Cewek Gila—agaknya itu menjadi julukan yang tepat untuk Moni.
Harmoni Celisa, guru musik di Ador International Junior High School. Dia selalu berpenampilan coquette dengan mengenakan dress panjang dan lucu. Warnanya juga seringkali pastel. Sehingga menonjolkan sisi feminin dan hangatnya melalui pilihan busana.
“Nada… Nada…” Moni keluar dari kamarnya. Menunjukkan penampilannya pada sang kawan. “Gimana?”
Moni mengenakan rok floral berwarna soft pink, kaus putih polos yang dirangkap blazer pink polos. Ia juga menggunakan ikat rambut pita yang di kepalanya. Tak lupa dengan sneaker senada dengan sedikit corak putih serta tas putihnya.
“Auh!” Nada menggeleng.
“Kenapa?”
“Lo mau ngajar kaya gitu?”
Moni tampak bangga dengan penampilannya. Ia beputar-putar, mengkhayal seperti seorang putri negeri dongeng. “Lucu, kan? Gue kelihatan sedikit lebih elegan tapi tetap manis.”
Diam-diam napas Nada melena mengembus. Ia bahkan sampai meletakkan segelas kopi paginya itu ke atas meja makan. “Lo selalu nyentrik gini, emangnya ada murid yang lo taksir?”
“Gila, lo!” cerocos Moni. “Murid-murid gue baru aja puber. Ya, kali!”
“Ini adalah identitas gue. Ini cara gue mengekspreksikan diri. Dengan begini, murid-murid gue akan lebih dekat dan jadi mudah diatur. Ini adalah definisi guru yang hangat,” lanjut Moni mengedipkan sebelah matanya, lalu memainkan rambutnya.
Moni dan tingkahnya selalu membuat Nada terkaget-kaget setiap harinya meski sudah bersahabat sejak SMA dan tinggal bersama sejak di bangku kuliah.
“Dia effort banget buat ‘tampil’, tapi nggak ada yang dituju,” gerutu Nada saat Moni kembali ke kamar. “Mending kalau ada cowok, lah… dia aja jomblo dari lahir.” Ia kemudian terkekeh. “Kalau dulu udah ada istilah cegil, dia dutanya. Duta Cegil Nasional.”
“Ganti warna earth tone sekali-kali, napa?” seru Nada.
“Diem, lo!” pekiknya dari kamar.
“Lagian besok hari minggu, lo ngapain ‘tampil’ sekarang?” Nada berseru lagi sambil menyeruput kopinya lagi.
“Siap-siap aja.”
Nada menggeleng heran sambil mengunyah roti tawar. “Mending lo siapin baju buat datang ke reuni besok.”
Moni tak langsung menjawab, tapi ia menghampiri Nada. Kali ini sudah dengan baju berbeda. Namun tetap dengan gaya yang serupa. Matanya membelalak, membuat kawannya itu tersentak.
“Gue udah bilang berapa kali kalau gue nggak mau datang, hah?!” tegasnya.
Nada terkekeh. Pasalnya, Moni selalu saja menentang reuni SMA. Dia tidak pernah hadir. Setiap ditawari pun selalu marah. Tapi itu sangat lucu di mata Nada.
“Gue kasih tau, ya. Mau lo datang atau enggak… mantan crush lo itu nggak bakal datang juga.”
Moni menarik satu kursi di samping Nada. “Tapi bocah tengik itu udah bikin malu gue di hadapan teman seangkatan. Jadi, masalahnya bukan cuma ‘dia’, tapi muka gue, harga diri gue.”
Perempuan berambut panjang yang selalu tampil menawan itu menghempaskan napasnya kasar saat mengingat dan selalu teringat momen menyebalkan saat SMA. Bahkan saat orang-orang merindukan masa-masa di tingkat itu, Moni ingin menghapus sepenuhnya.
Di sebuah lapangan di malam yang terang, seluruh kelas 12 berkumpul di sana menikmati pertunjukkan setelah malam api unggun. Moni—gadis urakan bersuara emas itu pun akhirnya unjuk bakat. Dengan penuh percaya diri, ia ingin bernyanyi demi mendapat perhatian dari anak baru yang tampan dan terkenal social butterfly itu.
Rambut pendek ikal, wajahnya yang kusam tidak terawat. Secara visual, Moni memang sangat payah. Begitu juga soal sekolah. Meski begitu, ia punya jiwa yang sangat bergejolak soal cintanya. Cinta pertamanya.
Semua memberikannya pujian atas suara emas tersebut.
“Lagi! Nyanyi lagi!”
“Gue bakal nyanyi lagi. Tapi lagu ini aku persembahkan untuk seseorang.”
“Woah…”
“Gila. Siapa?”
“C-Clef… Gue suka sama lo.”
“Hah? Gila. Emang Clef yang kaya berlian itu mau sama cewek dekil begitu?”
Moni bernyanyi dengan percaya diri, wajahnya bersemu sebagai salah satu pengungkapan cintanya yang berakhir jadi bahan olok-olokkan satu angkatan. Apalagi pemuda itu menertawakannya seolah Moni sangat menjijikkan.
“Aakh!” Moni mengacak-acak rambutnya setiap teringat memori tersebut. Rasanya sangat menjengkelkan.
“Setiap gue ikut reuni, nggak pernah ada yang bahas itu.” Nada berusaha meluluhkannya.
“Kalau muka gue ada, mereka pasti bakal ingat.”
“Jadi, hari libur lo cuma di rumah aja. Sendirian?” Nada memastikan.
Moni menggeleng. “Lo pikir gue nggak punya kesibukan? Gue mau nyalon.” Ia menjentikkan jemarinya yang berkilau itu. “This is the way I love my self.”
Seketika Nada tergelak. “Ya, iyalah lo self love, soalnya nggak ada yang love elo!”
Seri di wajah Moni seketika menghilang. Berubah menjadi tatapan maut. “Di rumah ini banyak kaca. Coba lo ngaca!”
Nada masih saja mengejek. Tawanya semakin meledak-ledak. “Seenggaknya gue pernah mencintai orang yang cinta sama gue. Dari pada elo… sukanya sama cowok yang nggak suka sama lo.”
“Issh…”
Belum sampai Moni memukulnya, Nada sudah berlari terbirit-b***t ke dalam kamar. Ia sudah memperhitungkan pergerakan kawannya demi menghindar.
“Liat aja… di umur yang 27 tahun ini gue akan dapat yang sama-sama cinta,” gerutu Moni dengan percaya diri.
^^^
Reuni SMA Bakti Bangsa angkatan 2014 diadakan di sebuah kafe bergaya industrial dengan bangunan yang luas, sehingga bisa menampung banyak pengunjung. Dan kafe tersebut dikelola oleh salah satu alumni tersebut.
Tambahan elemen industrial seperti pipa ekspos, dinding bata, dan furnitur logam untuk menciptakan suasana kafe yang kasual dan trendi. Dan Nada hanya datang sendiri menyapa teman-temannya dengan antusias.
Acara sudah dibuka, kemudian seseorang datang terlambat.
Kedatangannya menjadi pusat perhatian. Bukan hanya karena keterlambatannya, tapi ada cahaya yang selalu mengitari dirinya. Tak pernah berubah. Dia tetap tampan dan semakin tampan. Kaki jenjang. Postur tubuh yang bagus. Wajah yang sempurna dengan basic outfit yang rapi, namun terlihat santai.
Sekilas dia tampak dingin.
“Clef?”
Saat namanya dipanggil, senyumnya begitu menyenangkan. Matanya melengkung lucu bagai bulan sabit. Dia begitu heboh menyapa seluruh kawannya dengan semangat.
“Hai, semuanya!”
“Apa-apaan?” Semua kaget.
Clef duduk di satu tempat, tepat di samping ketua angkatan. Menyilakan rambutnya ke belakang dan duduk dengan santai. “Maaf gue nggak konfirmasi sebelumnya. Tapi gue boleh join, kan?”
“Boleh, lah!”
Bahkan sampai detik ini, Nada masih terkejut. Ia belum bisa mencerna situasi saat melihat anak baru paling hits.
“Lo lagi balik ke Indonesia buat liburan atau apa?”
“Ah… ada yang harus gue urus,” jawabnya.
Kemudian acara berlanjut hingga makan-makan. Tampak mata Clef berpendar seperti mencari sesuatu.
“Clef, lo ingat gue?” tanya seorang wanita yang menghampirinya.
“Uhm?” Clef tampak menerawang. Dan berakhir meminta maaf karena ia tidak bisa mengingat.
“Parah, ih. Gue satu kelompok piket sama lo. Kita pernah kabur waktu disuruh kepala sekolah!”
“Ah… Sintya?”
“Iya bener.”
“Bilang namanya, dong.”
“Lo udah nikah, Clef?”
“Belum.” Clef menjawab sambil menerawang ke berbagai arah. Ia tidak fokus. “Ehm… Nada, Serenada, dia datang ke sini, nggak?”
“Lah, itu Nada di depan lo!”
“Oh!” Clef membelelak. Kemudian menatap perempuan berambut sedang di hadapannya. “Nada?”
“Kenapa?”