12. Weekend Night

1247 Kata
Karena Moni sudah berkontribusi dalam kelangsungan pekerjaan Cakka, ia lantas mengajaknya untuk makan malam di sebuah kedai yang tidak jauh dari lokasi akademi musiknya. Jadi, keduanya berjalan kaki bersama sambil membuka obrolan tentang musik. “Aku sudah aktif di band waktu SMP,” ujar Cakka. “Semakin lama, aku semakin cinta sama musik.” “Wah… Kalau dilihat, Kak Cakka ini menguasai banyak alat musik.” Cakka tersenyum, melirik Moni yang jauh lebih pendek darinya. “Nggak semua juga. Aku nggak begitu jago biola. Aku belum pernah coba saxophone.” “Hampir, lah, ya… hampir semua.” Pria itu tersipu. “Ya, gitu, deh.” Kemudian keduanya telah sampai di kedai pecel lele yang bisa dibilang lokasinya cukup modern dan kekinian—berbeda dari situasi warung pecel lele pada umumnya. Tampak lebih homey dan nyaman. “Kamu doyan pecel lele, kan?” Cakka memastikan sebelum mereka masuk lebih dalam. Moni tertawa. “Aku ini pemakan segalanya.” “Omnivora, dong?” kekeh Cakka yang membuat gelak tawa Moni semakin meledak-ledak. Setelah memesan, keduanya duduk di tempat paling ujung—di bawah lukisan-lukisan abstrak di dinding yang cukup menarik perhatian. Moni pun memotret beberapa sisinya untuk lain kali makan bersama Nada. “Kalau Kak Cakka udah segitu lamanya tumbuh bersama musik, pernah debut band gitu, nggak, sih?” tanya Moni penasaran. “Pernah. Tapi nggak berhasil.” Cakka menertawai kenangan lawas. “Ah…” “Kita ada keluarin single, tapi nggak sukses.” Moni mengangguk mengerti. Sebab, merintis di dunia seni juga tidak semudah itu. Sama halnya dengan bisnis. Semakin ada backingan besar di belakang, semakin potensial. Cakka juga mengisahkan jika latar belakang keluarganya memang seni, tetapi semua tumbuh di antara seni dan akademisi—seperti sang kakak yang merupakan arsitek sukses. Dan kedua orang tuanya yang seorang dosen di bidang arsitektur dan seni rupa. Tidak ada satupun yang mengambil jalan sebagai seniman seutuhnya. Hanya Cakka. Tapi ia juga belum berhasil. “Ah, aku malah jadi jual kisah sedihku,” ungkap Cakka. “Enggak… bukan kisah sedih, kok. Kita bisa berbagi pengalaman tanpa harus berbicara ke luar selain kita.” Moni berusaha mencairkan suasana. “Toh ini sesuai sama bidang kita.” “Masa, sih?” “Iya. Dan yang paling bikin aku kaget lagi… kalau kamu ternyata Om-nya Koa.” Cakka juga ikut terheran-heran betapa benang merah takdir itu sangat kasat mata, tetapi saling mengikat satu sama lain. Ia juga mengisahkan bagaimana Cakka mengetahui Moni sebelum bertemu dengan Moni. Itu semakin membuat perempuan tersebut takjub dengan cara kerja takdir. Kemudian pelayan membawakan makanan mereka. Moni dengan ikan lele goreng, serta lalapan dan sambal. Sementara Cakka memesan ayam penyet. “Beuh! Baunya aja gurih, loh, Kak!” seru Moni terperangah. Cakka tertawa karena ia sangat menggemaskan, kemudian mereka makan bersama dengan sangat lahap. “Oya… kamu sendiri punya suara sebagus itu, kenapa nggak coba ikut ajang?” tanya Cakka penasaran. “Uhmm…” Moni tertegun sejenak menghentikan aktivitas mengunyah. “Aku sempat demam panggung.” “Oya?” kaget Cakka—sebab, Moni terlihat seperti sosok yang penuh semangat dan percaya diri. “Iya. Aku pernah ada di posisi itu sejak kelas 12.” Ia mengingat trauma besarnya tampil di hadapan orang setelah pengakuan cintanya pada Clef. “Tapi pas kuliah semester 6, aku mulai bangkit pelan-pelan sampai akhirnya aku jadi guru dan menerima job sebagai freelance-singer. Itupun jadi penyanyi freelance baru tiga tahun belakangan.” “Ternyata… semua orang emang beneran punya titik terendahnya masing-masing, ya.” “Itu pasti. Walaupun itu bukan titik terendahku.” Moni tersenyum penuh arti. Cakka juga memahami dan tidak mencecarnya untuk bercerita. Lagi pula ini pertemuan pertama mereka dalam jangka waktu yang panjang. “Aku juga. Gagal di band juga bukan titik terendahku.” “Tapi sekarang akademimu udah lumayan rame sampai kamu kewalahan. Ngelihat situasinya, kamu kaya mulai dulu dari sederhana,” kata Moni. “Dulu besar. Besar sekali. Tapi menjadi kecil seiring waktu.” Cakka tekekeh. “Namanya juga bisnis.” Moni mengangguk-angguk sambil menikmati makannya. “Pasti dan sekarang mulai naik.” “Semoga walaupun aku agak kewalahan.” Drrt… drrt… Moni yang sedang asyik makan itu menoleh pada ponselnya yang tergeletak di atas meja. Tampak barisan nomor asing itu terus meneleponnya. Sempat mengabaikan, tapi Cakka menyarankan untuk Moni menjawab. “Kayanya dia nggak akan berhenti kalau nggak kamu angkat, deh.” ^^^ Mata Clef berbinar saat akhirnya teleponnya berhasil diangkat. “Oi, Momon!” “Kenapa?!” Perempuan itu memekik kesal. “Gue telepon lo dari pagi nggak dijawab-jawab. Lo di man...” Belum sempat Clef melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba nada suara Moni yang semula tinggi dan penuh penekanan, kini menjadi lembut dan merdu sekali. “Ah… maaf, saya kirain temen saya. Uhm? Kalau gitu nanti saya telepon lagi, ya, untuk detail acaranya. Terima kasih, selamat malam.” Selama Moni berucap panjang lebar dengan lembut tanpa adanya spasi ataupun celah untuk Clef menyanggah, pria itu hanya melongo sambil melepaskan tanda tanya di sekitar kepala. Kemudian saat panggilan ditutup sepihak oleh Moni, Clef memandingi layar ponselnya dengan kening yang berkerut. “Apa ini? Dia kenapa, sih?” Clef bergidik ngeri. Lantas menghempaskan napasnya kasar sambil menunggu sang ibu di restoran Jepang mewah. “Harusnya gue nggak heran sama yang kaya gini. Momon belum berubah. Dia masih gila.” Clef tiba-tiba membayangkan seluruh keanehan Moni di masa lalu. Di suatu waktu, Clef pergi ke ruang kesehatan sekolah setelah sempat terkilir saat latihan basket. Namun di tengah momen saat dirinya beristirahat, ia mendengar suara dengkuran yang kencang sekali. Karena penasaran, Clef membuka satu tirai di sampingnya yang ternyata suara itu berasal dari Moni. Clef tertawa. Bagaimana orang sakit bisa tidur selelap itu. Dengan iseng, Clef mengambil beberapa tisu dan ia masukkan ke dalam mulut Moni yang terbuka itu. Memang suara dengkuran itu terhenti, tapi akhirnya tisu itupun terlempar dari mulut Moni sehingga Clef semakin memecahkan tawanya dan gadis itu terbangun. “Apaan, sih, ganggu-ganggu?!” “S-sorry.” Clef berusaha menahan tawanya dengan lebih perhatian. “Lo sakit apa?” “Sakit apanya? Gue sehat, nggak pernah sakit. Sembarangan lu kalau ngomong.” Moni justru menyembur. “Trus lo ngapain di sini?” “Dah, lah, jangan ganggu! Gue mau tidur siang. Capek banget tau beresin lapangan basket sendirian.” Clef bisa mengingat rentetan momen itu dengan rapi di kepalanya sampai sekarang. Ia masih tertawa, lalu menggumam, “Cewek gila.” “Kamu udah lama nunggu?” Clef menoleh, menemukan sang Ibu yang baru datang. ^^^ Kini Cakka dan Moni sudah sampai kembali di depan akademi musik tersebut setelah kenyang makan malam. Mereka lantas berpamitan untuk satu hari yang menyenangkan itu. “Hati-hati di jalan, ya,” kata Cakka. “Oke…” Kemudian Moni menghentikan langkahnya. “Kak…” “Ya?” Moni mengedarkan pandangan ke gedung Riff’s Music Academy. “Tempat les ini kemungkinan akan semakin sukses ke depannya.” “Ah… Makasih, kata-kata baiknya.” “Aku beneran. Jadi, kalau kamu belum menyiapkan apa-apa, barangkali butuh bantuan, aku dengan senang hati, loh. Tadi kita udah tukeran nomor juga, jadi kamu bisa hubungin aku.” Cakka merasa sangat senang dengan kemurahan hati Moni, tapi ia juga tidak enak. “Aku serius.” Moni menegaskan. “Seenggaknya aku bisa ngajarin vokal. Nggak dibayar juga nggak apa-apa. Kecuali kalau udah beneran settle, baru kamu bayar aku.” Ia menaikkan satu alisnya. “Sesama seniman yang masih punya impian harus saling bantu.” Sementara itu, Cakka tidak bisa memberikan respons apapun selain hanya tertawa. Moni sangat menyenangkan dan menghiburnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN