14. Moiz Marah

1922 Kata

Syera sengaja bangun pagi-pagi, niatnya supaya tidak bertemu dengan Moiz. Wanita itu terus memandangi wajahnya di cermin, ia menggerutu karena matanya membengkak. “Ck, kenapa juga aku harus menangis tak jelas tadi malam? Apa untungnya, Syera? Lihatlah sekarang mata jadi bengkak begini, sungguh memalukan. Astaga, bagaimana ini?” Syera terus berceloteh kesal pada dirinya sendiri. Tadi malam hatinya tak bisa ditenangkan. Rasa sakit hati bercampur amarah, membuat Syera menangis tanpa sadar. Sekarang ia menyesali aksi bodohnya itu. “Menangisi pria yang bahkan tidak memikirkanmu sama sekali. Dia juga tidak menganggapmu manusia, apa lagi?” gerutu Syera lagi. Syera keluar dari kamar setelah mencoba menyamarkan matanya yang bengkak. Sekarang ia berjalan cukup cepat ke arah dapur. Ia melirik jam

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN