“Koa!” Cakka melambaikan tangan pada ponakan tampan di balik kacamatanya.
Bocah 13 tahun itu berlari dengan semangat menghampiri sang paman yang banyak orang bilang mirip sekali dengannya. Jika tidak paham, maka siapapun akan menganggap Cakka adalah ayah kandungnya.
“Mixue dulu kali, ya, Om.”
Cakka tertawa. “Anak sekolah keren gini jajannya di mixue?”
“Mama single parent!”
“Ah, iya. Bagus. Anak berbakti.”
Keduanya masuk ke dalam mobil. Tapi Cakka agak sedikit tertinggal. Matanya berpendar ke segala arah di sekitar gedung sekolah keponakannya itu untuk memastikan sesuatu sebelum akhirnya menyusul.
“Cari apa?” tanya Koa penasaran.
“Eng-nggak…” Cakka berdalih sembari mengenakan sabuk pengaman. “Kamu nggak ada pelajaran musik hari ini?”
“Besok lusa. Kenapa? Om Cakka penasaran guru Disney itu?” terkanya.
Cakka mendadak merasa canggung. Ia memutar roda kemudi sambil memegangi tengkuknya. “Penasaran aja. Kamu bilang suara dia bagus banget.”
“Oke… nanti aku bilangin ke Miss Moni dapat salam dari Om Cakka,” ucapnya santai yang membuat Cakka tersentak.
“B-bukan gitu….”
Koa turut kaget dengan ekspresi Cakka yang berlebihan. “Trus gimana? Katanya pengen tau?” Kemudian bocah itu tertawa. “Jangan bilang kaya gini doang Om Cakka salting?”
Cakka tertawa garing. “Apa maksudmu?”
“Katanya mau tau, ya, nanti aku bilangin biar kalian ketemu!” tegas Koa sambil menahan tawa.
“Om ini duda… belum lama jadi duda. Situasinya kurang enak.”
Koa memijat keningnya. “Lagian kalian sama-sama musisi. Nggak ada salahnya. Siapa tau bisa kerja sama.”
Cakka pun terdiam. Ia menimbang kalimat keponakannya yang lebih realistis. Tapi kekhawatiran Cakka memang seperti itu. Setiap bertemu perempuan, ia masih merasakan trauma yang mendalam dan membatasi diri walau hanya sekedar berkenalan.
“Y-ya udah…”
Diam-diam Koa tersenyum iseng atas ide usilnya yang mengitari kepalanya.
“Mixue-nya, Om beliin.”
^^^
Moni yang selalu ceria itu mendadak terlihat sangat dingin saat duduk berhadapan dengan salah satu sosok yang membuat trauma dalam hidupnya di tempat yang sangat tidak terduga. Sementara pria di hadapannya itu tampak santai. Senyumnya juga melengkung dengan sangat manis seolah tidak ada yang pernah terjadi.
“Udah lama nggak ketemu kita.” Cleff membuka pembicaraan.
“Kita duduk di sini untuk membicarakan pekerjaan, kan, Pak Cleff?” tampik Moni sehingga mengundang gelak tawa pria tampan dalam balutan setelan jas semi-formal tersebut.
Moni berdecak kesal. “Oke… nggak menutup kemungkinan kita emang pernah satu sekolah. Makanya, gue datang buat kerjaan. Jadi, kasih tau rundown acara dan lagu apa yang harus gue nyanyiin!”
Cleff masih tertawa. Tapi ia segera menahannya. “Oke… oke… tapi kita nggak perlu se-formal itu, kok. Lo emang nggak pernah berubah.”
Moni menyeringai. “Lo tau gue dari mana? Di mata lo, gue emang selalu kampungan, urakan yang bisa dijadikan bahan olok-olok?!” Ia terkekeh. “Gue udah buang dia!”
“Gue nggak pernah menganggap lo kaya gitu.”
“Mana ada maling ngaku.” Kiana bersedekap. “Cepetan! Lo pikir gue nggak sibuk?”
“Sorry… sorry…” Clef berusaha menenangkan situasi dengan membuka map terkait susunan acaranya.
Mulai dari penjelasan konsep hingga jumlah tamu sehingga Moni bisa membayangkan seberapa penting atau seberapa besarkah acara yang diisinya. Hingga menjadi pertimbangan atas pemilihan pakaian dan juga gaya bernyanyi.
Clef menaikkan kedua alis sambil kembali bersandar di punggung kursi, menyeruput teh perlahan. “Ada yang perlu ditanyain?”
“Lagunya terserah gue?”
“Uhm. Sesuaiin aja sama konsepnya. Lo lebih tau.”
“T-tapi…” Moni berkedip berulang kali untuk memastikan apa yang ia baca di susunan acara. “If Aint Got You – Alicia Keys?” Ia menyentak di akhir kalimat.
“Kenapa?” Clef meletakkan cangkir dengan santai.
Moni berdecak, lantas bersedekap. “Lo mau ngulang kisah lama? Lo mau malu-maluin gue lagi?!”
Mata Clef membelalak. “M-maksud lo?”
“Nggak usah pura-pura lupa! Gue nyanyiin lagu ini di waktu malam api unggun buat lo. Apa iya harus gue jelasin seterang itu? Hah?!” pekik Moni. Kemudian ia memicing. “Atau mungkin ini awal langkah lo?”
“Lo ini ngomong apa?!” Clef berseru sembari memasang ekspresi bahwa apa yang ia pikirkan tidaklah sama dengan apa yang ada di benak perempuan itu.
“Gue nggak mau lanjut.” Moni bangkit dari duduknya.
“Apa-apaan?!” Clef menghadang langkah Moni. “Apa yang salah? Aku suka lagu itu. Apalagi acara ini semi-fromal. Ngga apa-apa sama lagu itu.”
Moni memutar bola matanya jengah. “Lo emang egois dari dulu. Tapi gue punya pengalaman menyakitkan sampai saat ini. Semua gara-gara lo.”
“Oke… anggap aja gara-gara gue. Tapi lagu itu nggak salah, Moni!” tegas Clef. “Lagian gue suka suara lo nyanyiin lagu itu.”
“Enak banget lo ngomong! Kalau lo nggak mempermalukan gue, gue nggak akan yang ada namanya kehilangan jati diri. Untuk jadi penyanyi freelance kaya gini aja gue berusaha keras melawan trauma tampil di depan banyak orang.
“L-lo trauma?” kaget Clef karena ia tau betapa percaya dirinya perempuan itu.
“Lihat! Lo aja nggak tau dan dengan gampangnya suka suara gue pas nyanyiin lagu itu, tanpa ingat apa yang lo lakuin dulu?!”
Keluhan Moni semakin panjang. Semakin parah, meluap seluruhnya penuh emosi sehingga setiap ia berbicara, anak rambutnya di sekitar ubun-ubun itu bergerak naik-turun seperti pegas. Tapi pria tampan itu hanya tertegun mendengarkannya sambil menahan banyak hal.
“Gue balikin DP-nya,” tutup Moni meninggalkan Clef setelah sempat menyenggol bahunya yang lebar itu.
Clef memejam erat sambil menstabilkan emosinya. Menghempaskan napasnya yang cukup bertenaga. Ia lantas berjalan cepat di belakang Moni yang sedang menuju mobilnya.
“Berhenti hidup di masa lalu, Moni!” Kalimat Clef menghentikan langkah perempuan itu. “Nggak… maksud gue… lo selalu menegaskan kalau lo yang sekarang udah berubah sebanyak itu. Emangnya yang berubah cuma lo? Gue juga!” Pria itu memberikan penekanan di akhir kalimat. “Kita 27 tahun sekarang, kenapa pikiran lo berhenti di umur 18-19 tahun?!”
Moni memejamkan matanya karena ia juga merasa bahwa pria itu benar, dirinya terlalu lama tenggelam oleh masa lalu meski nyatanya sulit untuk berdamai karena segalanya berdampak di kehidupan. Seberapa keras Moni merubah diri, rasanya kebencian itu masih berkemelut.
“Gue ajak lo untuk pembukaan kantor gue karena gue tau lo berbakat. Lagi, maaf kalau gue suka lagu itu. Lo bisa ganti.”
^^^
Moni menginjakkan kaki di rumah. Tampak Nada menyambutnya dari dapur. Ia sedang bereksperimen dengan bahan yang ada di kulkas.
“Kenapa? Kok lemes?” Nada bingung saat melihat Moni merebahkan diri di sofa dengan helaan napas yang cukup kencang.
“Katanya lo nggak kasih nomor gue ke Clef.”
Nada sedang mengingat. “Emang nggak kasih. Gue udah bilang, kan?”
“Tapi lo kasih inst4gr4m gue, oon!” Moni berteriak di akhir kalimat dan segera menyerang Nada. Mengejar kawannya di rumah yang sempit itu.
“I-itu…,” Nada masih memegang spatula dengan napas yang tersengal saat mereka dibatasi meja makan. “Lo ketemu Clef?”
“Emang bener lo kasih IG gue tapi di sana ada nomer manajer gue, kocak!”
“Aaaakh!” Nada berteriak kabur saat Moni berusaha mendekat. “I-itu… tolong matiin kompor, ya!” Lantas ia kabur ke dalam kamar. Menguncinya walau Moni sedang mendobrak.