Si anak manja

2004 Kata
Mobil Audi keluaran terbaru milik Devanio Emeraldi Utama melesat membelah keramaian Kota Jakarta. Di dalam, putranya tengah tertidur pulas. Gibran terlihat sangat lemas, bahkan menolak untuk dibawa ke rumah sakit pun sepertinya ia tidak sanggup. Ya, Gibran terpaksa harus pulang lebih awal dari sekolah, dan langsung dilarikan ke rumah sakit karena diduga mengalami dehidrasi berat. Devan sampai harus membatalkan beberapa meeting karena Gibran hanya mau dibawa ke rumah sakit kalau ia yang mengantarnya. Devan memandang Gibran dari spion tengah mobilnya, anak itu terlelap dengan sangat damai. Devan begitu menyayangi Gibran, dan ia turut merasa bersalah atas sakitnya Gibran sekarang. Mungkin jika ia tidak mengguyur Gibran di kamar mandi kala itu, Gibran tidak akan sampai pada kondisi separah ini. Seandainya ia mau meluangkan sedikit waktunya untuk memperhatikan Gibran, tentu tidak seperti ini akhirnya. Dalam perjalanan yang lebih banyak diam. Mobil mewah yang dikemudikanya pun pun tiba di parkiran sebuah rumah sakit ternama di Jakarta, "Bangunkan Gibran," suruh Devan pada Inka seraya melepas seatbeltnya. "Gibran bangun, udah sampai," Inka menepuk pelan pipi Gibran yang terasa panas. "Nghh... " Gibran mengerjapkan mata sayunya dan langsung meringis pelan memegangi perutnya. "Periksa dulu, ya," kata Inka lembut. Dengan bantu Devan, Gibran turun dari mobil, lalu melangkah masuk ke dalam rumah sakit. *** Gibran mengalami dehidrasi berat yangmengharuskannya tetap tinggal di rumah sakit, setidaknya sampai kondisinyamembaik. Kini anak laki-laki itu tengah berbaring di sebuah ruangan yang cukup baik dan nyaman di kelasnya. Cairan bening sudah menggenang di pelupuk mata Gibran. Bagaimana tidak, Gibran benar-benar phobia dengan jarum, dan alat medis rumah sakit. Namun kini dirinya harus terbaring dengan infus melekat ditangannya. Bahkan saat infus itu dipasang, Gibran langsung tidak sadarkan diri, membuat dokter yang menanganinya justru terkekeh geli. "Gibran?" "Gibran mohon, Gibran mau pulang, Bunda." Gibran menatap sang bunda dengan tatapan memohon, membuat Inka menjadi sangat tidak tega. "Maafin Bunda, ya, Gibran." Gibran diam, lalu memejamkan matanya sampai bulir-bulir bening itu mengalir di pipinya. Bukan keadaan seperti ini yang Gibran inginkan. Bukan suasana ini yang Gibran harapkan. Sungguh bukan itu. "Anak laki-laki gak boleh cengeng!" tegur Devan. Gibran tetap diam. Saat dilihat, ternyata anak itu sudah terlelap dalam tidurnya. Setelah melihat Gibran tertidur, Inka kembali bersuara, "Mas jangan galak-galak sama Gibran. Kasihan," ujar Inka. "Kalau kamu terus manjain Gibran, dia nggak akan mau dengar aku lagi," seloroh Devan Inka diam, membenarkan ucapan suaminya itu. Selama ini ia memanjakan Gibran karena Gibran memang putra satu-satunya. Inka sangat menyayangi Gibran. Sebuah nada pertanda ada pesan masuk dari ponsel yang ternyata tersimpan di saku celana abu-abu Gibran membuat Inka terkejut. Dengan hati-hati karena tidak ingin putranya bangun, ia mengambil ponsel tersebut dan membuka pesan yang masuk. From : Aura Gibran? ____________________ Meski hanya pesan bertuliskan panggilan, Inka paham bahwa gadis itu tengah mengkhawatirkan putranya. Buru-buru ia mengetik sebuah balasan. To : Aura Gibrannya baru aja tidur. Nanti Tante kabarin lagi kalau Gibran sudah bangun, ya. ____________________ "Siapa?" Devan yang sedari tadi memperhatikan istrinya kemudian bertanya. "Aura. Pacarnya Gibran. Sepertinya dia khawatir," jelas Inka. Devan tersenyum. Rupanya gadis yang semalam pesannya ia balas adalah kekasih putranya. Entah mengapa Devan seperti percaya pada gadis itu. *** Aura merasa ponselnya bergetar, tapi pelajaran masih berlangsung. Jika nekat bisa-bisa ponselnya akan disita selama beberapa hari. Dania yang menyadari kegelisahan sahabatnya cepat-cepat bertanya, "Ra, lo kenapa sih? Nggak bisa diem banget," tanya Dania setengah berbisik. "Nggak apa-apa," jawab Aura. " Any questions?" Miss Evelyn masih berbicara di depan. Namun semua siswa diam, entah sudah paham betul tentang apa yang diajarkan, atau justru sebenarnya mereka bingung. "Okay. I think enough for today. Thank you for your attention. See you." Ketika Miss Evelyn usai berbicara demikian, lantas beranjak meninggalkan kelas. Aura buru-buru melihat ponselnya. Dan benar saja, ada pesan masuk dari Gibran. From : Gibran Gibrannya baru aja tidur. Nanti Tante kabarin lagi kalau Gibran sudah bangun, ya. ____________________ "Hah?" Aura langsung memekik begitu membaca pesan dari Gibran. Yang benar saja, kemarin pesannya dibalas oleh ayah Gibran, dan sekarang oleh bunda laki-laki itu. Mau di taruh dimama mukanya kalau ia bertemu mereka nanti? "AURAAA LO KENAPA? BIKIN GUE KAGET AJA TAHU NGGAK!" Dania yang tengah membereskan buku-bukunya terperanjat kaget mendengar pekikan Aura, sedangkan Aura sendiri tersenyum kikuk merasa tak enak pada sahabatnya itu. "Sorry, Dan." "Kenapa sih?" "Tunggu," Aura mengalihkan pandangannya, kembali menatap ponselnya lalu mengetik balasan. To : Gibran Maaf ganggu, Tante. Semoga Gibran cepat sembuh ^^ ____________________ "Aura sumpah lo udah sampai sejauh ini sama Gibran? Lo smsan sama nyokapnya? Gila, Raka mau lo kemanain?" Dania langsung berkomentar setelah tanpa sengaja mengintip pesan yang dikirim Gibran pada sahabatnya. Mendengar kata Raka, Aura langsung diam. Mengapa Dania harus menyebut nama laki-laki yang telah jauh meninggalkannya? Apa tidak bisa Dania melupakan laki-laki iti sejenak? Ah... maksudnya membuat Aura melupakan laki-laki itu. Ia menoleh pada Dania,"Ada sesuatu yang belum lo tahu. Nggak hari ini, tapi suatu hari gue bakal cerita sama lo." Kali ini Dania yang dibuat diam. Rahasia? Ada rahasia diantara mereka? Bukankah dalam persahabatan tidak boleh ada rahasia? Tapi sebagai sahabat yang baik, Dania akan berusaha memahami privacy Aura. *** "Hallo cucu Oma yang paling ganteng," sapa seorang wanita paruh baya yang muncul di balik pintu masuk ruang rawat Gibran. "Oma," Gibran melempar senyum hangat kepada sang oma. "Mama sendiri ke sini?" tanya Inka yang terkejut melihat kehadiran mama mertuanya. "Tadi Mama naik taksi," jawab wanita itu. Sania namanya. Wanita itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan seakan mencari sesuatu, "Devan kemana?" tanyanya saat menyadari bahwa putra tunggalnya itu tidak ada di sana." Apa dia tetap sibuk dengan pekerjaannya?" "Tidak Ma. Mas Devan pulang, dia sakit perut. Mama tahu sendiri 'kan gimana Mas Devan yang tidak mau menyentuh toilet umum manapun," jawab Inka yang sontak membuat Gibran terkekeh mendengar kelakuan sang Ayah yang dengan sombongnya tidak akan pernah bisa bersentuhan dengan toilet umum. Sania tertawa, "Dari kecil sampai sekarang Devan memang tidak berubah. Untung saja Gibran tidak menuruni sifat Ayahnya yang satu itu," ujarnya kemudian. "Gak dong Oma. Gibran gak gitu." "Gibran sudah makan? Oma bawa bubur buat Gibran." "Udah, Oma." "Benar, Inka?" Sania bertanya langsung pada menantunya, karena terkadang Gibran suka berbohong. "Iya, Ma, udah. Gibran udah bisa makan sekarang," tutur Inka. "Syukurlah. Cepat sembuh, ya, sayang. Oma nggak mau lihat Gibran sakit lama-lama." "Iya, Oma. Do'ain Gibran terus." "Pasti, sayang," Sania mengusap puncak kepala cucunya. "Bunda. Bunda bales sms Aura, ya? Gibran 'kan malu, Bunda." Gibran yang baru saja mengotak-atik ponselnya langsung mengomel. "Ya nggak apa-apa, kan Aura khawatir jadi Bunda kabarin. Lagian tadi Gibrannya bobo." To : Aura Aur maaf tadi bunda yang bls :) ____________________ From : Aura Y gpp. ____________________ To : Aura Ke bunda manis bgt, giliran bales sms Gibran jutek lagi :( ____________________ From : Aura Masalah buat lu? ____________________ To : Aura Enggak sih. Gibran mah seneng-seneng aja Aur bales. ____________________ From : Aura Oo ____________________ To : Gibran Tuhann :( Aur suka cokelat? ____________________ From : Aura Ga! ____________________ To : Aura Oh yaudah Gibran cuma nanya aja. Sayang Aura :) ____________________ From : Aura Gue nggak! ____________________ To : Aura Sekarang nggak. Nanti, pasti ;) ____________________ From : Aura Dih! ____________________ To : Aura Udah makan Aur? ____________________ From : Aura Kepo ____________________ To : Aura Yaudah kalo Aur lagi kesel sama Gibran, Gibran pamit dulu ya Aur J ____________________ Gibran meletakan ponselnya dan meremas perutnya kembali. Menyebalkan sekali memang, sakitnya itu datang dan pergi sesuka hati. *** Devan dan Dokter Adrian sudah sepakat untuk melakukan pemeriksaan endoskopi pada Gibran, mengingat gejala yang ditunjukkan oleh Gibran itu bersikap menetap, dan Gibran bilang hal itu sudah berlangsung kurang lebih enam bulan belakangan ini. Dokter Adrian curiga ada penyakit tertentu yang diidap Gibran, lebih dari sekedar tukak lambung. Setelah pulang tadi, Devan memang berinisiatif untuk menemui dokter yang menangani putranya untuk menanyakan kondisi Gibran. Segalak apa pun Devan, ia tetaplah seorang ayah. Tentu saja ia cemas melihat Gibran seperti tadi. Keduanya berjalan beriringan menuju ruangan tempat Gibran di rawat sembari sesekali berbincang. "Dok, anak saya itu phobia dengan peralatan medis. Dokter lihat sendiri bagaimana dia pingsan ketika salah satu perawat memasang infus. Saya takut kalau untuk pemeriksaan endoskopi ini pun dia menolak." Dokter Adrian terkekeh pelan membayangkan kembali aksi pingsannya Gibran. "Ya, saya tahu. Kita coba saja dulu, barangkali Gibran bersedia karena saya pikir, pemeriksaan ini sangat penting untuknya." Devan mencelos. Kalau tidak dalam keadaan lemas, bukan tidak mungkin Gibran akan melarikan diri dari rumah sakit saking enggannya berhadapan dengan alat-alat medis. Ia heran, dari mana Gibran menuruti sifat manja dan penakut itu? Seingatnya, Devan tidaklah seperti itu. Inka? Melihat sifat Ardhan—ayah mertuanya yang cukup tegas dalam mendidik anak, rasanya juga tidak mungkin kalau Inka yang menurunkannya. Atau mungkin karena sejak awal didikan dirinya dan Inka saja yang salah? Begitu sampai di depan ruangan Gibran, Dokter Adrian dan Devan langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Mereka melihat Gibran tengah berbincang santai dengan oma juga bundanya. Melihat kedatangan Dokter Adrian, Gibran langsung beringsut takut. Ia ingat betul bagaimana dokter itu dan antek-anteknya menusukkan benda kecil nan menyakitkan itu pada tubuhnya. "Jangan disuntik lagi!" kata Gibran setengah berteriak. Ia memasang sikap waspada, dan siap jika diharuskan kabur, toh keadaannya tidak selemas ketika pertama kali datang ke sini. Dokter Adrian benar-benar tak bisa menahan tawanya. Anak SMA memasang sikap seperti itu rasanya sedikit kekanakan. Ah... bukan sedikit, tapi memang kekanakan. "Gibran, kamu harus melakukan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan sakit apa yang mungkin kamu derita. Satu diantaranya endoskopi. Dengan pemeriksaan itu kita bisa mengetahui kondisi lambung kamu yang sebenarnya." Gibran mendelik sebal. Serangkaian? Cih, yang benar saja. Biar dibayar berapapun Gibran tidak akan mau melakukan pemeriksaan-pemeriksaan itu. Tidak bercerita secara rinci gejala yang dialaminya saja sudah mengharuskan Gibran melakukan pemeriksaan lanjutan, apalagi kalau Gibran bercerita tentang aksi muntah darahnya di sekolah tadi? Bisa-bisa Gibran akan jadi tahanan rumah sakit dalam waktu yang cukup lama. Gibran tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Tidak akan. "Endoskopi-endoskopi amat. Gak mau pokoknya gak mau. Gibran udah sehat, udah bisa pulang sekarang." Devan tersenyum sinis. Benar dugaannya. Gibran pasti akan langsung menolak. Benar-benar anak keras kepala. Devan bergerak lebih dekat ke sisi ranjang tempat putranya berbaring lalu berujar, "Memang kamu siapa sampai bisa memastikan kalau kamu baik-baik saja? Jangan melawan, Gibran. Turuti saja apa yang dokter katakan!" "Gibran 'kan yang punya badan, jadi Gibran tahu kapan sakit kapan sembuh. Ayah yang siapa ngatur-ngatur Gibran?" Devan melotot mendengar penuturan putra tunggalnya, "Ayah itu orang tua kamu, Gibran. Ayah punya hak penuh atas kamu!" Inka meringis ngeri. Kalau sudah seperti ini, Devan akan sulit diredam. "Mas, sudah. Gibran lagi sakit." "Sudah bisa melawan berarti dia benar-benar sembuh. Terserah Dokter saja. Mau dilakukan silahkan, tidak juga tidak apa-apa. Sulit bicara dengan anak badung ini!" ucap Devan lantas pergi meninggalkan ruangan putranya. Gibran menghela napas berat. Beru saja ia merasa memiliki seorang ayah, sudah seperti itu lagi sikap ayahnya. "Bunda, Ayah marah sama Gibran?" "Gibrannya nakal. Gak mau nurut apa kata Ayah," jawab Inka. Gibran melirik Dokter Adrian yang berdiri di sampingnya, "Dokter endoskopi itu gimana? Sakit nggak? Kalau sakit, ya, Gibran gak mau. Kalau nggak sih ayo-ayo aja." Dokter Adrian mulai menjelaskan. Endoskopi adalah salah satu prosedur pemeriksaan medis untuk melihat kondisi saluran pencernaan dengan menggunakan alat endoskop yang merupakan suatu alat berbentuk seperti selang elastis dengan lampu dan kamera optik di ujungnya. Kamera akan menangkap setiap objek yang dituju dan ditampilkan pada monitor. "Ini tidak akan sesakit yang kamu bayangkan, Gibran. Pasien yang melakukan endoskopi dibius, sehingga tidak akan merasakan sakit." "Selangnya gede nggak? Nanti kalau ketelen gimana? Gibran gak ganteng lagi," tutur Gibran dengan bibir mengerucut. "Tidak akan terjadi hal seperti itu, jangan khawatir." Gibran nampak berpikir sebelum akhirnya kembali bersuara, "Gibran pikir-pikir dulu boleh 'kan? Janji gak akan lama." "Tentu boleh, tapi saya sarankan kalau jawabannya harus iya." Gibran melengos, "Itu sih bukan saran, tapi maksa." Inka memelototi putranya, "Hush gak boleh gitu. Gak sopan, Gibran," tegur Inka. Gibran hanya diam. Sepertinya hari ini orang-orang terus saja membuatnya emosi. Mereka selalu saja memaksakan kehendak. Yang punya badan 'kan Gibran, tentu saja Gibran yang lebih tahu keadaannya sendiri. Terkesan egois memang, tapi Gibran berhak menentukan apa pun dalam hidupnya. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN