Selama di obati oleh dokter, Nola selalu saja meringis kesakitan dan hampir kabur jika tidak dipegangi Nathan. Butuh banyak perjuangan untuk mengobati luka Nola sehingga terasa sangat melegakan ketika semuanya selesai. "Huh, Nola gak mau ke sini lagi." Ambek Nola kala keluar dari rumah sakit. Gadis itu melipat tangannya di depan d**a dengan pipi mengembung kesal. Nathan berusaha menahan tawa melihat reaksi menggemaskan Nola. "Memangnya kenapa Nola gak mau ke sini lagi?" "Pak dokternya jahat." "Kok jahat? Bukannya tadi dokter mengobati luka Nola?" Tanya Nathan sok polos. Nola merenggut pelan. "Tapi, luka Nola terasa semakin perih saat diobati pak dokter. Rasanya lebih baik gak diobati daripada diobati, kak." Nathan menggelengkan kepala heran. "Gak boleh gitu, La. Kalau luka mu gak

