“Hai, bagaimana kondisi Anda, Tuan Winola?” Moiz tersenyum miring menyapa Desmond yang sudah melotot seakan ingin bersuara. “Ah, harusnya sekaranng aku menyapamu dengan panggilan ‘kakek’, bukan? Selamat pagi, Kakek.” Desmond tak menyahut apa-apa, ia bahkan tak mampu bergerak. Pria tua itu hanya bisa menggerakkan bola matanya, menatap tajam ke arah Moiz. Melihat tanggapan itu, Moiz menyeringai, tampak begitu senang. “Kurang ajar, pria kurang ajar. Biadab, sungguh keterlaluan dia menyeret Syera ke dalam konflik ini. b******k kau, Moiz Vaterham. Kau menjadikan cucu tunggalku sebagai istri, Syera harus bisa bahagia, cucuku harusnya mendapat suami baik yang mencintai dan menyayanginya,” geram Desmond dalam hati. Apalah daya, Desmond tak mampu berbuat apa-apa. Ia terbaring tak berdaya di ranj

