Malam semakin larut, perasaan campur aduk sedang menghantui Asma. Dia masih di kamar ibunya, dia tidak mau melayani Yusuf. Dia tidak suka, tidak cinta dan merasa stres padahal satu hari menjadi istri Yusuf juga belum.
Suara Yusuf terdengar, sedang mengaji sambil menunggu Asma datang. Sekuat apapun Asma menjauh, dia tidak bisa. Dia istrinya dan harus berada di sampingnya dan harus menuruti nya sebagaimana tugas seorang istri.
"Sampai kapan kamu disini?,” tanya Bu Anna dan Asma menoleh.
”Bu, apa boleh Asma tidur disini?,” ucapnya sambil tersenyum, dia berharap ibunya mengangguk tapi ternyata ibunya menggeleng kepala.
”Ibu tahu kamu masih malu-malu, tapi kamu gak bisa begini. Ayo temui suami kamu,” titah Bu Anna, seraya menarik kedua bahu Asma agar bangkit dari ranjang tempat tidurnya. Bu Anna mengantarnya keluar dan Asma melangkah perlahan menuju kamarnya, suara Yusuf sudah tidak terdengar lagi. Yusuf sudah merebahkan tubuhnya yang lelah itu, matanya tertutup tapi dia tidak tidur.
Asma masuk, seraya melepaskan handuk di atas kepalanya. Dia baru saja keramas tadi. Yusuf membuka matanya seraya menoleh, dia tersentak melihat Asma sudah masuk dan terlihat ragu mendekati tempat tidurnya.
”Apa kamu bisa tidur dibawah?.” Asma memerintah, entah kenapa terdengar menggemaskan dan Yusuf ingin tertawa. Tapi dia tahan dan bibirnya tersenyum tipis.
”Kenapa harus di bawah? Saya bebas tidur dimana pun.” Yusuf tidak mau kalah.
”Ini kamar saya, jangan macam-macam,” ketus Asma.
”Kita suami istri, ingat,” Yusuf terdengar mulai kesal.
”Saya sama sekali tidak mau menganggap pernikahan ini.” Asma semakin menjadi, Yusuf mengubah posisi nya dengan duduk dan pasangan pengantin baru itu saling menatap sinis. Yusuf sangat tegas, di pesantren dia terkenal karena ketegasannya.
”Jangan melihat saya seperti itu.” Asma kesal, tapi Yusuf malah turun dari ranjang. Dia mendekat, dan Asma ketakutan. Asma terus mundur sampai punggungnya membentur pintu. Asma menutup matanya, dan Yusuf sudah ada di hadapannya. Asma terdiam, mencium aroma segar dan wangi dari tubuh Yusuf. Yusuf menutup pintu perlahan-lahan dan menguncinya, serta menarik gorden pintu itu.
”Kalau mau marah-marah silahkan, tapi pintunya tutup rapat dulu. Kalau ada yang mendengar, kamu sendiri yang repot karena membentak-bentak suami seperti itu,” tutur Yusuf, dia tiba-tiba terdiam dan melihat Asma terus menutup matanya. Asma membuka matanya tiba-tiba dan mendongak, menatap Yusuf yang masih di hadapannya.
”Sekuat apapun kamu menolak, saya suami kamu. Ini malam pertama kita, saya tidak akan menuntut apapun. Tapi tolong jangan mengajak saya untuk berdebat, jujur. Saya sedang lelah, saya ini pria yang keras dan mudah marah sebaiknya kamu hati-hati,” ucap Yusuf, hembusan nafas segarnya menerpa kulit wajah Asma.
”Saya tidak perduli, kamu pemarah atau bukan,” Asma ketus.
”Saya hanya memperingatkan supaya kamu tidak melakukan kesalahan lebih dari ini.” Tegas Yusuf dan Asma memalingkan wajahnya, Yusuf mundur menjauh lalu dia menggelar kain sarung untuk alas tidurnya. Asma terdiam, melihat pria itu yang rela tidur dilantai dan tidak memanfaatkan kesempatannya. Padahal dia bisa saja memaksanya untuk melayaninya.
”Tolong matikan lampu, saya tidak bisa tidur dalam keadaan lampu menyala."
”Saya takut gelap,” jawab Asma dan dia melangkah melewati Yusuf, lalu naik ke atas tempat tidurnya. Yusuf menggeleng kepala, menutup matanya dengan kain sorbannya agar dia bisa tidur dan mengistirahatkan tubuhnya yang pegal-pegal itu.
*****
Ikutlah bersamaku....
Asma menangis, baru saja kemarin dia menikah dengan Yusuf, Yusuf sudah meminta izin kepada keluarganya untuk membawanya pergi.
”Jaga diri baik-baik, hormati suamimu, sayangi dia seperti kamu menyayangi orang tuamu. Bakti kepada seorang suami itu adalah kewajiban Asma, kamu sudah menjadi seorang istri. Bersikaplah dewasa,” tutur Bu Anna menasehati, dia hafal betul sifat Asma seperti apa. Asma memicingkan matanya kesal melihat Yusuf tersenyum.
”Senyuman apa itu? Mengejek?.”
”Aku,” ucapan Asma terpotong.
”Jaga Asma, kami percayakan putri kami sama kamu Yusuf,” ucap pak Ramli dan Yusuf mengangguk.
”Insya Allah saya akan menjaga Asma dengan baik,” ucap Yusuf dan keluarga Asma merasa senang mendengarnya.
Asma menahan tangisannya, dia berlekuk dengan Bu Anna, nenek, dan Husna. Asma benar-benar tidak mau pergi dengan pria itu. Yusuf membawa tas Asma, taksi sudah menunggu untuk mengantarkan keduanya sampai ke stasiun kereta api. Setelah mengucapkan salam, Asma masuk ke dalam taksi di susul suaminya. Dia terus diam sampai taksi pergi meninggalkan rumahnya.
”Asma, saya tahu kamu sedih. Tapi,”
”Apa kamu bisa diam? Saya tidak mau berbicara untuk sekarang.” Tegas Asma menyela ucapan Yusuf, Yusuf menggeleng kepala dan mendelik sebal.
”Saya hanya bicara sekali lagi, tolong pakai kerudung kamu,” pinta Yusuf dan Asma menggeleng kepala, Yusuf diam lagi. Baiklah, dia tidak akan memaksanya tapi nanti setelah dekat dengan pesantren dia harus memaksa Asma memakai kerudungnya.
Sesampainya di stasiun, Yusuf membiarkan Asma duduk di dekat jendela. Asma sama sekali tidak mau berbicara dengannya, Yusuf mengulur tasbih perlahan dan bibirnya tidak berhenti berdzikir. Asma menutup telinganya dan Yusuf menoleh.
”Berhenti menganggu saya.” Asma kesal.
”Kamu benar-benar harus saya ruqyah,” ucap Yusuf dan Asma memalingkan wajahnya kesal. Bisa-bisanya pria seperti itu yang dipilih ibunya.
Satu jam berlalu, Yusuf masih terjaga. Sementara Asma tertidur pulas bersandar di bahunya. Yusuf diam, ingin bergeser dan menggeliat karena merasa pegal dia tidak berani, takut menganggu Asma yang sedang tertidur pulas itu.
*****
Suasana di rumah Kanaya begitu bangat, dia memasak sangat banyak untuk menyambut kedatangan Yusuf dan Asma. Yusuf dan Asma sudah hampir sampai ke pesantren tapi mereka berhenti dan Yusuf sedang membujuk Asma agar memakai kerudungnya.
”Saya tidak mau.” Asma lantang menolak.
”Saya mohon Asma,”
”Saya tidak mau," Asma terus menggeleng kepala. Yusuf bingung harus bagaimana sekarang.
”Kita mau ke pondok, mana bisa kamu tidak memakai kerudung.”
”Saya tidak pernah mau datang ke pondok, kenapa saya harus kesana?.”
”Apa kamu tidak pernah menanyakan saya siapa, dan pekerjaan saya apa Asma? Saya menceritakan semuanya sama ayah, ibu kamu. Saya guru, saya pembimbing di pesantren,” tutur Yusuf dan Asma terdiam.
”Urusannya dengan saya apa?," ketus Asma.
”Seorang istri dari seorang mushrif berpenampilan seperti ini?,” lirih Yusuf.
”Itu bukan urusan saya,” Asma tetap tidak mau tahu. Yusuf menarik bahu Asma agar mendekat lalu memakai kerudung instan itu tapi Asma melepaskannya kembali.
”Kalau kamu tidak mau, saya tinggal kamu disini.” Tegas Yusuf mengancam, dia tidak serius dan mana tega meninggalkan seorang gadis di sana, di jalan gelap dan sepi itu. Asma melangkah cepat menyusul Yusuf yang meninggalkannya. Setelah sampai di belakang Yusuf Asma masih merasa takut.
”Asma,” ucap Yusuf seraya berbalik dan dia terkejut saat Asma menabrak dadanya, Asma hampir terjatuh. Yusuf merangkul pinggangnya, menahan agar istrinya tidak jatuh. Tangan Asma menempel di d**a besar suaminya itu, keduanya saling menatap lekat. Rambut Asma tertiup angin dan mengayun ke wajah suaminya. Yusuf bisa merasakan aroma wangi semerbak dari rambut Asma.