Bab 5: Asma marah

1100 Kata
Yusuf melepaskan rangkulan tangannya dan mundur menjauh, Asma terlihat gugup begitu juga dengan Yusuf yang terus menggaruk tengkuknya. Keduanya sama-sama diam sampai Yusuf meraih kerudung instan punya Asma dan dia mendekati Asma. ”Saya tidak mau ditinggal disini, disini gelap. Saya takut,” lirih Asma, dia takut Yusuf bersungguh-sungguh meninggalkannya. Dia cengkram kuat ujung baju Koko Yusuf dan Yusuf memperhatikannya cengkraman kuat tangan Asma. Jadi benar, Asma takut gelap. Dia tidak bisa melihat kegelapan malam, lampu yang mati, seluruh rumah harus terang dan dia selalu menangis jika mati lampu. Ada kejadian yang membuat Asma trauma hebat atas kegelapan. ”Saya disini, sekarang pakai ini. Kita sebentar lagi sampai,” titah Yusuf dan memberikan kerudung kepada Asma, Asma melepaskan cengkraman nya perlahan-lahan lalu dia mengikat rambutnya dan menerima kerudung dari suaminya itu, Yusuf terdiam, saat melihat Asma sudah sempurna dengan kerudung berwarna hitam itu. ”Kamu sangat cantik ketika diam, sungguh indah. Dan kamu milikku.” Yusuf bergumam Yusuf dan Asma saling menatap lekat, Yusuf membuka pintu mobil taksi dan Asma masuk. Tidak lama Yusuf juga masuk dan taksi kembali melaju menuju pesantren Nurul Musthofa. Sesampainya di sana, Asma menyapu sekeliling. Mengedarkan pandangannya, begitu hangatnya suasana di pondok, suara para santri sedang mengaji, sedang bersholawat ada juga yang sedang berjalan-jalan mengobrol bersama temannya. Sontak kedatangan Asma dan Yusuf menjadi sorotan, ustadz mereka yaitu Yusuf menikah lagi dan menduakan Kanaya. ”Ayo,” ajak Yusuf, Asma diam. Terlihat ragu, dan terlihat tidak nyaman menjadi pusat perhatian. Yusuf meraih jemari istrinya tangan kanan istrinya itu terpaksa tapi sangat lembut, dia segera menarik Asma untuk segera masuk ke dalam rumah. Keduanya tiba pukul 8 malam. ”Assalamu'alaikum,” ucap Yusuf, Kanaya yang mendengar suara suaminya begitu senang dan dia keluar dari dapur, Asma diam. Entah siapa wanita itu, tapi kenapa sangat bahagia saat melihat suaminya Yusuf. Kanaya juga tersenyum kepada Asma, tapi Asma tidak membalas senyumannya. ”Wa'alaikumus Salaam,” jawab Kanaya."Mas.” Ucap Kanaya dan meraih tangan suaminya, Asma terlihat mengerutkan keningnya. ”Dia siapa?.” Gumam Asma. Perasaan Asma semakin tidak nyaman, beberapa perkiraan buruk melintas di pikirannya. ”Asma, akhirnya kita bertemu. Saya Kanaya,” ujar Kanaya dan mengulurkan tangannya. ”Asma,” jawab Asma dan berjabat tangan dengan Kanaya sekilas. Dia lirik Yusuf di sebelahnya yang diam terlihat memalingkan muka saat bertemu dengan Kanaya, jujur amarahnya belum reda, dia masih kesal dengan keputusan Kanaya. ”Ayo duduk," ajak Kanaya kepada keduanya, tak sedikitpun rasa cemburu merasuki hatinya. Kanaya terlihat santai, karena dia tahu suaminya menikah lagi hanya untuk seorang anak. Asma dan Yusuf duduk, Kanaya pergi untuk mengambil air minum. Rumah itu nampak sepi, tidak lama Kanaya datang lagi membawa dua gelas air teh hangat dan beberapa potongan kue bolu dan kue kering. Dia letakkan semuanya di atas meja lalu duduk. ”Kamu akan tinggal di rumah sebelah, aku sudah menyiapkannya,” ujar Kanaya dan Yusuf menoleh. ”Asma akan tinggal bersama Abah ku dan umi ku,” timpal Yusuf cepat, senyuman Kanaya surut melihat ekspresi wajah tidak suka dari suaminya. ”Tapi mas.” Kanaya berusaha untuk berbicara lagi tapi Yusuf mengangkat tangannya, memintanya berhenti. Lalu Yusuf menoleh dan menatap istri kecilnya yang kebingungan. ”Saya tahu kamu pasti bingung, saya akan mengatakan semuanya. Ini Kanaya Ilham, istri pertamaku. Baik-baik lah padanya, dan kamu Kanaya baik-baik lah kamu kepada adik madu mu. Ajari dia banyak hal.” Tutur Yusuf, wajah Asma memerah. Dia melirik foto di dinding rumah tersebut, foto pernikahan Yusuf dan Kanaya. Tangannya terkepal kuat, kedua matanya tiba-tiba terasa panas dan berair. Apa ini? Dia istri kedua? Dia bukan hanya dijodohkan tapi dia juga menjadi istri kedua pria di sebelahnya itu. ”Apa-apaan ini?.” Tegas Asma, dia menatap tajam Yusuf dan Kanaya bergantian. ”Asma, hanya kamu yang belum tahu tentang mas Yusuf yang sudah memiliki istri. Semua keluargamu juga sudah tahu, hanya kamu yang belum tahu. Akan aku ajari semua hal yang aku bisa, kita belajar sama-sama untuk menjadi istri yang baik untuk mas Yusuf.” Imbuh Kanaya, Asma bangkit dari duduknya dan Yusuf menoleh melihat kemarahan Asma. ”Kalian semua menipuku.” Tegas Asma, dia melangkah cepat melewati Yusuf. Langkahnya yang buru-buru hampir membuatnya akan terjatuh. Yusuf bangkit dan mengejar Asma yang pergi keluar dari rumah setelah mendengar semuanya, Asma menangis. Betapa jahatnya semua orang padanya. Ibu dan ayahnya kenapa tega memberikannya kepada pria yang sudah beristri. ”Asma.” Panggil Yusuf tapi Asma tidak mau menoleh, dia tarik lengan gadis itu dan merangkul bahunya. Membawanya paksa ke rumah yang berada di sebelah rumah Kanaya. Rumah tersebut menyatu, hanya saja saat Kanaya mau suaminya menikah lagi dia memutuskan untuk menyekat rumahnya sendiri dan dia berikan untuk Asma. Sesampainya di rumah, Asma berontak dan ingin keluar tapi Yusuf menghalangi pintu dengan tubuh tinggi dan besarnya. Plak.... Tamparan keras mendarat di pipi kanan Yusuf, Yusuf diam sejenak dan dia menatap Asma yang menangis. ”Kamu berbohong, kamu membohongi semua orang.” Tuduh Asma. ”Demi Allah, saya tidak pernah mau pernikahan kita ini diawali dengan sebuah kebohongan. Tapi keluarga kamu memutuskan untuk tidak mengatakan status saya yang sudah memiliki istri kepadamu Asma.” Tutur Yusuf. ”Kenapa kamu memilih saya, kenapa?.” Teriak Asma frustrasi. Dia memukuli d**a suaminya itu kasar dan berkali-kali sampai Yusuf lama-lama merasakan dadanya ngilu. ”Cukup Asma,” Yusuf menahan tangan Asma dan Asma menatapnya kesal. ”Kamu tidak lebih dari seorang pria yang gila seks.” Maki Asma dan Yusuf diam, betapa hancurnya dia mendengar makian Asma. Asma tidak tahu, dia juga tidak mau. Melihat Asma yang tidak akan bisa diajak bicara baik-baik. Yusuf melepaskan tangannya, dia keluar dan mengunci pintu. Mengunci Asma di rumah tersebut. ”Buka.” Teriak Asma, teriakannya menjadi sebuah keributan. Yusuf diam. ”Kalau kamu tidak bisa diam, saya matikan semua lampu.” Ancam Yusuf, Asma berhenti menggebrak pintu. Tubuhnya terhuyung terjatuh kasar dan dia menyenderkan kepalanya di pintu sambil terus menangis. ”Kamu jahat Yusuf hiks.” Asma terus menangis, Yusuf mengepalkan tangannya kuat dan dia melangkah pergi ke rumah Kanaya. ”Mas, kamu mengurung Asma?.”Kanaya panik. ”Lihatlah Kanaya, gadis yang kamu pilihkan untukku. Tidak memiliki sopan santun, kasar dan sangat susah diberitahu.” Tegas Yusuf dan melepaskan jaketnya kesal. Kanaya diam dan menundukkan kepalanya. ”Tidak mudah mencari keluarga yang mau memberikan anak gadisnya menjadi istri kedua, Asma cantik, dan aku yakin dia akan bisa menjadi istri yang baik buat kamu mas,” lirih Kanaya. ”Jujur, aku masih belum bisa menghentikan rasa kesal aku ini sama kamu Kanaya,”tutur Yusuf, dia melepaskan pecinya dan menggantinya dengan peci lain. Kanaya diam, dan suaminya pergi untuk menenangkan diri di masjid.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN