Aura kembali ke ruangan Darell membawa sebotol minyak kayu putih di tangannya. Gadis itu menunduk begitu melihat Gibran sudah duduk manis di sofa dengan napas tersenggal. Ia kembali merasa bersalah, seandaunya kemarin Gubran tudak menolongnya, dan tetap di rumah sakit mungkin tidak akan seperti ini jadinya. "I... ini, Pak."
Gibran hanya melirik Aura sekilas, lalu membuang pandangannya ke arah lain. Kemarin ia sudah berjanji untuk tidak akan mengganggu Aura lagi, jadi harus ia tepati. Ayahnya pernah bilang kalau laki-laki sejati itu tidak pernah ingkar janji, karena laki-laki yang ingkar janji itu banci.
"Terima kasih. Silahkan kembali ke kelas."
Aura mengangguk patuh. Tak tahu kenapa ia sesak sendiri melihat Gibran mendiamkannya. Apa Gibran serius ingin menjauhinya? Ada sedikit perasaan tak rela. Aura menyesal telah bersikap sedemikian kasar kemarin.
Terkadang kita akan merindukan hal-hal yang justru sebelumnya dianggap mengganggu. Karena di saat itu selain rindu, sebenarnya kita telah jauh kehilangan. Mungkin itu yang sekarang Aura rasakan. Gibran bisa dengan mudah masuk ke dalam hidupnya setelah Raka pergi untuk selamanya. Gibran seakan jadi pengobat luka di hatinya dan sayangnya Aura tidak pernah menyadari hal itu.
***
Dania memperhatikan Fauzi lamat-lamat. Bocah laki-laki itu sedari tadi nampak gelisah, mungkin memikirkan Gibran yang belum juga ditemuinya setelah pertengkaran tadi pagi. "Pau, segitu sayangnya, ya, lo sama Gibran?" tanya Dania akhirnya.
Fauzi menoleh, "Seperti yang lo lihat."
"Kenapa bisa begitu? Lo nggak... " Dania menggantungkan kalimatnya.
"Gue normal!" potong Fauzi cepat.
"Terus kenapa?"
Fauzi diam. Karena apa? Fauzi pun tak tahu mengapa dirinya bisa begitu menyayangi Gibran. Karena mereka sudah berteman cukup lama. Mungkin karena itu?
"Pau?"
"Dania bicik banget. Kangen, ya, denger Bang Fauzi ngoceh?"
Dania langsung mencibir ketika mendengar celotehan Fauzi, tapi kemudian gadis itu iseng lagi bertanya, "Kalau misal lo dikasih dua pilihan antara harus menyelamatkan gue atau Gibran, lo pilih siapa?"
"Jangan kasih gue pilihan yang sulit. Jujur, kalian berdua sama berharganya buat gue," ujar Fauzi tulus.
Dania terdiam cukup lama. “Serius si Ayam kate anggap gue berharga?” Dania membatin.
"Gue sangat serius, Dan. Kalau gue nggak serius, dari dulu mungkin gue udah pergi karena lo galakin terus," curhat Fauzi yang seolah tahu isi hati Dania.
"Ye, si ayam kate pake segala curhat," Dania mengalihkan. Sebenarnya ia hanya sedang berusaha mengontrol debaran aneh di hatinya.
"Astaga lagi serius-serius dirusak lagi. Maafin Dania, Yaallah."
***
Gibran kembali ke kelasnya setelah merasa lebih baik. Benar kata opanya, Gibran tidak boleh terlalu banyak bolos agar tidak jadi anak bodoh dan bisa membuktikan pada sang ayah kalau Gibran bisa membuat keluarganya bangga, terutama ayahnya. Mungkin kalau Gibran pintar, sang ayah akan menyayanginya.
Fauzi langsung melirik Gibran begitu laki-laki itu duduk di sampingnya. "Gibran lo masih marah?"
"Nggak."
"Bohong, ih."
"Nggak."
Fauzi tersenyum, "Lo abis dari mana aja? Udah nemuin Pak Darell?"
"Sumpah ya Fauzi Andriansyah lo bawel banget!"
"Kan pengen tahu."
"Udah kok. Ji, lo tahu gak ternyata di sekitar sini ada yayasan kanker gitu. Sering-sering main ke sana yuk."
Fauzi menautkan alisnya, "Telat banget lo, emang udah dari kita kelas satu yayasan itu udah ada. Ngapain?"
"Gue gak pernah lihat, serius. Nemenin anak-anak di sana main," jawab Gibran jujur. Bangunan itu memang agak menjorok, jadi tidak terlihat jika hanya selintas.
"Bukannya lo gak suka anak-anak?"
"Iya sih, tapi coba dulu aja. Gue ngerasa malu aja, Ji. Selama ini gue banyak foya-foya, ngelakuin kenakalan ini-itu, tapi di sana ada anak-anak kecil yang justru lagi berjuang buat hidupnya."
Fauzi mengangguk, "Yayasan itu kerja sama juga sama rumah sakit tempat Papa gue dinas, sama beberapa insdustri Farmasi juga sih. Opa lo emang keren banget, jiwa sosialnya tinggi."
"Iya dong. Gimana juga Cucunya," sahut Gibran percaya diri.
Fauzi langsung menghadiahkan sebuah toyoran. Jika suasana hatinya sudah membaik, begitulah Gibran. Narsis kelas berat.
Tengah asik berbincang, tiba-tiba saja Salsa yang notabene salah satu fans berat Gibran berjalan mendekat. "Hallo Gibran, kemarin sakit, ya? Sakit apa? Udah ke dokter? Apa katanya?"
"Ck, bukan urusan lo," jawab Gibran.
"Sekarang udah baikan? Kok udah masuk sekolah aja? Mending istirahat di rumah, nanti aku jengukin."
Gibran melemparkan tatapan sinis, "Emang lo siapa berani ngatur-ngatur gue?"
Salsa menghela napas berat, “Untung gue sayang,” batinnya.
"Lo pergi? Atau gue yang pergi?" Gibran benar-benar merasa terusik dengan kehadiran Salsa.
Salsa langsung meninggalkan bangku orang yang begitu dikaguminya itu. Sungguh menjengkelkan, Gibran terang-terangan menolaknya.
Dania berbisik pada Aura, "Dia cuma bersikap manis sama lo, Aura. Lo gadis yang beruntung." Entah mengapa Dania malah balik mendukung Aura dan Gibran, padahal sebelumnya ia bersikeras menolak karena Aura sudah punya pacar. Namun Raka yang tak pernah lagi diceritakan Aura membuat Dania berkesimpulan kalau hubungan Aura dengan laki-laki itu telah berakhir.
Gadis mana yang tak akan lumer jika diperlakukan spesial diantara gadis-gadis yang ada. Gibran bukan tipe laki-laki yang suka cari perhatian pada banyak wanita dengan modus berteman, memberi harapan lalu perlahan bergerak meninggalkan. Sungguh tindakan laki-laki yang tidak manusiawi. Gibran hanya dekat dengan orang yang bisa membuatnya merasa nyaman.
***
Dengan langkah yang sedikit ragu, Aura mendekati Gibran. Ia bertekad untuk meminta maaf. Aura tidak akan tenang kalau terus dihantui rasa bersalah pada laki-laki itu. Gibran terlihat sedang membereskan buku-bukunya, "Gibran."
Gibran menghentikan aktivitasnya sejenak, "Ya?"
"Gu... gue mau minta maaf."
"Minta maaf buat apa?"
"Gue tahu gue salah. Kemarin gue udah jahat banget sama lo."
"Aur gak salah, Gibran yang salah. Seharusnya dari awal Gibran gak pernah ganggu Aur."
"Gue yang gak tahu diri. Maaf."
Gibran tersenyum lembut kemudian meraih jemari tangan Aura, "Kalau ini semua Aur lakuin cuma karena merasa bersalah, mulai hari ini Gibran tegasin kalau Aur gak perlu merasa bersalah lagi. Apa yang Gibran lakukan kemarin itu tulus, dan nggak minta apa pun dari Aur."
Kalimat selembut itu saja mampu membuat Aura merasa begitu sakit. Apa yang dikatakan Gibran sama sekali tak terlihat seperti bualan belaka, Aura bisa merasakan ketulusan dari laki-laki itu. "Makasih, Gibran. Gue sangat berterima kasih sama lo."
Gibran baru hendak menjawab, namun denyutan rasa sakit di perutnya membuat Gibran mengurungkan niatnya. Ia mundur beberapa langkah lantas sedikit menunduk. Genggaman tangannya pada Aura semula refleks terlepas.
Aura menautkan alisnya, "Gibran? Lo baik-baik aja?"
Gibran mengacungkan jempolnya seolah berkata kalau ia baik-baik saja. Namun bukan itu yang terlihat, Gibran justru semakin kesakitan sampai harus berjongkok untuk menekan titik rasa sakitnya.
Fauzi membelalakan matanya melihat Gibran seperti itu. "Gibran lo kenapa sih?"
"Sakit banget, Ji. Hhh... "
"Aduh gimana dong? Gue bawa motor lagi, nggak bawa mobil. Lo gak mungkin gue boncengin naik motor. Dan lo bawa mobil?"
Dania menggeleng, "Gue dijemput Mama, soalnya mau nemenin belanja."
"Gue bawa mobil," ujar Aura akhirnya.
"Ra, lo mau 'kan antar Gibran pulang? Nanti gue ikutin naik motor dari belakang."
Aura mengangguk. Itung-itung balas budi, pikirnya. Gadis itu berjalan mendekati Gibran dan langsung membantu Fauzi memapah Gibran.
***
Inka senyum-senyum sendiri melihat foto Gibran kecil. Pipi bakpau putranya itu benar-benar menggemaskan. Gibran kecil sangat suka makan, sampai-sampai mama mertuanya tak pernah absen membelikan Gibran makanan. Lucu sekali ketika bocah kecil itu mengunyah, pipi gembulnya bergerak-gerak. Kebiasaan itu perlahan hilang ketika Gibran beranjak dewasa, terutama karena ketika duduk di bangku Sekolah Dasar Gibran terus mendapat ejekan dari teman-temannya.
Sekarang Inka sedih melihat bobot tubuh Gibran menyusut. Mungkin kalau dirinya lebih sering berada di rumah, pola makan Gibran bisa sedikit teratur. Bi Inah bercerita banyak hari ini, termasuk bercerita tentang rewelnya Gibran jika makan.
"Den Gibran nggak pernah mau sarapan, kalau Nyonya sama Tuan gak ada di rumah. Hari sekolah, Den Gibran sengaja bangun siang biar gak sarapan dulu. Kalau libur, turun sebentar ngambil makanan ringan sama minuman kaleng terus ke kamar lagi. Habis itu pergi sama teman-temannya."
Kalimat yang terucap mulus dari asisten rumah tangganya masih terngiang jelas. Kemungkinan kondisi kesehatan Gibran menurun belakangan ini karena pola hidup Gibran yang tidak sehat, apalagi ia sempat beberapa kali memergoki Gibran tengah merokok. Meskipun Inka seringkali memanjakan Gibran, tapi sekarang ini ia memang selalu sibuk dengan urusannya sendiri sampai melupakan putra tunggalnya itu.
Sibuk melamun, Inka sampai tidak mendengar kalau sedari tadi ada yang memencet bel rumahnya. Bi Inah yang sedang bergulat di dapur dengan bahan masakan berlari tergopoh hendak membuka pintu. Satu pekikan lolos begitu melihat Tuan mudanya begitu kepayahan sampai harus dipapah oleh temannya. "Ya Tuhan, Den Gibran!"
Inka baru tersadar ketika nama putranya diteriakkan. Wanita itu menoleh, "Loh, Gibran? Kamu kenapa, Sayang?"
Gibran diam saja. Lambungnya seperti tengah diremas-remas membuatnya enggan bicara banyak.
Inka meminta bantuan pada satpamnya untuk mengantar Gibran ke kamar. Sesampainya di sana, Inka langsung menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Gibran. "Fauzi, Aura, sebenarnya ada apa ini? Kenapa Gibran sampai seperti ini?"
Baik Aura maupun Fauzi sama-sama diam, karema mereka memang tidak mengerti apa yanh terjadi.
"Gibran gak pa-pa, Bunda."
Inka melirik putranya yang kini mencoba tersenyum ke arahnya, "Gak pa-pa gimana? Orang Gibran kesakitan gitu."
"Udahlah, Bunda. Gibran baik-baik aja. Gibran ngantuk mau tidur."
Inka geleng-geleng. Ini yang paling tidak ia sukai dari putranya, Gibran sangat keras kepala. Susah sekali diberitahu. "Bilang makasih dulu sama Fauzi, sama Aura juga."
"Makasih Uji, Aur."
Fauzi dan Aura kompak mengangguk. Kemudian mereka pamit pulang karena sudah terlalu sore, lagi pula mereka belum bertukar pakaian takut disangka anak badung.