Dania dan Aura sedang mengobrol santai di bangkunya. Sesekali Aura melirik bangku Gibran yang terlihat kosong. Gibran sudah banyak bolos selama sebulan ini, Aura sedikit cemas kalau pada akhirnya Gibran benar-benar ketinggalan pelajaran terlebih Gibran bukanlah anak yang bisa dibilang cerdas. Pembicaraannya kemarin dengan bunda dari laki-laki itu teringat kembali. Hari itu, untuk kesekian kalinya Aura harus menerima kenyataan pahit dalam hidupnya. Inka menatap sendu putranya yang baru saja terlelap. Semenjak sakit Gibran memang lebih cepat merasa lelah, hingga tak jarang Gibran tidur berkali-kali dalam sehari. Membayangkan kemoterapi yang akan dijalani Gibran besok membuat Inka meringis ngeri. Ia harap Gibran tidak akan kapok setelah menjalani kemoterapi pertamanya. Sembari mengamati wa

