Dia pernah mati-matian memperjuangkanmu, dan kamu mati-matian pula menghindarinya. Tak menutup kemungkinan dia yang sebelumnya berjuang untukmu, akan berhenti di tengah jalan dan memilih merelakanmu. Bukan karena dia lelah mengejarmu, melainkan karena hadirnya kesadaran bahwa kamu tak merasa bahagia diperjuangkan olehnya. Pada akhirnya dia tetap memikirkan kebahagiaanmu, sekalipun luka dalam tertoreh di hatinya. Aura menangis sejadi-jadinya di taman belakang Emerald, benaknya dikuasai oleh penyesalan yang luar biasa. Hanya karena masalah itu Dania dan Fauzi memusuhinya. Gibran, satu minggu sudah laki-laki itu menghilang dan hanya meninggalkan huruf tegak di kolom absensinya, (i) untuk ijin. "Gibran maafin gue... " Aura menutup wajahnya dengan kesepuluh jarinya. Benar kata orang, terkadan

