Aura diculik

1492 Kata
Sania menghampiri putranya yang kini tengah duduk melamun di salah satu kursi depan ruangan Gibran. Ia tahu betul bagaimana sifat Devan karena nyaris menjiplak suaminya, hanya saja Devan sedikit lebih keras dari Darell. "Devan," panggilnya. "Ya, Ma." "Jangan terlalu diambil pusing. Gibran memang keras kepala, sama seperti kamu, tapi Mama yakin kalau akhirnya Gibran akan menuruti keinginan kamu." "Aku hanya mau yang terbaik untuk Gibran, Ma. Kenapa anak itu sulit sekali diberitahu?" Sania tersenyum tipis. Ia mengerti kalau sebenarnya Devan begitu mengkhawatirkan keadaan Gibran, tapi tidak tahu harus menunjukkan dengan cara apa. "Mama mengerti apa yang kamu rasakan, tapi sebaiknya kontrol emosi kamu. Jangan justru membuat Gibran takut." Devan membuang pandangannya ke arah lain, "Mama selalu saja membela Gibran." "Memang apa yang salah? Gibran kan Cucu kesayangan Mama." Devan menggerutu dalam hati, menyayangkan sikap sang mama pada Gibran. Mamanya itu tidak ada bedanya dengan Inka, selalu memanjakan Gibran. Kalau terus seperti itu, sampai kapan pun Gibran tidak akan sanggup berdiri sendiri. *** Fauzi melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia ingin segera pulang, lantas menemui Gibran. Namun hari ini berlangsung begitu lambat, mendadak ada pelajaran tambahan yang harus mereka ikuti, hingga akhirnya mereka pulang lebih sore dari biasanya. "Pau, gelisah amat," Dania menatap laki-laki itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Dania paham betul bahwa Fauzi pasti begitu khawatir pada Gibran. Terlihat jelas perubahan raut wajahnya. "Dan, mau ikut gue jenguk Gibran gak nanti? Gue kepikiran terus," Fauzi sedikit menunduk usai berujar demikian. Tentu kekhawatirannya bukan tanpa alasan, apa yang dikatakan Gibran kemarin jadi membuatnya berpikir kalau itu tidak main-main. Dania mengerutkan dahi. Fauzi yang pecicilan, bisa langsung sediam ini hanya karena seorang Gibran? Diam-diam Dania memuji kuatnya persahabatan mereka. "Boleh deh," sahutnya. "Aura, lo mau ikut?" Dania mengalihkan pandangannya pada Aura. "Hah? Eh... emh, boleh," jawab Aura. "Gibran pasti langsung sembuh lo jengukin," Fauzi menimpali sembari melemparkan senyum menggoda pada Aura. "Najis lo, Pau. Gue pikir udah waras, taunya masih aja sedeng," Dania menatap tak suka laki-laki yang duduk di bangku sebelahnya. "Abang salah mulu, Yang. Cium nih cium," Fauzi memajukan bibirnya berlaga seolah ia akan benar-benar mencium Dania. Bugh "Cium noh p****t anoa!" Dania memukul pelan bibir Fauzi dengan buku paket Bahasa Inggrisnya. "Sakit, Yang." Aura hanya terkekeh menatap dua orang ini. Seperti biasa, percekcokan mereka memang jadi hiburan tersendiri baginya. Dan karena kelucuan mereka pula, ia sedikit melupakan kekhawatirannya pada Gibran. Tunggu. Khawatir? Bukankah pada awalnya Aura benci dengan Gibran? Lalu apa sebabnya iamenjadi begitu khawatir? Apakah benih cinta mulai tumbuh di hati Aura karena segala hal yang Gibran beri padanya. Bukankah cinta memang tumbuh karena terbiasa? Sudahlah. *** Inka mendorong kursi roda Gibran ke luar untuk berjalan-jalan karena putranya itu mengancam akan melarikan diri jika terus menerus dikurung dalam ruangan. Entah harus bagaimana ia bersikap agar Gibran bisa sedikit lebih patuh. Diberitahu baik-baik salah, ditekan tidak bisa. Gibran hanya diam ketika sang bunda mendorong kursi rodanya. Baru kali ini ia merasa benar-benar dianggap lemah oleh semua orang, sampai berjalan sendiri pun tidak boleh. Gibran bosan terkurung di dalam ruangan serba putih itu. Dan untuk endoskopi... ia sama sekali tidak berniat untuk melakukan pemeriksaan itu. Mengapa? Membayangkan selang elastis itu masuk ke dalam lambungnya saja sudah ngeri, apalagi bila itu sungguh terjadi. Dokter Adrian berkali-kali membujuknya, namun Gibran bersikeras menolak. "Bunda... " "Kenapa, Sayang? Mau kembali ke ruangan?" "Bukan. Gibran mau tanya, kalau misalkan Gibran sakit parah, apa Ayah bakal sayang sama Gibran?" "Kok Gibran bicaranya gitu? Gibran sehat atau sakit, Ayah tetap sayang sama Gibran." Gibran menghela napas berat. Sayang katanya? Kapan sang ayah menyayanginya? Setiap ada masalah ayahnya lebih suka marah-marah daripada menasehati baik-baik. Selama menginjak bangku SMA, bahkan ayahnya itu tidak pernah melihat raportnya dan selalu berdalih malu melihat nilai-nilai Gibran yang merah. Letak kasih sayangnya dimana? Gibran kemudian berujar lirih, "Ayah gak kayak Papanya Uji. Biarpun dokter, Papanya Uji selalu ada waktu buat Uji. Ayah kapan gitu? Nggak pernah, Bunda. Ayah cuma ngurusin kerjaan dan kerjaan. Mungkin kalau Gibran meninggal baru Ayah mau ngurusin Gibran..." Gibran diam sejenak, kemudian menuntaskan kalimatnya, "ngurusin jenazah Gibran." Inka langsung menghentikan kegiatannya mendorong kursi roda Gibran, berjalan sedikit lalu berjongkok di depan putra semata wayangnya, "Gibran bicaranya kok gitu terus? Ucapan adalah do'a, Nak. Bunda gak mau itu terjadi sama Gibran." Melihat air mata sudah mulai membentuk sungai-sungai kecil di pipi bundanya, Gibran jadi merasa bersalah. Ia menangkup wajah sang bunda dengan kedua tangannya, dan perlahan menggerakannya memutus aliran sungai kecil itu. Gibran tidak suka melihat bundanya menangis. "Bunda jangan nangis. Maaf, Gibran cuma kangen Ayah." Penuturan itu sanggup membuat hati Inka tertohok. Inka mengerti mengapa Gibran berbicara demikian, itu karena suaminya seringkali bersikap dingin bahkan kasar pada Gibran membuat Gibran seolah kehilangan sosok ayah. "Gibran mau sedikit lebih sabar 'kan? Bunda janji, suatu hari nanti Ayah Gibran pasti seperti dulu lagi." Gibran tak nenanggapi. Ia pesimis akan hal itu, rasanya tidak mungkin sekali ayahnya bisa kembali seperti dulu. *** Jam tambahan telah berakhir, Aura melangkah cepat menuju toilet sekolahnya. Ia sudah tidak tahan ingin buang air kecil. Biarlah Fauzi dan Dania menunggunya di parkiran. "Aduhh kebelet," ujarnya. Aura mempercepat langkahnya dan masuk kedalam salah satu bilik toilet. Lima menit setelahnya, Aura merasa sangat lega. Dengan santai gadis itumelangkah hendak keluar dari salah satu bilik toilet, namun tiga orang yang masing-masing menggunakan topeng berbeda menghalangi jalannya. Aura beringsut takut, "Ka... kalian siapa?" tanya Aura sambil melangkah mundur. "Selamat datang di neraka Nona Aura." Satu dari tiga orang tak dikenal itu semakin mendekat. Aura buru-buru mengambil ponsel di saku roknya, menekan ponselnya asal saking gemetarnya. Ia berniat menghubungi seseorang untuk meminta tolong. Karena merasa takut akan ketahuan, seseorang langsung membekap mulut Aura dengan sebuah saputangan, dan perlahan kesadaran Aura mulai menipis. Prakkk Ponsel yang semula dalam genggaman Aura terjatuh begitu saja. *** "Aura pipis kok lama, ya? Kita udah lima belas menit nunggu di sini," dengan gelisah Dania melirik jam merah jambu yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Coba lo susul Aura ke toilet!" suruh Fauzi dan Dania langsung menggeleng, "Lo takut?" Dania hanya memamerkan senyum anehnya. "Ih dasar, ya sudah ayo sama gue," kata Fauzi sembari mengambil kesempatan dalam kesempitan. Fauzi menggandeng tangan Dania, dan langsung mendapat cerocosan dari gadis itu. "Modus banget lo ya!" Dania menepis tangan Fauzi dan melangkah lebih dulu. "Yaelah Dania, gitu doang," Fauzi memajukan bibirnya. Usahanya mendekati Dania selalu saja gagal. "Bodo!" Mereka melangkah dalam diam. Sampai di depan toilet perempuan, tapi nampaknya toilet itu kosong. "Ke mana Aura?" tanya Dania. Fauzi menggeleng. Ia sendiri bingung kemana Aura pergi. "Eh... apa udah ke rumah sakit duluan, ya? Sebentar, gue mau telepon Gibran dulu," kata Fauzi seraya mengotak-atik ponselnya. *** Gibran yang ditinggal sendirian, karena keluarganya pergi makan. Setelah berjalan-jalan diantar oleh sang bunda tadi, ia menyuruh bunda juga omanyauntuk makan. Tentu saja Gibran tidak mau kalau sampai keluarganya ikut sakit hanya karena dirinya. Laki-laki itu memainkan ponselnya dengan bosan, tapi tiba-tiba sebuah panggilan masuk. Gibran mengerutkan kening melihatnama sahabatnya terpampang di layar ponselnya. Segera saja ia menekan lambanh gagang telepon berwarna hijau. "Hallo... " "Hallo Gibran. Aura ada di sana gak?" "Lah, mana ada Aura di sini. Lo aneh-aneh aja." "Serius? Terus dia kemana, ya? Gue pikir dia nyamperin lo duluan karena udah gak ada di sekolah." Gibran semakin dibuat bingung mendengar pertanyaan Fauzi. Memangnya mereka sedang di mana dan mau apa sampai-sampai terpisah? "Pauuu!! Ini HP Aura, tapi Auranya ke mana?" Gibran melotot, ia yakin yang berteriak dari seberang telepon sana adalah Dania. Ponsel Aura ada, tapi gadis itu menghilang secara tiba-tiba, "Aura diculik! Lo masih di sekolah? Gue ke sana sekarang," kalimat itulah yang berhasil lolos dari mulut Gibran. "Hah? Jangan! Kita aja yang cari. Lo tetap di sana, Gibran!" "Tunggu gue!" serunya. Gibran memutuskan sambungan telepon. Kini ia tengah mencari cara untuk keluar dari rumah sakit. Gibran mencabut infus yang semula melekat di tangannya, dan akibat perbuatannya itu darah langsung mengucur deras dari pergelangan tangannya. "Gue bilang juga apa. Lo kecil tapi nyakitin!" dengusnya. Gibran mengedarkan pandangannya, mencari sesuatu yang dirasa bisa menutupi luka di tangannya. Menyebalkan sekali. Disinetron-sinetron ketika infus dilepas terlihat biasa saja, sakit sekilastanpa ada darah mengalir, tapi faktanya? Sebuah sapu tangan milik ayahnyayang tergeletak di atas nakas menjadi satu-satunya benda yang bisa ia gunakan untuk membalut bekas infus itu agar darahnya tidak terus menerus keluar. Pemuda itu menyambar jaket untuk melapisi seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya lalu bergegas keluar sebelum keluarganya kembali. Berjalan-jalan keluar sebentar saja, dokter mengharuskan Gibran memakai kursi roda agar tidak terlalu lelah, tapi sekarang ia justru nekat pergitanpa memikirkan kondisinya sendiri. Yang ada di otaknya sekarang hanyaAura. Gibran merasa kalau gadis itu memang tengah dalam bahaya dan Gibran harus segera menolongnya. Ia paham betul konsekuensi kenekatannya, tapi apa boleh buat. Terkadang cinta butuh pengorbanan bukan? Untuk ke luar dari sana, Gibran harus bermain kucing-kucingan dengan beberapa perawat, namun predikatnya sebagai anak nakal tidak menyurutkan niatnya untuk meloloskan diri dari sana. Berhasil. Gibran langsung menghentikan laju sebuah taksi lantas bergegas pergi ke sekolah. Aura membutuhkan pertolongannya sekarang. Mungkin. "Pak, SMA Emerald!" Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN