“Mo...mon~”
Nada keluar dari mobil sambil memanggil temannya. Kemudian membuka gagang pintu yang bergeming, tanda sedang terkunci. Antara Moni di dalam atau pergi. Nada lantas membuka dengan kuncinya. Membiarkan pintu terbuka, ia berlari menuju kamar kawannya.
“Mon…” Belum sempat menamatkan kalimatnya, kamar Moni pun tampak sangat rapi. Dia tidak ada di sana.
“Dih, yang tertib napa? Ditutup lagi kalau abis buka pintu.”
Nada berlari heboh. “Momon!”
Perempuan yang selalu tampil dengan segala outfit pastel itu tersentak. “Apa?!”
“Moni… Moni… lo harus tau berita paling heboh sejagad raya!” Nada berseru sambil melompat-lompat. “Clef… your first love.” Ia sampai menelan salivanya sejenak. “…literally came!”
Dari suasana yang ramai dengan guncangan yang dibuat oleh Nada, tiba-tiba menjadi sepi. Suasana sekonyong-konyong hening. Hanya ada kedua pasang bola mata mereka yang saling menatap dan udara kosong.
Nada mendelik. “Ekspresi apa, tuh?!”
“Ya, udah kalau dia datang,” respon Moni cuek. Ia lantas membenahi tas slempangnya, berlalu begitu saja. “Beruntung gue mengikuti kata hati, coba kalau gue ngikutin elo? Emang suka bikin sesat lo!”
“Tapi Clef nggak pernah datang sekalipun ke reuni karena sejak kuliah dia udah tinggal di Aussie!” imbuh Nada lagi, kurang puas dengan respon kawannya. Seharusnya siapapun akan terkejut dengan kabar ini. Apalagi lelaki itu adalah primadona.
Moni berbalik. “Trus gue harus apa? Dia cuma masa lalu. Apa artinya first love untuk sekarang?”
“Bukan itu. Dia bahkan nggak mengenali muka gue walaupun gue ada di depannya. Tapi dia ingat nama gue dan abis itu lo tau apa?” Nada memberikan pertanyaan retorika. “Dia nggak nanya kabar gue tapi langsung minta nomor lo!”
Seketika mata teduh Moni memberontak. “Apa?!” jeritnya. “L-lo kasih?”
“Enggak. Lo bilang, kan, kalau kita harus saling respect. Jadi, nggak boleh asal kasih nomor pribadi ke orang lain.”
“Cakep. Gue sayang banget sama lo.” Perempuan berambut panjang berkilau itu menepuk bahu Nada beberapa kali dengan rasa bangga.
Wajah Nada mulai berbinar. Ia lantas membuat senyuman menggoda. “Lo nggak penasaran dia kaya gimana sekarang? 8 tahun lalu, loh.”
Mata Moni berpendar sebagai caranya untuk menyembunyikan perasaan canggung. “Clef bakal selalu ganteng. Kalaupun berubah, nggak seberapa.”
“Beuh… bener banget! Lo emang paling tau, ya. Apa jangan-jangan lo stalking sosmed dia?”
“Apaan, sih?” Moni mengelak. “Dulu gue sering stalking, abis gitu inst4gr4m-nya nggak aktif. Udah lama banget!”
Nada masih betah menggoda kawannya itu, hingga pada akhirnya Moni melenggang menuju kamar. Menutupnya rapat. Tertegun Moni di belakang pintu bersama pikiran yang melanglang buana.
Moni menatap udara kosong dalam sepi yang merambat.
“Clef…,” sebutnya lembut. “Dia ngapain ke sini? Ngapain ikut reuni? Ngapain minta nomor gue?”
Ia lantas melempar tas ke ranjang. Merebahkan diri di atas sana. Menatap langit-langit.
“Udah delapan tahun berlalu. Ngapain sih?” Moni mengeluh.
Ada kekhawatiran sekaligus debaran kencang di hatinya. Meski membenci momen di masa SMA sekaligus sosok Clef yang bagi Moni telah mempermalukan dirinya, tapi ia juga tidak bisa memungkiri jika momen saat dia mencintai Clef adalah situasi yang mendebarkan.
^^^
Diam-diam, Cakka mengamati keponakannya yang sedang berlatih keyboard lebih awal dari pada murid yang lain sembari bergumam menyanyikan sebuah lagu di dalam ruangan latihan Music Exploration Course—sebuah kursus musik milik Cakka yang sejak perceraiannya 5 bulan lalu telah pindah lokasi, tepat di depan komplek kediaman sang kakak.
“Wow!” Cakka bertepuk tangan.
“Keren, kan, aku!”
Cakka mengacungkan ibu jari. “Makin jago aja. Pernapasanmu waktu nyanyi juga makin stabil, Koa. Kayanya Om juga makin keren ngajarinnya.”
“Yang ngajarin nyanyi nggak cuma Om Cakka, kok.”
Cakka mengerutkan kening. Kemudian menjadi teringat sesuatu. “Ah… kamu di sekolah ada pelajaran seni musik?”
“Ada.”
“Tapi gurunya nggak sekeren Om Cakka, kan?” Cakka menaikkan satu alis.
“Miss Moni keren banget. Om Cakka harus tau.”
“Moni?” Kemudian Cakka tertawa. “Lucu banget namanya.”
“Om Cakka harus belajar dari beliau. Udah kaya penyanyi yang di film Disney.”
Cakka tertegun sejenak. Sebab, beberapa waktu lalu sempat mengintip pelajaran seni musik di salah satu kelas di sekolahan Koa. Ia mengagumi suara seorang guru yang hebat. Tapi, mungkinkah…?
“Besok Om Cakka jemput lagi, ya?” tawar Cakka.
^^^
“Your look always good.”
Moni tersipu mendengar lontaran pujian yang selalu dia dapatkan setiap harinya atas penampilan yang selalu rapi dan menunjukkan identitasnya. Karena sekolah tersebut merupakan sekolah internasional, banyak sekali guru asing di sana.
“Thank you, Miss Gwen.” Kemudian Moni memberikan dua potong tempe goreng dalam piringnya pada rekan bule tersebut. “This for you. I know you like tempe so much, but we just got 2 slice for lunch.”
Ms. Gwen berbinar. Ia senang sekali dengan hadiah makan siang hari ini. Dan justru menukar tempe itu dengan ayam goreng yang membuat Moni kaget.
“Tempe is better than chicken.”
“Thank you.” Meski terasa aneh, Moni menerimanya dengan baik karena ia lebih suka ayam.
Kemudian ponsel lipat Moni yang berbandul strap warna merah muda berdering. Ia begitu semangat menjawab panggilan dari manager-nya.
“Hello… this is freelance-singer, Moni Moni,” jawab Moni dengan nada-nada yang merdu dan sedikit centil.
“Apaan, sih?” balas perempuan di seberang sana. “Lo pasti lagi makan, mood-nya bagus bener.”
“Kak Bia emang paling tau gue. Kebetulan juga ini samping gue bule-bule. Masa iya gue not speaking English.”
“Ah, tau, ah! Pokoknya abis selesai ngajar, lo harus ke alamat yang barusan gue kirim.”
Moni menjauhkan ponsel dari telinga. Memeriksa alamat tersebut. “Apa, nih?”
“Projek besar!”
“Hah?! Gue nyanyi di sana? Tapi tempat apa ini?”
^^^
Setelah jam kelas selesai, Moni begerak cepat menuju parkiran mobil penuh semangat. Sesekali membalas sapaan murid-muridnya dengan ramah dan menyenangkan.
“Lo bakal dibayar 2 kali lipat di acara pembukaan kantor baru Oh.Interior.”
“Oh.Interior?”
“Kantor desain interior gitu, deh. Katanya udah punya cabang di luar negeri juga.”
Alasan-alasan itulah yang membuat Moni begitu antusias dengan pekerjaan sampingannya kali ini.
Dengan mode slow motion bagai sebuah video musik, langkah Moni berpapasan dengan mobil lawas milik Cakka yang hendak mencari tempat parkir untuk menjemput Koa.
^^^
Mata Kiana menyipit, mendongak sambil membentangkan kedua tangan di atas alis demi melindungi dari sinar matahari saat membaca sebuah plang yang sangat minimalis, namun cukup memikat—bertulisakan: Oh.Interior.
Sebuah bangunan minimalis dengan bentuk yang cukup sederhana sekaligus unik. Melengkung dan didominasi warna netral abu, hitam.
“Lucu juga,” gumam Moni kemudian mencoba menekan bel.
Seorang perempuan dalam balutan kemeja necis itu menyambutnya. Mempersilakan masuk dengan suasana yang masih belum cukup kondusif di dalamnya. Masih banyak barang dan ada pula tukang bangunan yang bekerja.
“Maaf, ya. Kita baru siap-siap buat opening.”
“Oh, nggak apa-apa. Namanya juga baru.” Moni memahami.
“Saya antar untuk bertemu CEO kami, ya. Kebetulan beliau yang mengundang.”
Moni pun hanya menurut dan mengekor sambil menjinjing tas-nya. Sesekali memandangi seluruh sudut ruangan yang terasa unik dan keren.
“Pak, ini pengisi acara untuk opening sudah datang.”
Mata Moni yang selalu bersinar ceria itu mendadak terjerembab. Melebar dan memebalak. Bahkan tas dalam genggamannya pun sampai harus terjatuh ke lantai saat berhadapan dengan seorang pria tampan dengan setelan jas.
Lantas pria itu tersenyum dengan bibirnya yang mungil. Matanya sangat indah bagai bulan sabit dengan alis lurus dan tajam.
“Udah lama banget nggak ketemu… Moni,” katanya tanpa tau bahwa napas perempuan itu sedang tersendat.
“O-oh, C-Clef?”