Friendship

1706 Kata
Gibran duduk di kursi taman sekolahnya seorang diri, memandang lurus air mancur yang bergemercik tepat dua meter di depannya. Ia datang terlalu pagi karena menghindari larangan bundanya untuk bersekolah. Alasan mengapa laki-laki itu memilih diam seorang diri di taman belakang sekolah, karena Gibran enggan masuk ke dalam kelas kemudian berjumpa dengan para fans genit di kelasnya. "Gibran." Merasa ada yang memanggil namanya, Gibran menoleh dan mendapati sang Kakek berdiri tidak jauh dari dimana ia duduk. "Eh, Opa," Gibran tersenyum kikuk. "Semalam Opa dapat kabar Gibran sakit. Kok sekarang masuk sekolah?" Darell bertanya sambil memposisikan dirinya untuk duduk tepat di samping cucu tunggalnya itu. "Bukannya Opa sendiri yang selalu bilang kalau cowok sejati itu harus kuat," jawab Gibran dengan mata sayunya yang menatap mata elang sang Kakek. Darell menghela napas parau. Tatapan mata sayu cucunya benar-benar membuatnya merasa tidak tega. "Opa kenapa lihatin Gibran kayak gitu? Kan Gibran takut," kata Gibran dengan bibir mengerucut. Darell terkekeh, "Sudah sarapan?" tanyanya kemudian. Melihat Gibran menggeleng, akhirnya Darell bertanya lebih lanjut, "Kenapa?" "Mual Opa, perut Gibran juga sakit," tuturnya. "Gibran muntah-muntah, ya, semalam?" tebak Darell Gibran hanya diam. "Selain kuat, laki-laki tangguh juga harus bisa jaga diri. Bisa membedakan mana yang baik, mana yang tidak," ujar Darell sambil mengelus punggung Gibran, "dan satu lagi... " "Apa, Opa?" "Lelaki sejati tidak boleh manja." "Opaaaaaa, Gibran gak manja! Bunda 'kan yang manjain Gibran?" Darell tertawa. Selalu seperti itu. Gibran tidak ingin dibilang manja, namun bocah itu selalu meminta pembelaan saat dirinya berada disituasi yang seharusnya dapat diselesaikan seorang diri. Bukan malah merengek pada bundanya bak anak kecil yang menginginkan sebuah balon. "Kan Opa cuma bilang. Gibran merasa?" "Gak kok." "Sudah sana masuk kelas. Banyak pekerjaan yang harus Opa selesaikan," Darell bangkit, mengacak rambut pirang Gibran, lalu beranjak pergi. Setelah kepergian Darell, Gibran pun bergegas menuju kelas, sangat tidak terasa bel masuk telah berbunyi. Padahal baru sebentsr saja ia berbincang dengan sang opa. *** Dania memperhatikan kata demi kata yang Aura lontarkan. Ia sangat penasaran dengan apa yang dilakukan Tiffany tadi pagi. "Sumpah dia kayak gitu?" tanyanya tak percaya. "Iya. Nih lihat, leher gue sampai merah gara-gara tangan dia." Aura memperlihatkan lehernya yang memerah akibar cengkraman gadis itu. "Gila-gila. Kalau nggak ada Gibran, dia pasti lebih nekat lagi. Lo bisa tewas." "Ngeri banget." Aura melihat Gibran masuk dengan santai ke dalam kelas, kemudian duduk di bangkunya. Laki-laki itu masih mengenakan jaket, padahal di dalam kelas, siswa sama sekali tidak diperbolehkan memakai jaket. Ah... tunggu, mengapa Aura jadi memperhatikan anak itu? "Eh, Ra. Si Gibran masih pakai jaket aja, hari ini pelajaran Pak Gerry loh. Lo tahu kan betapa disiplinnya Pak Gerry? Bisa-bisa Gibran diamuk nanti," Dania mengingatkan. "Kok lo ngomong sama gue? Ngomong langsung sama Gibran dong," Aura tak terima. "Seenggaknya lo kan dekat." "Dekat mata lo soak," Aura memutar bola matanya. Namun tanpa sengaja ia menangkap sosok Gibran dari ekor matanya yang tengah menelungkupkan kepala di atas meja. Aura jadi bertanya-tanya, siapa yang membalas smsnya semalam? Apakah benar-benar Ayah Gibran atau memang sebenarnya itu adalah Gibran yang berpura-pura jadi ayahnya. Setelah bertelepon semalam kemudian Gibran menghilang, Aura memang sempat mengirim pesan singkat pada Gibran. "Lo masih sakit, ya?" tanya Fauzi. Gibran tak menjawab. "Kalau enggak, jaket lo buka. Hari ini Pak Gerry masuk. Lo bisa abis sama dia." "Dingin, Ji. Sumpah." "Hhmm... " Gibran memejamkan matanya. Rasa kantuk memang tengah mempermainkannya. Apalagi semalam ia hanya tidur beberapa jam saja akibat rasa sakit yang terus menerus menyiksanya. Karena penasaran, Fauzi kembali bertanya, "Gibran lo kenapa, sih?" Gibran mendengus sebal, dan