6. Kekasihnya

1326 Kata
Syera memandang rumah mewah dihadapannya. Dulu rumahnya juga begitu besar dan mewah seperti bangunan di depannya saat ini. Namun, semenjak sang kakek jatuh sakit, Syera terpaksa menjual segala hal, sampai akhirnya kini hidup dikejar tagihan rumah sakit. Moiz melangkah masuk ke dalam mansion Vaterham, meninggalkan Syera yang terdiam di tempatnya. Tersadar akan pergerakan Moiz, Syera akhirnya ikut melangkah mengikuti pria itu. Gadis itu mencoba tenang dan membiasakan diri. Ia terlahir sebagai seorang putri yang dimanja kedua orang tuanya serta kakeknya. Namun, kehidupan itu jungkir balik ketika kedua orang tuanya meninggal, kemudian disusul dengan sang kakek masuk rumah sakit. “Antarkan dia ke kamar utama dan persiapkan semuanya!” Suara berat Moiz mengalihkan perhatian Syera. Sekumpulan pelayan sudah menunduk hormat kepada pria itu. “Baik, Tuan.” Moiz menoleh ke belakang, mengejutkan Syera. Gadis itu menunduk tak ingin beradu tatap dengan Moiz, lebih tepatnya tak berani. “Ikut mereka, dan tunggu aku di dalam kamar.” “Baik.” Syera kembali mengangkat kepalanya ketika merasa Moiz sudah pergi dari sana. Ia menghembuskan napas sembari mengusap wajah perlahan. “Nyonya, mari ikut kami.” Suara sopan seseorang mengalihkan perhatian Syera. Ia menoleh dan tersenyum ramah melihat sekumpulan pelayan menunduk sopan kepadanya. “Baik, terima kasih.” Meski terlahir sebagai orang kaya dari kecil, Syera tidak memiliki karakter sombong dan angkuh. Bahkan dulu ketika ia masih berada, Syera memperlakukan pekerja mansionnya dengan baik dan sopan. Seperti titah Moiz, para pelayan membantu Syera membersihkan diri. Mereka juga sudah menyiapkan wangi mawar bahkan dari bunga mawar asli untuk Syera berendam di bathtub. Kamar utama yang selama ini dihuni oleh Moiz terkesan sangat kelam dengan warna cat gelapnya, tetapi elegan. Meski begitu, wangi mawar tercium cukup pekat diindera penciuman Syera. “Kenapa sedari tadi kalian diam saja? Begitu kaku sekali, santai saja.” Syera tiba-tiba bersuara sembari tersenyum ramah. Para pelayan itu terlihat terkejut. Mungkin karena mereka sudah terbiasa berhadapan dengan Moiz yang menyeramkan, sehingga mereka terlihat sangat kaku. “Ah, tidak, Nyonya. Maaf, jika kami membuat Anda tidak nyaman,” balas seorang pelayan kikuk. Syera terkekeh kecil. “Tidak masalah, bersikap santai saja saat bersamaku.” Mendengar itu, para pelayan saling tatap dan tersenyum seakan lega dan senang. Mereka mungkin berpikir jika Syera akan menjadi seorang nyonya rumah yang angkuh, kejam dan somena-mena. Ternyata semuanya bertolak belakang, bahkan senyum Syera membuat mereka tenang. “Anda begitu cantik, Nyonya.” Syera tersenyum mendengar kalimat seorang pelayan yang tengah menyisir rambutnya. Beberapa pelayan langsung bekerja melayaninya sekaligus. Mulai dari mandi, memakai pakaian, dan dibantu berdandan. Sejujurnya Syera tak terlalu terkejut dan gamang dengan situasi ini. Sebab dulunya ia juga sudah terbiasa diperlakukan bak putri. “Benar, pertama melihat Anda, saya bahkan sangat terkejut. Tidak heran Tuan menyukai Anda dan menjadikan Anda istri.” Kalimat kedua itu membuat Syera tersenyum miris. “Yah, andai kalian tahu jika aku hanyalah seorang istri bayaran,” batin Syera lirih. “Sebagai perempuan saja saya sangat terpana, apalagi laki-laki, ya?” sambung pelayan lainnya. “Kalian terlalu memujiku, ha-ha.” Syera hanya menyahut seadanya, padahal ia memang seorang gadis yang cantik. “Tidak, Nyonya. Anda memang begitu cantik, bahkan lebih cantik dari Nona Takia—eh?” Pelayan itu langsung menutup mulutnya seakan ia baru saja melontarkan kalimat yang salah. Para pelayan lainnya menyikut si pelayan yang tiba-tiba langsung kaku dan pucat. Semua itu disaksikan oleh Syera dari pantulan kaca riasnya. Syera tak paham ada hal apa, tetapi ia jadi penasaran dengan nama Takia yang baru saja dilontarkan pelayan tersebut. “M-maaf, Nyonya. Pekerjaan kami sudah selesai, kalau begitu kami permisi dulu.” Seorang pelayan langsung menarik pelayan lainnya untuk segera pergi dari sana. “Ah, iya. Terima kasih kalian sudah membantuku.” “Tidak, Nyonya, itu sudah menjadi tugas kami. Mungkin sebentar lagi Tuan akan segera datang. Kami permisi dulu, Nyonya.” “Kalau ada sesuatu, Anda boleh memanggil kami, Nyonya.” Syera tersenyum dan mengangguk. Melihat tanggapan Syera, mereka langsung berbodong-bondong keluar kamar. Syera mengerutkan kening, para pelayan itu tampak sangat tergesa. “Nona Takia? Setahuku, Tuan Vaterham tidak memiliki keluarga karena keluarganya dikabarkan sudah meninggal dunia. Lalu siapa Nona Takia yang mereka maksud?” gumam Syera penasaran. “Kau sudah siap rupanya.” Syera terlonjak mendengar suara berat seseorang mengalun rendah di dalam ruangan itu. Ia menoleh dan diam melihat kedatangan Moiz, pria itu sudah membuka dasinya dan tengah membuka kancing kemeja. Syera terpaku, napasnya tercekat ketika Moiz tiba-tiba mendekat dan menunduk mendekatkan wajah ke area lehernya. Pria itu tengah menghirup bau dari tubuh Syera. “Aku suka wangi ini.” Moiz menatap Syera dengan seringai khas miliknya, sehingga mampu membuat Syera merinding. “Aku akan mandi dulu.” “I-ingin aku siapkan air panas?” Pergerakan Moiz terhenti, ia menoleh dan menatap Syera yang tiba-tiba bertanya. Pria itu tersenyum miring ketika menebak Syera tengah menjalankan perannya sebagai seorang istri. “Boleh, siapkanlah.” Syera langsung bergerak ke arah pintu kamar mandi. Ia melewati Moiz yang terus memperhatikan pergerakannya. Pria itu meneruskan membuka kemeja, sampai ia bertelanjang d**a. Moiz mengikuti langkah Syera ke dalam kamar mandi. Ia hanya menggunakan celana kerjanya, kemudian menutup pintu kamar mandi. Pemimpin Theos itu memperhatikan Syera dari belakang. Mata tajamnya mengikuti setiap pergerakan tubuh wanita yang sudah resmi menjadi istrinya. “Kalau dari segi wajah, kau sangat cantik, Syera. Kalau dari segi tubuh, cukup berisi meski masih kalah dari Takia,” batin Moiz sembari melangkah semakin mendekat ke arah Syera. Syera terkejut ketika tiba-tiba sepasang tangan kekar melingkar di perutnya. Ia menoleh ke belakang dan terkejut melihat Moiz tengah tersenyum kepadanya. Tentu saja bukan senyum manis ataupun senyum hangat, melainkan senyum mengerikan bagi Syera. “Coba kau makan lebih banyak supaya tubuhmu ini semakin berisi. Semakin semok, semakin bagus,” bisik Moiz membuat Syera terkejut. Syera ingin sekali mengatai Moiz, tetapi ia tak memiliki keberanian. Kalimat pria itu terkesan m***m di telinganya, dan termasuk berani. Namun, Syera kembali mengingatkan dirinya sendiri, jika kini ia sudah menjadi istri Moiz, dan pria itu bebas melakukan apa pun kepadanya. “Tapi aku tetap suka, kau mungkin tidak sadar jika dengan wajahmu saja, kau sudah mampu menarik imajinasi liarku,” bisik Moiz serak. Grep ... Syera hampir memekik ketika Moiz tiba-tiba menggendong tubuhnya dan mendudukkannya di meja wastafel. Tanpa berkata-kata Moiz langsung menikmati aroma mawar pada tubuh Syera. Bahkan secara perlahan bibir Moiz mulai menyapa kulit leher Syera. Syera memegang kuat lengan kekar Moiz ketika aksi pria itu semakin liar dan tak terkontrol. Kepala Syera mendongak dengan napas tertahan. “Hmmp.” Syera menutup mulutnya seakan menahan sesuatu. Moiz menyeringai mengetahui itu. Ia mendongak dan memandang wajah cantik Syera dari leher gadis itu. “Keluarkan saja, tidak usah ditahan. Aku suka mendengar raungan wanita,” desis Moiz menyeringai. Syera menggeram di dalam hati. Tatapan Moiz terlihat seperti seorang binatang yang siap melahap mangsanya. Senyum pria itu seakan merendahkan Syera sebagai seorang wanita, seakan menegaskan Syera hanya istri bayaran yang bebas ia apakan saja. Tring ... tring ... Dering ponsel dari saku celana Moiz memecahkan keheningan dan menyela aktivitas pria itu. Moiz menggeram merasa marah ketika aktivitasnya diganggu. Syera sempat melihat nama si pemanggil di layar ponsel suaminya. “Takia? Dia wanita yang tadi sempat dibicarakan pelayan tadi ‘kan?” batin Syera. Moiz mengangkat telepon itu sembari memandang wajah cantik Syera dengan tatapan datarnya. “Hallo, Baby.” Syera terdiam mendengar panggilan Moiz untuk orang di seberang sana. Ia mengalihkan wajah, mencoba mengontrol ekspresi wajahnya. Apalagi Syera cukup mendengar samar suara lembut seseorang merengek di seberang telepon, itu adalah suara wanita. “Besok aku ke sana, sekarang aku ada urusan. Kamu tenang saja, Sayang.” Tangan Syera terkepal pelan, ia sekarang bisa menebak siapa wanita di seberang sana. Sebagai seorang istri, tentunya ia merasa sakit jika mengetahui suaminya berbicara lembut kepada wanita lain. “Apa pun untuk kekasihku, besok aku pesankan untukmu.” “Jadi benar tebakanku, ya? Takia itu ... kekasihnya. Lalu kenapa dia malah menikahiku, kenapa bukan kekasihnya itu saja? Sebenarnya apa tujuan pria ini menikahiku?” geram Syera di dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN