“Saat seperti ini pun dia masih saja m***m,” batin Syera gemas. “Aku masih menunggu.” Syera tersadar oleh suara berat Moiz. Ia menatap pria itu yang tampak memang menunggu dicium. Syera menghembuskan napas pelan, lalu melanjutkan aksinya membersihkan luka di tangan Moiz. “Aku akan beri ciumannya nanti, sekarang kita bersihkan dan obati dulu ini. Aku akan perban untuk sementara. Setelah kamu bersih-bersih, aku akan cium, makanya panggil saja dokternya sekarang,” celoteh Syera. Moiz menaikkan sebelah alisnya, lalu ia tersenyum miring. “Sekarang kau sudah berani memerintahku, ya?” Syera melirik Moiz sejenak, lalu kembali fokus pada pekerjaannya. “Aku bukan memerintah, Moiz. Aku hanya ingin supaya lukamu tidak menjadi parah. Terserah kamu kalau kamu tidak merasakan sakitnya, tapi terlepas

