“Mari kita lanjutkan.”
Syera diam, ia tak menyahut kalimat Moiz. Entah kenapa hatinya merasa kesal mengingat pria itu memiliki kekasih di saat mereka sudah resmi menikah.
Meski Syera sadar dirinya hanya seorang istri bayaran, tetapi sebagai seorang tetap saja hatinya merasa sakit. Syera seakan benar-benar tak dianggap sebagai manusia oleh Moiz.
“Aku benar-benar hanya barang di matanya? Barang untuk memuaskan nafsunya? Cih, pria b******k,” desis Syera di dalam hati.
Gyut ...
“Akhh, sstt.” Syera memekik ketika Moiz menggigit kulit lehernya.
“Aku tidak suka wanita yang bermain denganku malah melamun. Kau sedang memikirkan laki-laki lain?” desis Moiz membuat Syera terpaku.
Mata tajam Moiz membuat Syera merinding. Wanita itu meneguk salivanya pelan, lalu ia menggeleng. “Aku tidak memikirkan siapa-siapa.”
Moiz menyeringai, ia memirinkan kepalanya lalu mengangkat dagu Syera cukup kasar. “Aku tidak suka kebohongan, Syera! Kau kira kau bisa berbohong padaku? Kau pasti sedang memikirkan laki-laki lain, ‘kan? Oh, apa kau sedang membayangkan wajah pria lain saat akan bercinta denganku? Kau berfantasi bercinta dengan kekasihmu, iya?” tekannya.
Syera menggeleng cepat. “Aku tidak memiliki kekasih!” sergahnya.
Moiz menaikkan sebelah alisnya seakan tak percaya. “Oh, ya?”
Syera mengalihkan pandangannya ketika Moiz menatapnya begitu intens. “Aku tidak memiliki kekasih. Lagi pula, jika pun aku memiliki kekasih, saat aku sudah menikah dengan orang lain, aku pasti akan memutuskan hubungan kami. Meski pernikahan ini hanya pernikahan kontrak tanpa cinta. Aku begitu menghargai kata pernikahan.”
Moiz diam beberapa detik mendengar kalimat Syera. Setelahnya ia tersenyum miring, ia memainkan lidah di dalam rongga mulut.
“Apa kau sedang menyindirku, Sayang?” bisik Moiz dengan nada begitu rendah.
Syera kembali meneguk salivanya pelan ketika Moiz kembali mendekatkan wajah ke area lehernya. “A-ku tidak be—shttt enggh!”
Kalimat Syera terhenti dan berlanjut dengan erangan tertahan ketika Moiz melanjutkan aksi liarnya tadi. Syera kembali meremas kuat lengan kekar sang suami sembari menahan suara lenguhan.
“Aku tidak suka kau memiliki hubungan dengan laki-laki lain. Kau sudah menjadi istriku dan sepenuhnya milikku. Ingat, aku membayarmu, jadi jangan bagi tubuh ini kepada orang lain, karena aku tidak suka berbagi,” tekan Moiz di sela aksinya.
Syera diam, ia ingin sekali menyahut kalimat Moiz dengan rasa kesal seakan merasa tidak adil. “Jadi dia boleh memiliki kekasih di saat kami sudah menikah, begitu? Tidak adil sekali, mentang-mentang dia membayarku, jadi dia bebas?” celotehnya dalam hati.
“Paham, Syera?”
Syera terkejut ketika Moiz mendongak menatapnya dengan mata tajam itu. “Aku paham,” sahutnya pelan.
“Bagus.” Moiz berdiri tegak, lalu memandangi wajah cantik Syera. “Hanya kau yang tak boleh dekat dengan lelaki. Kau sepertinya tahu jika aku memiliki kekasih, dan hal ini sah.”
Tangan Syera terkepal, tetapi ia hanya bisa menahan kalimat protes. “Aku paham.”
“Good girl.” Moiz membalikkan badan. “Sekarang bantu aku membuka celana, aku ingin mandi dalam bathtub.”
Syera berusaha turun dari meja westafel yang cukup tinggi. Ia menghuyung kaki kecilnya.
“Eh, aaaa!”
Moiz terkejut, ia menoleh ke belakang saat mendengar suara pekikan Syera. Tepat saat Moiz berbalik, Syera sudah ambruk di kakinya.
Pemuda itu diam menatap Syera yang berada tepat di depan kakinya. Posisi wanita itu saat ini seakan tengah bersujud di kaki Moiz. Namun, hal fatalnya adalah kondisi celana Moiz sudah melorot karena Syera tak sengaja berpegangan pada celana tak berikat pinggang itu.
Syera diam cengo memandang celana di depan matanya. Perlahan ia mendongak dan melotot melihat sesuatu menonjol di balik celana dalam Moiz. Karena celana kerja Moiz sudah melorot, otomatis pria itu kini hanya pakai celana dalam, dan itu membuat Syera terpaku dengan wajah bodoh.
“Besar?”
Syera terkesiap mendengar suara berat itu. Ia menatap Moiz tengah tersenyum miring kepadanya.
Secepat kilat Syera langsung menunduk dengan wajah memerah karena malu. “Astaga, apa yang aku lakukan? Kenapa aku malah memelototi itu? Memalukan sekaliii!” jeritnya dalam hati.
Moiz berdecih mengejek tingkah Syera, ia tahu wanita itu kini tengah malu, sebab daun telinga Syera pun begitu merah. “Ingin melihatnya tanpa penghalang? Tarik saja celana dalam ini.”
Syera segera menggeleng, kepalanya semakin panas seakan asap keluar dari kedua lubang telinga. “Ak-aku akan segera keluar, airnya sudah aku siapkan tadi.”
Syera bergegas berdiri dan berlari cepat ke arah pintu kamar mandi. Baru saja tangannya meraih gagang pintu, tangan kekar Moiz sudah lebih dulu menarik pinggangnya.
Syera terkejut, ia menoleh ke belakang dan semakin dibuat terkejut saat Moiz mengungkung tubuhnya. Pria itu mendorongnya ke pintu dan menatap Syera dengan mata penuh makna.
“Kau sudah terlanjut membangunkannya, jadi tidak ada kata nanti untuk ini. Kita lakukan sekarang di sini,” bisik Moiz serak.
Napas Syera tercekat, ia kesulitan menelan ludah. “S-sepertinya itu ide yang kurang bagus. A-ku tida—”
“Tidak ada yang tidak bagus, semuanya bagus. Kau tinggal menikmati, aku yang akan melakukannya.”
“Aaa!” Syera memekik terkejut saat Moiz mengangkat tubuhnya ala bridal style.
Pria itu bergerak ke arah bathtub, Syera mulai tak tenang. Membayangkan dirinya akan segera diserang oleh binatang buas semacam Moiz, sudah membuat Syera keringat dingin.
“Punyanya tadi begitu besar, astaga, bagaimana caranya aku kabur?” batin Syera panik dan cemas.
Byur ...
Uhuk uhuk ...
Syera terbatuk saat hidungnya kemasukan air. Moiz dengan tidak berperasaannya malah melempar tubuh Syera ke dalam bathtub.
“Sungguh tidak romantis,” gerutu Syera kembali membatin kesal.
Meski kesal, rasa cemas dan waswas Syera kembali hadir saat melihat Moiz ikut masuk ke dalam bathtub. Ia baru saja jika dirinya sudah basah kuyup, tatapan mata Moiz begitu liar memandangi tubuhnya yang terlihat samar karena baju sudah basah.
Tanpa kata-kata, Moiz langsung menarik baju Syera dan merobeknya begitu saja. Syera terkejut, ia langsung menyilangkan kedua tangan di depan d**a saat dirinya sudah telanjang bulat.
Moiz tersenyum miring, ia semakin mendekat dan menarik kedua tangan Syera. “Apa yang kau sembunyikan, Sayang? Singkirkan tangan ini, aku ingin melihat milikku.”
“T-tapi, anu ... aku tadi—”
“Singkirkan tangan itu, Syera,” sela Moiz lebih menekan.
Syera menelan ludahnya kasar, dengan berat hati, ia melepaskan kedua tangannya yang menutupi d**a. Syera mengalihkan wajah yang sudah memerah, apalagi ia tahu jika mata tajam Moiz kini tengah memandangi asetnya tanpa berkedip.
“Aku tak menyangka, meski tak sebesar milik Takia, punya wanita ini lebih menarik. Entah kenapa, bentuknya lebih bulat dan lebih menggoda,” batin Moiz nakal.
Tanpa basa-basi lagi, Moiz langsung melangsungkan aksinya. Syera pun hanya bisa pasrah, ia sadar jika dirinya kini sudah resmi menjadi istri Moiz, dan semua hal yang mereka lakukan sekarang bukanlah sebuah larangan ataupun kesalahan.
“Emm—Moiz.”
Pergerakan Moiz sempat terkejut ketika Syera menyerukan namanya. Entah kenapa ia merasa ada gelenyar aneh menjalar di dadanya saat mendengar suara lembut Syera memanggil namanya.
Pemuda itu mendongak melihat Syera yang tengah menahan suara, wajah gadis itu memerah bak tomat. Syera menunduk, matanya tampak sayu dan hal itu semakin membuat gairah Moiz meningkat.
“s**t! Bagaimana bisa?” umpat Moiz menggeram. “Bagaimana bisa hanya dengan tatapannya aku jadi naik ke level tak tahan seperti ini?” sambungnya dalam hati.
“M-moiz.” Syera kembali memanggil Moiz yang dibuat semakin frustasi.
“Apa?” geram Moiz menahan suaranya.
“B-boleh aku pipis dulu? Aku rasanya ingin pipis,” cicit Syera serak.
Moiz terdiam, setelahnya ia menyeringai. “Ingin pipis? Pipis saja di sini, jangan bergerak jika kau tidak ingin aku semakin ganas,” desisnya.
“Shhh, t-tapi—”
“s**t, aku bisa gila!” umpat Moiz lagi. “Kenapa suaranya terdengar berbeda saat b*******h seperti itu? Nada manjanya begitu natural, tidak seperti Takia,” lanjutnya dalam hati.