9. Istri dan Kekasih

1568 Kata
Syera terdiam cengo melihat sambungan telepon itu dimatikan begitu saja. Ia ingin sekali mengumpati Moiz, tetapi apalah daya, dirinya tak memiliki keberanian sebab tak punya kuasa. “Hufft, sepertinya aku tidak jadi sarapan. Maaf, ya, aku harus berangkat sekarang.” Syera berdiri sembari berbicara kepada para pelayan, merasa tak enak karena mereka sudah menyiapkan makanan untuknya. “Eh, Anda buru-buru, Nyonya? Bagaimana kalau kami siapkan bekal saja? Biar kami siapkan, hanya beberapa menit,” ucap seorang pelayan begitu perhatian. “Ah, tidak usah. Aku akan pergi sekarang, maaf, ya, lain kali aku akan sarapan.” Syera tersenyum manis kepada para pelayan itu, lalu bergegas pergi ke luar mansion. “Ck, sebenarnya apa yang dia inginkan, sampai menyuruhku datang ke kantornya tiba-tiba begini? Aku bahkan belum sarapan, bagaimana aku bisa minum parasetamol kalau perutku belum terisi?” celoteh Syera di sela langkah cepatnya. “Mana mobil yang dia siapkan itu?” “Nyonya.” “Astaga!” Syera terkejut ketika seseorang muncul dihadapannya. “Maaf saya mengejutkan Anda. Tapi, apa Anda sudah ingin berangkat? Perkenalkan saya Putra, sopir pribadi Anda.” “Ah, iya, Pak Putra. Tolong antarkan saya ke kantor Moiz sekarang, ya,” balas Syera ramah. “Baik, Nyonya. Silakan masuk, Nyonya.” Putra membukakan pintu mobil untuk Syera. “Terima kasih.” Memang tak tahu apa tujuan dan niat Moiz meminta Syera datang terburu-buru seperti ini ke kantornya. Syera pun hanya bisa patuh karena ia tak dapat membantah. Bahkan wanita itu rela menahan lapar, apalagi kepalanya masih terasa berdenyut, ia belum sempat makan dan minum parasetamol. Syera melangkah cepat di koridor kantor mewah itu sembari melirik jam tangannya. Ia takut jika terlambat datang, bisa-bisa nanti Moiz mengamuk, pikirnya. “Pagi, Mbak. Ada Tuan di dalam?” Syera bertanya kepada sekretaris Moiz. “Pagi, ada, Nyonya. Mari saya bantu bukakan pintunya, Tuan sudah menunggu Anda, Nyonya.” Syera mengikuti pergerakan sekretaris Moiz yang sudah mengetuk pintu tinggi itu. Terdengar Moiz memberi izin untuk masuk, sehingga sekretaris itu membukakan pintu untuk Syera. “Terima kasih.” Syera bergerak masuk ke dalam ruangan Moiz, ternyata di sana ada 2 karyawan yang sedang menyampaikan laporan. Moiz melirik Syera sejenak. “Duduk.” Syera dengan patuh langsung mendekat ke arah Moiz dan duduk di samping pria itu. Ia diam mendengarkan Moiz membahas pekerjaan bersama 2 pria di seberang meja sofa. “Ck, sebenarnya kenapa dia memintaku ke sini? Dia saja sangat sibuk begini. Apa dia sengaja memintaku ke sini hanya untuk menontonnya bekerja?” gerutu Syera di dalam hati. Hampir 15 menit lamanya Syera duduk diam bak orang bodoh di antara 3 pria itu. Moiz tak mengajaknya berbicara sepatah kata pun sedari tadi, sebab pria itu tampak begitu sibuk mengurus proyek. Syera sendiri hanya bisa misuh-misuh di dalam hati, ia kesal karena datang sebagai patung memalukan seakan tak dianggap di sana. “Kalau begitu kami permisi, Tuan.” Moiz mengangguk menanggapi 2 pria yang berpamitan untuk keluar dari ruangan. Syera pun bernapas lega melihat pembahasan mereka selesai, sehingga ia bisa langsung bertanya tujuan Moiz memintanya datang ke sana. “Ada apa memintaku datang ke sini?” tanya Syera tanpa basa-basi. Syera hanya takut terlambat, karena sekitar setengah jam lagi ia ada kelas mengajar di kampus. Perjalan dari sana ke kampus saja sudah menghabiskan waktu belasan menit. Ia bahkan belum sarapan. “Buatkan aku teh.” Kening Syera berkerut. “Teh?” “Hem. Jangan terlalu banyak gula, airnya juga jangan terlalu panas, tapi juga jangan terlalu dingin.” Syera terdiam sejenak, lalu ia menghembuskan napas pelan. “Apa kamu memintaku ke sini hanya untuk itu?” Moiz mengalihkan perhatiannya dari lembaran kertas di atas meja. “Bukannya memang itu tugas seorang istri?” Syera ternganga, kemudian ia mengangguk kaku, menahan umpatan. “Iya, tapi tidak begini juga. Dia ‘kan memiliki banyak karyawan bahkan ada karyawan khusus untuk membuat kopi, teh dan sebagainya. Masa dia sengaja panggil aku buru-buru ke sini hanya untuk dibuatkan teh? Aku yakin, dia juga tahu kalau aku memiliki jadwal mengajar pagi ini,” celotehnya dalam hati. “Kenapa masih diam? Atau kau memang punya banyak waktu untuk menemaniku di sini?” Syera menoleh dan melihat Moiz yang sedang tersenyum miring ke arahnya. Wanita itu menghembuskan napas pelan, lalu ia berdiri dengan wajah terpaksa. “Teh biasa, teh hijau, teh melati atau teh apa?” tanya Syera menahan rasa kesal. “Teteh Sunda.” Syera bengong, mulutnya sedikit ternganga, kemudian ia melipat kedua bibirnya antara ingin marah atau ingin tertawa. “Ekhm, maaf, kamu tidak cocok untuk bercanda.” Moiz berdiri lalu bergerak ke arah kursi besarannnya. Lalu ia memandang Syera yang masih berdiri di area sofa. “Ke sini.” “Hah?” “Kau sudah tuli? Padahal masih muda.” Syera menggeram, ia kembali menghembuskan napas kesabaran. Perlahan gadis itu melangkah mendekat ke arah Moiz yang menunggunya di kursi kebesaran itu. “Jadi ingin teh apa?” tanya Syera mulai badmood. “Padahal dia bisa saja mengatakannya tanpa aku harus mendekat ke sini. Apa dia perlu membisikkannya juga?” sambungnya menggerutu di dalam hati. “Teh hitam.” Syera mengangguk. “Itu saja?” “Hem.” “Aku buatkan sekarang, ya. Aku ke bawah dulu.” “Ingat, jangan terlalu manis dan airnya jangan terlalu panas tapi juga tidak terlalu dingin.” Syera menoleh kebelakang dan tersenyum paksa. “Iya, aku paham.” Moiz tersenyum mengejek melihat langkah Syera begitu terburu-buru keluar ruangan. Ia tentu sangat tahu jadwal Syera pagi ini. “Cukup menyenangkan mempermainkannya begini. Jadi serasa punya babu pribadi.” *** Syera sempat tertidur di perjalanan pulang. Setelah selesai mengajar di kampus, Syera seperti biasa, datang ke rumah sakit untuk menemani sang kakek, bercerita meski tak mendapat tanggapan apa pun dari sang kakek. Selesai urusannya di rumah sakit, Syera kembali ke mansion Vaterham. Meski sejujurnya Syera begitu berat dan enggan bertemu lagi dengan Moiz, tetapi ia bisa apa selain menekan rasa tak sukanya itu. “Terima kasih, Pak. Untuk besok, aku akan berangkat lebih pagi, mungkin sekitar setengah 7 paling lambat. Jadi tolong bersiap sekitar jam itu, ya, Pak,” tutur Syera kepada sopir pribadinya. “Baik, Nyonya.” Syera tersenyum ramah, lalu bergerak masuk ke dalam mansion mewah itu. “Aku lelah sekali, ingin tidur sebentar sebelum senja dan waktu makam malam tiba. Sepertinya pria itu juga belum pulang, katanya dia sering pulang malam ‘kan? Bagus ‘lah.” Syera sangat berharap Moiz jarang pulang, supaya ia tak terlalu sering berhadapan dengan pria itu. Namun, semuanya tampak tak berjalan mulus. Baru saja ia mengira Moiz belum pulang dari kantor, ia sudah melihat keberadaan pria itu di ruang tamu mansion. Hal mengejutkannya bukan keberadaan Moiz, melainkan keberadaan seorang wanita seksi di atas pangkuan Moiz. Syera sempat terpaku beberapa detik melihat Moiz tengah berciuman dengan wanita seksi tersebut. Syera mengalihkan wajah, tangannya terkepal pelan, ia kembali melangkah seakan tak melihat keberadaan sepasang insan itu. “Apa itu kekasihnya? Tapi kenapa dia melakukan itu di sini? Dia tahu jika sudah ada aku di mansion ini, tapi dia tetap membawa kekasihnya ke sini, bahkan bermain seperti itu di ruang tamu? Sungguh keterlaluan, dia benar-benar tidak mengganggapku dan sangat mempermainkan aku,” batin Syera di sela langkahnya. Syera terdiam saat melihat tatapan para pelayan ke arahnya. Syera hanya bisa tersenyum tenang menanggapi tatapan sedih para pelayan untuk wanita cantik menyedihkan itu. “Sekarang kalian tahu jika aku bukan wanita beruntung seperti yang kalian pikirkan kemarin, bukan?” batin Syera tersenyum pahit. “Lihatlah, aku bahkan jauh lebih menyedihkan dari seorang wanita panggilan. Sudah sah menjadi seorang istri, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa saat melihat suami sendiri ciuman panas dengan wanita lain.” “Istri macam apa yang tidak menyapa suaminya ketika pulang?” Langkah kaki Syera terhenti ketika suara berat Moiz menyapa indera pendengarannya. Ia menoleh ke belakang dan melihat Moiz tersenyum miring ke arahnya. Posisi wanita seksi tadi bahkan masih berada di atas pangkuan pemimpin Theos tersebut, tetapi Moiz seakan menjadikan Syera sebagai istri kurang ajar. Syera berusaha tenang, ia tersenyum paksa ke arah Moiz. “Selamat sore, Moiz. Aku pulang, dan aku ingin ke atas untuk istirahat. Permisi.” Moiz tersenyum sinis melihat Syera melanjutkan langkahnya. Wanita seksi di atas pangkuan Moiz memandang Syera dengan tatapan tak suka. “Heh, kau tidak menyapaku?” Langkah Syera kembali terhenti mendengar suara itu. Ia menghembuskan napas pelan, lalu kembali membalikkan badan sembari menatap datar perempuan seksi di pangkuan Moiz. Syera akui wanita itu cantik dan tubuhnya berisi, bisa disebut idaman para lelaki. “Aku Takia, kekasih Moiz,” cetus wanita itu angkuh. Syera masih tenang, matanya memandang datar Takia yang tampak begitu angkuh. “Oh, iya, salam kenal, Nona Takia. Saya Syera, istri—yah istri Moiz, kekasihmu.” Moiz hanya diam, ia memilih memainkan ponsel tanpa ikut ke dalam percakapan dua wanita itu. Ia seakan tak peduli jika terjadi perdebatan antara istrinya dan kekasihnya. Apa ini bisa disebut pria b******k sesungguhnya? “Ambilkan aku air minum!” ucap Takia sinis. Syera mengerutkan keningnya, ia melirik Moiz yang menatapnya tanpa berekspresi. Setelahnya Syera menghembuskan napas pelan, lalu melirik jam tangan, ia sudah lelah dan ingin segera berbaring. “Maaf, Nona Takia yang terhormat. Aku lihat sudah banyak minuman di atas meja di dekat Anda. Tapi jika memang Anda masih haus, silakan minta kepada pelayan, karena di sini tidak kekurangan pelayan,” ucap Syera tenang. “Kau istrinya Moiz, berarti kau adalah pelayannya Moiz, jadi kau juga pelayanku, maka ambilkan aku minuman, cepaat!” jawab Takia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN