8. Semena-mena

1668 Kata
Tak pernah terpikirkan olehnya, Syera akan menikah dengan cara seperti ini. Bagaimana mahkota berharganya sebagai seorang perempuan, diambil oleh suaminya dengan cara cukup ganas. Syera juga tak menyangka, malam pertamanya akan berlangsung begitu cepat. Syera sempat berpikir jika Moiz akan bekerja sampai larut malam, sehingga ia bisa tidur lebih dulu. Nyatanya, belum pukul sepuluh malam, pria itu sudah menerkamnya. Syera melirik Moiz yang baru saja keluar dari kamar mandi. Pria itu berjalan sembari menggesek handuk kecil pada rambutnya yang basah. Syera sendiri berada di atas ranjang, setelah selesai melakukan adegan malam pertama di dalam kamar mandi, ia langsung bersih-bersih dan bergerak ke atas ranjang. “Apa aku perlu cari kamar lain?” Moiz menoleh, ia mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel. Pria itu menatap Syera yang sudah duduk bersila di atas ranjang. “Dengan kau seperti itu, maka kau semakin terlihat sebagai wanita bayaran.” Moiz berdecih, Syera pun diam dengan tangan terkepal. “Lanjutkan apa saja selagi aku tidak melarang. Jadi tetap di sini selagi aku tidak menyuruhmu pergi.” Syera mengangguk, tangannya masih terkepal. Dadanya begitu sakit, ia seakan begitu terlihat seperti barang, mampu diusir kapan pun Moiz mau. “Kalau begitu, boleh aku tidur duluan?” Moiz kembali menoleh, ia tersenyum miring ke arah Syera yang masih menatapnya. “Rupanya kau cukup tahu diri, ya?” Syera hanya tersenyum pahit sembari menunduk. “Aku memang sadar diri, posisiku di sini sebagai apa. Jadi kamu tidak usah khawatir, aku tidak akan merasa menjadi nyonya di mansion ini.” Moiz mengangguk. “Baguslah kalau begitu.” Syera diam ketika Moiz melangkah mendekat ke arah ranjang. Tanpa kata-kata, pria itu membuang handuk yang tadi menutupi tubuh bagian bawahnya. Syera langsung mengalihkan wajah ketika tubuh Moiz tak tertutupi sehelai benang pun. “Apa-apaan dia? Dia belum pakai celana dalam, sudah main lempar handuk sembarangan di depan wanita,” batin Syera menggerutu kesal. Moiz tersenyum remeh melihat tingkah Syera saat melihatnya melempar handuk. “Kenapa mengalihkan wajah? Bukannya kau tadi sudah melihatnya secara jelas? Bahkan ini sudah sempat masuk ke dalam tubuhmu,” ejeknya. Kalimat Moiz yang terlalu frontal membuat pipi Syera memerah malu sekaligus gemas. Syera tak terbiasa membahas hal intim seperti ini, tetapi Moiz seakan selalu memancingnya dengan topik panas sebagai pasangan suami istri. “Ekhm, aku izin tidur lebih dulu.” Syera langsung membaringkan tubuh, tidur miring ke arah lampur tidur. Moiz memperhatikan itu sembari memakai pakaian dalamnya. Setelahnya ia bergerak naik ke atas ranjang, lalu menarik pinggang Syera, sehingga mengejutkan wanita itu. “Jangan tidur membelakangiku, aku bukan bawahanmu.” Syera diam mendengar kalimat Moiz kepadanya. Ia kembali memejamkan mata dengan posisi wajah menghadap d**a pemimpin mafia itu. “Tidur ‘lah, Syera. Meski kesal, lupakan semuanya. Tidur dengan tenang, dan anggap semua ini mimpi. Ah, tidak ... aku berharap semua ini memang mimpi. Aku ingin esok pagi saat aku terbangun, semuanya kembali seperti biasa, baik-baik saja. Kakek masih tenang di rumah sakit, pembayaran rumah sakit Kakek juga masih normal, jadi aku tidak perlu terlibat dengan predator ganas ini,” celoteh Syera di dalam hati. Entah karena terlalu syok akan semua perubahan alur kehidupannya. Syera kesulitan untuk tidur, meski ia masih memejamkan mata. Pikiran wanita itu berkelana, membahas semua hal di luar kendalinya. Syera merasa percuma selama ini ia membuat jadwal dan data alur kehidupannya. Sebab cukup dengan buku nikah antara dirinya dengan Moiz, diikuti oleh surat perjanjian pernikahan sebagai istri bayaran, itu semua sudah menghancurkan alur kehidupan bahagia impian Syera. “Tidak masalah, Syera, tidak masalah dengan semua ini. Ingat, Syera, kamu melakukan ini semua demi Kakek. Jangan menyesal dan jangan membahas ini lagi sebagai suatu kesalahan. Kamu melakukan ini demi Kakek. Jangan menangis, Syera.” Wanita itu kembali bermonolog di dalam hati, andai berbicara menggunakan mulut, mungkin bibir Syera sudah bergetar menahan tangis. Hati dan batinnya bersikeras menahan dan melarang dirinya untuk tidak menangis. Namun, semua larangan itu percuma, sebab air mata akhirnya tetap lolos. Meski mata Syera tertutup, air mata menyusup keluar dari pelupuk matanya. Moiz yang sedang bermain dengan benda pipih di tangannya, menoleh ketika melihat air mata Syera keluar di saat mata wanita itu tertutup. Tak ada tanggapan apa-apa dari Moiz saat melihat satu per satu butiran bening itu keluar, pemimpin mafia itu menatapnya tanpa ekspresi. “Sangat disayangkan kau harus menanggung semua ini. Salahmu kenapa terlahir dari keluarga Winola, dan menjadi satu-satunya anggota sehat yang tersisa. Andai kau laki-laki, sudah aku pastikan aku akan mengajakmu berduel mempertaruhkan hidup dan mati. Salahmu lagi, kau malah terlahir sebagai wanita, jadi jiwa ganasku sebagai pria membuatmu harus terkurung dalam labirin caraku membalas dendam. Tapi mungkin ... kau memang sudah ditakdirkan Tuhan untuk menjadi alat pembalasan dendamku,” batin Moiz seakan tak merasa iba. Kesulitan tidur dari tadi malam, akhirnya Syera terbangun dengan keadaan kepala sedikit berat. Tampaknya Syera tertidur karena terlalu lelah berpikir sembari menangis. Apalagi Syera menangis dalam diam, menahan suaranya supaya tak terisak dan tak mengganggu Moiz. Perlahan Syera bangun, ia mengernyit dan memperhatikan sekitar dengan kepala sedikit berdenyut. “Sshh, aku butuh obat pereda nyeri. Sepertinya sudah habis, nanti aku beli ke apotek sebentar,” gumam Syera. Berjuang sendirian untuk kehidupannya serta kelangsungan kehidupan sang kakek, membuat Syera sering kali kelelahan bahkan hampir setiap hari diserang sakit kepala. Hal itu membuat Syera bergantung pada parasetamol, selalu memiliki stok obat satu ini. Syera tahu jika mengkonsumsinya berlebihan dan sudah ketergantungan seperti itu sangatlah tidak baik. Namun, Syera tak punya pilihan lain, sebab keuangannya yang serba terbatas. “Ssh, aku akan mandi dulu, baru ke bawah menyusul Moiz. Sepertinya dia sudah lebih dulu bangun,” ucap Syera. Wanita itu bergerak ke arah kamar mandi sembari mengusap pelan keningnya. Seperti niatnya, setelah ia selesai mandi, Syera langsung bergegas ke lantai bawah. “Selamat pagi, Nyonya.” Syera tersenyum kepada para pelayan yang menyapanya dengan sopan dan ramah. Ia menoleh ke sekeliling, tak menemukan Moiz di sana. Bahkan di ruangan makan pun pria itu tak ada. “Moiz sudah berangkat kerja, ya?” tanya Syera kepada salah satu pelayan. “Iya, Nyonya. Sekitar 30 menit yang lalu Tuan sudah berangkat ke kantor, Nyonya.” Syera mengangguk. “Berarti dia sudah berangkat ke kantor saat aku terbangun tadi,” gumamnya. “Mari, Nyonya, kami sudah menyiapkan sarapan untuk Anda.” Syera menoleh dan tersenyum ketika para pelayan itu memberinya jalan menuju ruangan makan. “Terima kasih. Ah, iya, biasanya gerbang utama terima taksi online untuk masuk sampai ke teras, tidak?” “Taksi online, Nyonya? Tidak ada satu pun kendaraan yang bisa masuk ke dalam lingkup mansion ini tanpa ada akses khusus, Nyonya. Tuan sedari dulu begitu menjaga ketat mansion ini, jadi tidak boleh sembarang orang masuk ke sini, Nyonya.” Syera mengangguk paham. “Aku sudah menduganya, Moiz ‘kan seorang ketua mafia, mana mungkin mansion ini tidak dijaga begitu ketat?” gumamnya lagi. “Maaf, Nyonya, apa Anda memerlukan sesuatu sampai harus memesan taksi online? Harusnya Anda bisa menghubungi Tuan dan meminta izin kepadanya, supaya nanti gerbang dibuka untuk taksi online pilihan Anda.” “Ah, bukan hal penting juga, ha-ha.” “Apa Anda memesan sesuatu pakai taksi online, Nyonya? Jika iya, biar kami saja nanti yang bantu ambil ke gerbang utama,” ucap pelayan lagi. Syera tersenyum dan menggeleng. “Tidak, kok. Aku tidak pesan apa-apa. Tadi baru niat saja, sih. Aku sudah menduga tidak akan diizinkan masuk ke sini, jadi aku belum pesan. Aku niatnya pesan taksi untuk menjemputku ke sini buat berangkat ke kampus. Aku ada kelas 1 jam lagi.” “Moiz sudah mengatur mobil pribadi untuk Anda. Jadi tidak usah pesan taksi.” Suara berat seseorang mengejutkan Syera. Beberapa pelayan menunduk melihat kedatangan seorang pria terbilang tampan. Syera pun ikut berdiri dan menunduk sopan sebagai sapaan kepada pria itu. Ia bisa menebak jika jabatan pria itu di mansion ini mungkin juga tinggi, pasalnya seluruh pelayan dan pengawal menunduk hormat kepadanya. “Saya Frey, tangan kanan sekaligus sahabat Moiz.” Syera menatap uluran tangan pria di depannya. Perlahan Syera menyahut uluran tangan itu dengan senyum ramah. “Syera.” Frey mengangguk. “Moiz sudah menyiapkan mobil khusus untuk istrinya, lengkap dengan sopir pribadi. Jadi ke mana pun kau pergi, tidak usah memikirkan taksi atau apa pun itu. Tinggal panggil sopirmu, dia akan mengantarkan ke mana pun kau pergi.” “Ah, begitu? Aku tidak tahu, masalahnya Moiz tidak memberitahu apa pun,” balas Syera kikuk, “terima kasih, Tuan.” “Panggil saja Frey.” “Iya, terima kasih, Frey.” Frey melirik jam tangannya. “Katanya Moiz sudah mengirimkan nomor sopir pribadimu melalu chat. Kau cek saja ponselmu.” Frey bergerak ke arah lift mansion, meninggalkan Syera begitu saja. “Ah, Moiz tidak suka jika pesannya dibalas terlambat.” Syera tersenyum kikuk, ia segera meraih benda pipih yang sedari tadi ada di dalam tasnya. Ia melotot ketika melihat beberapa pesan masuk dan panggilan tak terjawab. Syera mengumpati kecerobohannya, karena ia lupa mengaktifkan nada dering, sebab terlalu biasa memakai mode silent. “Mati ‘lah, dua pesan 10 menit lalu dan dua panggilan tak terjawab dari Moiz. Dia benar-benar tidak suka chat-nya dibalas terlambat, ya?” gumam Syera ngeri-ngeri sedap. Belum sempat Syera membalas chat Moiz, ponselnya kembali berdering dan si pemanggil adalah Moiz. Berarti ini adalah panggilan yang ketiga dilakukan oleh Moiz, setelah 2 panggilannya tak terjawab beberapa menit lalu. Syera meneguk salivanya pelan, lalu menarik napas dalam, bersiap untuk mendengar amarah ketua mafia itu. Perlahan Syera mengangkat benda pipih itu ke arah daun telinganya. “Hall—” “Apa ponselmu itu hanya pajangan?” Syera meneguk ludahnya pelan, belum selesai ia menyapa, Moiz sudah menyela dengan suara rendah mengerikan. “M-maaf, aku lupa mengaktifkan nada deringnya.” Terdengar Moiz menggeram di seberang sana. “Anggap ini sebagai pelajaran utama untukmu. Aku tidak suka pesanku dibalas terlambat, apalagi panggilan teleponku tidak diangkat. Jika sampai hal seperti ini terjadi lagi, siap-siapa saja kau.” Syera merinding, merasa ngeri. “Aku paham, aku akan ingat ini ke depannya,” balasnya kaku. “Ke sini sebelum kau ke kampus. Aku tunggu 20 menit, kalau terlambat, kau terima konsekuensinya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN