“Moni! Dengerin gue sekali lagi… Oke, anggap aja kita batalin kontrak ini. Gue juga nggak mau ambil balik DP-nya. Tapi gue cuma mau bilang kalau lo benar-benar berubah, seharusnya jangan cuma di tampilan. Tapi semuanya! Bahkan lo juga nggak perlu mengingat masa lalu kaya yang gue bilang. Hidup dengan Moni yang baru. Kalau lo masih berhenti di masa lalu, sama aja lo cemen, tau! Atau minimal lo akting yang bagus buat bangun image baru.”
Kalimat-kalimat terakhir yang disemburkan Clef saat Moni nyaris masuk ke dalam mobil itu sungguh menggores harga dirinya. Tapi di sisi lain, Moni juga merasa payah. Lagi-lagi ucapan menyebalkan Clef banyak benarnya.
Moni ingin sekali berteriak padanya. Tapi itu justru akan semakin menghancurkan harga dirinya di mata musuh bebuyutannya itu. Hingga pada akhirnya Moni menyeplos sesuatu yang tidak sesuai dengan konteks. Dan itu terjadi secara spontan.
“Oi, Clef! Siapa yang ngasih tau lo nomor gue?”
“Nggak ada. Gue cuma dapat dari id inst4gram lo dari Nada.”
“Aaakh!” Moni menendang-nendang udara kosong sambil menatap langit-langit cream bersih di atasnya.
Sungguh ia sangat menyesali apa yang telah ia lakukan saat berhadapan dengan Clef. Pertemuan tak terduga itu membuatnya tak sempat melakukan ancang-ancang. Semua terjadi secara spontan. Dan ia merasa sangat lemah di hadapan Clef.
“Seharusnya gue bersikap tenang seolah nggak ada yang terjadi. Itu kayanya lebih elegan,” keluhnya. “Bener apa kata Clef. Kenapa mulut dia selalu nyakitin, sih, dari dulu?”
“Trus gue harus gimana?” lanjutnya merengek.
“Berteman sama dia.”
“Aaakh!” jerit Moni saat keluhannya terjawab oleh seseorang.
Rupanya Nada berbaring di karpet bawah ranjangnya sambil mengenakan sheet mask. Mengejutkan Moni. Sebab, ia tak sadar jika kawannya itu telah menyelinap ke kamarnya.
“Sisi terburuk lo udah terlanjur dilihat Clef. Bahkan sejak dulu. Jadi, mau nggak mau, lo harus jadi bagiannya.”
“Yang bener, lo?!” pekik Moni. “Lo mah kalau kasih saran suka nyesatin!”
“Eh! Terkadang musuh itu emang harus menyelinap jadi pasukan lawan!”
Celetukan Nada membuat Moni tertegun dalam hening. Mulai mempertimbangkannya. Apalagi ada bayaran dua kali lipat yang tidak mungkin ia lewatkan. Apa itu kebencian dan trauma jika uang sudah tercatat di kontrak.
“Gue pergi dulu!”
“Woi! Lo mau ke mana malam-malam gini?!” seru Nada terkejut dengan sikap Moni yang tak bisa ditebak.
Bahkan masih mengenakan piyama, Moni pergi membawa ponsel dan meraih kunci mobil untuk pergi ke tempat semula. Berharap Clef masih di sana walau ternyata bangunan tingkat seperti tumpukan kubus itu tampak sepi.
“Udah pada pulang pasti.” Moni yang rambutnya tampak disanggul dengan jedai kupunya itu mencoba menghubungi nomor yang tertera di lembaran kontrak yang masih ia simpan di laci mobil.
Mata Moni melebar saat tersambung. “Oh, Halo, Saya Moni. Bisa bicara…”
“Naik, lo!”
“Uhm?!” Kali ini matanya membelalak. Ia mencoba memperhatikan segala sisi gedung itu. Ia kira seorang staf lain akan menjawabnya. Tapi itu suara berat yang terdengar halus. Moni mengenalnya. Kemudian keluar mobil untuk memastikan. “H-halo?” Panggilan diputus sepihak.
Moni pun mencoba masuk gedung. Tapi ia tertahan di pintu depan yang menggunakan kode keamanan. Di sanalah perempuan itu justru mengumpat atas titah Clef yang tidak masuk akal. Apalagi suasana gedung sudah berangsur gelap. Sudah tidak ada lagi petugas keamanan.
“Jangan-jangan dia mau habisin gue.” Moni menyeletuk pikiran acaknya.
“Sorry… gue lupa kalau pintunya udah bisa kekunci.”
Tiba-tiba pria dalam balutan setelan jas ala semi-formal itu pun menghampiri. Keduanya berdiri di batasi antara pintu kaca yang sudah Clef buka dengan lebar.
“Lo berubah pikiran?” lanjutnya, kemudian menyelidik pakaian tidur perempuan itu yang sangat eksentrik—serba beruang. Hampir saja Clef memuntahkan tawanya.
Khmm… Moni berdeham. Ia menegapkan bahunya. “Oke… terserah lo mau memandang gue kaya apa. Tapi kita dipertemukan karena pekerjaan. Jadi, mari kita tetap profesional.”
Clef sedang berjuang merapatkan bibirnya agar tidak tertawa. Ia hanya mengangguk-angguk sok keren. Satu tangannya bertengger di saku celana.
“Gue mungkin agak kebawa suasana masa lalu karena meskipun gue udah jadi orang yang baru, lo juga harus tau kalau luka yang lo torehkan itu memengaruhi semua perjalanan hidup gue sampai detik ini,” cerocos Moni yang disambut hening oleh Clef. Pria itu terlihat biasa saja, tapi sesuatu tersirat. “Jadi, kalau sampai lo usil lagi, gue nggak akan tinggal diam kaya dulu. Gimanapun juga gue punya sisi baru dalam hidup gue.”
Clef tampak santai. Ia mengangguk-angguk. “Oke.” Lantas melangkah lebih dekat sehingga Moni pun melindungi dirinya dengan mundur.
“Ayo kita bekerja sama dengan baik untuk minggu depan!” Clef mengulurkan tangannya.
Ketakutan serta kekhawatiran Moni perlahan luntur. Rupanya pria itu hanya ingin bersalaman. Dengan perlahan, setelah sekian lama, bahkan belum pernah Moni lakukan sepanjang hidupnya, tangan mereka bertautan.
Clef melengkungkan senyum terbaiknya sembari menggenggam erat tangan Moni.
Justru tatapan pria itu mendadak membuat Moni sempat kehilangan akal. Mata bening bersinar yang selalu ia idamkan di masa lalu. Tangan lembut yang dulu selalu ia bayangkan untuk digenggam.
Eits! Moni segera mengerjap, menghempaskan tangan Clef saat semuanya justru mengingatkan akan masa lalu yang pahit sekaligus manis.
Field Goal!
“Clef Sonata berhasil mengamankan tim di babak ketiga pertandingan basket antar SMA se-Jakarta Timur!”
Seluruh penonton, terutama dari SMA Bakti Bangsa. Bahkan pengaman dari tim adalah sosok anak baru yang sangat diandalkan. Dia juga kebetulan atlet nasional yang sangat tampan. Tampak Clef melambaikan tangan sambil berlari pada seluruh temannya.
Namun ada satu gadis berambut di kepang dua turun ke lapangan dengan percaya diri. Itu mencengangkan.
Clef tertegun.
“Buat lo.”
Sekotak Milo untuk Clef dari Moni. Pun lelaki itu menerimanya dengan senang hati bersamaan dengan sorakan penonton yang semakin membumi.
Di momen itu, Moni bisa melihat dengan jelas rupa tampan Clef di depan mata walau sedang berkeringat, serta tatapan teduhnya, serta senyum yang ramah.
Sama seperti yang Moni lihat saat ini.
^^^
Cakka keluar dari pintu mobil bagian penumpang depan. Ia dalam balutan setelan jas semi-formal itu menatap bangunan kubus sambil mengerutkan kening. Masih mempertanyakan kenapa dia ada di sana.
“Ayo, kita udah mau telat!”
“Ngapain, sih, Kak?” Cakka memprotes pada sang kakak. “Ini bukan bidangku.”
Sang kakak yang tampak elegan seperti layaknya wanita karir yang punya posisi bagus itu menghempaskan napasnya kasar. “Supaya lo keluar goa. Supaya lo punya relasi lebih. Ini tanggungjawab gue sebagai kakak. Setelah ini, gue mau lo berjalan sendiri dan gantian.”
“Gantian?”
“Udah saatnya lo nafkahin gue!” tegasnya yang membuat Cakka terhenyak. “Lo anak laki dan sekarang single pula. Tugas lo bertanggungjawab buat kakak dan keponakan lo. Lo harus buktiin ke mantan lo kalau lo nggak berhak dibuang gitu aja!”
Kalimat sarkas sang kakak yang tanpa ada filter itu pun membuat Cakka bergetar sembari menimbang banyak hal bersamaan dengan langkah kakinya yang memasuki gedung tersebut. Sepertinya ia dan kakak agak terlambat, musik pembukaan sudah mengalun.
Kemudian saat di bagian chorus, Cakka tertegun. Ia seperti tidak asing dengan suara merdu itu.
“I-ini kaya suara… suara Disney?” Matanya membelalak, menoleh ke arah panggung. “Dia Disney Princess itu?”