2013
“Semuanya, ada info!”
Saat seorang gadis berseragam putih abu-abu itu mengetuk meja sembari berteriak, semua lantas terdiam di tengah jam istirahat tersebut. Kecuali dua orang di sudut sana. Mereka masih saja tertawa terbahak-bahak—entah apa yang sedang dibahas.
Satu gadis berambut pendek duduk di atas kursi selagi seluruhnya duduk rapi. Sementara lawannya memang duduk di atas kursi, tapi kakinya bertengger ke atas meja. Dua anak itu…
“Moni, Nada!”
Seketika kebisingan di ruangan itu lenyap. Semua mata tertuju pada keduanya.
“Apa?!” tantang Moni.
“Gue mau ngomong!”
“Ngomong aja! Bac0t banget.”
Khmm… Ia berdeham. “Ada anak baru di kelas sebelah.”
“Ya elah, gue kirain apaan,” cerocos Nada—mewakili isi hati seluruh murid di kelas tersebut.
“Eh… tunggu.”
“Lo kalau ngomong nggak usah dispasi terus!” pekik Moni.
“Oke… d-dia… anak timnas basket. Yang pasti tinggi, ganteng.”
Seketika para gadis di kelas tersebut saling membisik. Heboh, penasaran. Bahkan ada yang segera berlari ke kelas sebelah—tapi hal itu tidak terjadi pada Moni dan Nada yang justru kembali mengobrol dengan serunya.
^^^
Moni tidak ikut kelas ekstrakulikuler karena harus mengerjakan hukumannya karena terlambat masuk sekolah selama tiga hari berturut-turut. Ia berkutat pada alat kebersihan demi membersihkan lapangan basket indoor yang katanya dipersiapkan untuk latihan penting tim basket. Apalagi ada salah satu tim Nasional yang baru saja berpindah ke sekolah mereka.
Moni mengerucutkan bibirnya sambil menatap seluruh sudut ruangan yang sangat luas itu.
“Gue beresin tempat segede ini sendirian?” Ia merengek.
Alih-alih segera mengerjakannya, ia justru berbaring di tengah-tengah lapangan. Menatap langit-langit nan tinggi itu sambil tergugu dalam keheningan. Sepertinya Moni sedang berhibernasi. Dia yang selalu bertingkah dan tak bisa diam walau sedetik pun, kini sedang menikmati momen diamnya.
Moni tidak pernah absen dari hukuman. Yang terlambat. Lupa tidak membawa tugas—tapi dia tetap mengerjakannya. Ngobrol, ngantuk di kelas.
Ternyata menyenangkan sekali, hanya terdiam sendirian tanpa memikirkan apapun seperti ini. Hampir saja ia tenggelam dalam sekali, satu pandangan membuat matanya melebar—seorang lelaki muncul di matanya dalam posisi terbalik.
Mereka saling memandang satu sama lain dalam beberapa waktu dalam suasana yang sepi.
“Ngapain lo?” Suara lelaki yang rendah tapi terdengar lembut itu menyadarkan Moni untuk segera terbangun.
Gadis itu segera duduk. Menyilakan kedua kakinya sambil merapikan rambut pendeknya. Lantas memindai lelaki berkenakan seragam olahraga di sampingnya yang sedang melihat-lihat ruangan tersebut.
Sempat Moni bertanya-tanya dalam hati, namun kemudian ia teringat ucapan kawannya dan kehebohan yang terjadi beberapa waktu lalu.
“Ada anak baru di kelas sebelah. Anak basket. Tinggi, ganteng. Dia pindah ke sini karena biar lebih intens main basketnya. Sekolah kita, kan, unggulan banget basketnya. Lagi, dia juga lebih dekat ke tempat latihannya.”
Kedua alis Moni terangkat. Ia terbangun sambil membawa alat pel. Menerka lelaki itu dari belakang—tubuhnya yang proporsional, wajah yang tampan meski sempat terbalik di padangannya.
“Ganteng…” Kemudian Moni berkacak pinggang sambil satu tangan memegang alat pel tadi. “Lo anak baru?”
“Uhm!” jawabnya tak menghiraukan Moni lantaran sedang menelisik ruangan yang nantinya akan dijadikan rumah kedua baginya.
Tidak… tidak… ini bukan cinta pada pandangan pertama. Moni bahkan mengusir Clef pada saat itu. Seperti saat ini, pada tahun 2025, Moni ingin sekali mengusir Clef dari pandangannya.
Bisa-bisanya pria itu adalah desainer interior yang akan mengurus gedung baru untuk kelas musik. Moni benar-benar tak habis pikir sambil memerhatikan Clef yang sedang berbincang dengan Sir Adit—selaku kepala divisi guru musik.
Kemudian di tengah diskusi itu, akhirnya Sir Adit membawa Clef untuk beranjak ke gudang kosong setengah jadi di belakang sana untuk menindaklanjuti projek desainnya.
“Mari!” ajak Sir Adit.
“Oh, ya,” kata Clef ramah sekali dan sempat mengedipkan satu mata pada Moni yang berada di belakang bersama dua guru lain.
Moni terjerembab. Ia mendadak beku sekaligus kesal.
“Dia ngedipin siapa, Miss?” tanya guru lain.
Moni terkekeh. “Kelilipan kali. Iya… kelilipan.” Kemudian ia memejam sejenak sambil merutuki diri sambil berjalan mengekori yang lain menuju gedung belakang.
Clef tidak datang sendiri. Ia bersama dua tim-nya untuk meninjau lokasi untuk mengidentifikasi tantangan dan memastikan prioritas desain terpenuhi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah bentuk pondasi, rangka, rancangan kasar, hingga penyelesaian.
Selama sedang bertugas, Clef tampak professional. Ia juga tidak usil pada Moni. Justru Moni yang sedang lekat-lekat memerhatikannya yang memang benar-benar tampan dari balik setelan blazer informal-nya.
“Bagus ini bangunannya,” kata Clef memperhatikan dinding-dinding yang sudah berdiri. “Jadi, kita udah dapat detail ruangannya. Sekarang kita mau coba gambar kasar dulu. Mungkin ada permintaan khusus untuk kenyamanan selama pengajaran musik?”
Kemudian guru-guru lain mengungkapkan keinginannya, pun Clef juga meladeninya dengan senang hati. Bahkan menggambar kasar. Sementara Moni hanya terdiam sambil bersedekap.
“Miss…?” Clef kemudian memastikan pada Moni.
Sempat perempuan manis itu tertegun dan semakin panik saat para guru lain berangsur pergi dan menitipkan pekerjaan ini pada Moni. Sir Adit ada rapat, satu lainnya jam pelajaran dan satu lagi pun ada jadwal penerimaan alat musik baru di depan.
Itu membuat Moni mendadak canggung.
“Lo mau ruangan kaya apa?” tanya Clef lembut.
Moni melenakan napasnya pelan. “Terserah aja. Gue nggak ngerti banyak soal desain. Yang jelas bikin bener-bener kedap dan nyaman.”
“Oke… gue akan bikin secantik mungkin biar lo makin semangat ngajar,” ungkapnya sambil menggambar tanpa tau bahwa Moni sedang menggaruk belakang tengkuknya yang tak gatal sebagai bentuk refleknya yang sedang tersipu.
Moni pun menunggu Clef dan tim-nya yang sedang berdiskusi sambil mempertimbangkan banyak hal terkait lokasi hingga perempuan itu menguap berulang kali.
“Dia masih sama,” batin Moni kemudian. “Masih tengil. Masih profesional juga.” Ia mengingat bagaimana Clef sangat tekun dan fokus pada basket dulu. “Ah!” Moni membelalak. “Kenapa dia nggak lanjutin basket? Bukannya udah di timnas, ya?”
“Oke… udah. Gue mau ke kantor kepala sekolah dulu,” kata Clef.
Karena Clef sudah tau lokasinya, Moni juga tidak mau mengatarkan. Ia segera kembali ke ruangannya untuk menyusun materi ajar. Kebetulan Moni mengajar di akhir pelajaran. Dan di ruangan guru yang ia tempati pun sedang sepi. Hanya ada beberapa guru.
“Ooh… jadi di sini tempat lo.”
Jantung Moni nyaris melompat saat tiba-tiba ada suara pelan di sisinya. Ia membelalak dan ingin memaki namun ditahan sekuat tenaga sambil memperhatikan sekitar saat menemukan Clef di sisinya sedang menaikkan alis.
Moni menghempaskan napasnya kasar. “Lo ngapain ke sini?”
“Nanti malam mau ngapain?” tanyanya santai.
Moni mengernyit geli. “Apaan, sih, genit amat!”
“Lo dulu lebih parah. Nggak ingat?” sambung Clef tanpa beban sambil tersenyum menyebalkan di mata Moni sehingga perempuan itu segera menariknya ke luar ruangan guru menuju halaman tengah.
Saat digandeng Moni, Clef justru tersenyum usil. Kemudian saat Moni menghentikan langkah, pria itu mengangkat kedua tangan mereka yang masih saling bertaut. “Lo dulu pasti pengen banget pegang tangan gue kaya gini.”
“Issh!” Moni menghempaskannya. “Mau lo apa, sih? Ngikutin gue mulu! Gue udah bukan Moni yang dulu. Berapa kali gue bilang?! Jangan ngarep lo disukai banyak cewek kaya dulu.”
Clef tertawa. “Asal lo tau aja… gue dapat projek ini bahkan sebelum gue balik dari Aussie!”
“Tapi nggak perlu ngikutin gue ke kantor!” Moni mengerutkan kening smabil berkacak pinggang. “Apa jangan-jangan lo suka gue?”
“Kelihatan banget, ya?”