bc

Cegil Addicted!

book_age16+
144
IKUTI
1.7K
BACA
opposites attract
second chance
confident
boss
sweet
bxg
city
office/work place
childhood crush
disappearance
enimies to lovers
secrets
love at the first sight
polygamy
widow/widower
like
intro-logo
Uraian

"Lagu tadi gue kasih spesial buat, lo, Clef." Moni gadis urakan yang kerap membuat rusuh di sekolah itu dengan berani dan hati yang berdebar, mengungkapkan perasaannya di hadapan banyak teman-teman seangkatan saat malam api unggun di acara sekolah.

Dan semua yang terjadi setelah itu membuatnya ingin menghapus segala yang pernah terjadi di masa SMA. Bagi Moni, masa itu adalah masa yang paling menyebalkan dalam hidupnya. Ia memutuskan untuk jadi diri yang baru. Tapi dia tetaplah Moni yang tak pernah lelah mengejar cinta. Kali ini duda nelangsa yang sangat baik hati seperti Cakka--agaknya julukan CEGIL sangat melekat padanya--Mereka punya kesenangan yang sama bersamaan dengan datangnya sosok Clef dari masa lalu.

Sikap Cakka membuat Moni terlalu percaya diri tanpa memikirkan kemungkinan dirinya kembali patah hati--Moni suka sekali jatuh cinta pada lelaki yang tidak mencintainya dan tak melihat Clef yang sedang mendekat padanya.

Akankah Moni berhenti menjadi Cakka? Atau justru membuka hati untuk Clef yang tiba-tiba datang? Dan apa alasan Clef kembali?

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Perpisahan
Lima bulan lalu. Dering ponsel itu tak memberikan jawaban. Sudah berulang kali pria pemilik tinggi badan lebih dari 180 senti itu menghubungi sang istri yang tak kunjung pulang di saat hujan juga belum mereda. Dan hari sudah semakin larut. “Dia ke mana? Gimana kalau kejebak di suatu tempat?” Betapa khawatir Cakka di saat seperti ini. Ia terdiam di ruangan tengah yang remang. Kakinya bergerak tak karuan sebagai bentuk kegelisahannya. Sempat menghubungi salah satu rekan kerja sang istri yang kebetulan nomornya ia simpan. Tapi dia tidak bersamanya. Hingga pada akhirnya, Cakka mengenakan jaket zipper, memilih untuk menyusul ke tempat kerja. Setidaknya dari sana, ia bisa menelusuri keberadaan sang istri. Cakka mengendarai mobil lawasnya, menembus hujan yang masih deras di pukul sepuluh malam. Meski begitu, jalanan Ibu kota masih terasa sesak. Sempat membuat Cakka tidak sabar. Ia beberapa kali mengumpat karena ulang pengendara yang seenaknya. Lantas turun dari mobil tanpa pelindung hujan. Membiarkan tubuhnya diguyur hujan sambil berlari ke sebuah gedung. Di mana di lantai 8 adalah lokasi kantor istrinya. Bahkan gedung sudah sangat sepi. Kemudian Cakka meminta bantuan satpam untuk mengantarnya mencari sang istri. Lantai delapan sangat sepi dan gelap. “Kayanya udah pulang. Tapi mungkin mampir dulu, kali, Pak. Udah pada dimatiin ini lampunya,” kata Pak Satpam saat menapaki lantai delapan yang sunyi dan gelap. Cakka tertegun. Kemungkinan tersebut sangat besar. Tapi entah mengapa, kakinya ingin bergerak maju. Hanya ingin. Tanpa alasan. Kemudian mengitari beberapa tempat sampai satu pandangan membuatnya membeku. “Gimana, Pak?” Pak Satpam mendekat. “M-mungkin di sana!” Cakka menunjuk arah lain secara spontan demi menghentikan lampu senter yang dibawa petugas tersebut. “Bapak ke sana, saya ke sini.” “Trus…” “Saya pakai HP.” Ketika Satpam tersebut menjauh. Cakka perlahan-lahan mendekat untuk memastikan sembari berharap apa yang dilihatnya salah lantaran dalam kondisi gelap. Sayangnya, apa yang dilihat benar adanya. Cakka tercekat. Matanya yang bulat itu semakin membelalak. Hatinya hancur bagai dibentur godam saat menemukan dengan mata kepalanya sendiri bahwa sang istri telah mendua. Bercum8u dalam kegelapan dengan pria lain. Cakka bisa langsung mengenalinya dari kemeja yang dikenakan perempuan berambut pendek tersebut. Kemeja yang Cakka hadiahkan untuk sang istri di ulang tahunnya tiga bulan lalu. Cakka bagai hidup di tengah mimpi buruk. Seperti nyata tapi seperti halusinasi. Entahlah. ^^^ Cklek… Perempuan berambut bob pendek itu memasuki sebuah unit apartemen yang sunyi. Remang lampu-lampu menyambutnya di tengah suara hujan yang menggema di luaran sana. Ia melepas sepatu, lalu masuk ke ruang tengah menuju kamarnya. “Ya ampun!” serunya saat menemukan sosok yang terduduk di atas lantai depan sofa. “Kamu ngapain di sini malam-malam begini, Yang?” Cakka yang tertunduk lesu itu pun mengangkat kepalanya pelan. Menatap sang istri dengan kelopak matanya yang sangat berat. “Kamu kenapa basah kaya gini?” Perempuan itu melempar asal tas-nya. Mendekat pada Cakka. “Kamu dari luar?” “Kamu sendiri?” “Aku?” “Kamu sendiri kenapa baru pulang? Kamu nggak ngabarin aku.” Perempuan yang terlihat elegan dengan pakaian kantornya itu mengedipkan matanya berulang kali. “A-aku lembur di kantor. Aku udah chatt, kan?” “Udah. Tapi lembur apa sampai jam sebelas gini?” “Aku…” “Aku udah tau semuanya, Citra.” Citra melebarkan matanya. Tampak kegelisahan mengelilingi bola matanya yang gelap. Kemudian diiringi air mata Cakka yang leleh begitu saja. “Kamu kenapa, Yang?” Citra mengusap wajah Cakka. “Kita sudah menikah enam tahun. Dan kita belum dikaruniai anak. Apa itu yang terburuk buat kamu?” “K-kamu ngomong apa, sih?” “Pengkhianatan adalah perusak hubungan, Citra.” “Yang…” Tangis Cakka semakin tak terkendali. “Kamu pikir aku basah-basahan gini kenapa? Kenapa?!” Ia menjerit di akhir kalimat. “Ayang…? K-kamu ke…” “Iya. Aku ke kantor. Aku melihat semuanya!” pekik Cakka. “Kamu tau? Aku nahan banget pengen mukul kamu. Tapi aku nggak bisa melakukan itu ke perempuan.” Citra hanya bisa tergugu dalam diam. Ia juga tidak tau harus berbuat apa karena malam ini adalah malam yang tak terkendali baginya. Sulit untuk mengelak. Cakka menjerit, “Aku bilang aku sedang menabung untuk IVF! Aku mengumpulkan uang untuk itu! Tapi kamu malah berbuat sama yang lain?” “Kamu salah, Cakka! Aku nggak berharap bisa punya anak sama mer…” “Tapi apa?!” Cakka sampai melotot. “Aku selalu pulang tepat waktu. Buat apa kamu lari ke orang lain?! Aku juga udah bilang kamu nggak perlu kerja. Gini, kan, jadinya. Banyak setan di luar sana!” Citra kemudian berdecih. “Kalau aku nggak kerja? Gimana hidup kita jalan? Kamu pikir, dong. Pekerjaanmu nggak tetap.” “Apa? Buka les musik?” Citra terkekeh. “Les musikmu juga mulai sepi! Kebutuhan kita banyak!” “Sepi itu ujian. Tapi aku tetap berusaha!” Cakka emosi. “Harusnya kamu turunin gaya hidupmu. Toh, sehari-hari bisa aku penuhi!” “Sakit, Citra! Sakit!” Cakka memukul dadanya. “Kalau kaya gini, pasti nggak cuma sekali selama pernikahan kita. Iya, kan?!” “Makanya kamu dengerin aku dulu!” “Akan lebih baik kalau aku nggak ngelihat langsung!” Cakka frustrasi. “Kita sudahi sampai di sini,” lanjutnya. “Cakka…” Citra menahannya. “Aku tau aku keterlaluan. Tapi, kamu nggak boleh ambil keputusan saat…” Cakka yang dikenal memiliki hati yang hangat, mudah luluh, seketika berubah menjadi sosok yang tidak mudah goyah, sehingga mengejutkan Citra. Cakka tidak bisa lagi dirayu dengan apapun. Ia tidak bisa memberikan toleransi terhadap pengkhianatan. Membawa kasus ini ke pengadilan agama. ^^^ Lima bulan setelahnya… “Cakka jemput anak gue di sekolah, ya. Gue pulang sore.” Selepas perceraian, Cakka tinggal bersama kakak perempuannya yang juga seorang janda. Suaminya meninggal tiga tahun lalu. Pria tampan pemilik mata bulat itu menunggu keponakannya di tempat parkir sekolah swasta yang cukup elit. Namun berangsur sekolah sepi, keponakannya tak kunjung muncul. Ia lantas mendekat ke gedung. Lantas mendengar sayup-sayup suara nan indah. Cakka mendekat lagi ke sebuah kelas yang ada di lantai bawah tersebut. Dari balik jendela, ia bisa melihat seorang perempuan bersuara emas. Rambut panjang yang dikuncir setengah, poni di kedua sisi dahinya. Ia juga mengenakan dress sepanjang tiga perempat berwarna coklat dengan lengan putih bercorak bunga yang juga panjang, krah lebar yang membuatnya tampak sangat rapi dan manis. Meski tak begitu terlihat seperti apa rupa detailnya, tapi Cakka yakin dia sangat cantik. Teduh perempuan itu menyentuh sanubarinya. Caranya bernyanyi, caranya mengajar, caranya tersenyum. Itu memikat. “Kalian bisa ngikutin, Miss?” tanyanya pada anak-anak remaja tersebut. “Bisa!” “Oke… satu, dua, tiga…” Perempuan itu memberikan aba-aba yang dilanjutkan nyanyian merdu dari para murid. Tanpa sadar, senyum Cakka melebar. Satu lubang tampak sangat jelas di pipi kanannya. Mata bulatnya yang selalu gelap, kini mulai berangsur berpijar. Tak salah bilamana murid-murid remaja tersebut sangat bersemangat walau di akhir jam kelas mereka. Perempuan itu terlihat sangat menyenangkan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook