Menjauh

2268 Kata
Setelah kemarin dibuat kalang kabut karena hilangnya Gibran, pagi ini mereka nampak begitu tenang duduk di ruang makan. Darell dan Sania terpaksa menginap karena mengkhawatirkan keadaan cucu mereka. "Gibran belum kamu bangunkan, Inka?" Sania memulai pembicaraan. "Engak, Ma. Biar Gibran istirahat dulu. Nanti makanannya Inka antar ke kamar aja." Belum kering bibirnya usai berbicara demikian, tiba-tiba seseorang yang sedang mereka bicarakan muncul di ruang makan dengan begitu riangnya, "Pagi Oma, Opa, Ayah, Bunda," Gibran memamerkan senyum manisnya. "Gibran? Kamu mau kemana pagi-pagi sudah rapi?" Inka kaget melihat putranya sudah berseragam lengkap. "Bunda gimana sih, ya mau sekolah dong." "Kamu ini giliran harus istirahat malah nekat sekolah. Giliran harusnya sekolah malah bolos," Darell menimpali. "Opa sirik aja," dengus Gibran. "Oh... iya Opa, Gibran berangkat bareng Opa, ya, soalnya motor Gibran remnya agak blong gitu harus diservice kayaknya," lanjutnya. Darell mengangguk. "Makanya punya motor jangan dipakai kebut-kebutan," seloroh Devan. Gibran melengos. Begitulah kebiasaan sang ayah, kalau tidak marah-marah, sinis, ya menyindirnya seperti barusan. Mengesalkan memang. "Dimakan sarapannya Gibran," tutur Sania lembut sambil mendekatkan sebuah piring berisi sandwich kepada Gibran. "Gak mau," tolak Gibran. "Gibran," tegur Devan. "Gak mau, mual," Gibran meringis memegangi perutnya. "Minum s**u aja, ya?" kini Sania menyerahkan segelas s**u pada cucunya itu. Gibran meneguknya sedikit demi sedikit. "Sudah? Come on!" ajak Darell seraya bangkit dari duduknya. "Bunda, Ayah, Oma. Gibran berangkat, ya," pamit Gibran dan langsung mencium satu per satu punggung tangan yang tadi disebutkan namanya. "Aku berangkat," Darell mencium kening Sania. "Kalian hati-hati, ya. Gibran gak boleh capek-capek," pesan Inka. "Beres Bunda." Gibran melangkah menyusul sang kakek yang sudah lebih dulu melangkah pergi. Namun tiba-tiba Gibran menghentikan langkahnya, "Opa." Merasa dipanggil, Darell menoleh, "Ya?" "Opa tunggu sebentar. Obatnya Gibran ketinggalan." "Yaampun Gibran." Gibran hanya tersenyum singkat kemudian berlari kecil menuju kamarnya, mengambil obat pereda nyeri lambung untuk kemudian bergegas ke sekolah. *** Aura duduk sendiri di bangkunya dengan perasaan yang sulit dijabarkan. Ia ingat betul kemarin Dania memarahinya habis-habisan setelah Gibran turun dari mobil Fauzi. Sahabatnya itu terlihat sangat kecewa karena sikap yang Aura tunjukkan pada Gibran. "Ra, gue tahu lo nggak suka sama Gibran, tapi seenggaknya hargai usaha dia buat nyelamatin lo tadi," ujar Dania. "Buat apa? Toh gara-gara dia juga 'kan, gue sampai kayak gitu?" "Aura, Gibran kabur dari rumah sakit bahkan dia sampai nggak pakai sandal saking paniknya begitu tahu lo diculik, dan lo cuma kasih respon begini? Nggak habis pikir gue. Padahal lo lihat sendiri kalau tadi Gibran masih pucat banget, tapi demi lo dia lupain rasa sakitnya. Lo tahu, tadi pas pertama dateng dia bahkan nggak pakai sandal atau sepatu. Yang dia pakai tadi itu sepatu Fauzi." Aura terdiam untuk beberapa saat. Sebenarnya Aura sadar betul akan hal itu, namun ia benci mengakuinya. "Gibran anaknya sensitif. Dia nggak bisa dibikin sakit hati, sekalinya sakit susah balikin dia buat kayak dulu, tapi semoga keberuntungan berpihak sama lo, Aura," Fauzi yang memang sudah berteman lama dengan Gibran langsung menimpali. Aura tersadar dari lamunannya ketika Dania datang dan duduk di sebelahnya dan langsung meminta maaf, "Ra, maafin gue ya? Kemarin gue emosi." "Gue ngerti, Dan. Lagian gue juga yang salah," sahut Aura dengan senyum tipis. "Gue cuma nggak mau sahabat gue jadi orang jahat yang nggak tahu terima kasih," Dania mengusap bahu Aura. "Maafin gue, Dan." "Belum terlambat untuk minta maaf Aura." Tak berselang lama orang yang tengah dibicarakan muncul. Gibran melangkah ke dalam kelas dengan begitu tenangnya. Ia duduk di bangku yang terletak sebaris dengan bangku Aura. Tangannya terangkat memijat kepalanya yang sedikit pusing. Aura menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, entah kasihan, merasa bersalah, atau justru karena dia memang khawatir. "Dan, Uji mana?" tanya Gibran. Laki-laki itu tak lupa melempar senyum pada Aura yang tertangkap basah tengah menatapnya. "Gue nggak tahu. Hari ini belum ketemu si ayam kate," jawab Dania. Gibran hanya mengangguk, kemudian ia membawa tasnya dan berpindah tempat jauh ke belakang. Ke bangku kosong yang ada di pojok kelasnya. Melihat hal itu Aura menghela napas berat, "Hhh... Gibran benar-benar ngejauhin gue." Lagi-lagi Dania mengusap pundak sahabatnya seolah memberi kekuatan. Fauzi masuk ke dalam kelas dengan bibir mengerucut, "Aih besok-besok gue sekolah pakai sandal jepit dah. Jahat bener, sepatu-sepatu gue dirampas semua." Tawa Dania meledak melihat Fauzi yang masuk dengan t*******g kaki, "Makin mirip ayam lo, yam." "Berisik." kata Fauzi. Ia melirik sahabatnya yang kini tengah duduk di bangku belakang, "Gibran lo kenapa deh pagi-pagi udah duduk sendiri di pojokan, kaya perawan baru patah hati," selorohnya. Gibran tak mengindahkan celotehan Fauzi, yang jelas hari ini moodnya tidak dalam keadaan baik. Tak tahu kenapa, padahal di rumah tadi ia masih baik-baik saja. "Oh iya, ini ada titipan dari Opa lo buat cucu kesayangannya yang belum sarapan," ujar Fauzi, yang langsung mengundang gelak tawa seisi kelas. Gibran berdecak kesal, bercandaan Fauzi yang sama sekali tidak lucu justru membuat moodnya semakin hancur. "DIAM LO SEMUA!!!" Gibran menggebrak meja dan menatap tajam satu per satu teman sekelasnya lalu dengan sekali hentakan ia mengambil tasnya, dan melangkah pergi yang berhasil membuat seisi kelas meringis ngeri. "Pau? Gak dikejar Gibrannya?" tanya Dania. "Terlanjur. Gibran lagi gak bagus hatinya. Kalau udah gitu biarin dia sendiri," kata Fauzi dengan nada begitu lirih. Ia menyesal tidak menyadari jika mood sahabatnya sedang jelek. Gibran pergi kemanapun langkah kaki itu menggiringnya. Jujur ia tak mempunyai tujuan pasti, yang jelas Gibran harus pergi. Berlama-lama di sekolah hanya membuat moodnya semakin kacau. Laki-laki itu langsung melompat, begitu sampai di ujung benteng sekolah. Gibran terjatuh dengan tidak elitnya di luar area sekolahnya itu, "Aw... p****t gue!" pemuda itu bangkit dan melanjutkan langkahnya, tetapi baru beberapa langkah ia langsung berhenti. "Kebelet pipis lagi! Kenapa nggak tadi sebelum keluar sekolah coba? Niat minggat malah melarat! Terus gimana? Masa balik lagi ke sekolah numpang pipis doang dan cabut lagi? Tengsinlah." Gibran nampak berpikir sejenak, perlu kalian ketahui Gibran memang tak seperti ayahnya yang sama sekali tidak bisa menyentuh toilet umum, namun sebagai manusia normal tentu saja Gibran mempunyai rasa malu jika harus buang air kecil di sembarangan apalagi tempat terbuka. "Gue gak tahan!" ia melihat sekeliling barangkali ada seseorang yang bisa dimintai tolong. Pandangannya tertuju pada seorang gadis yang tengah bermain dengan seekor kucing persia di pinggir jalan. "Hei, lo tahu nggak toilet umum yang ada di sekitar sini?" Bukannya menjawab, gadis itu justru menatap Gibran dengan tampang innocentnya. “Malah ngelihatin gue kaya gitu,” Gibran membatin. Detik berikutnya gadis itu tersenyum lalu mengangguk. Sebelah tangannya mengais kucing persia peliharaannya, dan sebelahnya lagi menggandeng tangan Gibran, menarik Gibran memasuki suatu tempat, "Ini rumah aku, rumah kami semua tepatnya. Kakak bisa pakai kamar mandi di sini. Bersih kok." Gibran mengerjap beberapa kali seolah tak percaya kalau ia baru saja menginjakkan kakinya di sebuah yayasan kanker. Tunggu. Emerald? Yayasan Kanker Emerald. Apakah ini juga termasuk salah satu milik opanya? Terserahlah. Gibran sedang tidak bisa berpikir sekarang. Ia buru-buru masuk ke dalam toilet. Benar kata gadis itu, tempatnya cukup bersih. Yang Gibran heran, kenapa ia baru sadar kalau di sekitar sekolahnya ada Yayasan Kanker seperti ini? Setelah beberapa menit, Gibran keluar, "Hei, thank's ya udah kasih tumpangan," ujar Gibran sambil membenarkan resleting celananya yang kurang naik. Gadis itu mengangguk. "Nama lo siapa?" tanya Gibran. "Keyla, nama Kakak siapa?" "Gibran. Kok dari tadi lo panggil gue Kakak?" Gibran menautkan alisnya. Keyla terkekeh, "Soalnya wajah Kakak kelihatan lebih tua dari aku." "Lo berapa tahun emang?" "Lima belas tahun, Kak." Gibran mengangguk paham. "Rambut pirang, kulit putih, dan matanya coklat. Hm... Kakak bule, ya? Tapi kok pasih banget Bahasa Indonesianya?" tanya Keyla polos. Gibran tertawa, "Gue lahir di Canada, dulu Bunda gue ngidam mau lahiran di sana, tapi gue dibesarkan di Indonesia. Di Canada numpang lahir doang." "Oh gitu, ya, Kakak bule." Gibran menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal sama sekali. Dipanggil kakak bule sebenarnya membuat Gibran kurang nyaman. "Keyla? Kamu bicara sama siapa?" Belum sempat Keyla menjawab, sang Mami sudah berdiri di belakangnya. "Itu siapa, Sayang?" "Ini teman baru Keyla, Mi. Namanya Kak Gibran." Gibran tersenyum kikuk, lalu mengulurkan tangannya, "Gibran, Tante." "Oh Gibran," wanita cantik itu melirik bedge logo sekolah yang ada di lengan samping kanan seragam sekolah Gibran, "kamu siswa Emerald School itu?" "Iya Tante." Gibran tersenyum, walau bibirnya nampak sedikit pucat. Kepalanya terasa begitu pusing sekarang. Usai perkenalan mereka, Gibran langsung menceritakan perihal kedatangannya pada Airin—ibunda Keyla. "Begitu, ya. Gak pa-pa, sering-sering main ke sini, ya, Nak Gibran. Keyla senang punya teman baru," ujar Airin sambil melirik putrinya yang nampak berseri-seri. "Eh... mari duduk." "Iya, Tante. Kalau ada waktu, Gibran bakal sering mampir. Oh... iya, Yayasan ini dibangun sejak kapan, Tante? Kok kayaknya baru lihat. Apa ini khusus untuk penderita kanker? Biasanya ada kegiatan apa aja, Tante?" Gibran mengutarakan rasa penasarannya. "Iya, baru setahun yang lalu Pak Darell mendirikan yayasan ini. Kami bergerak melakukan kegiatan promotif, preventif, dan suportif. Mengingat minimnya pengetahuan orang Indonesia mengenai kanker. Pak Darell sangat baik, walaupun Tante dengar kalau beliau merupakan seorang yang di naturalisasi, tapi kepedulian beliau terhadap penderita kanker terutama anak-anak sangatlah tinggi. Beliau menginginkan masyarakat awam sekalipun sedikit-sedikit harus paham mengenai kanker, agar ketika penyakit itu dinyatakan hadir di tubuh seseorang, setidaknya pada stadium dini. Kami juga sering melakukan penyuluhan ke berbagai tempat untuk membuat mereka mengerti cara mencegah kanker. Selain itu di sini kami diharuskan punya rasa peduli yang tinggi untuk bisa memberi dukungan pada mereka yang sudah terlanjur mengidap penyakit ini." Gibran tersenyum. Betapa bangganya ia pada sang opa. Ternyata di balik sikap tegas dan kerasnya, hati opanya itu selembut kapas. Kalau seseorang yang tadinya bukan Warga Negara Indonesia asli saja bisa begitu peduli, mengapa orang Indonesia itu sendiri terkadang bersikap tak acuh? Semoga dengan adanya yayasan ini, banyak pihak yang mau ikut peduli pada mereka. "Berarti Opa sering ke sini, Tante?" Airin mengernyit, "Loh, Kamu Cucunya?" Gibran tersenyum kikuk kemudian mengangguk, "Boleh 'kan, Bu, kalau saya sering main ke sini?" "Tentu saja boleh. Ada sekitar tiga puluh anak penderita kanker di sini, mereka pasti senang kalau ada yang mau menyempatkan diri melihat mereka. Belum lama ini kami baru saja kehilangan salah satu anak." "Ya Tuhan. Lumayan banyak, ya, Tante. Meninggal karena kanker? Apa kanker itu mutlak bisa membuat seseorang meninggal?" "Iya, dia pengidap kanker darah stadium akhir. Pelaksanaan kemoterapi pada stadium itu sepertinya tidak banyak menolong, meskipun sebenarnya kemungkinan sembuh itu selalu ada. Tidak mutlak, kalau kanker ditemukan pada stadium dini kemungkinan sembuh itu sangat besar.” Gibran mengangguk. Ia mulai mengerti mengapa di yayasan ini ada kegiatan promotif, preventif, dan suportif. Mungkin mereka ingin mengenalkan seperti apa itu kanker untuk pencegahan dini lalu memberi dukungan pada mereka penderita kanker agar tak berkecil hati, dan terus semangat berperang melawan kesakitannya. Gibran mengambil ponsel di saku celananya. From : FauziGibran gue minta maaf. Gue nggak tahu kalau lo lagi males bercanda. Oh iya, lebih baik lo balik ke sekolah. Pak Darell tahu lo bolos, dan dia ngancem bakal blokir kartu kredit lo kalau sampai nggak balik. ____________________ Gibran melotot membaca pesan tersebut. "Tante, Key, pamit dulu, ya. Gibran harus kembali ke sekolah. Sekali lagi makasih buat tumpangannya." "Iya hati-hati, Nak." "Hati-hati, Kak. Sering mampir, ya." Gibran mengangguk, dan langsung berlari meninggalkan tempat itu. Kalau bukan karena opanya, Gibran sama sekali enggan kembali ke sekolah. "Pak, buka gerbangnya!" seru Gibran ketika sampai sekolah. "Lah, kenapa di luar, Den? Bukannya bel sudah terdengar dari tadi?" tanya satpam sekolah tersebut. "Jangan bawel! Buka aja! Mau kena marah Opa?" Satpam itu langsung mengangguk dan mengijinkan Gibran masuk, sebelum ia berurusan dengan atasannya. Gibran mulai berjalan menyusuri koridor sekolah. Ia ingin menemui kakeknya yang tadi melontarkan ancaman pedas padanya. Ayolah, Gibran tidak bisa hidup tanpa kartu kreditnya. Gibran tiba di ruangan sang opa dan sudah menyiapkan rayuan jitu untuk membuat opanya itu mencabut ancamannya. Darell yang semula ingin marah langsung berubah panik melihat wajah cucunya begitu pucat, "Gibran, kenapa kamu pucat sekali?" Gibran mengernyit bingung. Ia meraba wajahnya sendiri seolah memastikan ucapan opanya itu. Gibran memang pusing, perutnya sakit, dan dadanya pun terasa panas juga sesak, tapi ia tidak menyangka kalau dirinya pucat. "Gibran gak pa-pa, Opa." "Tadi dibilangin jangan masuk dulu. Malah bandel masuk, udah di sekolah keluyuran." "Opa maafin Gibran. Gibran bener-benar nggak mood belajar." "Kalau seperti ini terus bagaimana nasib pelajaran kamu, Gibran? Opa pemimpin di sini, tidak mungkin Opa membela seseorang yang salah. Jika kamu terus seperti itu Opa akan menyuruh Ayah kamu mencabut semua fasilitas yang diberikan buat kamu." Gibran menunduk, "Maaf," hanya kata itu yang sanggup keluar dari bibirnya. "Kalau sakit, lebih baik sekarang kamu istirahat di UKS, nanti jam pelajaran selanjutnya kamu baru ke kelas." Belum sempat Gibran menjawab, suara ketukan pintu membuatnya mengurungkan niat unyuk bersuara. Tokk... Tokk... Tokk.. Mau tak mau Darell beranjak hendak membuka pintu dan meninggalkan Gibran sendiri. Seorang murid perempuan masuk ke dalam ruangangannya. "Ada perlu apa?" "Saya mau menyerahkan data siswa kelas sebelas yang bapak minta," ujar gadis itu. "Baik, terima kasih." Tiba-tiba keduanya terdiam begitu mendengar suara orang muntah-muntah dari dalam. Aura penasaran siapa itu, namun pikirannya justru mengarah pada Gibran karena kemungkinan hanya Gibran yang bisa masuk ke ruangan pribadi sang pemilik sekolah. "Aura, bisa tolong ambilkan minyak kayu putih di ruang kesehatan. Sepertinya Cucu saya masih sakit." Tebakan Aura benar. Orang di dalam sana adalah Gibran. "Baik, Pak." Di dalam sana, Gibran merosot di balik pintu. Ia kembali memuntahkan cairan merah kehitaman itu. Terus terang saja sekarang Gibran mulai takut. Gibran merasa kalau sekarang dirinya tidak baik-baik saja. Pasti ada sesuatu yang menyebabkan dirinya berkali-kali mengalami kejadian seperti ini. Opanya terdengar beberapa memanggil namanya dengan nada cemas. "Gibran kenapa?" pertanyaan itu kontan terlontar dari mulut Darell begitu melihat cucunya keluar dari kamar mandi. Gibran menggeleng pelan. Ia sedang tidak ingin menanggapi karena masih sibuk dengan pemikirannya sendiri. Gibran bingung dengan kondisi kesehatannya belakangan ini. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN