sekali rasanya," suara mendayu Naya. "Kue bulan?" "Iya, dulu seseorang memberi resep kue bulan di Land of Dawn. Karena di sini bahannya tidak semua ada jadi aku mengubahnya sedikit, jadilah ini. Bagaimana?" "Wah ini enak sekali, aku suka." Suara Xevana menarik perhatian Gyusion yang baru saja menumpahkan air ke kolam samping pondok. "Aku bantu boleh?" tanya Xevana, tidak tega melihat Gyusion memikul beban berat. "Jangan, Nona!" larang Akai penuh pengertian. Akai bicara agak keras supaya didengar Gyusion. "Jika kau melakukan itu, dia harus mengulang pekerjaannya dua kali lipat." Gyusion meniru perkataan Akai pelan. Sebelum balik badan untuk kembali mengambil air lagi, ia bertemu tatapan sendu Xevana. Gadis itu menggerakan mulutnya tanpa suara, meminta maaf Rena tidka bisa membantu. Gyusion menggangguk. Walau lelah, tapi pekerjaannya tak sebanding dengan kesibukan Xevana. Sebagai pewaris Kerajaan Darkness, Xevana dituntut menguasai banyak ilmu. Makanya tidak heran jiga kemampuan Xevana melebihi Gyusion terutama dalam bidang sihir. "Ini." Tangan mungil Xevana terulur. Sebuah bungkusan daun ditatap Gyusion. "Apa?" tanya Gusion heran. Tadi, entah kali ke berapa dia mengangkut air. Di pertengahan jalan Gyusion istirahat sebentar. Duduk di bawah pohon dan malah jatuh tertidur. "Kue bulan. Ini kan makanan kesukaan Kakak. Jangan diambil hati omongan mereka ya Kak. Kakak itu pahlawan terbaik untuk Xevana. Kakak paling hebat." "Terima kasih," ucap Gyusion menerima pemberian adiknya. Tanpa sengaja dia melihat keganjilan pada tangan Xevana. "Ini kenapa?" Xevana membola, dia segera menarik lengannya. "Ini..., bu-bukan apa-apa." Namun Gyusion tidak melepaskan hal itu dengan mudah. "Jujur. Ratu menghukumu lagi dan," Gusion kehilangan kata-kata melihat memah di sepanjang lengan adik kesayangannya. "separah ini, Xevana? Kau bilang tidak apa-apa? Kau membohongiku lagi!" "Bukan begitu, Kak." Angela menggeleng keras mendapatkan tatapan kecewa sang kakak. Digenggamnya tangan Gyusion berharap kakaknya percaya. Gyusion menghela napas, menyadari adiknya kesakitan, dia mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya. "Lolita membuatkan aku obat luka. Aku selalu membawanya kemana-mana, karena dia selalu cerewet. Sini aku obati." Xevana menahan ringisan waktu Gyusion mengoleskan obat pada lukanya. "Sakit?" Xevana menggelengkan kepala. Sejujurnya setiap dirinya mendapat luka, meski berdarah-darah, dia tidak pernah merasakan sakit. Terkadang Xevana sengaja menyakiti diri sendiri agar bisa merasakan apa yang sering Gyusion dan orang-orang rasakan ketika jatuh dan terluka. Namun nihil, tak terasa apa-apa. Jujur, hal itu membuatnya ngeri sendiri. Jadi ia tidak mau orang-orang mengetahui keanehannya. "Tahan sebentar. Obat ini sangat cepat mengeringkan luka. Entah apa namanya, yang jelas kau tahu sendiri aku ceroboh sering terluka. Jadi Lolita membuatkannya. Aku selalu menyimpan obat ini di dalam tas." Sangat beruntung dia mempunyai kakak sebaik Gyusion. Selesai mengoleskan obat ke seluruh luka, Gyusion meniupnya perlahan. "Ketika obatnya menyerap, lukamu akan sembuh. Ini untukmu saja." "Tapi, Kak--" "Aku bisa memintanya lagi pada Lolita, kau seperti tidak tahu saja. Si Ratu Ramuan itu sangat senang jika aku meminta obat. Impiannya memberiku obat sebagai bahan percobaan." Perkataan Gyusion berhasil mengundang tawa Xevana. Lalu Xevana mengerutkan kening pada dua ember air du samping mereka. "Mau aku bantu?" Gyusion menggeleng. "Jangan, si buncit itu serba tahu sekarang." "Paman Guru?" "Ya..., siapalah itu." Gyusion memang tidak pernah memanggil Akai sebagai guru atau master seperti Xevana memanggil Faramis. Mereka adalah murid dan guru yang jarang akur. Jadi pantaslah. "Karena Kakak sudah mengobati lukaku. Aku harus memberi Kakak hadiah sebagai tanda terimakasih." "Tidak perlu," kibas tangan Gyusion. "Kak..., Kakak harus melihatnya. Ini sangat indah. Mau ya?" Melihat kedua telapak tangan Angela terkatup di bawah dagu juga bola mata yang berkaca-kaca. Gyusion mengangguk lesu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN