6. She's Moni

1143 Kata
Some people want diamond rings// Some just want everything// But everything means nothing// If I ain't got you, yeah~ Meski sempat merasakan debaran tersendiri, Moni terus memantapkan diri bahwa ia harus professional—membawakan lagu yang tersimpan kenangan menyebalkan di sana. Pada akhirnya Moni bisa membawakan tembang yang dinyanyikan oleh Alicia Keys dengan baik, merdu dan menghayati sekali. Banyak tamu undangan yang sedang menikmati hidangan ringan di pertengahan acara pembukaan kantor tersebut menikmati dan bernyanyi bersama. Tak terkecuali pria pemilik mata bening dalam balutan setelan jas yang berdiri di sudut dekat panggung itu. Wajahnya yang putih itu tampak bersinar. Kilau di matanya menampakkan betapa indah alunan lagu tersebut. Merangkai kenangan lama yang punya arti berbeda. Clef Sonata—seorang desainer interior, 27 tahun itu sedang seksama mendengarkan nyanyian Moni yang sangat indah sembari memandangi wajahnya yang tetap menawan. Tak berubah, walau perempuan itu berusaha merubah gaya penampilannya. “Ketemu…” bisik Cakka dengan suara seraknya. Senyum manis yang jarang terlihat terang, perlahan menampakkan sinarnya. Lekuk di satu pipinya pun semakin membuatnya menawan. “Jadi, dia beneran guru musiknya Koa. Moni.” Tak ubahnya dengan pria tinggi menjulang itu. Tampak mengenakan kemeja Tommy Hilfiger berwarna biru muda dengan sedikit variasi warna dongker dan merah yang dipadukan dengan loose pants serta casual sneakers sambil memegangi segelas sirop. “Terima kasih,” kata Moni menutup penampilannya dengan sangat anggun—curtsy, sebuah salam penghormatan yang menjadi norma di kalangan kerajaan Inggris. Kemudian rekan-rekan undangan menyalami Clef, memberikan ucapan selamat atas pembukaan kantor barunya. “Makasih, Kak Nuni,” kata Clef menerima salam dari perempuan cantic bermata bulat. “Oh, ya… ini adikku, Cakka.” “O-oh… Halo.” Cakka menyapa dengan canggung. Sementara Clef bisa mengimbanginya dengan santai. Dia mudah sekali bergaul. Bahkan membuka sedikit obrolan dengannya. “Dia musisi. Punya tempat les musik,” jelas Nuni mewakili adiknya. “Wah, keren!” “Barangkali butuh sesuatu,” kekeh Nuni. Pun Cakka tak banyak bicara. Ia hanya menahan diri sambil matanya berpendar ke segala arah. Mencari sesuatu. “Tau gitu musik pengiringnya Abang aja.” Kalimat itu membuat Cakka membelalak saat menyadari sesuatu. “Ah, kenapa enggak?” Setidaknya jika dia menjadi pengiring musik di acara malam ini, Cakka bisa mendekati sosok yang ia cari. Dia sungguh terpesona dengan suara merdu Moni. Clef terkekeh. “Karena aku nggak tau.” “Lain kali.” Nuni mengimbuhi. “Lo mau ke mana?!” Clef seketika membelalak setelah berseru kencang. Ia lantas meminta maaf dan mempersilakan tamu untuk menikmati hidangan dan mengobrol sebelum pulang. Clef menahan tangan perempuan yang melewatinya begitu saja. “Lo mau ke mana, Moni?” “Pulang, lah!” Moni menghempaskan tangan Clef. “Urusan kita udah kelar.” “Makan-makan dulu, lah. Gue nggak undang temen SMA, loh. Santai aja!” “Gila, lo!” Seperti sebelum-sebelumnya, perempuan cantik berambut panjang itu hanya menampilkan wajah masamnya pada Clef. Namun sempat tersenyum pada tamu undangan di sekitarnya yang belum beranjak pulang, termasuk Cakka. “Pak Clef,” panggil seorang staff, mendekat. “Ya?” “Bu Ratih telepon katanya…” “Suruh Indy yang jawab dulu, nanti saya hubungi balik setelah ini.” “Gue antar…” Seketika Clef menghentikan kalimatnya pada Moni saat menyadari bahwa staf-nya tersebut tak kunjung beranjak. “Apa lagi?” “Saya Indy, Pak.” Clef menghempaskan napasnya yang cukup bertenaga. Beursaha memindai penampilan staf-nya tersebut. “Mana id card? “Ini, Pak. Kebalik ternyata.” Ia segera membenahi karena banyak berkegiatan. Clef meneguk salivanya kasar. “Besok lagi yang rapi supaya saya bisa bedain.” “Ya, Pak.” Moni menepuk lengan Clef. “Gimanapun juga… sukses selalu buat projeknya. Uang udah masuk, gercep juga tim lo,” kekeh perempuan itu. “Gue antar…” Sst! Moni memberikan penekanan, mengambil satu buah pie lalu pergi begitu saja meninggalkan gedung bersamaan dengan Clef yang kebetulan disalami banyak tamu lainnya yang juga hendak berpamitan. “Tunggu…” Sembari mengumpat banyak hal menuju mobilnya, lantas Moni mengerem langkah. Suara pria yang asing di telinga, tapi entah mengapa Moni merasa sinyal itu untuknya. Ia lantas perlahan berbalik. Beruntung panjang dress-nya hanya tiga perempat, memudahkannya untuk bergerak. “S-saya?” Moni menunjuk dirinya sendiri saat menemukan seorang pria tampan nan tinggi itu berlari mendekat. Cakka. Pria itu mengangguk dengan semangat. “Iya.” “K-kenapa, ya?” Moni bingung. “Mulai sekarang aku fans kamu, Moni.” Sepatah kalimat yang agaknya memeluk hati kecil Moni yang mudah sekali menciut. Rasanya seperti mendapatkan energi melimpah. Wajahnya yang semula tegang, berangsur membaik. Senyumnya merekah lebar sekali. Ini kali pertamanya seseorang sungguh-sungguh menjadi penggemarnya. Hatinya berdesir. Aku punya fans? Cakka membasahi bibir bawahnya. Ia berulang kali menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. “Aku nggak tau ini sopan atau enggak… aku juga nggak tau harus manggil kamu, Kak atau Moni…?” “Ah… panggil enaknya aja apa?” Pipi Moni bersemu kemerahan. “Aku 27 Tahun. Bisa disesuaikan walaupun baisanya orang yang aku temui itu bocah-bocah…” “Moni.” “Y-ya?” Mata Moni melebar. “Aku 32 Tahun. Berarti aku panggil kamu… Moni.” Moni tak langsung merespons. Ia tertegun sejenak, lalu sedikit menunduk untuk menutupi wajahnya yang merah padam. Ah, ia benci dirinya sendiri yang mudah sekali tersipu. “Ini…” Moni mendongak. Heboh sekali. Seluruh bagian wajahnya seolah mengikuti irama dengan kompak. Cakka sampai tertawa. “Apa itu?” “Kartu nama. Barangkali kamu bisa mampir.” Moni membelalak. “Punya akademi musik?” “E-enggak sebesar itu…” Cakka merasa tidak percaya diri. “Kapan-kapan aku mampir… K-kak… Cakka?” Seri di wajah Moni sangat menyenangkan. Rasanya dunia yang abu-abu menjadi berwarna dengan otomatis. Perempuan itu sungguh memiliki daya tarik tersendiri sehingga tiada respons lain dari Cakka selain hanya menampilkan lesung pipinya tersebut. ^^^ Kantor Clef berbentuk kubus bertingkat, memiliki tiga lantai. Di lantai teratas, terdapat satu ruangan untuk dirinya tinggal—pun sebenarnya bukan kamar ataupun tempat tinggal. Hanya tempat singgah untuk beristirahat saja, tapi entah mengapa pria itu sering bermalam di sana ketimbang pulang. Barang-barangnya juga menumpuk di sana. Ruangan itu benar-benar sudah disulap menjadi kamarnya. Selepas acara, ia melepas jas. Terduduk di bibir ranjang sambil melamun. Terdiam sejenak, lalu membuka nakas. Meraih sebuah bingkai foto yang belum ia letakkan dengan benar—bingkai foto yang selalu direnunginya setiap malam. Itu adalah foto angkatan SMA Bakti Bangsa. “Fotonya udah hampir lusuh,” ungkapnya lantas memandangi satu murid perempuan yang berpose tidak selaras dengan yang lain. Tampak anak itu seperti sedang mengangkat satu kaki—entah sedang terkilir atau mungkin ada semut yang mengganggu. Ekspresinya juga sangat lucu. Yang jelas, gadis itu sangat eksentrik dan banyak tingkah. Clef tertawa. “Moni…” Ia memandanginya penuh arti. “Sebentar lagi gambar dia pudar di sini.” Mengusap foto tersebut. “Jangan sampai lo pudar juga diingatan. Gue masih pengen menyimpan wajah lo di dalam pandangan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN