Mata Desmond melotot menatap Moiz yang sedang mengunjungi ruangan rawatnya. Tentu saja pria itu datang ketika Syera tak berada di sana.
Bola mata Desmond yang tampak hampir keluar, cukup menjadi pertanda jika pria itu sedang marah dan membenci Moiz. Tatapan benci itu tak membuat Moiz merasa takut, ia malah tampak puas, bahkan menyeringai merasa senang.
“Kita bertemu lagi, Tuan Winola. Sayang sekali, bahkan sampai sekarang kau masih terbaring tak berdaya di sini. Selain menjadi beban cucu cantikmu itu, kau juga membuatnya harus terjun ke dalam kehidupan saya. Hari ini, cucu cantikmu itu akan segera menjadi istri saya.”
Desmond sangat marah mendengar itu, tetapi ia tak dapat melakukan apa-apa. Pria terserang setruk itu hanya bisa melotot dengan bola mata bergerak seakan ingin berteriak. Melihat Desmond tak dapat melakukan apa-apa, Moiz tertawa puas.
“Astaga, sepertinya kau sangat berusaha untuk mengumpati saya. Apa mungkin kau malah ingin menonjok saya karena berani mengganggu cucu cantikmu itu? Ah, sayang sekali, kita bahkan tidak bisa beradu otot, padahal hal itu sangat saya inginkan. Beradu pedang atau beradu katana, itu lebih menarik.” Moiz kembali tersenyum miring, semakin memancing amarah Desmond.
Dada Desmond mulai sesak, amarah yang tak dapat diluapkan membuat kondisinya semakin tak baik. Moiz hanya berdecih sinis melihat itu.
“Tidak berguna sekali, pembalasan dendam ini terasa sangat tidak menyenangkan karena kondisimu seperti ini. Saya tidak mungkin langsung membunuhmu, itu sangat tidak seru, itu terlalu mudah untukmu. Maka dari itu, saya memilih memanfaatkan cucu cantikmu itu untuk menjadi alat pembalasan dendam. Rupanya ini cukup seru, selain menjadi beban, kau bahkan tak bisa membantu cucumu sekarang. Sampah, ha-ha-ha!”
Desmond mulai kejang, Moiz pun tersenyum miring kemudian keluar dari ruangan itu diikuti oleh asistennya.
“Pas sekali kalian di sini, pasien kalian kejang. Mungkin dia sebentar lagi akan mati kalau terlambat,” ucap Moiz tanpa beban, kemudian ia pergi begitu saja dari sana.
Moiz melangkah di lorong rumah sakit dengan wajah kejamnya seperti biasa. Mata tajam dan tatapan dingin mengintimidasi siapa saja. Meski memiliki wajah tampan, Moiz terlihat sangat menakutkan di mata orang-orang.
Moiz melihat sosok gadis cantik berlari dari ujung lorong ke arahnya. Pemimpin Theos itu tersenyum miring, ia sudah bisa menebak alasan apa yang membuat Syera berlarian panik dari ujung lorong rumah sakit.
Syera mendongak ketika lorong dipenuhi orang-orang. Ia pun terkejut melihat keberadaan Moiz tengah berjalan diikuti oleh beberapa pria di belakangnya. Syera langsung menepi dan menunduk membiarkan Moiz pergi tanpa harus menyapa pria itu.
Moiz malah menghentikan langkahnya tepat di depan Syera. “Ayo pergi dari sini, saya sudah membayar pengobatan kakekmu.”
Syera terkejut, ia mengangkat kepalanya dan mendongak menatap Moiz. “Ke mana, Tuan? Maaf, tunggu dulu—saya harus segera pergi ke ruangan Kakek saya. Dia kejang, saya harus ke sana. Untuk acara nanti sore, saya tidak akan terlambat. Saya janji.”
Moiz memandang Syera yang tampak memohon. Pria itu melirik jam tangannya.
“Dua jam lagi. Memangnya ada apa dengan kakekmu?” tanya Moiz pura-pura tak tahu, padahal ia adalah penyebab Desmond kejang.
“Saya juga tidak tahu, Tuan. Tapi saya mohon, saya harus ke sana sekarang. Maaf—saya harus pergi dulu, Tuan.”
Moiz terkejut ketika tiba-tiba Syera menarik telapak tangan kanannya, kemudian mencium punggung tangan itu sebelum Syera berlari kencang pergi dari sana. Hal itu terlihat seperti seorang istri berpamitan kepada suaminya.
Moiz memandang punggung tangannya yang baru saja dikecup oleh Syera. Ia bahkan masih bisa merasakan benda kenyal itu menyentuh kulit punggung tangannya.
“Apa dia sudah memulai perannya sebagai istriku?” Moiz memandang Syera dengan wajah cukup terkejut, kemudian ia mengedikkan bahu dan melanjutkan langkah pergi dari sana.
Syera dapat bernapas lega ketika mengetahui kondisi kakeknya kembali stabil. Ia memandang wajah sang kakek yang tengah menutup mata. Setelah diberi obat, Desmond kini tertidur dengan tenang.
Syera terkejut ketika mengingat sesuatu, ia langsung melihat jam tangannya. “Astaga, ini hampir waktunya! Aku harus pergi sekarang. Kakek, aku akan pergi dulu, ini semua demi Kakek—Kakek harus sembuh. Aku yakin dengan uang darinya, aku bisa membuat Kakek mendapatkan perawatan lebih baik lain dan Kakek pasti akan segera sembuh.”
Perjalanan waktu, perputaran waktu, semua hal itu seakan tak pernah lagi dipikirkan oleh Syera. Ia selalu fokus kepada pekerjaannya untuk bisa menyembuhkan sang kakek.
Sampai pada tahap ini, Syera pun tak pernah berpikir akan menempuh cara seperti ini. Ia terpaksa menerima tawaran seorang penguasa muda sekaligus ketua mafia, demi pengobatan sang kakek.
Menikah kontrak, menjadi istri bayaran ketua mafia, sungguh tak pernah dibayangkan oleh Syera selama ini. Bahkan kini ia hanya bisa termenung di tempatnya, tidak ada pesta mewah, hanya ijab qabul semata, kata ‘sah’ membuatnya kini resmi menjadi istri dari Moiz Vaterham.
Jalanan macet di senja hari, Syera terus menatap jalanan kota dari dalam mobil. Setelah melakukan ijab qabul, kini Syera ikut bersama Moiz ke mansion pria itu. Dalam surat kontrak nikah mereka sudah dijelaskan jika Syera akan ikut dengan Moiz tinggal di mansion Vaterham.
“Sekarang aku sudah menjadi istri orang. Meski hanya istri bayaran, tapi pernikahan ini dilaksanakan sebagaimana mestinya, dalam agama dan kenegaraan kami sudah sah sebagai pasangan suami istri. Hah, aku tidak menyangka kehidupanku akan seperti ini. Menikah kontrak, tanpa cinta, tanpa pesta, tanpa keluarga, tanpa senyuman.” Syera berceloteh sedih di dalam hati.
Ia hanya bisa mengungkapkan itu semua di dalam hati. Syera tak merasa menyesal, ia hanya merasa iba akan dirinya sendiri. Semua ini hasil dari keputusannya, ia memang tak bisa menyesal sebab berkat pernikahan ini Moiz langsung membayarkan uang pengobatan Desmond di rumah sakit.
Moiz mengalihkan wajahnya dari layar laptop, ia melirik Syera yang berada di sampingnya. Baginya pernikahan ini hanya jalan untuk balas dendam, jadi di hari pernikahannya pun Moiz masih saja mengurus pekerjaan, padahal sedang bersebelahan dengan sang istri.
“Dia tidak mengatakan apa-apa tentang pernikahan ini. Dia tidak memberitahuku tujuannya melakukan pernikahan kontrak ini. Aku juga penasaran, apa keuntungannya menikahiku, membayarku begitu besar. Jika hanya untuk mencari teman di ranjang, dia tidak harus mencari istri bayaran seperti ini. Apa dia sedang melakukan wasiat seseorang demi mendapatkan harta warisan? Biasanya begitu ‘kan?” batin Syera lagi.
Gadis itu melirik ke arah Moiz dan terkejut ketika menyadari pria itu sudah menatapnya. Dua pasang mata beradu tatap beberapa detik, sebelum akhirnya Syera mengalihkan wajah dan kembali fokus kepada jalanan kota.
“Astaga, matanya sangat tajam. Tak heran dia ditakuti orang-orang, dilihat sekalis saja bisa membuat orang kencing di celana,” batin Syera ngeri.
“Saya suka wangi mawar dari tubuh wanita, jadi saya sudah menyuruh pelayan menyiapkan itu.”
Syera terkejut mendengar suara berat Moiz. Ia menoleh dan memandang pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu.
“Sampai di mansion, saya akan rapat online sekitar satu jam. Selama itu, kau persiapkan diri, pelayan akan membantumu mandi kembang dan berbagai hal supaya wangi mawar melekat di tubuhmu. Saya tidak suka wangi vanila yang kini kau gunakan,” sambung Moiz dingin.
Syera terpaku, ia langsung paham ke arah mana percakapan kali ini. “Baik, Tuan.”
“Panggil saya Moiz! Orang-orang tidak tahu jika kau adalah istri bayaran. Jadi jangan mengacaukan apa pun.”
Tangan Syera terkepal pelan di atas paha, ia menunduk dan mengangguk pelan. “Saya mengerti.”