terpaksa mengangkat kepalanya, "Lieur Uji. Lieur, " ujar Gibran dengan logat sunda yang kental. Fauzi terkekeh geli, "Komuk barat, ngomong sunda. Asli, ya, Gibran nggak seimbang." Gibran tak memperdulikan ocehan sahabatnya itu, ia menoleh ke arah Aura yang duduk tepat di samping bangkunya kemudian bertanya, "Aur, laki-laki sejati itu yang kayak gimana?" Aura mengernyit, "Ngapain lo nanya begituan?" "Gibran mau tahu," Gibran merengek. "Laki-laki sejati itu yang gak nakal, dan terpenting nggak manja," terang Aura. Gibran menghela napas panjang. Padahal baru saja ia ingin mengeluh, dan meminta diperhatikan oleh gadis itu, tapi sudut pandang Aura tentang laki-laki sejati membuat Gibran mengurungkan niatnya. "Selamat pagi anak-anak." Masuknya Pak Gerry ke kelas itu membuat suasana hening seketika. Sorot mata yang tajam membuat siapapun tak berkutik bila berhadapan dengannya. "Gibran Febrian," panggil Pak Gerry. "Saya, Pak," sahut Gibran seraya mengangkat sebelah tangannya. "Kamu tahu apa aturan ketika berada di dalam kelas?" Gibran diam. Tentu saja ia tahu, kalau guru ini mengarah pada jaket yang dikenakannya. "Tahu." "Lantas kenapa kamu masih melanggarnya?" tanya Pak Gerry lagi. "Bukankah ada pengecualian untuk murid yang sedang sakit?" Gibran balik bertanya. "Untuk murid yang tengah sakit, atau untuk Cucu pemilik sekolah?" Gibran paling tidak suka disinggung tentang status hubungannya dengan pemilik sekolah ini. Ia beranjak, "Lalu Bapak ingin saya bagaimana? Kalau menurut Bapak saya sudah melanggar aturan yang ada, tentu ada sanksi bukan? Jadi silahkan beri saya hukuman, tanpa pandang bulu!" kata Gibran dengan sorot tak kalah tajam. Kelas yang semula hening kini terdengar sedikit ribut. Ada yang berdecak kagum melihat keberanian Gibran, ada pula yang mencicit takut menyadari aura peperangan antara guru dan teman sekelasnya itu. "Baiklah, karena kamu Cucu pemilik sekolah, silahkan lari dua putaran saja." Brakk Gibran langsung menggebrak meja setelah mendengar kalimat-kalimat meremehkan yang terlontarkan dari mulut gurunya. Terserah jika teman-temannya akan menganggap ia tidak sopan atau keterlaluan. "Karena saya Cucu dari pemilik sekolah ini, saya akan menjalani hukuman yang Bapak berikan. Lima kali lipat dari yang Bapak perintahkan. Bagaimana? Puas?" Gibran langsung melangkah keluar usai berbicara demikian. Fauzi ikut kesal mendengar celotehan gurunya itu yang menurutnya tidak berbobot. Untuk apa dia menyudutkan Gibran karena statusnya sebagai cucu kepala sekolah? Apa salah kalau ternyata Gibran dilahirkan sebagai cucu seorang pemilik sekolah yang juga merangkap sebagai kepala sekolah? Tuhan yang mengatur semuanya, bukan kita yang berhak menentukan pilihan akan dilahirkan oleh siapa dan dalam kondisi seperti apa. Aura menggigit bibir bawahnya, diam-diam ia merasa khawatir pada anak itu. Aura tahu betul bahwa Gibran benar-benar sakit. "Ra, lo kenapa?" tanya Dania. "Nggak. Kasihan aja, si Gibran benar-benar sakit kayaknya," jawab Aura. Dania menaikan sebelah alisnya, "Lo khawatir?" Aura langsung terlihat salah tingkah, ketika Dania mempertanyakan hal itu. Harus ia akui memang ada perasaan cemas, meskipun hanya sedikit. *** Gibran mulai berlari tanpa membuka jaketnya. Meski matahari mulai naik, namun tak sedikitpun memberi kehangatan pada tubuh Gibran. Satu putaran, dua putaran, Gibran terus berlari. Sesekali ia berhenti untuk meredakan rasa tidak nyaman pada perutnya. "Lo pasti bisa, Gibran! Laki-laki sejati nggak boleh manja," Gibran menyemangati dirinya sendiri. Anak laki-laki itu kembali berlari. Jelas saja ia tak ingin Pak Gerry semakin mengolok-oloknya karena tak mampu menyelesaikan hukuman. "Erghh ... " Gibran berjongkok lagi, ia menekan bagian perutnya yang terasa sakit. Seperti ada sesuatu yang mengamuk di dalam perutnya, membuat Gibran menunduk semakin dalam, dan... Kelopak mata Gibran melebar melihat apa yang baru saja dimuntahkannya. Cairan kental merah kehitaman membuat Gibran ngeri sendiri hingga bulu kuduknya meremang. Tangan kanannya terangkat lantas mengusap mulutnya dengan lengan jaket yang dikenakan. Beruntung kegiatan belajar mengajar tengah berlangsung, jadi tidak ada yang turut menyaksikan apa yang baru saja terjadi padanya. Gibran berhasil menyelesaikan hukumannya hingga putaran terakhir, meski jaket yang dikenakannya mulai banjir keringat. Dengan napas tersenggal, Gibran terkapar di pinggir lapangan. Gibran memejamkan mata, berharap bisa sedikit menyamarkan rasa sakit di perutnya. Jujur, Gibran tak mengerti dengan apa yang tengah menimpanya. Apa mungkin sakit maag yang dideritanya bertambah parah. Hanya maag? Tidak berbahaya bukan? Anak laki-laki itu tak mau ambil pusing. Sibuk dengan pemikiran-pemikirannya, Gibran sampai tak menyadari ada seseorang yang tengah mengawasinya. Siapa lagi jika bukan sang opa. Awalnya Darell merasa cemas melihat cucunya yang sedang sakit justru harus menjalani hukuman, ia keluar ketika Gibran menyelesaikan putaran terakhir, jadi tak sempat menyaksikan hal buruk yabg baru saja menimpa cucunya. Darell pikir Gibran tidak akan sanggup menyelesaikan hukumannya, tapi ternyata Gibran sanggup bertahan hingga akhir. Sebuah senyum mengembang, Gibran tidak selemah yang ia pikirkan. "Gibran!" Kontan yang dipanggil membuka mata. Gibran mendongak dan mendapati Fauzi mengulurkan sebotol air padanya. Gibran langsung meraihnya seraya berujar pelan, "Thank's, Ji. Lo bolos?" Fauzi mengangguk. Bagaimana mungkin ia tega membiarkan sahabatnya dihukum seorang diri. Apalagi sebenarnya Gibran tidak sepenuhnya salah di sini. Gibran hanya meminta keringanan namun gurunya malah merembet pada hal yang tidak-tidak. Gibran memang terkadang usil pada guru-guru, tapi itu bukan karena ia merasa cucu pemilik sekolah lantas berbuat seenaknya. Gibran demikian untuk mencari perhatian ayahnya. Fauzi tahu betul akan hal itu. "Lo mending balik aja deh kalau masih sakit. Nambah-nambah penyakit aja!" Gibran terkekeh, "Bilang aja khawatir." Fauzi mendelik sebal. Apa yang dikatakan Gibran memang benar, tapi ia gengsi untuk mengakui. Gibran tidak pernah sampai seperti ini sebelumnya, maka dari itu Fauzi cemas. "Orang itu emang kadang keterlaluan, ya? Gue nggak paham kenapa dia sensi banget sama lo. Kayaknya tiap hari makan jus cabe, jadi mulutnya pedes." "Kok malah lo yang ngedumel? Biarin aja dia berkarya, capek juga nanti dia berhenti sendiri," sahut Gibran santai. "Gue perhatiin, kok belakangan ini lo lebih sering sakit, ya? Udah periksa belum lo?" "Udah." Fauzi menoleh, "Terus hasilnya?" tanya Fauzi penasaran. "Kanker. Stadium akhir." Dada Fauzi tiba-tiba terasa sesak. Kanker? Stadium akhir? Itu artinya Gibran sedang sekarat sekarang. "Jangan bercanda!" sentak Fauzi. Gibran bangkit dari tidurnya kemudian menatap intens mata sahabatnya, seolah tengah menunjukkan keseriusan, "Gue nggak pernah seserius ini, Ji." Satu detik... Dua detik... Tiga detik... Fauzi masih tak bersuara, sibuk dengan ketakutan-ketakutannya. "Hahahahahaaaa.... " Segera saja lamunan Fauzi buyar mendengar tawa Gibran meledak. Ia menautkan alisnya, "Kenapa lo?" "Muka lo kocak, Ji. Aslinya. Kek perawan ditinggal kawin sama pacarnya." "Lo pikir hal kayak gitu pantes dijadiin bahan becandaan? Nggak lucu, Gibran!" Fauzi langsung berdiri meninggalkan sahabatnya. Gibran memang kadang tak tahu aturan. Tidak tahu kapan harus serius, dan kapan waktunya bercanda. Fauzi tidak bisa membayangkan kalau seandainya apa yang dikatakan Gibran tadi benar adanya, ia pasti hancur sehancur-hancurnya. Bukan berlebihan, tapi memang hanya Gibranlah yang selama ini mau berteman dengannya. Tulus tanpa memandang apa pun. Gibran terpaku melihat Fauzi semakin menjauh. Niatnya bercanda ternyata dianggap serius. Ah... atau mungkin memang Gibran yang bercanda keterlaluan. Ia hanya ingin melihat seberapa berharga dirinya untuk Fauzi. Dan dari kejadian barusan, Gibran bisa memastikan kalau dirinya sangat berharga untuk Fauzi, begitu pun Fauzi untuknya. Tidak ada yang berlebihan dalam persahabatan bukan? Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN