7. Pada Pandangan Pertama

1187 Kata
Nada pulang malam setelah rapat. Begitu membuka pintu rumah mungil yang ditinggali bersama sahabatnya itu, seketika mata yang lelah dan tak berdaya itu melebar. Tercekat panik. Ia segera masuk, melempar tas ke sofa, menghampiri Moni yang sedang duduk di meja makan menggunduli buah apel fuji yang masih bulat sempurna. “Apa ini?” Nada panik melihat dua buah apel tanpa kulit yang sudah mulai berangsur kecoklatan. Kemudian menatap Moni yang sedang terdiam dalam tenang, namun pipinya memerah. “Nggak mungkin, kan?” Nada meyakinkan situasi. “Apa?” tanya Moni santai sambil mengupas kulit satu buah apel di tangannya. Ia mengupas buah tersebut secara horizontal ke arah dalam. Nada meraih pisau dan juga buah tersebut dari tangan Moni sehingga perempuan dalam balutan sleeping dress lucu dan roll poni itu memprotes. “Lo naksir orang?” terka Nada berdasarkan kebiasaan Moni. “Apa maksud lo?” Wajah perempuan berambut panjang itu semakin memerah padam, ia membuangnya jauh-jauh sambil menahan senyum. “Siapa?!” Nada kaget—pasalnya, meski Moni sangat tidak bisa mengendalikan perasaannya, perempuan itu tidak mudah jatuh cinta. Apalagi cinta pada pandangan pertama. Tidak. Itu bukan gaya Moni. Perlu sebab dan akibat untuk itu. “Mana?!” Moni berusaha merampas apel tersebut dari Nada. Sayangnya, Nada segera membawanya ke tempat lain untuk dipindahkan ke dalam satu wadah. Kemudian ia memotong lemon yang kebetulan tinggal setengah bagian saja. Moni mendekat. “Balikin, nggak?!” Nada menghempaskan napasnya kasar. “Kalau udah kaya gini siapa yang ribet coba? Apel-apel lo kupasin nggak jelas kaya gini.” “Tinggal satu doang yang di tangan lo. Nanggung.” Sambil menahan kekesalannya, Nada lantas memberikan pisau dan satu buah apel yang setengah kulitnya sudah dikupas Moni. Lantas Nada mengurus dua apel gundul lainnya yang kini ia potong kecil-kecil untuk disimpan ke dalam wadah yang di dalamnya sudah terdapat genangan air perasan lemon untuk menjaga apel tersebut tetap bersih. Moni dan kebiasaannya. Tak ubahnya dengan Nada. Sejak SMA, Nada sudah mengatasi ini semua. Tak hanya apel. Apapun buah-nya, Moni akan selalu mengupas satu-persatu. Jika tidak ada buah, maka Moni akan membeli buah dengan sengaja untuk dikupasi seperti ini ketika dirinya sedang jatuh cinta. Saat pertama kali jatuh cinta pada Clef juga seperti ini. Jadi, lelaki mana yang berhasil mengguncang hati Moni kali ini? “Momon…” “Uhm?” “Lo jatuh cinta lagi sama Clef?” “Lo, gila?!” sentak Moni. “Gue nanya!” jelasnya sambil memotong apel lainnya. “Lo, kan, abis nyanyi dari acara kantor dia. Wajar, dong, kalau gue berasumsi kaya gitu.” Moni menghentikan aktivitasnya. Ia telah selesai mengupas satu ape tersebut. Meletakkannya di atas meja. Ia membayang sesuatu. “Gue nggak munafik kalau ketampanan Clef itu nggak pernah pudar.” Kemudian menatap kawannya. “Tapi itu nggak jadi alasan buat gue jatuh cinta lagi sama dia.” “Terus kenapa lo kaya gini?” Nada masih mencecar. Sebab, Nada tak mendengar ada curhatan apapun tentang lelaki ‘baru’ yang ia temui. Baik di sekolah ataupun di tempat Moni manggung. “Tapi gue nggak jatuh cinta…” Moni menghentikan kalimatnya. Mengingat beberapa hal. “Kayanya bukan.” “Apaan?! Tadi ada apa?” Meskipun selalu direpotkan oleh tingak unik Moni, nyatanya Nada selalu menjadi yang paling antusias menjadi pendengar kawannya. Sebab, kisahnya semua sangat menyenangkan. “Mulai sekarang aku fans kamu, Moni.” Hati Moni berdebar-debar mengingat sosok yang rela berlari menghampirinya dengan senyuman terbaik. Mengatakan dengan tulus. Nada membelalak antusias. “Siapa dia?” Moni membuka casing ponsel. Meraih kartu nama yang ia selipkan di sana, pun Nada meraihnya. “Cakka Riff Adinata. Dia punya akademi musik. Tapi gue nggak tau apa hubungannya sama Clef.” Moni menghempaskan napasya pelan sambil tersipu. “Yang jelas dia jadi orang yang terang-terangan menunjukkan bahwa dia penggemar pertama gue.” “Akhh!” Moni berseru salah tingkah. “Apaan?!” gertak Nada menyentak Moni. “Gue apa? Gue udah jadi fans lo yang pertama dari siapapun!” “Sabar… lo mah pengecualian. Gue juga tau sejak awal lo yang paling dukung gue walaupun lo juga suka nyesatin gue.” Moni mengambil potongan apel, memakannya. “Lo udah punya tempat sendiri di hati gue,” lanjutnya sok imut. Pun Nada juga merasa sangat dihargai. Ia juga turut bertingkah gemas—mereka memang duo yang tak pernah terpisahkan. Moni masih membayangkan betapa lembut pria itu berucap dengan nada beratnya yang merdu sehingga perasaan berbunga sekaligus haru itu berkembang di dalam dad4. “Kayanya lo jatuh cinta.” “Tapi gue nggak bisa jatuh cinta pada pandangan pertama. Lo tau, kan? Harus ada sebuah alasan mendalam,” sanggah Moni. “Jangan cuma gara-gara gue ngupas apel.” Sembari mengunyah apel, Nada menggeleng. “Bukan… dengan dia mengungkapkan kalau dia fans lo udah cukup jadi alasan konkret buat lo jatuh cinta.” Kalimat yang terucap panjang dari bibir Nada membuaat Moni merenungi diri serta perasaannya sembari menyapa kembali bayangan Cakka yang menyelinap jelas di tengah celah ingatan. Mata besar yang seperti boneka. Hidung agak mancung. Tinggi menjulang dan suara deep-nya yang sangat indah. Ah, dia sangat berkarakter. ^^^ “Nanti sore Om Cakka apa Mama yang jemput?” tanya Koa sebelum turun dari mobil. “Kayanya Mama. Dia mau pergi ke mana gitu sore ini. Kenapa?” “Nggak apa-apa. Sekolah dulu, Om.” Koa—bocah remaja tampan yang memiliki visual yang mirip sekali dengan pamannya itu segera berpamitan sebelum masuk sekolah. Pun Cakka tak langsung beranjak. Dari dalam mobil, ia sempat mengedarkan pandangan ke segala arah untuk memastikan sesuatu. Hanya antisipasi jika bertemu guru bersuara merdu itu. Tapi tidak berniat untuk menemuinya sekarang. Entah, Cakka hanya ingin tau. “O-oh?” kagetnya. Kemudian mengerutkan kening sembari menyipit saat seorang perempuan manis berjalan dengan guru lainnya. Dari cara berpakaiannya saja, Cakka sudah bisa melihatnya. Senyum manis Cakka berangsur melebar saat melihat Moni dari kejauhan. “Kita ketemu lagi.” Kali ini Moni tampak sangat bercahaya. Perpaduan putih dan kuning blouse lengan panjang, serta rok maxi berwarna kuning cerah—secerah pagi ini, serta heels tipis yang tidak terlalu tinggi. Rambut panjangnya juga dibiarkan diikat setengah. “Semoga dia beneran hubungin gue,” sambung Cakka. ^^^ Moni bersama dua guru musik lainnya sama-sama mengunjungi kelas musik yang katanya hendak direnovasi. Alat musik juga sebagian sudah dipindahkan. Itu sebabnya, beberapa waktu lalu Moni melakukan kelas vokal di kelas biasa dan tidak ada peredam yang lebih tebal dari kelas musik. “Oh, gitu…” Moni mengangguk mengerti pada kepala divisi musik yang menjelaskan konsep kelas tersebut. “Jadi, ruangannya juga disambung sama kelas sebelah?” “Enggak. Kita bangun ruangan lagi di belakang khusus untuk kelas musik, Miss.” Moni membelalak heboh—mata, mulut bahkan hidungnya semua membulat sehingga menimbulkan gelak tawa yang lain. “Kita punya ruangan khusus?” seru Moni. “Iya. Kita tunggu dekorator-nya yang katanya hari ini mau datang…” “Permisi!” Moni dan dua guru seni lainnya itu kompak menoleh ke belakang. Seketika Moni terhenyak akan kehadiran sosok yang sangat ia kenali. Rasanya bagai mimpi. Menemukan cahaya yang mengelilingi pria tersebut. Dia lagi, dia lagi? “Oh, Pak Clef!” sapa kepala guru musik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN