Bab 6: Asma mau pulang

1185 Kata
Malam semakin larut, Yusuf datang membawa makanan untuk istri kecilnya Asma. Dia juga belum makan dan merasa tidak nafsu makan, Yusuf terkejut saat melihat seisi rumah berantakan. Kanaya mempersiapkan rumah tersebut tidak tanggung-tanggung, beberapa peralatan rumah tangga juga lengkap disana. Jika Yusuf tahu tabungannya berkurang, mungkin Yusuf akan marah. Yusuf melihat semua barang tergeletak. Berantakan di lantai, begitu juga lemari yang baru terisi oleh bajunya. Yusuf semakin terkejut melihat bercak darah di lantai, Asma memecahkan gelas dan dia tak sengaja menginjak pecahan gelas tersebut. ”Asma.” Ucap Yusuf begitu lembut memanggil Asma yang sama sekali tidak terlihat dimana pun, dia melihat pintu lemari terbuka. Asma ada di sana, mendekap kedua lututnya dan wajahnya tenggelam di kedua pahanya itu. Yusuf meletakkan makanan di atas meja, dia lihat kaki Asma berdarah dan tangannya lecet-lecet. ”Sudah merasa tenang? Setelah mengacak-acak seisi rumah?,"tanya Yusuf dan Asma diam tidak mau menjawab. Yusuf mendekat, dia berjongkok di dekat pintu lemari terbuka itu. ”Ayo keluar,” titah Yusuf dan Asma diam, jangankan keluar. Menunjukan wajahnya saja dia tidak mau. ”Mau tetap di dalam lemari? Silahkan. Tidur yang nyenyak,” ucap Yusuf, dia bangkit dan mendorong pintu lemari perlahan tapi Asma sontak mendorong pintu lemari dan keluar. Yusuf tersenyum tipis, senyumannya berhenti melihat pipi Asma lebam. ”Kenapa ini? Menyakiti diri sendiri itu tidak boleh Asma. Dosa.” ”Saya ingin mati, dari pada harus tinggal lebih lama sama kamu,” tegas Asma, Yusuf melangkah maju mendekat dan Asma ketakutan dan dia mundur kasar sampai kakinya membentur tepi ranjang. Asma terkejut, dia cengkram kuat kerah baju Yusuf karena takut terjatuh. Sontak suaminya tertarik dan keduanya terjatuh ke atas ranjang tempat tidur itu. Kedua mata Asma membulat, berhadapan dengan kedua mata Yusuf yang sama-sama membulat saat keduanya jatuh dan Yusuf menindih Asma, bertumpu pada kedua lutut kuatnya. Dia terkejut, bibirnya jatuh di bibir mungil Asma yang selalu Asma jaga itu. Dia dorong d**a Yusuf kasar dan Yusuf mundur menjauh. ”Kamu mencium saya, dasar mesum.” maki Asma. ”Kamu yang menarik saya Asma.” ”Alasan.” Asma mendengus kesal. Yusuf menggeleng kepala, dia tarik dagu istrinya itu untuk melihat pipi lebam Asma. Asma berusaha menepis tapi Yusuf menahan, tidak lama Yusuf melepaskan dagu istrinya dan dia melangkah pergi untuk mengambil obat di rumah Kanaya. Asma tak bermaksud menyakiti diri sendiri, dia terjatuh kasar dan pipinya membentur lantai setelah menginjak botol minum yang dia acak-acak sendiri, bisa disebut senjata makan tuan. Tidak lama Yusuf kembali, kain berisi bongkahan es batu dan obat yang lainnya untuk mengobati luka Asma. Dia mendekat tapi Asma menjauh, dia tempelkan kain itu ke pipi Asma dan Asma meringis. ”Diam,” tegas Yusuf, Asma diam dan memperhatikan Yusuf yang tidak memakai pecinya. Terlihat tampan, tidak terlalu tua dan terlihat berwibawa. Gila, Asma tidak sadar memuji Yusuf dan dia langsung menggeleng cepat. ”Diam, Asma. Pegang.” Titah Yusuf dan Asma memegang kain kompresan tersebut. Yusuf meraih tangan Asma dan mengobati punggung tangan gadis itu yang lecet-lecet dan berdarah. Asma menyesal karena kelakuannya membuatku rugi sendiri. Yusuf terus mengobati luka Asma, sesekali meniupnya. Rasa cinta itu belum tumbuh, dia mengobati Asma karena murni tanggung jawabnya sebagai seorang suami, istri kecilnya itu sangat membuatnya pusing. ”Auw,” Asma meringis merasakan ngilu di pipinya. ”Diam, bismillah. Huf.” Yusuf meniup pipi istrinya lembut, untuk meredakan rasa ngilu yang dirasakan Asma. Asma diam saat wajahnya dan wajah Yusuf begitu dekat. ”Aku pukul kamu jika berani mencium ku lagi.” Gumam Asma penuh ancaman. Asma sudah memasang ancang-ancang, untuk memukul Yusuf jika Yusuf berani menciumnya lagi. Padahal ciuman tadi adalah sebuah ketidaksengajaan. Setelah mengobati semua luka Asma, Yusuf juga mengobati luka di kaki istrinya, menyentuh kaki Asma tanpa ragu dan Asma cukup merasa kagum melihatnya. ”Makan,” titah Yusuf, dia meletakkan makanan di atas piring ke hadapan Asma. Asma diam dan Yusuf menggulung lengan bajunya sampai sikut lalu merapihkan semua barang-barang berserak karena ulah Asma satu-persatu ke tempatnya lagi. Asma diam tak kunjung memakan makanannya, dan Yusuf terus membereskan semuanya lalu memunguti pecahan beling di lantai. ”Astaghfirullah,”,ucapnya saat pecahan beling kaca menusuk jemarinya, Asma terkejut. Kedua kakinya sudah turun tapi dia naikkan lagi, kenapa dia harus perduli. Yusuf menahan darah dari jemarinya dengan kain dan melanjutkan pekerjaannya kembali. Yusuf menoleh, melihat Asma sudah tidur meringkuk. Pipinya lebam, kedua matanya bengkak karena terus menangis. Yusuf melangkah perlahan mendekatinya, menarik selimut dan menyelimuti tubuh Asma. Makanan yang dia bawa tak disentuh sama sekali oleh Asma. Gadis itu benar-benar tidak selera makan, walaupun aroma yang dimasak oleh Kanaya tercium begitu memanjakan hidungnya. ”Ya Allah, hamba tidak tahu kenapa Engkau yakinkan hamba untuk menikahi Asma. Di sisi lain hamba tidak mau dan takut tidak bisa berlaku adil untuk Kanaya dan Asma. Tapi kenapa, Engkau tunjukan jawaban dari sholat istikharah untuk menikahi gadis ini. Apakah aku bisa adil? Membayangkannya saja begitu sulit. Beri hamba keteguhan hati, untuk sabar dalam mendidik Asma. Teguhkan hati hamba untuk bisa menerima dan mencintainya dan teguhkan hati hamba untuk tetap bisa bersikap baik pada Kanaya.” Kedua mata Yusuf nampak berair, tangannya bergerak ingin mengusap rambut Asma. Namun dia urungkan niatnya itu dan menjauhkan tangannya kembali. ****** Keesokan harinya, hari pertama Asma di kota tersebut. Di pesantren Nurul Musthofa yang begitu ramai dengan para santri, ustadz dan ustadzah. ”Assalamu'alaikum,” suara Kanaya terdengar, Asma yang masih meringkuk di kasurnya diam. Yusuf tidur bersama Asma semalam, tapi tidak satu ranjang. Yusuf tidur di sofa. Asma diam tidak menjawab salam Kanaya. Kanaya akhirnya masuk, Yusuf sedang di aula. Mengobrol dengan beberapa pengurus pesantren yang lain. ”Asma.” Panggil Kanaya, dia lihat gadis itu masih meringkuk di atas tempat tidurnya. Asma diam, pura-pura tidur dan tidak bergerak tapi kedua matanya terbuka. ”Aku membawa baju buat kamu, dan hijab. Mas Yusuf yang memilihnya, lihat ini Asma.” Ujar Kanaya, dia tahu Asma marah karena merasa di bohongi semua orang. Tapi kini Asma sudah menjadi madunya, dia akan berusaha membantu Yusuf untuk dekat dengan Asma, demi seorang anak yang sudah diidam-idamkan Kanaya selama 9 tahun pernikahannya itu. ”Tolong, aku mau pulang. Kamu juga perempuan, kamu pasti cemburu karena suami kamu menikah lagi. Aku tidak akan meminta apapun, aku hanya ingin pergi dan bercerai. Kalian bisa hidup bersama bahagia selamanya tanpa kehadiran ku,” lirih Asma, suaranya serak. Dia berbicara tanpa menoleh melihat Kanaya. ”Jangan bicara seperti itu Asma, kita bisa dekat seperti adik kakak. Saling menyayangi, dan saling berbagi,” tutur Kanaya, Asma akhirnya berbalik dan dia tidak habis pikir dengan ucapan Kanaya. ”Apa kamu gila? Aku madu kamu, suami kamu menikah lagi denganku dan bisa-bisanya kamu mengatakan semua itu. Apa yang membuatmu begitu rela di madu mbak?.” Tegas Asma, Kanaya tersenyum. Gigi kecil yang berbaris rapih itu terlihat begitu indah menghiasai senyumannya. Senyuman di wajah cantiknya. Kanaya diam, tidak bisa dia menjawab dan memberitahu apa alasannya. Kanaya tidak bisa mengatakan, jika pernikahan Yusuf dan Asma hanya sebuah ikatan untuk melahirkan seorang anak. Untuknya dan Yusuf, setelah Asma melahirkan anak Yusuf, Kanaya akan mengurus anak itu dan meminta Yusuf untuk menceraikan Asma. Dan membiarkan Asma pergi jauh terserah keinginannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN