16. Kenakalan

1358 Kata
Irish mengerahkan segala fokus pada ujung panahnya. Sebelah mata Irish menyipit dengan postur tubuh yang mengikuti pergerakan objek buruan. Dalam satu tarikan tiga anak panah itu melesat cepat. Terseok membelah udara yang dingin. Ketiga ujung panah runcing itu berhasil membidik mangsa. Lantas bibir tipis Irish tertarik ke salah satu sudut. Bersama Leo, mereka berjalan mencari hasil pemburuan tadi. Sekelebat bayangan membuat wanita bertelinga runcing itu menoleh cepat. Leo hendak mengejar, tetapi Irish mengusap kepala Leo supaya kembali tenang. Mereka melanjutkan perjalanan meski sesekali tatapannya tajam dan siaga. Ketika Irish baru saja mengangkat busur panahnya ke arah yang bergerak di atas pepohonanan, cengiran menyebalkan seorang anak lelaki malah ia dapat. Ternyata itu Gyusion. Irish melancarkan aksinya menarik tali busur. Panah berburunya mengenai dahan pohon beberapa senti dari wajah Gyusion hingga tersungkur ke tanah. "Hei!" seru Gyusion kesal sambil mengusap b****g. Gyusion keluar dari semak-semak. Auman Leo membuat Gyusion gagal melanjutkan langkah. Ia tidak jadi melayangkan protes karena penampilan Leo seperti siap menerkam siapa saja yang mendekati Iriah. Sedangkan Irish tertawa puas melihat wajah ketakutan si menyebalkan. "Kau masih tidak mengenaliku, Leo?" Gyusion mengangkat kedua tangan ke ke udara, tanda tidak akan bergerak. Dengan itu Gyusion berharap saudaranya Irish ini berhenti menatapnya seperti pada mangsa atau daging segar lainnya. "Dia tidak bisa mengerti bahasa manusia, kau tahu itu." "Tapi kita sudah tinggal bersama di hutan ini sangat lama, bukan? Dia masih saja terlihat benci tiap melihatku." Leo memalingkan muka. Jemari lentik Isrih langsung mengusap kepalanya. Terlihat jelas Leo menyukai perlakuan itu. "Karena dari dulu kau sampai sekarang masih saja nakal." Gyusion malah mendengus. "Kau tidak berlatih hari ini?" Irish naik ke punggung Leo. Perlahan mereka bergerak. Gyusion mengikutinya dari belakang. Selalu begitu soalnya Gyusion takut bila berjalan di samping Leo, tubuhnya tiba-tiba diterkam. "Berlatih. Ini aku sedang berlatih. ada jurus baru dari Tuan Kera. Kau ingin tahu?" "Tidak," tolak Irish tanpa pikir panjang. Biasanya Gyusion hanya akan main-main. "Ayolah, bilang saja ingin tahu. Sebentar lagi Ratu Alexa pasti mengizinkan aku bertarung di The Gladiator. Aku akan menunjukan kehebatan jurusku." "Lalu kau menyerahkan diri jadi santapan para monster?" ledek Irish geli. Irish adalah pengurus seluruh monster The Gladiator. Segala pertandingan akan ada atas izinnya. Karena dia sangat memahami The Gladiator, tidak sembarang makhluk bisa bermain di sana. Termasuk manusia tengil yang kini merengut di sisinya. "Kau selalu saja meremehkan kemampuanku, sama seperti Akai--" dengus Gyusion. Agak sedih juga kemampuannya sering dipandang sebelah mata padahal ia sudah berlatih dengan keras. "Aku sedang mempelajari jurus berlari cepat dari pohon ke pohon." "Apa keuntungan dari jurus seperti itu? Melarikan diri dari masalah?" Irish turun dari tubuh gagah Leo mengambil burung yang berhasil dia panah. Gyusion memutar bola mata. "Ya bukan hanya melarikan diri dari masalah. Menurutku sangat banyak manfaatnya. Seperti menjahilimu. Haha bercanda." Gyusion tertawa kering mendapatkan dengusan keras dari Leo. "Gyusion, tarung bebas bukan sekadar permainan yang kau sering jadikan bahan taruhan. Nyawamu hanya satu, bukan? Dan kau bukan Akai." Gyusion menyerahkan satu ekor burung yang terpanah pada Irithel. Panah tersebut lepas dari tubuh mengenaskan itu oleh pemiliknya. Gyusion menelan ludah, takut dirinya berakhir seperti itu. "Memangnya kenapa kalau aku bukan Akai? Sama seperti mereka, kau juga suka membandingkan aku dengan Akai. Dia kan beruang, aku manusia. Ya jelas beda." "Makanya kau harus melebihi kemampuan gurumu itu, agar kami percaya kau bisa dipercaya memasuki The Gladiator. Kau pikir Ratu Alexa akan mengizinkanmu masuk arena dengan kemampuanmu sekarang ini?" Gusion termenung sejenak, ada sesuatu yang meletup dalam dadanya. Dia membenarkan apa kata Jungle of Heart yang sedang melepaskan panah ke tiga. Dia harus melebihi Akai agar bisa bertarung di The Glariator. Tali tas kulit hyena di sisi tubuh dia remat erat. "Baiklah. Lihat saja. Kalau aku berhasil mencapai The Gladiator dan keluar sebagai pemenang...," Irishl menoleh, kedua alisnya terangkat. "kau harus mengizinkan aku naik ke punggung Leo selama satu pekan, bagaimana?" lanjut Gyusion mengundang pelototan Leo. Si singa menatap Irish keberatan. Meski ia tak mengerti apa pembicaraan dua manusia di depannya, tapi Leo merasakan hawa konspirasi dan dirinya akan dilibatkan. Sungguh Leo tidak suka berurusan dengan Gyusion. Tanpa diduga Irish mengangguk. Makin takut saja Leo melihatnya. Sebab Gyusion tiba-tiba menjerit senang sampai meloncat ke atas pohon. Benar-benar seperti kera menemukan buah-buahan segar saja tingkahnya. Pemuda itu hilang wujud di antara rimbunan pohon, hanya suara teriakan aneh yang masih terdengar dan menjauh. Irish mengumpulkan hasil pemburuan ke dalam keranjang bambu. Leo bertanya lewat bahasanya. "Apa yang kalian bicarakan?" Saudarinya melompat ke atas punggung. Leo enggan berjalan sebelum diberi jawaban. "Dia ingin menguasaimu jika berhasil selamat di The Gladiator," jawab Irish singkat. "Dan kau mengizinkan dia naik ke punggungku, begitu?" Leo berhenti berjalan. "Kita lihat saja dulu apa dia bisa mengalahkan The Gladiator." Leo menggeleng malas. "Dia harus kalah." *** Gyusion mengikuti rombongan kera. Dia mempelajari pergerakan lincah hewan primata itu dua hari ini. Selain mengikuti kemana pun mereka pergi, Gyusion juga makan dan tidur bersama mereka. Perlakuan binatang hidup berkelompok itu sangat baik terhadapnya, apalagi menyadari Gyusion ada di bawah perlindungan Ratu Alexa. "Tertangkap kau!" Buah-buahan di tangan jatuh ke tanah ketika sesuatu berwarna biru melilit di tubuhnya. Tawa dibuat-buat menggema ke penjuru hutan. Para kera pun berlarian takut. "Kau? Kenapa kau melilit tubuhku?!" Gusion menggeram kesal. "Jika tidak begini kau akan lari lagi. Sudah cukup dua hari ini kau main kucing-kucingan denganku. Dasar bocah nakal." "Lepaskan!" "Tidak di sini." Kaja mengabaikan teriakan Gyusion yang memekakan telinga. Dia menyeret Gyusion seperti hewan peliharaan sampai tersandung-sandung. Di belakang, Gyusion meneriakan dan mengumpati tangan kanan Ratu Alexa. "Aku tidak akan lari. Lepaskan! Lepaaskan! Aku janji tidak akan lari!" "Janji?" Kaja menghela napas. "Kau pikir aku bodoh, ha? Kau sedang memanfaatkan keadaanku yang tanpa sayap ini, bukan? Jika aku lepaskan, kau akan lari, dan aku tidak bisa mengejarmu." Gyusion menelan ludah, sial sekali burung besar ini mengetahui rencananya. "Kemana sayapmu?" Setelah lama terdiam Gyusion kembali bertanya. Dia menatap punggung pemilik sihir petir itu. Berperawakan manusia tapi kepalanya burung. Kaja hanya menoleh sekilas, lalu melanjutkan langkah menatap ke depan. "Ratu menghukumku. Ini semua karena kau!" Gyusion mengerucutkan bibir. "Kenapa yang dihukum kau, tapi yang salah aku?" "Karena tugasku selain di istana juga mengawasimu. Kau berkeliaran dengan rombongan kera dan tidak mengikuti pelajaran sihir dan bela diri sudah beberapa hari. Kau pikir Ratu tidak akan marah?" "Setiap masalah di negeri ini pasti salahku. Dan anehnya kesalahan yang katanya perbuatanku itu hukumannya selalu dilimpahkan pada orang lain. Kenapa Ratu Alexa sombong sekali mengatur hidup orang lain." "Tidak tahu diri." Kaja bergumam. Gyusion tidak tahu saja bagaimana peran Ratu Alexa dalam kehidupannya. Kalau bukan karena Ratu Alexa, mungkin sekarang Gyusion hanya tinggal nama. "Hati-hati dengan ucapanmu, Bocah. Ratu Alexa selalu mengetahui apa pun di hutan ini." "Dia bukan dewa," sanggah Gyusion. "Dia memang bukan dewa tapi kekuatannya setara dewa. Setiap makhluk di hutan ini tunduk padanya. Pohon, batu segalanya adalah mata dan telinga Ratu Alexa. Kau tentu bukan apa-apa bila melawan dia." Kaja memecut tongkat petirnya. Seketika Gyusion roboh. Menyadari itu Kaja menghela napas. "Maaf, aku kesal." Terpaksa Kaja mengangkat tubuh jangkung Gyusion ke atas pundaknya. Perubahan besar dia rasakan. Bayi merah itu telah tumbuh jadi pemuda gagah, sayang sekali sikapnya masih kekanakan dan nakal. "Rasanya baru kemarin aku menggendongnya sebagai bayi, sekarang sangat berat." *** Benda basah terasa membaluri wajah. Gyusion mengerjap-ngerap, melihat sekelilingnya adalah tempat yang amat dia kenal. Matanya bertemu dua bola merah bergerak. Rabbit berada di atas d**a Gyusion. "Halo, Anak Keraaa," sambut Naya begitu membuka pintu. Seolah tahu Gyusion sudah bangun. Gyusion bangkit dari atas tempat tidur. Seketika belakang kepalanya terasa seperti dipukul benda tumpul. Ringisan pun terdengar, Naya mendekat dan tampak berbayang. "Sejak kapan aku di rumah?" Tangan mungil Naya menyentuh pucuk kepala anak asuhnya. Seketika sakit di kepala berangsur menghilang. Akhirnya Gyusion bisa melihat pengasuhnya dengan jelas. Naya selesai memberi mantra penyembuh. "Sejak Kaja melemparmu ke pintu dengan sangat keras. Kepalamu masih sakit? Sepertinya itu akibat benturan. Lolita sudah memarahi Kaja, bahkan menyemburnya dengan cairan ajaib. Kau akan tertawa kencang bila menyaksikan keributan it--," "Naya," sela Gyusion. "Ya?" Gyusion mengedarkan matanya ke penjuru ruangan. Dia beranjak mengunci pintu dan jendela kayu. Naya dibuat terheran. "Naya," panggil Gyusion lagi penuh binar meraih jemari mungil pengasuhnya. "Jurus hebat yang kau ceritakan waktu itu... boleh aku mempelajarinya sekarang?" 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN