Syera tetap tenang menanggapi kalimat angkuh Takia. Moiz sendiri penasaran dengan tanggapan lanjutan dari dosen muda itu. “Istilah seorang istri di mata kau dan aku sangat berbeda, Nona Takia. Bagiku seorang istri bukan pelayan.” Syera menekan itu sembari menatap Moiz yang balik menatapnya. “Tapi tampaknya bagi Mioz aku memang pelayan, tapi—meski aku pelayan bagi Moiz, bukan berarti aku adalah pelayanmu. Maka hanya Moiz yang bisa memerintahku, bukan kau. Saya permisi.” Moiz cukup terkejut mendengar ujaran Syera, sebelum akhirnya ia tersenyum miring. Ia terus memandang pergerakan sang istri ke arah lift mansion. Berbeda dengan Takia, ia sudah menggeram marah karena merasa kalah dari Syera. “Sayang, kenapa kamu diam saja? Ayo panggil lagi dia ke sini, dan minta dia untuk membuatkan minuma

